Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, January 24, 2015

Dont give up

       Hidup terkadang berasa memuakkan, saat waktu kita berjalan sama cepat. Namun yang lain lebih memiliki pencapaian, sedang kita seolah diam ditempat. Semua manusia paham kita sedang berjalan menuju Tuhan. Jadi apapun yang kita lkitakan, seharusnya melihat apa kata Tuhan. Tak perlu terpengaruh  dengan manusia. Namun saat sebagian dari mereka memuji sebagian dari yang lain dan kita memiliki usia yang sama. Pujian itu seakan berbelok menjadi sindirin dan mengejar ke arah kita. Pedas di mata, pedas juga di telinga.

Tiada hidup tanpa pergaulan. Sungguh betapa nikmatnya hidup ketika kita bisa mengobrl hangat dengan teman diselingi candaan-candaan kecil yang jauh dari keseriusan. Namun ketika arah pembicaraan mereka berubah menjadi tanya jawab tentang pencapaian-pencapaian yang mereka sedang kejar atau baru saja di dapatkan. Itu seolah menjadi wrong seat bagi kita. Tak terasa kursi kita semakin menjauh-lalu menjauh dan perlahan kita beranjak pergi meninggalkan mereka dan tak ingin kembali. Selamat tinggal obrolan hangat.


Adakalanya telinga kita menjadi lebih sensitif oleh kata-kata tertentu, adakalanya pandangan kita lebih tajam oleh pemandangan-pemandangan tertentu pula. Dan keduanya seringkali menjadikan detak jantung berdetak lebih cepat. Atau sesekali seolah berhenti sekejap. Ada apa dengan keringat dingin tiba-tiba menetes di sela-sela tubuh meski udara sangat panas saat itu. Ada apa dengan muka pasi yang tiba-tiba terbentuk, sesaat setelah gelak tawa yang terlempar keluar. Semuanya karena kita gagal meraih pencapaian hidup sebagaimana mestinya.

Kita seolah kehilangan keberanian untuk melkitakan sesuatu. Dan kita lebih pengecut dari maling spion mobil sekalipun. Berjalan dengan bahu menekuk dan kepala tertunduk, seakan tidak ingin seorangpun melihat kita disitu. Kalau perlu, kita bungkus bayangan supaya tak menutupi terangnya dunia waktu itu. Eksistensi kita meredup. Dan tiada kata selain menjauh dan menghilang.

Ada apa dengan hidup yang semakin memberat. Saat semangatnya tercuri, dan jiwanya merasa tersekat. Jangankan tuk melangkah, sekedar bangun dan memikirkan kembali semua itupun, tak akan pernah sampai pada ujungnya. Yang ada hanya kekalutan ditambah ketakutan, masa depan semakin mencekam. Meski pada kenyataannya kita tak seburuk dari apa yang kita fikirkan, selain sedikit sendatan dalam mengarungi yang menjadikan itu terlambat sampai tujuan. Namun kita merasakan itu seolah kita sudah bukan apa-apa lagi. Orang-orang menyebutnya mental blocking, atau kita terpenjara dalam fikiran kita sendiri.

Paranoid, saat orang-orang yang dekat dengan kita menjadi berubah rupa, sapaan hangat kini berubah menjadi serentetan tanya. Mengapa begini dan mengapa begitu. Sedang tak semua alasan masuk logika mereka. Kemudian telunjuk-telunjuk itu mulai berdatangan, berubah membesar dan kesini tepat terarahkan. Terkadang telunjuk itu bergerak kedua arah berirama ke arah kita lalu ke teman sebaya yang kata orang tlah berhasil, kemudian telunjuk itu mengarah lagi ke kita, lalu kembali lagi ke dia. Ada juga dua jari yang bergerak lebar menguak dua sisi dompet memperlihatkan kekosongannya. Yang terakhir mengarah pada rangkaian angka yang berjejer berurutan di tumpukan lembaran sempurna dengan gambar cantik ditiap atasnya. Tertempel ditiap-tiap tembok rumah untuk mengingatkan saat-saat muda dan tua setiap bulannya.

Itu seolah menyisakan harap, adakah sistem yang bisa membuat mereka melupakan kegagalan ini semua. Atau berharap figur manusia kucing yang mempunyai kantong serba bisa itu benar-benar muncul di hadapan kita dan waktu berputar mundur tepat dibelakang saat kita terjatuh. Ah...kita sudah benar-benar kalut dan tak lagi bisa membedakan, antara mimpi dengan realita. Semua berbahasa angan dan terwujud hanya di fikiran.

Dan kegelapan akan sampai pada ujungnya,

Pun meski malam terasa begitu lama karena gelapnya, mentari kan menepati janji untuk datang tepat pada waktunya. Jangan putus harapan. Hanya satu kata yang membekas dari lantunan ayat suci yang biasa kubaca saat hati ini mengerut harap. Saat jantung seolah melambat dan paru-paruku mulai malah menyerap oksigen kedalam tubuh. Akan selalu ada waktu untuk kembali merenungi kehidupan ini, berfikir ulang dan mulai menapakkan kaki mengembalikan keadaan seperti semula. Atau meski tak sebaik semula, namun perbaikan yang kita jalani adalah rangkaian kebaikan pada diri kita. Bukan hidup jika tidak dinamis, bukan manusia jika tak punya salah. Bukan hamba jika tak bertobat dan meminta ampun pada penciptanya.

Kalah di hadapan manusia tak berarti begitu juga dihadapan Sang Pencipta, toh bukankah kekalahan-kekalahan itu menjadikan kita semakin khusyuk kepada-Nya, dan semakin rendah hati pada semua. Terjauhi angkuh dan kesombongan. Dan kita bisa melenggang kangkung pada kehidupan yang benar-benar kita ingini tanpa terpengaruh penilaian mereka.

Selalu ada jalan untuk perbaikan. Meski hitamnya tak bisa kembali memutih benar. Dan lukanya masih terlihat membekas lebar. Kenapa harus disimpan dendam dan sakit hati. Kalau semua ini memang harus terjadi. Ini semua hanya butuh waktu untuk menenangkan fikiran. Agar dada ini bisa melapang, lalu memaafkan semuanya. Biarlah asa ini menguap dan terbawa angin menjadi mendung, siapa tahu suatu saat nanti menurunkan hujan lalu menumbuhkan bibit asa baru yang lebih baik. Semoga..

Kita takkan mampu memaksa waktu berputar mundur dan kembali di keadaan menyenangkan itu. Lalu merubah semuanya hingga berjalan lurus tanpa harus kembali ke sisi gelapnya. Bukankah itu harapan para pendosa di neraka nantinya. Sedangkan kita masih hidup di dunia. Ribuan harapan masih berlari-lari di sekitarku, menyelinap di sela-sela pedihku. Allah, Tuhanku yang Maha Penyayang itu tak pernah kehabisan waktu memberiku potongan-potongan misteri kehidupan untukku. Ini semua hanyalah serentetan takdir yang harus kita lalui  untuk diambil hikmah. Dan segalanya masih bisa berubah. Kun fayakun.!!!

Selalu ada manis yang tercecap dibalik kepahitan hidup, seringkali muncul cinta ditengah kebencian yang meradang. Sebagaimana mereka terpilih menjadi orang-orang yang sukses, kitapun orang-orang yang terpilih untuk memberikan pengajaran bagi insan lainnya. Dan siapa yang lebih menerima keadaan juga berjiwa besar diantara kita, kita tak tahu. Yang kita tahu hanyalah Allah, Tuhan kita yang sungguh Maha Penyayang. Akan selalu memberikan kita kesempatan lagi dan lagi, menawarkan pilihan disela-sela keputusan. Dan harapan. Akan selalu terbuka mata batin ini mengais nilai-nilai kehidupan di kepahitan ini. Dan kita yakin. Suatu saat nanti. Luka-luka ini menjadi penawar bagi yang lain. Kerikil-kerikil tajam akan berubah menjadi berlian. Oleh pelajaran hidup yang tak ternilaikan. Bukalah jalan ini ya Rabbi. Tunjukkanlah. Because I believe. Whether life is like a shit or not. You are the best creator who create everything looks like most beautiful thing around us. Inside of us. 

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--