Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, June 28, 2014

Renaissance

            Semester ini merupakan moment renaissance bagiku, ya aku meminjam istilah kebangkitan eropa yang diawali dengan revolusi industri itu (padahal itu adalah awal konspirasi yahudi terhadap dunia dengan mendupak ehidupan keagamaan yang sebelumnya mendominasi pemerintahan). Setelah larut dalam kevakuman kuliah selama 3 tahun, kevakuman yang merubah diriku, fikiranku, finansialku, dan semua yang berhubungan denganku dari yang berwarna menjadi buram, dari yang bermelodi menjadi sunyi, kini perlahan pelita itu menghampiriku meski belum terlalu jelas cahayanya. Menegakkan kembali kepalaku dan menguatkan langkah-langkahku. Untuk menuntaskan studi yang makin mumet ini.Aku harus mengejarnya selagi ada, atau aku harus melewatkan moment baik itu dan membiarkan diriku merana.


               Berawal dari pertemuanku dengan Mr. Fitri Kurniawan, dosen muda ini baru  pulang ke Indonesia setelah menuntaskan gelar S2 nya di Aberdeen, UK. Selain pandai, Beliau seorang yang enerjik dan sangat low profile, terutama terhadap para mahasiswanya, itu salah satu point yang menjadi alasanku untuk mendekatinya. Tak banyak dosen yang merakyat seperti itu. Pertemuan itu saat akumasuk perdana ke kuliah yang diampunya, Writing 4. kulihat kelas sepi namun beliau ada di dalam kelas, aku tak berani masuk ke dalam kelas. Aku hanya menunggu di depan kelas sembari menunggu teman lainnya, padahal sebenarnya pengen banget aku bicara tentang skripsi, karena kata temen-temen seangkatanku dulu, beliau mau bantu bikin skripsi. Nah dalam pergolakan batin apakah aku masuk ke dalam dan curhat dengan beliau mumpung kelas kosong, atau aku harus melewatkan kesempatan emas ini. Mungkin ini adalah bagian dari takdir tiba-tiba beliau keluar kelas dan berjalan menujuku, basa-basi sebentar  lalu beliau bertanya 'kuliahnya masih kurang apa mas?", mendengar perkatannya membuatku serasa mendapatkan titik terang, ini saatnya bicara dan minta bantuan. Lalu aku bicara jujur kalau kuliahku mandeg dan belum dapet bikin skripsi. And I WAAS SURPRISED..!!! Beliau menawarkan bantuan untukku buat skripsi, aku diarahkan harus begini dan begitu biar terbiasa dekat dengan skripsi. Kegembiraan yang tak tergambarkan buatku.

                Memang agak lama proses ini, selama satu semester aku diajari bagaimana bikin skripsi, aku diberi masukan tentang novel yang mau dianalisi,diberi judul apa dan pendekatan-pendekatan ilmiah yang nanti dipakai. Aku dipinjami sebuah skripsi yang mempunyai pendekatan yang sama dengan yang kupakai, lalu aku disuruh bikin yang seperti itu dengan memparaphrase skripsi tersebut, tidak singkat memang, butuh beberapa kali pertemuan untuk bisa membangunkan sempitnya fikiranku tentang karya ilmiah ini. Pujian nya kepadaku (kita sama-sama blogging dan beliau pernah baca blogku) membuat kepercayaan diriku tumbuh kembali. Aku bikin proposal dengan semangat.  Sayangnya aku belum dapet novel yang mau dibikin skripsi itu, beliau punya dan mau meminjamkannya kepadaku.

           Cobaan kembali muncul, aku belum bisa membuat proposal secara sempurna kalau belum dapat novelnya. Aku menunggu beliau memberikan novel itu kepadaku namun slalu aja ada rintangan, tiap kali ketemu di kelas beliau sering lupa bawa, atau kalau janji ketemuan untuk memberikan novelnya, tiba-tiba beliau berhalangan entah ada acara lain atau apa, maklum lah dosen. itu terjadi hingga 6-7 kali. Pernah aku disuruh datang ke kampus di gedung lantai 4 paling atas. Padahal aku lagi tidak ada kuliah, aku bela-belain mandi, pinjem motor temen dan buru-buru ke kampus, eh disana ternyata beliaunya gak bawa. Atau pernah malam-malam aku disuruh ke kampus karena beliau ada undangan nonton drama kampus, aku kesana dan menunggu sampai  acara habis, eh ternyata malah diajak ngomong doank. Ada lagi aku disuruh mengambil fotokopian novelnya di fotokopi deket kampus, tapi setelah kesitu dan saya cek ternyata gak ada novel yang aku cari itu. Euh…bukan emosi sih. Cuman sempet ragu bener gak sih beliau punya novel itu, karena saking seringnya beliau mangkir buat berikan novel itu ke aku. Namun aku tetep sabar, karena aku tahu beliau orangnya baik,siapa lagi yang mau membantuku dan menyemangatiku untuk menuntaskan skripsi dengan penuh semangat tanpa melihat sisi kekurangan yang biasa digunakan dosen lain untuk mengejekku.kapan lagi aku dapet bantuan bikin skripsi seperti ini, maka aku selalu menahan diri untuk tidak 'mutung'. Dan akhirnya kesempatan itu datang juga, beliau memberikan novel itu versi aslinya,bukan foto kopian, dan aku disuruh menjaganya, karena beliau beli dari U.K, di indonesia mungkin gak ada yang jual.hehehe….

               Ada cerita lucu saat aku berbincang dengan beliau,suatu ketika, saat kita mengobrol hangat sembari berkonsultasi di sela jam kuliah,beliau tanya, "gimana perkembangan kuliah semester ini, mas?" dengan malu aku bilang banyak yang miss pak, beliau gak begitu kaget ataupun mencari tahu kenapa, karena beliau begitu menjaga hati mahasiswanya, itu terlihat saat sedang dalam perkuliahan, saat beliau tanya kepada salah satu mahasiswanya, kalau mahasiswanya gak bisa jawab atau diam, beliau gak menunggunya, namun langsung melempar pertanyaan kepada mahasiswa lain atau beliau jawab sendiri, mungkin itu digunakan agar mahasiswanya tetap nyaman berada dikelasnya tanpa canggung juga tanpa takut. Setelah mendengar jawaban dariku tadi,  beliau tidak langsung menjustis atau menyalahkanku, namun menyemangatiku, yausah tahun depan diambil lagi. Aku merasa sudah sebegitu dekat dengan beliau, dan itu membuatku berfikir bahwa moment itu pas untuk aku bicarakan hal yang paling rahasia kepada beliau, karena aku yakin beliau mau mendengarkan dengan baik. Aku bilang, "boleh curhat sedikit pak?", beliau bilang: "oh, silahkan.. duduk sini," beliau mempersilahkan ku untuk duduk di dekat beliau, aku cerita blak-blakan bahwa aku seperti ini karena aku mempunyai penyakit psikis, yakni sindrom kecemasan tinggi atau yang biasa disebut neurosis. Aku bilang "setiap kali saya menunggu kuliah itu tidak berani di depan kelas pak, kalau pergi ke kota, setiap lewat di lampu merah pasti deg-degan", aku memberinya contoh agar mengerti apa neurosis itu,  beliau sempat kaget lalu tertawa, karena aku yakin beliau kan terfikir seperti itu, lalu beliau tanya, tapi kenapa kalau sama saya kamu terlihat baik-baik saja?", aku bilang saja, karena aku nyaman dengan bapak, bapak orangnya santai dan gak bikin tegang. Beliau berfikir sebentar lalu merespon. "oh…pantesan mas, saya kalau liat mas ini kayaknya gak mungkin seperti itu, saya baca dari tulisan-tulisan di blog mas itu tidak mencerminkan kalau mas itu pemalas, dan IPK mas masih di angka tiga, itu berarti ada sesuatu yang membuat mas seperti ini, pantesan waktu saya suruh mas nyoba bikin proposal, mas slalu bilang kalau mas lebih suka dipilihan dan dituntun harus ngapain, mas bilang harus ada yang mendorong biar mas bisa ngerjainnya. Aku baru sadar, mas. Tapi mas itu termasuk hebat karena mau berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri mas, dan itu sudah luar biasa buat kamu mas. Jadi orang lain gak tahu kalo mas seperti ini? Aku bilang ,"gak ada pak, keluargaku berfikir aku seorang yang pemalas dan aku menerima anggapan begitu aja karena toh mereka gak paham kalau aku njelasin gimana keadaan yang sebenarnya." lalu beliau memegang tanganku dengan kedua tangannya dengan penuh empati dan menyemangatiku, ayo mas..bangkit, saya bantu sebisa mungkin. Kalau ada apa-apa hubungi saya saja. Pasti saya bantu sebisa saya. Hal itu membuat semangatku tumbuh kembali, bukan karena beliau berkata-kata layaknya mario teguh, namun kata-katanya itu merepresentasikan empati yang sungguh-sungguh,apalagi untuk orang seperti aku, yang memang bukan siapa-siapa beliau, Pembimbing akademik pun bukan. apalagi sebelumnya aku bilang kalau tipe seeperti aku yang sudah akut, itu bisa saja mengakhiri hidupnya seperti kejadian kakak dari temanku, seorang mahasiswa semester akhir di UPN jogja, yang nekat gantung diri di daerah gunung kidul. Mungkin persoalannya sama seperti aku. Jadi beliau selalu mewanti-wanti jangan sampai bertindak gegabah seperti itu. Thank u a lot sir :)

           Sekarang proposalku sudah 90 persen menuju kesempurnaan setelah beberapa kali dicorat-coret sama beliau, rencananya setelah clear langsung mau kuajukan ke jurusan biar di acc bikin skripsi, sempat kefikiran untuk menjadikan beliau pembimbing skripsiku, namun SK nya baru keluar semester ini dan belum tahu kapan sah mulai jad pembimbingnya.


             Mungkin langkah in masih belum ada apa-apanya untuk menghasilkan sebuah skripsi setebal itu, apalagi mata kuliah juga belum semuanya terselesaikan. Namun semangat yang diberikan Mr Fitri membuatku jiwaku menyala, dan membuka kembali fikiranku. setidaknya untuk selalu berusaha dan menghidupkan gairah hidupku lagi

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--