Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Monday, June 23, 2014

Hidup ini Memang Ujian

          Kita terlahir untuk diuji, dari bayi kita sudah ditentukan hidup dimana, dan memiliki ras seperti apa,
punya keluarga bagaimana, dan orang tua seperti apa. Di kota atau malah di pedalaman desa,Kita harus terima. Karna kita tak punya pilihan untuk kesana.bukan berarti Tuhan gak adil untuk kita, namun sesuatu yang bersifat sunnatullah memang begitu adanya, dan Allah berulang kali sudah mengingatkan, Dia gak melihat tampilan fisik atau kekayaan kita, namun tingkat ketaqwaan dan keimanan kita, trust and loyality. Cukup fair bukan. Maka untuk sekedar mengingatkan diri sendiri maupun anda semua, kita tak perlu resah atau kecewa kalau mungkin kita tidak puas dengan tampang yang kurang beken, atau keberuntungan yang seperti tak mau menempel pada diri kita, nasib yang kurang mujur. Barangkali itu punya nilai kebaikan yang tersembunyi di dalamnya, atau bisa jadi kita bisa rusak dan jauh dari Allah kalau kita diberi seperti apa yang kita harapkan. Maka sekali-kali cobalah untuk merenungi ini semua, cobalah untuk menelaah apa maksud Allah dengan ini, bukan malah menggubris komentar orang lain yang belum tentu punya maksud baik pada kita.


      hidup ini ujian. Dari kita diperkenalkan dengan dunia sampai dewasa semakin banyak ujian menggelayuti kita. Mungkin kita bisa kuat menghadapi terpaan ujian yang semakin meradang menyerang kita, namun saat kita melihat orang-orang terdekat terkena imbas dari ujian yang kita hadapi, tubuh seakan melayu, sebagaimana layunya hati melihat penderitaan mereka atas imbas dari diri kita, seperti seorang mahasiswa yang tak kunjung lulus dan masih meminta uang spp kepada orang tuanya, sehingga orang tua ikut terbebani masalah finansial. seperti seorang suami yang mengalami kebangkrutan, sehingga keuangan keluarga benar-benar memprihatinkan. Ada pula ujian dari orang lain yang menyebabkan kita terkena imbasnya, begitulah konsekuensi dari kehidupan bersosial. Ada baiknya kita tidak langsung bersikap  responsif, karena nantinya ada kecenderungan ketidak puasan atas anugrah yang diberikan. So, mari kita refleksikan semua yang ada pada diri ini dulu, adakah yang kurang dari ketaatan, adakah yang salah dari kita. Sehingga kita akan menerima itu ujian dengan lapang dada, dan menyelesaikan tiap permasalahan dengan kepala dingin. Agar semua bisa teratasi dengan baik, juga semakin meningkatkan kualitas diri kita kepada Allah, dengan meningkatnya kesyukuran dan kesabaran. Itu membuat jalan hidup kita serasa melebar, dan kedepannya berjalan dikehidupan ini dengan mudah. Bukan karna mudahnya menjalani hidup, karna kita sudah terlanjur dekat dengan ujian, dan kita tahu bagaimana mengatasinya. Ya, hidup ini memang penuh ujian. Karena kata orang dunia ini medan tempur, bukan singgasana kerajaan.

          Setiap orang mempunyai jatah cobaan sendiri-sendiri, tergantung takdir, itu kehendak yang Maha Kuasa, jadi tak perlu iri saat melihat orang lain hidup lebih beruntung dari kita. Dan pada hakikatnya, semakin tinggi kualitas hidup kita, maka semakin kencang ujian menerjang. Jadi barangkali ujian tersebut memang untuk menguatkan mental dan kualitas diri kita nantinya. Dan kita juga  tak semestinya merendahkan bahkan menghina orang-orang yang kalah menghadapi ujian,urusan kita memang terlampau beda dengan mereka, kita hanya dituntun untuk membantu orang lain dan tidak membebani mereka, . Selain itu, penyikapan atas ujian itu juga berbeda-beda. tiap manusia memiliki isi kepala yang bermacam-macam, meski otaknya sama,  Namun dengan perbedaan daya fikir, luasnya pemahaman dan tingkat kedalaman pemikiran berbeda-beda.

                Ada karakter dimana ujian kehidupan membuatnya semakin kuat, meski mata manusia terlampau pedih melihat penderitaannya, namun kepedihan yang mereka fikirkan tak sepedih apa yang dirasakan orang ini, biasa saja. Karena  sisi lainnya tetap bicara bijaksana meski cobaan berulang kali menerpa. Mereka itulah yang mempunyai keyakinan kuat kepada Tuhan, yakni orang yang benar-benar meyakini hidup ini tak lebih dari sekedar numpang. So, bukan harta atau pangkat yang dia cari, namun dia lebih menjaga kepercayaan atas semua anugrah yang dititipkan, so, dunia tak pernah dia harapkan, kemiskinan hanyalah sentilan kecil supaya dia selalu mengingat Tuhan. Karena pada dasarnya urusan kepahitan ujian itu antara kita dengan Allah, jadi kita harus bisa mengatasi itu sendiri, menggantungkan kepiluan dan kehidupan pada orang lain itu malah membuat kita semakin rumit, karena mereka juga makhluk lemah seperti kita. Mereka tak banyak membantu, selain karena ada Tangan Allah didalamnya.

             Ada pula orang-orang yang terlampau resah hidupnya. Diberi cobaan sedikit rasanya gunung kenistaan akan menimpa dirinya. Sempitnya cara berfikir tak pelak melahirkan keputusan-keputusan yang salah atas respon ujian yang sedang dialaminya, mencuri, ngutang pada rintenir, mengais-ngais perhatian orang dengan merendahkan martabatnya, menjual diri dan kehormatan, dan yang lebih tragis lagi, mengakhiri kehidupan. Ya. Bagaimanapun kejamnya itu, itu nyata di dunia ini.

           Dan yang paling terlihat memprihatinkan  adalah orang-orang yang diberi kemakmuran dan kesejahteraan,  mereka mengira itu semua adalah hadiah Cuma-Cuma dari Tuhan. mereka bersenang-senang, menhambur-hamburkan semua yang ada,, padahal itu ujian paling besar dan paling menakutkan, bagaimana akan dibayangkan jika itu semua nantinya dipertanggung jawabkan? Setiap recehnya, padahal mereka lupa berapa juta yang dihambur-hamburkan entah kemana. Tentang jatah zakat yang seharusnya menjadi kewajiban atas orang-orang membutuhkan disekitarnya, mereka fikir mobil mewah yang dibanggakan itu murni miliknya? Padahal tidak.

             Ini bukan tentang siapa yang paling terlihat hebat di dunia ini, yang seolah hidupnya tak pernah tersentuh masalah atau cobaan, bukan juga tentang siapa yang lemah, yang selalu kalah menghadapi ujian ini. So, mari kita ambil hikmah, selagi dunia ini masih berjalan, dan dadu keberuntungan masih berputar.

           Saya pernah merasakan nasib paling mujur dimana semua bisa kudapatkan tanpa harus mengais keharaman. Berada dalam zona aman tanpa harus mengusik penderitaan. Mengambil materi tanpa memungut perjuangannya. Tidur tenang dan makan nyaman. Lalu saya dihadapkan dalam beragam fase ujian hidup sebagai bentuk persiapan memasuki zona kedewasaan, namun saya gagal dalam tiap fasenya. Dan kini kehidupan berbalik 180 derajat. Saya tak sanggup menceritakan bagaimana saya sekarang. Takut itu menghilangkan kesyukuran, aku masih memahami ini kehidupan dan berharap di kehidupan lain aku merasakan kebahagiaan kembali, itu yang membuat diri ini masih bertahan.

             Saya pernah merasakan dimana saya terpojok dan tiada jalan lain keluar, saya pernah melalui fase dimana saya ambruk dan tiada tangan yang diulurkan, saya pernah merasakan dimana kesepian obat terakhir saat pertemuan menjadi medan hinaan yang membuat luka semakin lebar menganga. Untungnya saya masih sadar bahwa ini dunia, meski terkadang merasa saya hanya terjebak dalam buruknya mimpi.

            Saya pernah merasakan bagaimana ketika melihat pisau yang tergeletak itu begitu menarik hati, atau tali kekang yang melingkar seolah mengajakku bermain dengan leher ini. Namun sedikit iman ini masih bisa membuatku tersadar, bahwa mungkin sebentar lagi lentera itu menyala terang, takut kalau sabar kuputus, aku harus mengulang dari awalan.

             saya tak boleh bersuudzon dengan yang Maha Esa,menurutku itu kunci yang membuatku senantiasa tegar menghadapi itu semua, dengan begitu kita berkeyakinan bahwa Allah masih menyayangi kita, dan pasti akan ada ujungnya. berusaha mengukir senyum diluar meski kantung mata tak mampu menahan gejolak air mata yang keluar disetiap peraduan saat beribadah kepadaNya. Cukup lama, dan tidak pernah mau tahu sampai kapan nantinya.

        Bagiku, ini semua bukan tentang beratnya ujian yang sedang kuhadapi, namun hidup ketidak normalan seperti ini, membuat semua masalah yang kecil tak bisa kuhadapi, sehingga semakin berlarut-larut dan hampir membuatku mati rasa. Menjalani kehidupan dengan sindrom kecemasan yang tinggi hingga membuatku menjadi paranoid. Menjadikan hal yang biasa terlihat sebagai masalah bagiku. Belum lagi tentang masalah sebenarnya. Ketakutan yang membuat segala kehidupanku menjadi muram, tekanan demi tekanan hidup semakin menyesakkan tenggorokan. Haruskah aku mengakhiri kehidupan sebelum waktunya karna sudah tiada lagi kenikmatan?

             Pernahkah kalian membayangkan bagaimana saat kita tersungkur dikehidupan ini yang membuat kita berjalan lambat, namun orang-orang mengira itu bagian dari kemalasan kita, kita berusaha bangkit sementara diluar sana tuntutan semakin meradang dan keadaan semakin menyempit. Dan kita masih bisa tersenyum menerima segala perlakuan itu, namun hati kita tak pernah setdetikpun merasakan kelonggaran dari sayatan-sayatan luka oleh itu semua. Itulah ujian terberat yang dirasakan seseorang yang berada dipintu kedewasaan, semuanya harus bisa dihadapi sendiri karena semua orang bisa mengerti keadaan kita, apalagi membantu. Sabar..sabar..sabar…jangan jadikan ini alasan untuk semakin menjauhkan diri kita dari Allah. Jadikan Dia penyembuh segala luka, perentang segala kesempitan dan lentera di gelapnya hati ini.. Agar tak berkepanjangan penyesalan yang terjadi, penyesalan atas waktu yang semakin lama berjalan semakin cepat namun terbuang begitu saja, penyesalan atas target-target hidup yang kini terlupakan. Dan penyesalan yang lain. Ini semua masih tentang cobaan hidup, bukan adzab. Jangan ada putus asa. Kita masih menjadi yang disayang oleh Allah, bahkan saat kita berdosa, Allah ingin agar kita segera kembali ke jalanNya, lalu bagaimana saat kita berada dalam ketaqwaan, sudah pasti ini hanyalah ujian kehidupan yang sifatnya sementara.hasbunallah wani'mal wakil ni'mal Maula wa ni'man Nashiir.

             Terkadang kita merasakan kesempitan hidup bukan karena besarnya ujian itu sendiri, namun karena kita tidak paham bagaimana mengatasinya. Dimulai dari prasangka buruk kepada Allah, lalu muncul ketidak syukuran. Yang perlahan dibarengi keputus asaan, lambat laun akan menyempitkan jalan fikiran sehingga yang muncul adalah solusi instan yang bukannya menyelesaikan masalah, malah menambah masalah dan membuatnya semakin runyam,lalu lagi-lagi kita menyalahkan Tuhan. Itulah kita, manusia rapuh.. Kesadaran, kesabaran, dan ketelatenan menghadapi setiap situasi terkadang memang dibutuhkan setidaknya untuk melihat masalah itu pada porsi yang sebenarnya, lalu dengan kelapangan dada juga dinginnya kepala membuat kita dipermudah untuk menyelesaikannya. Buktikanlah bahwa ujian yang kita hadapi tak lebih besar dari kemampuan yang diberikan oleh Allah untuk mengatasinya. Hati yang bersih dan keyakinan yang kuatlah yang akan membuktikannya. Semoga kita semua bisa menjalani hidup ini  dengan baik dan dimudahkan dalam menghadapi segala ujian yang menerpa.

Allahumma Rabbishrahli Shadri wa yassirlie amri wahlul uqdatam min lisaani, yafqahu qauli…amiiin...


1 comments:

EduApps.co.id Soal Ujian Nasional, Ujian Sekolah dan Ulangan Harian Terlengkap Di Indonesia said...

memang harus punya mental yang kuat untuk menghadapi ujian hidup ini
terkadang tuntutan terlalu berat dan buat kita sulit sendiri

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--