Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, November 24, 2016

Sudah nikah..??

me : "Assalamu'alaikum, tadz" (sambil nyengir kuda)
ust : (mengamati wajahku mencoba mengenali)
        "MasyaAllah, kaifa haal.sudah anak berapa sekarang?"
Me : "masih single tadz.." (kali ini nyengir kebo)
Ust : "lho..kok bisa..??,sudah ada calon..??"
Me : "belum, tadz" (nyengir mangki)
Ust : "gimana, ane cariin??"
Me : (waduh mati gue, skak mat.. mana beliau tanyanya serius gak pake basa-basi lagi)
         "nanti-nanti aja tadz" (takut kalo gak segera jawab, beliaunya nge-doble skak mat pake jodohin sama seseorang)
Ust : "ojo suwe-suwe..mundak ketuan"
         *jangan lama-lama, nanti keburu tua

----------------------End---------------------------------------


     Kejadian tersebut terjadi beberapa minggu yang lalu ketika sedang takziah di pemakaman paklik. setelah hampir 7 tahun tak bersua, dipertemukan dengan salah satu ustad di Pondok dulu. ustad lulusan sudan yang dulu cukup dekat karena orang nya yang cukup humble dan murah senyum + suka bercanda (di pondok sangat langka ditemui ustad seperti itu) yang sekarang sudah menjadi kepala sekolah dan punya 6 orang anak (wow).

Menikah,
     Dulu aku beranggapan menikah itu sangatlah mudah, mungkin terlalu polos, atau barangkali terlalu alim (hehehe), referensi buku-buku agama tak menunjukkan persyaratan nikah itu rumit, bahkan contoh kisah-kisah teladan era Rasulullah saw pun tak memperlihatkan begitu rumitnya menikah itu. ada dua mempelai, mahar seadanya, pun walimatul ursy sederhana. soal kemapanan, bukankah Allah menjanjikan rezeki bagi siapa yang mau menikah? aku berfikir Islam sudah tepat mengajarkan bab nikah, hingga Rasulullah saw pun memberikan contoh menikah di usia yang tepat, usia potensial bagi perkembangan psikis dan mental.ajaran sederhana yang menjadikan pribadi luar biasa.
     Namun era berubah, dan perlahan cara berfikir manusai pun ikut berubah. dari syarat dan rukun nikah yang sederhana itu perlahan ditempeli adat dan kebiasaan tiap daerah yang semakin lama semakin jauh dari kesan 'sakral', bergeser ke ranah 'gengsi' lalu melekat seolah-olah itu sebuah kewajiban dimana dari 'kalau bisa','seharusnya',' jangan sampai tidak' sampai 'malu kalau tidak...'. hingga menjadi beban sendiri bagi pemuda yang hendak menikah, terlebih bagi pemuda dari keluarga tak berkecukupan.

      Belum cukup disitu, rongrongan gaya hidup modern yang khas dengan ideologi materalistik menjadi portal baru yang menghambat seorang pemuda/pemudi untuk mensegerakan nikah, dari yang awalnya sesederhana di awal tadi, bertambah pula syarat bagi sang calon pengantin. yakni tingkat kemapanan dan jaminan kesejahteraan bagi calon istrinya nanti ke depan, sehingga terlambat menikah lebih ditekankan daripada menikah dalam keadan 'apa adanya'. sekilas tiada yang salah, dan bagi anda yang mengiyakan, mungkin anda bagian dari produk pemikiran materialisme yang salah.

       Aku slalu teringat ucapan teman aktivis kampusku, menikah itu ibadah yang agung, tak mungkin syetan membiarkan kita melakukannya dengan semudah itu. syetan menyebarkan keraguan, dan pemikiran-pemikiran yang salah untuk menjauhkan kita dari menikah. pacaran dulu untuk penjajagan, bertahun-tahun, mendapatkan dosa yang berlipat-lipat, ujung2nya putus, menunda-nunda nikah dengan alasan mempersiapkan finansial. dan selama itu pula fitnah-fitnah zina dilakukan. itu terasa tidak masalah bagi kehidupan sekarang, namun bagi rohani kita, itu mengotori.

      'Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...' rasanya menjadi solusi terbaik untuk membentengi kita dari tipu daya syetan. semua berawal dari keluarga. seorang ibu menjadi madrasah bagi anak-anaknya,  seorang bapak berkewajiban menuntun dan mengarahkan keluarganya ke jalan yang luruh. dan anggota keluarga lainnya saling mensupport dan mengingatkan. namun bayangkan jika seluruh keluarga tidak mempunyai dasar agama yang baik. with what a family is built? lagi-lagi materialisme menggantikannya.

     Seorang muslim berfikiran bahwa kehidupannya selalu diliputi tali-tali takdir hingga dia takdir kematian mendatanginya. semuanya tlah disediakan Allah sehingga kita hanya ditugaskan berjalan di hidup ini mengikuti arahannya. diluar itu adalah ujian. kita yakin atau tidak itu selalu terjadi, dan semua yang kita lakukan akan berpengaruh kedepannya, dosa akan menyempitkan kehidupan kita, ibadah akan melapangkan, semua tidak akan terjadi tanpa ada keyakinan yang kuat, iman!. dan yang lainnya, berupa pengaruh fikiran dari luar, ancaman, tidak ada dukungan. semuanya adalah ujian bagi kita. beruntunglah pribadi yang kuat, tabahlah pribadi yang lemah. semoga slalu terbuka pintu maaf dan jalan keluar bagi yang terlanjur terperosok dalam jurang kehinaan karena lemahnya iman.

     Lalu apa korelasinya percakapan diatas dengan tulisan dibawahnya? mungkin aku menjadi bagian dari pribadi yang gagal menggenggam erat keimanan sehingga kalah oleh ujian kehidupan yang menjadikan terlambat menentukan dan menjalankan pilihan hidup sesuai apa yang kuyakini dari ilmu-ilmu keimanan yang kupelajari. 

     Tentang berita yang kita baca, pengalaman orang, keadaan lingkungan dan segala sesuatu yang bernafaskan ideologi seperti anak-anak panah yang selalu mengarah pada diri kita dan melesat bergantian. maka sekali lagi, beruntunglah bagi pribadi yang kuat, yang berani menahan sakit sesaat. namun tegas memutuskan menurut apa yang slama ini dianggapnya benar. bukan pribadi lemah yang berhenti, berputar lalu mundur kebelakang seraya menggerutu hebat. yang pada akhirnya kalah dan berusaha menyalahkan siapa saja yang hendak dia salahkan, dari panah-panah pengaruh pemikiran yang seharusnya bisa  ditangkis di awal dia hendak memutuskan. namun rasanya jatuh dan sekedar menyalahkan lebih mengenakkan.

     Namun, sekali lagi... hidup ini ladang ujian. tak semua yang kita harapkan terkabul begitu saja. karena setiap hidup ini selalu diiringi oleh takdir-takdir yang takkan hilang sampai nafas yang terakhir. setiap kebuntuan mengarahkan kita pada jalan yang lain, setiap rintangan memberi harapan kita akan jalan yang lebih baik di depan sana. jika jalan usaha kita seolah sudah sampai puncaknya, Allah menawarkan doa yang tak terbatas. setiap yang ada dan tiada slalu menyimpan pahala meski terasa pahit, sakit seolah tak kunjung reda. andai dunia tak memperlihatkan keadilan dan kasih sayang pada kita, di akhirat nanti semua akan terunduh sempurna. hanya iman yang membuat hati legawa, meski kadang manusiawi kita tak mau tersumpal begitu saja. manusiawi. namun hidup tak selamanya. mari kita belajar bangkit.

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--