Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sunday, January 25, 2015

Uang dan Sebuah Eksistensi

Dunia ini ibarat bayangan: kejar dia dan engkau tidak akan pernah bisa menangkapnya; balikkan badanmu darinya dan dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu
( ibnu al-Qayyim)

Pernahkah anda menonton film Into the Wild? film tersebut mengisahkan seorang sarjana yang setelah memperoleh pencerahan tentang hakikat hidup dan bahaya materi. Lalu dia memutuskan untuk hidup tanpa uang, seluruh kekayaannya dia bakar. Dia mengembara dengan naluri dan natural, makan dari hasil alam, setiap hari menikmati keindahan Tuhan. sampai pada akhirnya dia meninggal di dalam sebuah mobil van tua yang menjadi rumah juga tempat insiprasi menulis diarinya.


Setiap orang mempunyai pandangan sendiri-sendiri tentang uang. Ada yang beranggapan uang adalah segalanya di dunia ini, bagaimana tidak. Secara logika kita tidak bisa mencukupi kebutuhan tanpa adanya uang, kita tidak bisa membeli apa yang kita butuhkan dan inginkan.kita tidak disegani dan dipandang oleh masyarakat, dengan kata lain bahwa uang adalah sumber kebahagiaan bagi orang-orang yang menganggapnya segalanya. Oleh karena itu ada orang yang rela melakukan apa saja demi uang. Mereka menggadaikan waktu yang seharusnya buat keluarga, menggadaikan kewajiban sebagai seorang hamba, kesehatannya, bahkan sampai menggadaikan kehormatan dan prinsip hidup. Demi selembar kertas ini, yang kebanyakan dicari bukan untuk memenuhi kebutuhan, namun melampiaskan segala syahwat keduniaan. Itulah mengapa ada pepatah easy come easy go, uang haram yang dicari dengan segala cara, akhirnya pun kandas entah kemana. Di meja judi, di diskotik, di mall, di tempat prostitusi. Begitulah. Seperti narkoba atau rokok, hal itu akan menjadi kebiasaan tanpa sedikitpun kenikmatan. Karena orang-orang yang hanya memikirkan materi, hatinya takkan tenang.

Akan ada kehidupan setelah kematian, mungkin kepercayaan seperti ini yang berhasil memutuskan jerat-jerat materialisme di kehidupan orang-orang yang beriman. Mereka paham bahwa mereka hidup dengan memikul tanggung jawab sebagai seorang hamba, menghabiskan hari-hari dengan beribadah dan membaguskan diri menjadi pribadi yang terbaik ketika bertemu dengan Tuhan mereka nanti. Dan tidak Cuma itu, mereka sadar betul bahwa semua perilakunya dengan segala kekayaan yang dia dapatkan dan belanjakan nanti akan dipertanyakan satu persatu. Mulai dari halal haram nya, kemudian bagaimana dia membelanjakan. Itulah menjadikan satu idealisme tersendiri bagi seorang mukmin. Bahwa harta yang berlebih akan memperbudak pemiliknya, menjerumuskan kepada hal yang sia-sia apalagi dosa.
 
Ya, mereka sadar letak kebahagiaan dan ketenangan hati yang sebenarnya itu bukan pada kemampuan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun ketika setiap apa yang mereka lakukan sejalan dengan apa yang tlah Allah tunjukkan lewat Alqur’an dan As sunnah. Sehingga Allah menjadi ridho atas kehidupannya. Allah mencintai mereka. Mereka sadar bahwa letak tinginya derajat itu bukan pada banyaknya harta atau tingginya jabatan. Namun ketakwaan mereka yang menjadikan mereka bangga bahwa inilah jalan kehidupan mereka sebenarnya. Maka jangan heran melihat orang-orang yang merasa bahagia meskipun kita melihatnya sebagai orang miskin yang kekurangan. Andai kita bisa menilik isi dalam hatinya, kau akan cemburu melihat besarnya kekayaan abadi yang mereka miliki.

Bagi seorang mukmin, hidup adalah medan uji keimanan dimana tiada satupun tempat selain berjuang mendapatkan kecintaan Tuhannya, dan berusaha semaksimal mungkin mencari bekal untuk kehidupan akhirat kelak, kehidupan yang tanpa ujung. Dari situlah mereka menjadikan setiap fase hidup sebagai ujian. Kekayaan mengujinya, tentang seberapa besar kekayaan membuatnya semakin dekat dengan Tuhan atau malah membuatnya lupa. Kemiskinan mengujinya, apakah membuatnya sabar dan semakin bertawakal kepada Tuhannya ataukah membuatnya meradang, putus asa, lalu mencari jalan yang haram. Kita tidak dilarang untuk menjadi kaya, namun kekayaan yang melenakan itu lebih berbahaya daripada kemiskinan yang membuatnya cukup.

Uang dapat merubah hidup seseorang. Dari yang awalnya bersyukur karena tercukupi segala kebutuhan, menjadi kufur ketika posisi Tuhan tergantikan. Bagaimana mungkin? Logika sederhana mengajarkanku untuk memahami cara islam mengelola kekayaan secara matematis. Ketika kita punya uang 1 juta dan kita membelikannya uang sejuta itu untuk membeli hape android penuh fitur. Itu berarti kita materialist dan jelas seorang hedonis. Namun jika dengan uang sejuta itu kita belikan hp biasa seharga 400 ribu,yang penting bisa buat berkomunikasi, lalu 600 ribu sisanya kita masukkan kotak infak, atau berikan ke panti asuhan yatim, begitulah islam mengajarkan bagaimana memanfaatkan materi.

ketika melihat salah satu acara di tv menayangkan tentang kekayaan para artis yang dibuang percuma untuk sekedar membeli barang mewah atau membuat pesta mahal yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan. Fikiranku langsung menerawang kepada orang-orang miskin yang jangankan untuk membeli ini itu, sekedar mencukupi makan sehari-hari pun tak cukup. Tidakkah lebih baik uang-uang itu didermakan kepada saudara-saudara kita yang seperti itu. Terlepas dari sebuah tingkat usaha manusia dalam berpenghidupan. Mujur-apes seseorang tetap Allah yang tentuin, maksudnya tidakkah mereka sadar betapa beruntungnya hidup mereka, lalu berusaha berbagi kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar mereka sebagai wujud dari kesyukuran. Ya bagaimanapun memang begitulah hidup Mereka terhanyut oleh nafsu dan lupa kepada kematian. Semoga kita terjaga dari hal-hal seperti itu.

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”.
(Q.S Al- Balad:4)

Di kosan tak jarang saya mendiskusikan segala sesuatu dengan teman-teman mahasiswa dengan segala idealisme yang mereka punya. Termasuk hal-hal yang seperti ini. Dan ketika kita berbicara tentang arti kemapanan hidup. Hampir semua mempunyai pemikiran bahwa hidup kaya dan dermawan itu yang tingkat kemapanan hidup yang paling baik. Namun aku justru tidak mendapatkan kepuasan dari jawaban mereka. menurutku, seberapapun kedermawanan mereka nantinya, pun kekayaan secara perlahan akan mengarahkan life style mereka kepada gaya hedonis. Seperti membeli barang-barang yang cukup wah dan tidak terlalu dibutuhkan. Akupun juga mungkin akan tak jauh dari mereka jika keadaanku seperti itu. Untuk itulah perlu kita membuat satu batasan tentang bagaimana kita meletakkan harta di hidup ini. Sebagaimana perkataan sahabat Umar bin Khattab r.a “ taruhlah dunia di tanganmu, jangan di hatimu’. Itu dimaksudkan agar kita benar-benar menggunakan kekayaan kita sebagai perantara Tuhan untuk membantu sesama, untuk menegakkan syariat islam. Bukan untuk kita gunakan semaunya. Tentunya kita paham bahwa semua barang yang kita punya akan ditanyakan di akhirat nantinya, tentang seberapa perlukah membeli barang itu, bukan sekedar yang penting punya duit untuk membelinya. Dan kita harus bisa membentengi itu.

Dulu saya punya teman deket di kampus. Sosoknya begitu relijius. Waktu kita masih bergaul bersama, kita sering membicarakan tentang pernikahan yang tertunda, alias sudah ingin menikah namun belum dapat ijin dari orang tua karena belum lulus dan belum punya penghasilan tetap. Beberapa tahun berselang setelah dia wisuda dan kembali ke kampung halamannya. Di satu kesempatan setelah beberapa tahun tak bersua kita berkomunikasi lewat hp. Bercerita macam-macam. Tentang pekerjaannya sekarang yang menjadikan dia jadi orang yang berduit. Dan cerita tentang ta’arufnya yang gagal. Aku tanya, “lho kenapa gak jadi, bukannya dulu kita yang paling getol ngomongin nikah. Ente sekarang kan udah punya duit. Wong aku yang sulit di keuangan aja masih pengen menikah.” Dan tau apa jawabannya? “Iya nih, alhamdulillah sekarang duit sudah ada, namun jadinya sekarang malah pengennya cuma buat cari kesenangan dan hiburan mulu, aku telah terjatuh oleh rayuan wanita. Kacau hidupku sekarang. Dulu jaman kuliah semangat banget pengen nikah untuk beribadah, eh sekarang pas udah di depan mata malah pengennya ngundur-ngundur. Sedih banget rasanya”

Iya, semua kekhawatiran yang dulu kufikirkan malah terjadi pada temanku ini. Sungguh sangat menyenangkan kalau sudah punya uang banyak. Bisa membeli apapun yang kita ingini, p emuas segala hasrat. Tapi secara gak langsung dia bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Kita dikendalikan olehna sebagaimana alkohol membuat peminumnya mabuk kepayang. Memang banyak pendapat tentang sebuah kemapanan hidup. Tentang uang yang harus dicari untuk melanjutkan kehidupan ini. Untuk mencukupi semua kebutuhan. Namun bagi kita yang sedikit banyak pernah mengenyam pendidikan agama. Ada kekhawatiran tentang dampak dari kemapanan hidup semacam ini. Itulah kenapa kita melihat orang-orang yang sering mengaji terlihat aneh. Belum punya penghasilan tetap sudah sering ngomongin nikah. Yah. Karena kita melihat semua ini dari sudut pandang yang lain. Sebagaimana yang kita pelajari sebelumnya. Tentang hakikat dunia, tentang apa yang harus kita cari dan segala sesuatu yang harus kita hindari. Mungkin bagi orang lain, melihat orang yang punya motor ninja 250R seharga 50 juta itu hal yang biasa. Namanya juga orang berduit. Namun bagi kita itu hal yang sungguh mengerikan. Melihat bagaimana duit dibuang percuma untuk membeli hal yang nggak jelas. Membayangkan bagaimana itu nanti dipertanggung jawabkan di akhirat, atau tidakkah lebih baik di dermakan, bukankah banyak orang yang membutuhkan bantuan di luar sana.? So, this is how see the world. We are extremely antimainstream.

Mungkin memang cara berfikir kita tidak serialistis orang-orang kebanyakan, tapi mengaitkan semuanya kepada Allah bukankah itu lebih baik sebagai sarana penguatan iman kita, seperti pemikiran ‘kalau aku menikah dan belum punya pekerjaan, mau kukasih makan apa istriku?’ dengan ‘aku niatkan menikah untuk beribadah kepadaNya, insyaAllah Allah akan mencukupi rizkiku’ atau ‘duh, aku belum juga dapat pekerjaan, gimana caranya aku punya duit’ dengan ’mungkin ini ujian agar aku lebih bersabar kepada Allah, semoga Allah menunjukkan jalan rizki untukku’. Hidup memang berjalan diatas logika, dengan semua hasil sebab akibat. Kalau tidak kerja ya nggak makan, tapi seorang mukmin berfikir lebih keatas lagi. Bahwa Allah lah yang mengatur segalanya, dia Maha Berkehendak.  So..?

Muhammad, Rasulullah saw, sosok yang kita kagumi dan puja-puja. Pernahkah kita menghayati betul kehidupannya? Pernahkah kita merefleksikan kehidupan beliau dengan kehidupan kita lalu menyimpulkan bagaimana merea memandang dunia? Bajunya yang penuh tambalan, memerah susu kambing sendiri untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan tetap tersenyum beliau pergi ke dapur dan membantu istrinya menyiapkan makanan. Bahkan ketika tak terdapati makanan pun dengan lapang beliau mengatakan kepada ibunda Aisyah kalau hendak puasa hari itu. Lalu bagaimana kita?

Lalu bagaimana dengan keadaan rumah rasulullah? Rumah yang sangat kecil  dengan hamparan tikar yang sudah usang dan nyaris tanpa perabot. Dengan tempat tidur hanya hamparan kulit binatang berisi serabut kurma. Hafsah saat ditanya, “apa yang menjadi tempat tidur Rasulullah Saw?” ia menjawab, “ kain dari bulu yang kami lipat dua. Di asat itulah. Rasulullah Saw tidur. Pernah suatu malam aku berkata (dalam hati): sekiranya kain itu aku lipat menjadi empat lapis, tentu akan lebih empuk baginya. Maka kain itu kulipat empat lapis.” Maka di suatu subuh, Rasulullah bertanya kepada Hafsah,”apa yang engkau hamparkkan sebagai tempat tidurku semalam?” aku menjawab, itu alas tidur yang biasanya Nabi pakai, hanya saja aku lipat empat. aku kira akan lebih empuk.” Rasulullah membalas,” kembalikan ke asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat malam.” (H.R. At-Tirmidzi)

Saking segerhananya kehidupan Rasulullah hingga membuat sahabat Umar bin Khattab menangis. Suatu kali umar menemui Rasulullah Saw. Dan dia mendapati beliau sedang berbaring diatas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantalkan pelepah kurma yang keras. “aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku,” ujar Umar bin Khattab.Rasululllah bertanya, “mengapa engkau menangis, wahai Umar?” “bagaimana aku tidak menangis, wahai Rasulullah. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Padahal engkau ini adalah Nabi Allah dan kekasihNya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan Kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

Lalu Nabi saw berkata,” mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga. Sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya”, ujar Rasulullah.

Rasulullah adalah orang yang sangat zuhud, beliiau hanya mempunyai dua baju, tidur diatas daun pelepah kurma, perutnya selalu lapar. Bahkan sering mengganjalnya dengan batu untuk menahan  rasa lapar tersebut.

Mungkin kebanyakan orang yang membaca tulisan ini adlah, apakah salah jika kita ingin hidup mapan, apakah salah seorang muslim menjadi kaya? Maka jawaban yang ada pun dengan sebuah pertanyaan. Untuk apa? Untuk kebutuhan sehari-hari? Harus. Untuk mempersiapkan pendidikan anak? Bagus. Untuk jaga-jaga suatu saat nanti butuh ini? Apa?. Ya. JAGA-JAGA adalah kalimat ampuh yang biasa digunakan sebagai alasan orang untuk menimbun banyak harta. Sekaligus melemahkan tawakal kita kepada Allah. Kita lebih merasa nyaman dan tenang jika ada duit daripada kepada Allah. Jika kita mau menilik manajemen keuangan yang rasulullah saw ajarkan (jika saya nggak salah) ada 3 pembagian uang kita. Sepertiga untuk biaya sehari-hari, sepertiga lagi untuk shadaqah, sepertiganya untuk modal usaha. Sepertiga yang pertama jelas fungsi uang untuk mencukupi segala kebutuhan hidup. Dan sepertiga yang kedua gunanya adalah mencukupi kebutuhan mati. Lucu kalau kita bersikeras memperbanyak tabungan untuk sesuatu yang bisa kita cari kalau kita kehabisan, namu namun melupakan tabungan yang kita nggak bisa cari lagi saat waktunya tiba, shadaqah. Dan sepertiga yang lain gunanya adalah memutar uang. Ada yang bilang kita orang yang bergaji tetap bulanan tidak perlu bikin usaha. Padahal kita hidup tak sendirian. Ada banyak maslahah yang kita dapatkan dari berwirausaha. Selain profit. Kita turun andil membantu mengentaskan pengangguran di daerah kita.

Ya, zuhud adalah jawaban dari semua kunci ketenangan dan kebahagiaan hidup ini.. Tak mengapa hidup apa adanya. Bukankah itu lebih aman untuk mempertanggung jawabkannya kelak. Menjauhi hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat, apalagi yang membahayakan kehidupan akhirat kita. Meskipun hasrat manusia slalu ingin meraih apa yang di atasnya, lalu diatasnya lagi. Pengen beli hape. Awalnya nyari yang penting bisa buat nelpon dan sms, lalu pengen yang bisa memutar mp3. Bertambah lagi yang ada kameranya. Lalu muncul keinginan laagi yang sudah jaringan 3G, tidak sampai disana pengen yang bersistem android, belum sampai situ. Pengen yang berlayr 5 inch. Sampai kapan..??? padahal mungkin jika mencukupkan membeli seadanya. Lalu sisanya kita dermakan kepada orang miskin yang lagi kesusahan. Tidakkah kita sadar, kebahagiaan mereka mampu melebihi kebahagiaan saat kita membeli hape canggih tadi, belum lagi jika Allah tersenyum kepada kita, lalu meridhoi hidup kita. Subhanallah. Kebesaran hati takkan terbeli oleh apapun, kecuali dengan hiasan keimanan di dada.

 Ingin punya hp android canggih, kamera dslr, motor laki dua tak. Dan keinginan-keinginan itulah yang disebut hawa nafsu. Keinginan dasar kita untuk bertahan hidup dan menjalani kehidupan dengan kebahagiaan. Dia liar. Itulah yang menyebabkan banyak manusia yang terjerumus karnanya. Lupa segalanya. Hingga yang ada di fikirannya adalah mendapatkan semua apa yang hawa nafsunya ingini. Kunci kelemahan manusia yang biasa dijadikan alat syetan untuk membawanya kepada dosa. “Hidup ini keras. Susah…mau kamu kasih makan apa anak istri kamu? Kamu harus jadi pegawai. Biar dapat gaji tetap. Biar kehidupanmu terjamin..” pertanyaan-pertanyaan dan ungkapan seperti itu biasanya menjadi titik awal jeratan hawa nafsu dalam memangsa kita. Melepaskan ikatan ketergantungannya kepada Allah dan merasa bahwa semua apa yang didapatkan nantinya murni dari apa yang dia seberapa usaha yang dia lakukan nantinya. Adakah Allah di hati kita yang menjadikan semuanya teduh dan nyaman hanya karna cukupnya harta. Kenapa harus uang yang menjadikan mereka merasa tenteram. Haruskah kita menggantungkan hidup ini pada bos-bos yang kapitalis. Pernahkah mereka yang mapan itu menangis sesenggukan di sela sujud mereka berharap besok ada rejeki untuk sekedar mengganjal perut, lalu dia mendapatkannya dan dia merasakan tangan Allah benar-benar turun untuknya. Adakah kita  merasakan seperti itu? Atau yang difikirkan kita hanyalah bagaimana dan bagaimana, tanpa mengikutsertakan Allah di kehidupan kita.

Di dalam Al’Qur’an, pedoman kita. Justru orang-orang berharta lebih banyak diberi peringatan. Tentang bahaya orang-orang yang berlebihan, orang-orang yang dalam hidupnya bersenang-senang dan melupakan Allah. sedangkan orang miskin dijamin dengan dimasukkan kedalam daftar penerima zakat. Saya tidak mengajak untuk hidup miskin, sejauh kita yakin Allah mencukupi kebutuhan kita, insyaAllah akan ada rizki untuk kita, sedangkan hidup enak lebih membahayakan diri kita dengan segala godaan yang ada. Sebagaimana kekhawatiran Rasulullah ketika ada seorang sahabat yang diuji dengan kebutaan namun dia rajin sekali beribadah kepada Allah. Sampai rasulullah saw memujinya. Suatu ketika dia mendekati rasulullah dan meminta beliau mendoakan agar dirinya dikaruniai kesembuhan mata, dan bisa melihat karunia Allah di dunia sehingga bertambah kesyukuran kepada Allah. Namun apa jawab Rasulullah. Beliau menjelaskan kekhawatirannya ketika Allah mengabulkan doanya. Mata yang bisa melihat itu nanti menjadikannya kufur dan melihat hal-hal yang haram. What do you say? Bagaimana menurut anda?

Setiap orang mempunyai sudut pandang sendiri-sendiri dalam memandang sebuah materi. sayapun merasakan betapa susahnya hidup dengan kekurangan seperti ini. Namun kita hidup tak sekedar hidup. Ada esensi sendiri yang harus kita ambil. Bukan sekedar kemapanan. kuselipkan sebuah kisah menarik tentang salah satu kakakku, dia adalah kakak yang paling kusayang karena waktu ku kecil dia selalu membelikanku mainan ketika dia pulang dari rantauan. Ya, meski sekedar jam tangan yang tertempel tanganku atau sebuah mobil RC di sampingku saat kutidur. Itu selalu membuatku surprise, terkadang ingin diri membalas semua kebaikan itu tapi sayang, nasibku tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Kakakku ini orang yang baik, dari kecil dia dikenal penurut dan sangat berbakti pada orang tua. Gak neko-neko. Sangat relijius. Namun sekarang di usianya yang sudah dibilang tak lagi muda. Dengan 4 orang anak, bisa dibilang kehidupannya masih pas-pasan. Mungkin bagi kita yang memandang hal ini. Apakah ini adil baginya. Suatu kebaikan yang dibangun sedari kecil tak membuat kehidupannya menjadi mapan, padahal dia layak menjadi orang besar, bahkan lebih layak dari para anggota parlemen yang kerjanya Cuma duduk, tidur lalu dapat uang. Karena jika dia jadi orang kaya pasti dia ringan tangan membantu sesama. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Adilkah bahkan sampai usianya yang tak lagi muda dia seolah masih merasakan kesempitan hidup? Ney...!! Tak begitu aku melihatnya. Allah menjaganya di dunia ini agar lurus jalannya ke syurga nantinya, di akhirat kelak. Menjaga dari apa? Menjaga dia dari memikirkan hidup dan melupakan akhiratnya, menjaga dia dari kesibukan dunia, menjaga dia dari ketaatan kepadaNya, menjaga dia dari pandangan hidup serba dunia. Kemewahan hanyalah tipuan, yang memberikan kebahagiaan sekejap. Namun secara tak sadar itu telah melenakan manusia dari jalanNya. Ya. semoga saja seperti yang kita harapkan.

Sebaik-baik doa adalah memohon dicukupi kebutuhannya agar tak sampai tersentuh kepada sesuatu yang haram, dan sebagaimana besar rizki yang kita dapatkan, sebesar itu pula kesadaran kita untuk menggunakannya dengan baik, sehingga berkah di diri, bermanfaat bagi yang lain, dan bahagia di akhirat. Terakhir kata, saya teringat pesan malaikat jibril yang disampaikan kepada Rasulullah saw tentang dunia,

wahai Muhammad, Hiduplah sekehendakmu, tapi ingatlah bahwa suatu saat nanti kamu akan mati, cintailah siapapun yang engkau sukai, tapi ingatlah bahwa suatu saat nanti kau akan berpisah dengannya, dan berbuatlah sesukamu, tapi ingatlah bahwa ada saat semua itu kan ada balasannya”

Semoga ini bisa menjadi refleksi untukku dan memberikan pencerahan buat teman-teman sekalian. Terima kasih.

Kau tahu kawan, harta ini kan kau tinggal mati..
Sedang cantik yang kau banggakan itu perlahan berkerut dan kering kusam..
Lantas apa yang sedang kita cari ini.?
Lihatlah didepan sana, Gerbang keabadian tlah terbuka menganga..


2 comments:

Liswanti Pertiwi said...

Memang benar ya, terkadang demi uang banyak sekali yang lupa.

Hal seperti ini semoga dijauhkan ya. Tulisannya mantep neh.

Darkness Prince said...

iya...tingkat kesadaran kita akan hakikat hidup inilah yang menentukan pandangan kita pada materi di dunia ini. bisa jadi materi membawa kita pada kebaikan di akhirat kelak. bisa jadi pula, perlahan materi merusak itu semua,,, semua kesenangan yang bersifat duniawi sejatinya bersifat sementara, mementingkan kepuasan namun addiktif, itulah nafsu. boleh saja orang berpendapat dengan materi kita bisa membantu orang banyak. bisa sedekah kemana-mana. namun kalau kita mau menilik sebentar kata hatti kita. keberadaan materi malah semakin melenakan kita dari hubungan kepada Allah, meskipun dengnnya kita bersedekah banyak. dan kekurangan justru semakin menguatkan ketawakkalan kita kepada Allah, menyempitkan hasrat duniawi dan melebarkan kesempatan untuk beribadah kepada Allah. namun dari semua itu tidak berarti kita lepas begitu saja sebagaimana yang dianut para sufi. karena bagaimanapun kita ada hak badan dan segala hal yang menjadi tanggung jawab seperti anak-istri kita tuk ditunaikan. jangan sampai rasa lepas kepada dunia malah membuat kita menyusahkan orang lain dan memberikan kesan bahwa orang islam tak peduli dengan keadaannya, bahkan keluarganya.

ya..semoga saja kita dijauhkan dari fitnah kelebihan dan kekurangan rizki,,,amiin

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--