Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, January 24, 2015

Disatroni Maling

Kejadian kemarin benar-benar begitu mencengangkan sekaligus menggelikan. Bagaimana tidak, sejak aku lahir rumah ini tak pernah ada kejadian disusupi yang namanya maling. Bahkan disekitaran rumah ini. Tak pernah santer terdengar peristiwa kriminalitas seperti ini. Dan kejadian ini menorehkan cerita baru di keluarga juga para tetangga. Tiada satupun barang yang hilang, atau luka apapun. karena maling itu berhasil ditangkap sebelum sang maling beraksi. Yang mencengangkan adalah baru sekali ini aku berhadapan dengan yang namanya maling, dan yang kedua, ternyata maling itu tetanggaku sendiri, Cuma berjarak 2-3 rumah dari tempat ku tinggal, dan terakhir yang paling menggelikan, ternyata dia bukan berniat maling. Tetapi......


Kebetulan sekali memang, beberapa hari sebelum itu aku pulang ke rumah. Kakakku sakit dan itu mengharuskanku kembali dari solo untuk membantu merawatnya di rumah. Lalu malam itu. Seperti biasanya aku bermain komputer di ruang tamu, jaringan wifi gratisan yang kudapat dari tetangga membuatku semakin betah tinggal di rumah dan betah di depan monitor. Candaan para tetangga yang sedang mengobrol hangat di warung depan rumah pun masih keras terdengar. Lucunya, pukul sepuluh aku sempat beralih ke ruang tv, ruangannya paling belakang, deket dapur dan kamar mandi. menyantap menthok goreng pak bambang yang dibawakan mbak ipar. dan sesaat sebelum kejadian aku kembali ke ruang tamu untuk beraksi di dunia maya. Jam 12 kurang seperempat, seingatku. Tiba tiba terdengar suara hentakan keras langkah kaki kakakku yang kamarnya tepat di belakang ruang tamu. Kufikir kakakku ini sedang mengejar tikus, biasanya tikus pada main ke rumah meninggalkan suara gaduh dan kotorannya yang menjijikkan di bawah sofa dan meja. Namun fikiranku berubah ketika kakakku berteriak, “heh..!! sopo kowe” (heh..siapa kamu), sontak fikiranku langsung mengacu pada satu kata, MALIIIING..!!! lalu aku berlari kebelakang membantu kakak mengejar maling itu. Kulihat kakak berhasil menangkap sang maling dengan menjambak rambut belakangnya. Lalu aku datang mendekat. Kakakku yang masih setengah sadar itu memberondongi pertanyaan sambil tangannya tetap mencambak rambut nya tentang siapa dia dan lewat mana dia masuk rumah ini.

Aku kaget setengah mati, karena dia ternyata tetangga sendiri. Mungkin dia mabuk, atau lagi butuh duit untuk beli miras, logikaku saat itu. Dari pengungkapannya, dia mengaku Cuma mau ngintip dan masuk rumah lewat belakang. Ah nonsense. Masak Cuma mau ngintip. Bukannya lebih menguntungkan kalo ambil barang ato duit daripada Cuma ngintip. Aku kembali berlogika. Aku masih ingat kalau di depan sana para tetangga masih asyik ngobrol di warung. Aku berinisiatif menyeretnya ke depan. Dia berontak dengan berkata “ojo..isin aku..” (jangan, aku malu). Tetap aja kupaksa, dengan bantuan kakakku kutarik dia ke depan rumah. Untung saja dia tidak memberikan perlawanan yang berarti. melihat tubuhnya yang kekar, karna bekerja sebagai laden buruh bangunan. Mungkin aku dan kakakku kuwalahan andainya dia memberontak. Dan akupun siap pasang kuda-kuda sebisanya meski 7 tahun lalu pernah mengenyam 3 jenis bela diri, dan sekalipun belum pernah tanding karena selalu melarikan diri.hehehe. namun feelingku mengatakan, dia gak bakal berontak. Karena sekuat apapun maling tetap saja bermental pengecut, atau dia harus rela dikeroyok massa kalau kita kalah lalu berteriak ke tetangga,

Dengan sedikit memaksa kita berhasil membawanya kedepan rumah. Aku berteriak kepada kakakku yang nomer 3 yang saat itu masih berada di warung. semua kakakku rumahnya deket dari rumah, jadi hampir setiap hari tetap bergaul dengan tetangga sini. Mendengar teriakanku, masku yang nomer 3 tadi langsung lari mendekat, mungkin dia kira kakakku yang sedang sakit kumat lagi. Padahal masih nyenyak tidur di samping ibukku, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Setelah kubawa ketengah jalan. Sang maling itu berhadapan dengan aku, kakakku yang di rumah, dan kakakku yang nomer tiga. Sedang tetangga yang lain tetap di warung mengawasi. Lha mau gimana lagi. Malingnya tetangga sendiri. Di hajar juga gimana. Akhirnya sang maling Cuma dapat beberapa tamparan dari kakakku, setelah itu dilepaskan. Pagi harinya masku yang mau dimasuki kamarnya itu ngomong baik-baik ke ibunya. Menceritakan ap yang telah terjadi malam itu. Jangan tanya setelahnya, berita menyebar perlahan demi perlahan, dari mulut ke mulut. Sampai tiap kali kita bertemu tetangga, selalu itu yang dibicarakan. Kasihan ibunya, entah seperti apa malu yang dirasa gara-gara tingkahnya tersebut. Yang jelas setelah kejadian itu pintu rumahnya selalu tertutup rapat, padahal biasanya pada ngobrol di depan rumah.

Ya, yang terakhir ini adalah berita mengejutkan lainnya. ketika mbak iparku ngobrol dengan bu RT di satu kesempatan. Ternyata bu RT menanggapinya santai. Dan diluar dugaan. Bu RT yang notabene rumahnya tepat di depan rumah pelaku. Bercerita kalau dia memang suka ngintipin orang, bu RT sering diintip kalau lagi di kamarnya. Padahal kita para tetangga kan biasa sliwar-sliwer ke rumah tetangga yang lain. Mungkin ada butuh apa biasa ambil sendiri, maklum kita orang desa.namun ternyata hal ini dimanfaatkan oleh pelaku. Hal ini langsung kukaitkan dengan peristiwa cekcok pelaku dengan tetangga baru waktu silam, yang mengaku istrinya sering diintip ketika sedang mandi dengan dalih memperbaiki genteng rumah yang letaknya persis pepetan belakang rumah. Dengan kata lain pelaku mempunyai penyimpangan seksual. Tak ada respon hukum karena tetangga sendiri dan kita, keluarga masih respek dengan keluarganya yang baik.

Baik saja tak cukup.

Itulah pembelajaran yang kudapat dari kejadian ini, sekaligus menguatkan argumentasiku sebagaimana saat sedang berdiskusi hangat dengan teman-teman cewek tentang kriteria calon pasangan mereka nanti. Bahwa sesuatu yang tidak berlandaskan dengan pemahaman agama akan mudah terlepas dari diri seseorang. Kemungkinan potensi kamuflase/ pura-pura baik-nya lebih besar dari orang sholeh yang mengenyam pendidikan agama. Karena bagaimanapun, agama bersifat membentengi manusia dari perbuatan buruk. Sedangkan watak, atau karakter dapat dipengaruhi oleh sesuatu semisal keadaan. Masih teringat dengan pesan bang napi bahwa kejahatan terjadi bukan karena ada niat, tapi karena ada kesempatan. Well, banyak kita jumpai akibat dari hal-hal tersebut di televisi. Saya kasih contoh semisal kejadian kekerasan dalam rumah tangga. Tak mungkin seorang istri mencari pasangan orang yang suka marah atau temperamen. Dulunya pasti dia mengenal suaminya sebagai seorang yang santun dan penyayang (pas lagi pacaran). Kemudian ketika berumah tangga, berhadapan dengan berbagai cobaan dan tekanan hidup. Tentang finansial, atau bahkan godaan orang ketiga. Akhirnya berkuranglah rasa cinta kepada pasangan sehingga konflik yang ada memicu amarah dan akhirnya terjadilah KDRT. 

Kembali ke kejadian ini. Kita sama sekali tidak menyangka pelaku akan berbuat demikian atau berperilaku menyimpang seperti itu. Dulu waktu kecil dia sering disuruh bantu-bantu sama tetangga dan diberi upah, karena keluarganya memang orang miskin dan sang ibu rajin pergi ke masjid. Dia dikenal penurut dan tidak mbalelo, sehingga tetangga suka menyuruhnya bantu-bantu. Kemudian ketika beranjak besar dia bekerja sebagai buruh tukang bangunan. Memang semenjak dia dewasa perilakunya terlihat tidak seperti saat dia kecil dulu, sekarang terlihat agak materialistis. Jadi kalau disuruh-suruh secara gak langsung dia minta imbalannya dulu. Semuanya serba imbalan, bukan sekedar membantu. Karena itulah keluargaku jadi agak malas memintanya bantu-bantu sesuatu. Tapi masih ada tetangga lain yang memakai jasanya semisal menyuruh mengantar ke suatu tempat. Kita juga tetap bergaul baik, saling canda dan ngobrol kalau lagi kumpul-kumpul antar tetangga. sampai kejadian kemarin itu.

Menurutku ada beberapa hal yang melatar belakangi pelaku sehingga melakukan penyimpangan seperti itu.

1.           Usianya memang sudah waktunya untuk menikah, mungkin sekitar 30 (kurang/lebih dikit dari itu). jadi wajar ketika dia tidak mempunyai tempat yang halal untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya, dia mencari alternatif yang menurutnya paling pas dan paling nikmat baginya, meskipun bagi orang lain itu bentuk penyimpangan. Dan selama dia tidak mendapatkan tempat yang halal, dia akan melakukan itu terus menerus. Karena bentuk penyimpangan seksual itu tak ubahnya seperti rokok atau narkoba. Bersifat candu meski nikmatnya sesaat. Jadi tanpa ada fikiran jernih untuk menghentikan perilaku tersebut. Hal itu tidak akan berhenti. Karena sadar ataupun tidak, perlahan dia sudah hilang logika dan pertimbangan untuk melakukan hal tersebut. Sehingga dia nekad melakukan itu meskipun dengan konsekuensi yang terlalu berbahaya, seperti masuk rumah orang. Dia sudah tidak peduli lagi gimana akibatnya andai ketahuan. Bisa-bisa mati dikeroyok warga.

2.                       Keadaan ekonomi yang tidak stabil (belum mapan) membuatnya belum berani untuk menikah, ditambah dengan gaya hidup yang asal-asalan. Menjadikannya dia tidak punya target hidup ke depan. Sehingga segalanya terlihat berantakan. Bukan berarti dia tidak punya duit, bahkan dia lebih pinter cari duit daripada saya. Semua orang pun tahu bahwa kerja laden tukang bangunan tu besar. Namun mungkin tiap kali dia gajian, dia tidak menyimpan duitnya dengan baik, langsung digunakan untuk hura-hura, padahal pekerjaan laden kan tidak selalu ada, menunggu panggilan job. Itulah yang membuatnya tidak berani untuk menikah. Atau mungkin memang dia belum pengen menikah.sebagaimana tadi, orang-orang seperti ini tak punya terget ke depan. Dan dia tidak mempunyai banyak teman wanita yang bisa dijadikan pilihan untuk dinikahi. 

3.                  Kurang mengenyam pendidikan. Banyak orang berfikir sekolah agar pintar. Namun pintar yang dimaksud hanya sekedar kemampuan untuk mengerjakan soal. Lalu punya nilai baik, berprestasi. Kerja mapan dan dapat duit banyak. Padahal fungsi sekolah adalah merangsang otak untuk berfikir, memahami sesuatu dengan kadar yang tepat, lalu meresponnya sesuai aturan. Dengan kata lain. Pendidikan menjadikan kematangan fikiran dalam memutuskan segala sesuatu dalam hidupnya. Berfikir logis dan punya daya nalar yang baik. cerdas dalam memimpikan masa depan dan merealisasikan. orang yang kurang mengenyam pendidikan biasanya cara berfikirnya pendek, kurang peka dengan lingkungan atau perasaan orang, cenderung pragmatis. Seringkali bergaya hidup hedon. Sebenarnya poin yang pertama, yang kedua, dan yang ketiga bisa diselesaikan dengan adanya point ke empat, sayangnya di point tersebut dia juga miss.

4.                 Jauh dari agama, meskipun ibu dan adik adiknya rajin ke masjid. Dia mengikuti gaya bapaknya yang jarang ke masjid, mungkin bahkan jarang shalat. Hal itulah yang membuat dirinya semakin gersang di dunia ini. Dan orang-orang seperti ini hidupnya akan terlihat kacau, meski sekaya apapun dia. Dia seperti layangan putus yang terbang kesana kemari tanpa arah dan tujuan. Padahal andaikan dia dekat dengan Tuhan, meski gak seberapa dekat. Pasti ada akhir dari semua penderitaan. Seperti tetangga dekatku itu anak orang miskin sekali. Tapi saat kecil dia santun dan rajin ke mesjid. Dia cari kerja dan mengumpulkan uang untuk menikah. Sekarang sudah mempunyai beberapa anak. Dan kehidupannya normal meski memang dari finansial tidak sesejahtera lainnya. Tetapi kondisi batin dan jiwa terisi oleh agama. Saya suka orang seperti itu. Karena saya yakin jika ada doa, pasti ada jalan untuk berusaha. Selemah apapun kita. Karena bahkan orang yang tidak peduli dengan Tuhan saja dimakmurkan olehNya, tidak mungkin kita yang selalu mengingatNya, menyebutNya disetiap keadaan, terlupakan begitu saja. Ini hanya sekedar ujian. Kalau kita tak pernah paham dengan ini semua. Ya seperti pelaku ini, dia tak tahu harus gimana, dan terus melakukan hal tersebut.


Masalah adalah hal yang biasa terjadi di dunia ini. Masalahnya adalah kurang pekanya orang-orang terdekat untuk mengantisipasi hal ini. Atau melakukan perbaikan kepadanya. Merasa semuanya berjalan baik-baik saja meskipun indikasi penyimpangannya sudah terdeteksi. Atau dengan mudah menyalahkan pelakunya begitu saja. Padahal kita tahu hal tersebut bukanlah sebuah jawaban dari permasalahan tersebut. Sekali lagi bukanlah jawaban. Namun begitulah pemikiran orang-orang kita. Kita terlalu melihat dari kasat mata tanpa benar-benar ingin tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Semisal kita punya anak yang tidak begitu pintar di sekolahnya. Kita semena-mena mengatakan dia bodoh, padahal selalu ada alasan di setiap ketidak normalan hidup ini. Mungkin saja dia salah menggunakan teknik belajar. Atau mungkin dia butuh bimbingan agar semangat belajarnya naik, lihatlah betapa lembaga bimbingan belajar dilingkungan anda menjamur banyaknya. Karena lembaga tersebut sukses membuka salah satu kelemahan murid dalam pembelajaran. Tapi kebanyakan para orang tua tidak menyadari itu. Kemudian dalam kasus anak menjadi penakut, kita para orang tua dengan santainya menyebut penakut, membully anak sendiri. Padahal jika kita amati, mungkin ada yang salah dari didikannya. Mungkin kita terlalu ketat mengawasi dia sehingga apapun yang hendak dia lakukan. Kita batasi dengan alasan safety. Padahal dibalik itu, perlahan mentalnya terblocking untuk selalu memberikan alarm ketika dia hendak melakukan apapun itu. Dan lama kelamaan dia akan menjadi takut meski sekedar untuk berbuat apa yang dia ingini. Dia lebih memilih pilihan orang lain. So? Semuanya perlu kita sadari bahwa ketidak normalan di kehidupan ini selalu mempunyai faktor x yang harus diperbaiki agar semua kembali berjalan normal. Bukan menjudge atau menyalahkan orang/pelakunya begitu saja. Kecuali memang ada niat. Maka hukum tetap ditegakkan.


Bukan maksud saya untuk menjelekkan atau menyudutkan pihak tertentu (karenanya saya tidak menyebutkan identitas asli) namun saya berharap dengan kejadian ini ada banyak hikmah yang bisa di dapat. Karena kehidupan adalah pembelajaran untuk menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Fungsinya agar kejadian sepeti ini tidak terulang lagi dengan adanya antisipasi. Berupa perhatian yang baik dari orang-orang terdekat. Tuntunan yang intensif, seperti kakak ipar saya yang mencandai saya setelah kejadian tersebut, dia bilang, ”ojo koyok ngono lho om,”(jangan kayak gitu lho, om) :D

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--