Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, June 28, 2014

Tragedi Speaker Bocor

        Beberapa hari kemarin hampir saja aku berkelahi dengan teman satu kosan, bukan karena urusan asmara dua diana, apalagi soal menagih hutang, namun soal mempertahankan kerukunan wisma bina taqwa yang saya tempatin ini. Ya, judul tragedi speaker bocor diatas sedkit merepresentasikan tentang apa bahasan ini. Ya, mendengarkan musik memakai speaker aktif memang terasa enak sebagai pengisi waktu luang, atau membuang kepenatan aktifitas padat. Dentuman bass nya yang begitu  ngeboom juga suara treble yang nyaring, itu seolah sanggup menghilangkan segala kegundahan. Apalagi jika speakernya bermerk dan mahal, sudah pasti suara yang dihasilkan sangat jernih dan enak ditelinga. Namun tentunya mempunyai suasana hati yang berbeda, ada yang sedang galau, butuh penjernihan fikiran, ada yang sedang belajar, butuh kesunyian, ada juga yang sedang istirahat, butuh yang namanya ketenangan. Apalagi dengan lingkungan kos yang tempatnya berdempetan, jangankan untuk nyetel musik, suara langkah kaki dari lantai atas pun teras seperti ada gempa, dug…dug…dug.... Namun berbeda dengan temanku yang satu ini, mungkin biar dianggap anti mainstream oleh teman-teman yang lain,namun bukannya mendapat pujian, malah menuai konflik.


         Kosku itu unik memang, selain bentuk bangunannya yang mirip gedung tak terpakai,atau lembaga pembinaan,  orang-orangnya juga seunik bangunannya. Mempunyai 24 kamar yang terbagi dua, kamar atas dan bawah, dahulunya banyak orang-orang keluaran pondok disitu, jadi kalau subuh tiap kamar diketok agar shalat di masjid, kemudian setiap waktu shalat juga pada bareng-bareng shalat berjamaah dimasjid. Kamar atas menjadi kamar vip karena kebanyakan mahasiswa santri tersebut berada disana, cenderung bersih, nyaman, dan slalu terdengar merdu alunan murattal tiap harinya, sedangkan kamar bawah penghuninya agak tak tertata, sering teriak-teriak saat ngobrol, ngomongnya kurang terjaga, setidaknya waktu itu tidak ada yang berani merokok di kosan,  apalagi memasukkan wanita ke dalam kos.

      Nah, era baru terjadi pasca keluarnya para penghuni yang berpengaruh tersebut, perlahan suasana kos berubah. Anak - anak mulai berani menyetel musik keras-keras dan merokok. Beberapa anak yang masih suka ke masjid pun berusaha untuk menasehati namun susah, karena memang perbandingan yang lurus dengan yang aneh tidak seimbang. Akhirnya ya sedikit banyak tetap diusahakan minimal untuk menjaga kerukunan dan kenyamanan di lingkungan kos.

Beberapa masa setelah era gemilang usai dan berganti era kegelapan,

      Suatu hari, keponakanku yang notabene menjadi salah satu pengurus disana merasa menceritakan keresahannya karena tiap malam slalu terganggu oleh suara keras musik depan kamarnya, dia bercerita kalau musik itu dinyalakan hampir tiap hari, tidak peduli pagi siang malam, ponakanku merasa terganggu  belajarnya dengan adanya musik tersebut. Akupun sebagai om berusaha untuk menjaganya dari segala gangguan, biarlah om nya rusak, yang penting ponakan sukses.

       Ternyata benar, setiap kali kita naik ke lantai atas (tv kos berada di atas) kita selalu dibisingkan dengan degupan suara lagu yang menurutku gak wajar, itu berasal dari kamar si A, yang diceritakan keponakanku sebelumnya. Padahal dalam grup fb kos, sudah diperingatkan. Para pengurus kos sudah berusaha demokratis dengan membuat wadah untuk anak kos menyampaikan unek-uneknya tentang kos dalam grup fb tersebut. Namun malah dibuat bahan bercandaan, iseng-isengan posting photo temen yang lagi tidur hasil dari nyuri-nyuri jepret, gpp sih biar nambah kedekatan, tapi  kalau himbauan pengurus untuk anak-anak kos lewat grup fb itu tidak digubris, repotlah keadaaan.jadwal piket berantakan, keadaan kos kacau dll, apalagi untuk masalah speaker bocor tadi. Himbauan dari pengurus agar tidak membunyikan musik keras-keras itu rupanya tidak mendapatkan respon yang positif dari si doi, dalam beberapa hari musik masih menyala keras walaupun sang empunya kamar terkadang keluar. Mungkin dia menyetel musik bukan untuk di dengarkan, tapi untuk dipamerkan ke orang, karena semestinya untuk menikmati musik tidak harus sekeras itu. Kuping malah panas denger suaranya, apalagi liat orangnya.hohohohoho..

       Lanjutan ceritanya, Malam itu saat kita lagi asyik-asyiknya menonton tv bareng di sudut kamar atas, ada juga yang sedang maen karambol, maenan favorit terbaru anak kos setelah ada yang mau benerin papannya, kebiasaan anak kos lagi, kalau ada barang rusak, satupun tidak ada yang mau menyentuh, tapi kalau udah jadi, rame-rame deh pada pengen make. dan lagi-lagi kita dusuguhkan dengan suara gak asik itu. Temen-temen mulai risau, akupun sedikit esmosi, kalau gak bener-bener kelewatan aku susah emosi, aku datangin aja kamarnya. niatnya mau ngerjain tu doi, matiin speaker, tapi waktu di kamarnya, ternyata ada orangnya,ngaplah-aplah alias terlentang sambil megang hape. akhirnya kusindir saja "opo ra budeg kupingmu nyetel banter-banter ngunu, men??" (ápa gak tuli tu telinga dbuat dengerin lagu dengan volume sekeras) setelah kutinggalkan dia sedikit mengecilkan volume nya, mungkin masih terhalang gengsi.

      Nah, pagi harinya ketika aku main ke kamar atas, gak sengaja aku lihat tulisan iseng yang ditempel-tempel di tembok samping kamar si doi, tiba-tiba terlintas di fikiran (entah dari bisikan malaikat atau syetan) untuk menulis pesan buat si doi, mumpung suasana kos sedang sepi. Kupinjem spidol dan lak ban dari temen, terus kutulis 'TOLONG..!!!! KALAU NYETEL MUSIK JANGAN KERAS-KERAS..!!! INI KOS, BUKAN DISKOTIK..!!!!!' panas berasa emang tulisan itu, sebenarnya aku gak semarah tulisanku itu, namun aku punya bakat bawaan dari bokap, yaitu manasin kuping orang hhehehe. sampai temenku jadi kecut waktu liat tulisannya dan berusaha menjegah niatku,"jangan bang, bisa-bisa panas suasana, nanti', aku pun Cuma tersenyum,, aku juga pengen tahu bagaimana respon dia, karena doi satu ini emang orangnya unik, paling suka ngomongin diri sendiri, apalagi kalau menang maen ma temen-temen, kebanggaan ma kemampuannya sungguh terasa menjengkelkan, temen-temen pun banyak yang ngerasa begitu, aku bilang aja mungkin si doi cuman pengen bercanda namun dia tahu caranya ngelucu, jadinya ya begitu. Kadang terlihat konyol emang kalo liat si doi sedang melucu. Gak bermaksud ngerendahin lo sob, aku nulis gini biar ntar kalo udah tua trus  ngeliat tulisan ini jadi keingat masa muda kita dulu, terutama ma elu.hehehe.

      Dan bener, siang harinya ketika kita sedang asyik bermain karambol, dia keluar kamar sambil marah-marah, kemarahan yang paling mengerikan yang pernah kulihat dari dirinya, sambil sumpah serapah dan segala kata kotor keluar dari mulutnya, aku hanya diam dan pura-pura tidak tahu, hehehe. Emang rada keterlaluan sih tulisan tadi, kalau itu ditujukan buatku pun aku juga sama tersinggungnya kayak si doi.
Dia bilang 'ya emang ini kos, siapa bilang ini diskotik, kalau berani tuh ngomong langsung ke orangnya, jangan pake gini-ginian, katanya gentle, anak bawah saja pada keras kalau nyetel musik, A*uuu…!!!! (nama hewan yang sedang dijadikan kambing hitam olehnya)hehehe…

      Aku gak tahu apakah dia sudah tahu kalau pelakunya itu aku apa belom, tapi karena malam sebelumnya aku mendatangi kamarnya jadi kemungkinan dia tahu bahwa itu kelakuanku, namun dia hanya menyindir. Waktu di doi lagi naik pitam sebenarnya aku mau berdiri dan mengaku, sebagai seorang lelaki kan kudu tanggung jawab, namun pertimbanganku percuma bicara di depan orang yang sedang naik pitam, gak ada gunanya, dan spekulasiku kalaupun aku ngaku, 90 persen yang terjadi adalah baku hantam. Sayangnya dia seorang muslim dan kita masih tinggal satu atap, jadi sudah bisa dibayangkan kedepannya pasti jadi gak enak kalau itu kejadian.

     ya anak bawah memang ada beberapa yang seka membunyikan speaker kenceng, aku juga, namun itu juga tidak selalu hidup, dan gak sekencang itu, mungkin karena speakernya bagus jadi yang terasa hanya dengungan bass. Dan seharusnya memang gak perlu menjadikan keburukan yang lain sebagai alasan untuk melakukan hal yang sama, keburukan kan gak harus ditiru. Kita anak bawah juga sudah berusaha mengkondufsifkan keadaan. Tiap waktu shalat pergi ke masjid dan sehabis maghrib membiasakan pada ngaji, meskipun kamar yang diatas masih pada bercanda di depan tv. Memang keburukan lebih mudah untuk menular daripada kebaikan. Sayangnya ketika ada seseorang yang melakukan keburukan kita lebih mudah untuk menirunya seolah ada teman yang bisa dijadikan alasan, namun tidak untuk kebaikan. Padahal itu lebih bermanfaat untuk yang dirinya.

      Memang kepribadian seseorang sangat terlihat dari bagaimana dia merespon masalah atau segala sesuatu yang menjatuhkan dirinya. Bukan dari bagaimana dia bersikap, karena terkadang omongan ma sikap masih bisa direkayasa, namun kalo sudah kena hal yang berhubungan langsung dengan dirinya, nah itu baru keliatan wujud aslinya. Ada orang yang suka banget ngelucu namun ngelucunya kelewatan, demen banget ngebully temen dan ngomongin diri sendiri, itu biasanya orang yang ekshibisionis, alias pengen terlihat di lingkungannya, sehingga dia gak begitu peduli konten omongannya, yang penting memperlihatkan bahwa dia lebih dari teman-temannya yang lain, ada juga yang orang nya tenang, dibully temannya pun senyum-senyum aja, orang kayak gini malah lebih diapresiasi teman-teman yang lainnya meski itu tidak diucapkan secara langsung, terkadang kita lupa, bahwa orang-orang disekitar kita pun bisa menilai kita meski mereka tidak me ngatakan langsung, jadi jangan berfikir kita aman untuk mencurangi atau mempercundangi teman. Karena pun mereka gak merespon, mereka bisa menilai, ujungnya nanti kalau kita butuh sesuatu ke dia, nah respon dia ke kita itulah jawabannya. So, keep your mouth bro...

       Sebenernya yang ingin ditekankan dari kisah ini adalah tentang sensifitas diri, bukan untuk menceramahi atau menggurui, akupun kadang luput dengan mudahnya melukai perasaan orang, makanya sebagai manusia lemah nan sering khilaf baiknya kita saling mengingatkan seperti ini, jadi maaf-maaf kate kalau bahasannya terlalu sok atau gimana, bukan penulis yang pinter.hehehe..

       Kite lanjut lagi tentang sensifitas diri, bagaimana kejernihan hati itu terefleksi dari kesensitifan dirinya terhadap segala sesuatu,orang yang punya hati jernih pasti selalu mengaitkan segala sesuatu dengan dirinya, misalnya ada orang yang suka ngomong keras-keras, mungkin hatinya akan berkata, apa kalau aku bicara ke orang-orang sekeras itu ya, sehingga dia menjadikan ketidak nyamanan atas perilaku tidak baik orang lain sebagai peringatan buat dirinya agar tidak melakukan hal serupa, karena kesadaran bagaimana tidak enaknya diganggu orang lain,

        Kehidupan di lingkungan kosan memang serba jelimet atau kacau, dimana berbagai macam kepribadian berkumpul disitu, yang mana sedikit  banyak orang-orang disekitar merasakan/ mendapatkan efek dari perilaku-perilaku gak baik tersebut. Semisal, ada orang yang joroknya minta ampun,kalau mandi sering sekali ngotorin bak ,kalau kencing jarang nyiram. ada juga yang egois, demen banget ngumpetin ember yang seharusnya dipakai bergiliran, ada juga yang suka make barang milik temen tanpa ijin, yang paling sepele tapi cukup mengganggu, urusan bau.

         Nah, dalam urusan seperti itu sensifitas diri bener-bener kudu dipakai, kebiasaan tidak baik teman-teman kos yang lain harusnya dijadikan cambukan agar kita tidak melakukan hal serupa, bukan malah dijadikan tameng sehingga kita bebas melakukannya. Kita memang  punya hak untuk melakukan sesuatu semau kita, namun kita juga ingat bahwa mereka juga punya hak untuk tidak terganggu oleh kita, dan itu menjadi kewajiban buat kita. seperti masalah speaker bocor tadi. Memang anak-anak kamar bawah banyak dan sering menyetel musik keras-keras, namun tidak sekeras yang satu tadi, karena kalau sudah kelewatan, pasti aku bertindak, begitu sebaliknya, kalau masih wajar-wajar saja, aku biarkan.pun anak-anak bawah juga sudah sering kuomongin baik-baik buat pelan aja nyetel musiknya, mungkin untuk peringatan yang satu ini emang terlalu frontal, Kejadian naik pitamnya doi sontak membuatku berfikir, apa aku subyektif melihat masalah ini, dengan mendiamkan/ membiarkan anak-anak bawah (karena aku juga tinggal di kamar bawah) tapi memperingatkan kamar atas.  Memang antara anak bawah dengan anak atas ada sedikit rasa sentimen pada keduanya, namun sudah berusaha dibiaskan untuk menjaga hubungan sesama penghuni kos.


        Sensifitas diri itu sangat perlu, bahkan ajaran agama kita juga menganjurkan ummatnya untuk senantiasa memekakan diri dengan diri sendiri juga lingkungan sekitarnya.tujuannya adalah terciptanya suasana yang tidak h anya kondusif, namun perbaikan yang kontinu. Begitu juga kita sebagai individu yang sudah baligh, punya tanggung jawab atas perbuatan kita sendiri, dimana apa yang tlah kita lakukan langsung dapat dilihat dan dirasakan orang lain sehingga bisa langsung dinilai oleh masyarakat. Gak enak kan kalau kita dicap gak bagus, apalagi kalau nanti kita sudah  punya istri atau keluarga, mau dibawa muka istri kita, kalau tau punya suami gak peduli dengan dirinya sendiri. Semoga kita diberi sensifitas diri dan dipermudah untuk memperbaiki diri.

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--