Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, January 24, 2015

Kos Bina Taqwa dan Sepenggal Kisah

Memandang jam dinding di tembok kamar kos ini, merasakan pergantian hari demi hari yang begitu cepat membuatku sekejap ingin berfikir tentang sketsa kehidupan ini.  Dimana setiap hari kita melalui tiap fase kehidupan masing masing dengan begitu berat, pahit. Terkadang menyesakkan. Namun ketika kita beranjak kepada fase yang lain. Kita merasakan betapa menyenangkannya memikirkan saat-saat itu. Sebagai bagian dari kehidupan kita. Slalu ada cerita dan slalu menjadi kenangan. Tapi apakah itu bisa disebut kenangan jika kita masih saja terhenti pada satu fase dan belum juga beranjak pergi. Meskipun waktu meloncengkan alarm peringatan, meskipun secara fisik kita sudah harus berpindah fase, namun kita masih disini. Menjadi seseorang yang tertinggalkan. Apakah itu juga merupakan satu kenangan? Entahlah.


Seperti di sabtu senja sekarang ini. Saat kurasakan tempat yang bertahun-tahun kutinggali terasa begitu sepi. Hampir 5 tahun kutinggali dan aku diijinkan merasakan perubahannya. Dindingnya yang merapuh, para penghuni kos yang datang untuk bebrerapa tahun lalu pulang ke kampong halamannya setelah selesai studi. Aku yang paling senior disini. Sebagai mahasiswa abadi yang tak punya harapan menyelesaikan studi. Percuma aku memaki. Aku nikmati saja petualangan ini, meski melihat mereka memakai toga lalu pulang ke rumah serasa menikmati tiap inci kulit yang tersayat duri. Entahlah, mungkin ini bagian dari perjalanan hidup yang tak perlu aku sesali. Hanya butuh perbaikan. Dan menggunting kata terlambat di kamus kehidupan. Semua ini hanyalah takdir. Aku percaya itu.

Sepi sekali keadaan kos saat aku sedang menulis ini.  Beberapa anak yang tinggal tak jauh dari solo seperti sragen, ngawi, boyolali pada pulang kampung, sudah biasa saat sabtu-minggu mereka pulang kampong. sedangkan sebagian lagi pergi entah kemana. Mungkin main ke kosan teman, ngedate atau entahlah. Lalu sisanya. Angkrem di kamar masing-masing. Terdengar sayup-sayup suara music yang mereka putar. Ada juga yang senyap, mungkin lagi tidur. Namanya juga kehidupan kos. Selain urusan kuliah. Kalo gak main, makan, ya tidur. Lampu lorong kos ini belum juga menyala meski senja sudah mulai menghitam. Bisa kebayang bagaimana sebuah kosan dengan bentuk konstruksi kuno memanjang tak lebih baik dari lembaga permasyarakatan. Berlorong gelap dan tak didapati tanda-tanda kehidupan. Itu rasanya cocok untuk dijadikan tempat syuting uji nyali yang tiap malam tayang di salah satu acara tv.

Jangan ditanya gimana keadaan lantai atas. Lebih seram dari yang dibawah, penghuninya lebih pendiam dan tak begitu sensitive dengan keadaan kos, maklum kebanyakan angkatan baru, meski ada juga penghuni lama. Tapi tak jauh karakter dengan yang awal-awal ini. Jangankan berharap kamar mandi terbuka dengan keadaan bak penuh juga air bersih. Lantai yang kotor penuh debu, sampah beterbangan, dengan pojokan penuh tumpukan pakaian kumal setengah basah oleh air hujan yang terkadang dating. Malam pun terkadang lampu masih juga belum nyala, padahal yang di bawah sini ramai aktifitas dan terang benderang.generasi autis yang begitu menjengkelkan buatku, meski tak semuanya, namun kebanyakan begitu. Tak menganggap kos ini rumah sendiri, tapi seperti losmen. Hanya bisa komplen dan komplen. Tanpa sedikitpun bergerak sendiri. Kufikir apa jadinya mereka kalau sudah menikah nanti. Apakah semuanya harus bermuara ke istri. Aku memang yang paling bodoh karena tak juga lulus dengan 6 tahun lebih masa kuliah namun mentalku tak seperti mereka. Dan aku bangga dengan itu.

Tak harus waktu weekend seperti ini, terkadang saat mereka disinipun masih terasa sepi. Hanya ada kamar menyala dengan suara music namun pintu terkunci rapat. Rasanya mereka sudah cukup melalui hari-hari dengan melakukan itu. Its not about studi karna kuyakin mereka tak sedang mengerjakan tugas apalagi belajar. Karna kuliah tak serumit sekolah, bahkan teman kamarku yang IPK nya 3.6 kulihat jarang belajar. Yang penting masuk dan ngerjain semua tugas. Its done. Kembali ke kosan. Entah kenapa bahkan aku yang seorang introvert merasa jengah dengan kesunyian ini. Rasanya tak puas kita menjalani hari tanpa berinteraksi. Begitu membosankan. Harusnya saat-saat seperti ini kita belajar berinteraksi agar tak kaget saat kita bersama mertua atau berada di lingkungan istri. Tapi ya begitulah mahasiswa sekarang ini. Menggebu-gebu saat ditanya masalah politik tapi song-kosong dalam bermasyarakat. Kalau dulu saat aku masih tinggal di kamar atas. Kurelakan tv tunerku kuletakkan di luar kamar biar ramai. Itu berhasil membuat mereka mulai kumpul sekedar nonton tv, tapi sayangnya ketika tv rusak. Gak ada yang mencoba mengumpulkan dana untuk menservisenya. Kembali ke keadaan semula. Ya begitulah. Mau gimana lagi. Namanya juga penghuni kos. Slalu ada cerita konyolnya.

Kos ini 2-3 tahun lalu serasa rumah sendiri bagiku. Keadaan kos yang nyaman, teman-teman yang slalu membikin gurih di setiap keadaan. Ada ridho, anugrah, ipung, singgih, doni, heri. Kini rasanya begitu sepi saat satu persatu mereka pergi meninggalkan kos ini. Studi mereka tlah selesai tepat pada waktunya. Mereka tlah meniti karir, sebagian tlah berumah tangga. Dan aku masih disini.  Para penghuni baru tak sehebat mereka dalam meramaikan kos ini, suasana hati ini. Kini rasanya sepi dan pilu. Entah memang sepia tau aku sepi oleh ulahku sendiri. Setiap kisah tak selalu berjalan beriringan, meski di fase tertentu kita dipertemukan untuk bersama namun itu tak berlaku selamanya. Setiap kita punya jalan cerita sendiri. Seperti kisahku ini, tentang satu weekend yang tak kuharap terjadi.

BINA TAQWA, Kos ini dulu seperti sebuah film persahabatan yang begitu kental dengan kisah seru. Slalu di dapati keramaian yang terjadi di kost ini, entah oleh satu kekocakan teman, atau kekonyolan yang lain. Persis di waktu seperti sekarang ini. Biasanya kita selalu nongkrong di depan tv tua yang penuh tulisan tipe-x dan sisa bungkus jajan yg diselipin disela-sela tv.ada saja yang diomongkan. Semua tak jauh dari cinta dan masa muda. Lekat sekali bagaimana ramainya ketika mereka saling mengejek lalu tertawa satu sama lain. Ketika mereka antusias berkomentar tentang satu acara tv yang sedang mereka tonton. Apalagi malam minggu syahdu seperti ini. Channel bola slalu menjadi nomer satu, tak ketinggalan botol aqua yang terisi beberapa kerikil kecil sekedar untuk menyemarakkan panasnya pertandingan saat masing-masing tim kesayangan berhadapan saat itu.

Indahnya kisah ini. Semuanya cerita pertemanan kita termasuki nilai reliji. Tak melulu tentang kesenangan. Setiap waktu shalat kita saling ajak pergi ke masjid. Jalan bareng sambil ngobrolin apa aja yang melintas di fikiran mereka. Setiap ba’dha magrib terdengar lantunan bacaan alqur’an dibalik pintu kamar mereka. Tak semua. Namun itu cukup untuk membuat penghuni lain segan memmainkan musik atau menonton tv. Sekali lagi tak seperti sekarang ini. Seselesainya shalat isya biasanya kita sepakat makan bareng di warung makan langganan kita. Yang pasti murah dan mempunyai tempat duduk yang cukup nyaman untuk kita buat ngobrol sekenanya, sekedar memberi lebih kesan nikmat dari makanan murah-sederhana yang kita santap. Warung kentrung mbah min di mendungan, atau warung pojokan pasar kleco yang pas dimanfaatin untuk melihat suasana jalanan ramai malam hari, atau warung hik douglas kalau hujan memaksa kita menahan motor kesayangan keluar. Semuanya masih begitu lekat di fikiran.semoga tak terlupakan.

Ada dua tempat favorit kita di kos ini, halaman depan kos dan ruang tv di balkon atas. Setiap sore kita biasa kumpul duduk di bangku panjang depan kos. Tentunya sambil ngobrolin segala sesuatu. Ada yang sambil mencuci motor, mencuci baju, antri mandi. Atau memperhatikan pohon mangga, barangkali ada yang sudah matang. Slalu memunculkan canda tawa.

Ada juga kegiatan lainnya, semisal renang bareng di kolam renang pengging atau bermain futsal, bahkan insidentically kita tanpa niat tiba-tiba jalan kemana rame-rame sekedar mendinginkan kembali fikiran. Bagi kita anak muda yang belum memikirkan keluarga. Itu rasanya sungguh menyenangkan.

Masa paling menyenangkan adalah saat ramadhan, ketika diwaktu subuh kita saling membangunkan satu dengan yang lainnya. Lalu dengan kelopak mata yang belum terbuka sempurna kita pergi bareng makan sahur di warung langganan. Dibungkus dan dimakan di depan tv sambil menonton acara khas pengantar makan sahur. Tak lupa obrolan yang menjadikan dinginnya waktu menjelang subuh itu terasa sedikit lebih hangat. Lalu sorenya antara jam 4- jam lima kurang kita lomba cepat atau kalah antrian mandi. Lalu berbondong-bondong memburu masjid yang menyajikan makanan buka puasa paling nikmat. Masjid Pondok Modern AsSalam, masjid R.S Yarsis, masjid kampus 1 UMS, Atau kalau terlambat kita menuju yang terdekat, masjid Abu Bakar.benar-benar menjiwai untuk seorang mahasiswa, berusaha mendapatkan moment yang pas untuk menjaga dompet tetap pada tebal yang semestinya. Pun meski sehabis terawih terkadang ada godaan saat datang ajakan berbuka jilid dua dengan berbayar. Alias makan di warung karena lapar lagi setelah terawih.

Kenangan-kenangan itu tak terlupakan, benar kata orang. Kita merasakan sesuatu itu sangat berharga justru sesaat setelah kita ditinggalkan oleh nya. Ya. Momen berharga dari hidup kita kebanyakan tak pernah kita planning sebelumnya. Dan itulah yang membuat momen itu semakin ngangenin. Dan perubahan suasana tersebut di keadaan yang sekaranglah yang sedikit meluapkan kenangan itu di fikiran. Saat-saat kita ditakdirkan bersama untuk sepenggal kisah.

Semoga mereka yang masuk menjadi bagian kenangan ini selalu diberikan penjagaan dari Allah, dimudahkan olehNya tuk meniti apa yang sedang diraihnya. Memiliki keluarga yang harmonis, sakinah mawaddah warahmah. Dan segala kebahagiaan slalu hinggap di hati mereka. Karena mereka orang-orang baik yang pernah mengisi penggalan kisah ini. Dan semoga semua yang pernah dilalui bersama tidak terlewat dan terlupakan begitu saja. Godbless you. Friends of Bina Taqwa 2010-2012.

Teman kamar atas wisma bina Taqwa 2010-2012

- Ridho Islami - UMS - Psikologi-Tarbiyah ‘07
- Dian A.P - UMS – Pend. Matematika ‘07
- Ahmad Fatkhul Huda - UMS – PGSD ‘10
- Kardoyo - UMS – Tarbiyah ‘10
- Heri Setiawan - UMS – Tarbiyah ‘08
- Anugrah Adi Mulyawan - UMS – Pend. Bahasa Inggris ‘08
- Singgih - UMS – Pend. Matematika ‘07
- Ipung Anggoro - UMS – Pend. Bahasa Inggris ‘08
- Apriyanto Nugroho - UMS – Pend. Matematika ‘08
- Doni Priyandono - UMS – Pend. Bahasa Inggris ‘08

Dan teman-teman lain yang belum disebutkan. 

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--