Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, June 5, 2014

Bagaimana Menentukan Kriteria?

       Kita semua tentunya paham, bahwa manusia diciptakan di dunia secara berpasang-pasangan. Bagi wanita telah berumur, mereka mengerti bahwa sejatinya mereka ini adalah bagian dari tulang rusuk seorang lelaki tertentu yang kelak dipertemukannya menjadi seorang suami baginya, begitupun pria. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, perihal jodoh, pasangan hidup, itu semua masih bersifat abstrak, alias secara subyektif kita tidak diberitahukan siapa jodoh kita nantinya. Oleh karena itu diperintahkanlah kita untuk senantiasa berikhtiar dengan tidak melepas tawakal kepada Allah untuk mencari pasangan hidup kita itu, dengan satu pegangan kuat bahwa orang baik akan mendapatkan pasangan yang baik pula, begitu juga sebaliknya. Oleh karena kita mendapatkan satu gambaran yang lebih konkret dari sebelumnya bahwa pasangan hidup kita nantinya ternyata adalah suatu refleksi dari keadaan kita. So, sebaiknya kita berusaha menjadi sosok idaman yang sempurna untuk mendapatkan pasangan yang sempurna.

      Kita sepakat bahwa jodoh, mati, dan rizki adalah salah satu kepastian dari Allah yang bersifat abstrak, dengan kata lain kita harus menjalani untuk membuka tabir itu sendiri. Sayangnya, tidak semua dari kita mempunyai pemahaman yang baik akan ajaran agama yang dituntunkan oleh Rasulullah kepada kita lewat sunnahnya. Sehingga kebanyakan dari kita mempunyai kecenderungan untuk menjemput takdir-takdir tersebut dengan logika kita sendiri, merobek batas bingkai yang sudah diatur oleh Allah. So, banyak dari kita yang berfikir bahwa cara yang tepat untuk mendapatkan pasangan yang tepat yaitu dengan pacaran sebagai sarana pengenalan diri kepada calon pasangannya juga mengetahui segala hal darinya sebelum memutuskan apakah calon tersebut pantas untuk kita jadikan pasangan seumur hidup. Cukup logis memang, namun melihat kenyataan yang ada, ternyata pacaran tidak menghasilkan sesuatu yang lebih positif selain hanya mendapatkan kebahagiaan sesaat. itu Kesalahan fatal yang sering remaja lakukan dalam merespon hasrat emosi tentang cinta yang tiba-tiba muncul saat berkenalan dengan lawan jenisnya, sehingga pacaran hanya dijadikan sandaran perasaan semata. Kenyataannya, pacaran hanya jadi sarana pelampiasan kelabilan emosional masa pubertas (perasaan cinta dan kasih sayang), bahkan dewasa ini sudah mengarah ke pergaulan bebas alias free sex. pacaran ternyata tidak menghasilkan progres yang signifikan  untuk dijadikan alasan sebagai sarana pengenalan, nyatanya kebanyakan bersifat take or leave dibanding mempertahankan hubungan, gampang sekali memunculkan konflik dan seringkali berganti pacaran, secara psikologis, itu tidak baik untuk kestabilan emosi dan seringnya gonta-ganti pacar ternyata membuat kepekaan hati memudar. Karena setiap dia menjalin hubungan, pasti akan ada jejak perasan yang masih menempel meskipun dia tlah putus dan berganti pasangan dengan yang lain.

      beberapa dari mereka berhasil memenangkan fikiran logisnya diatas perasaan, mereka menunda pacaran, atau memutuskan untuk tidak masuk ke dalam gelombang asmara sesaat dengan berbagai alasan yang menurut mereka lebih pantas untuk diperjuangkan. Semisal, pendidikan, karir, ataupun alasan agama,demi menjaga kehormatan mereka. Mereka-mereka ini tentunya dalam pandangan orang lain, memiliki daya pikat yang luar biasa. Orang-orang yang menjaga diri mereka ternyata dinilai lebih baik dari mereka yang cenderung mencari kesenangan atau kepuasan batin sesaat. Lihat saja orang yang memiliki prestasi bagus dan tidak pacaran, tentu banyak sekali yang ngelirik ke dia, analogi sederhana, jajanan/ snack yang terbungkus rapi tentunya lebih diincar oleh konsumen daripada yang tlah rusak bungkusnya.

      Nah setelah kita membahas tentang yang pacaran dengan yang tidak, kita akan berbicara lebih kedepan. Saat kita  mencapai titik kematangan usia produktif, usia pernikahan, dimana kita dihadapkan dengan masalah yang lebih serius daripada sekedar coba-coba atau penjajagan, ya, memilih kriteria calon pasangan untuk nanti bersanding dengan kita seumur hidup tentu bukan masalah sepele. Salah pilih itu akan berakibat fatal, dari kekecewaan hingga kesedihan, dari kegersangan hubungan sampai kekerasan dalam rumah tangga, cukuplah pengalaman orang lain yang sering ditampilkan di tv2 membuat kita sadar tentang pentingnya memilih pasang hidup dengan cermat.

         Lagi-lagi sayang, banyak sekali dari kita yang masih belum yakin bahwa ajaran agama adalah satu nilai kebenaran yang bersifat mutlak, pasti. Kita cenderung memahami segala sesuatu berdasarkan logika, that’s fine enough, sayangnya, tidak ada yang menyadari bahwa mereka meragukan ajaran Islam yang mereka anut sendiri. kebanyakan karena mereka belum kenal betul agama itu sendiri, atau ada yang belum mereka ketahui sehingga mereka berfikir itu terlihat sangat  radikal, kejam, kuno, dan tidak sinkron dengan kondisi sekarang.yang menjadikan mereka tidak mengambil islam sebagai way of life, atau mereka mengambil namun setengah-setengah.hingga akhirnya ketika mereka menemukan kebuntuan memahami masalah kehidupan, mereka collapse dan bingung harus bagaimana. Malah cenderung menyalahkan Tuhan, padahal mereka sendiri yang tidak taat pada ajaranNya. Bagaimana mereka menyalahkan Tuhan? That sounds so crazy, doesn’t that?

        Begitu pula dengan satu masalah yang sedang saya bahas ini, masalah kriteria jodoh. Saya tertawa ketika mendapati jawaban lucu saat bertanya tentang kriteria jodoh kepada salah satu makhluk Tuhan paling rewel yang dinamakan wanita itu.banyak sekali respon  mereka, jelasnya, rating paling tinggi adalah 'baik', dan 'romantis'. Sedang untuk wanita yang fikirannya sedikit lebih jauh, mereka memilih kata 'mapan' sebagai kriteria utama calon jodohnya. Sedangkan jawaban dari orang tua cenderung umum namun cukup mendewasa. 'punya penghasilan' dan 'sayang pada anaknya'. Alasan tersebut tidak termasuk para wanita/orang tua yang mempunya rasa stereotip tinggi, seperti di lingkungan perkotaan yang mempunyai tingkat ekonomi tinggi,bersuami pejabat, berkehidupan yang lebih dari makmur, meskipun hasil  korupsi, mereka akan menjawab dengan tiga hal saja, Bebet-Bibit-dan Bobot. Fine, yang terakhir ini gak usah kita bahas.

         Sebenarnya tidaklah salah dengan kriteria-kriteria yang mereka utarakan tersebut, namun sayangnya, kebanyakan dari mereka melupakan satu kriteria, yaitu sholeh. Meskipun ada juga yang bilang begitu, namun saya yakin jawaban itu keluar hanya di bibir saja. Mungkin maksud mereka sholeh itu baik, tapi jangan sholeh-sholeh amat. Karna mereka tahu konsekuensi punya suami sholeh itu cukup berat buat mereka, disuruh berjilbab, terbatasi pergaulannya. Jadi ibu rumah tangga. Dan sebagainya-dan sebagainya. Maka jawaban yang paling tepat melihat pernyataan seperti itu, adalah 'orang baik akan mendapatkan yang baik, yang buruk akan berpasangan seperti itu pula, cukup logis bukan?

       Sholeh, apakah orang sholeh itu tidak ada yang ganteng, kegantengan itu bersifat sementara atau nilai plus tapi tidak cukup berpengaruh jika tidak didukung kegantengan lainnya. Pun dia tidak cukup ganteng, tapi perhatian mereka, keshalehan mereka, itu membuat ketertarikan sendiri darinya.

        Sholeh, apakah orang sholeh itu tidak mapan? Bisa jadi, namun pastinya orang sholeh akan berusaha mencari nafkah halal untuk keluarganya. Berusaha mencukupi kebutuhan mereka sekuat mereka. Saat sang suami tak punya uang, dia menenangkan hati istrinya dengan kata-kata bijaksanya. Dan saat sang suami punya duit banyak, itu tidak menggoyahkan hatinya untuk membelanjakannya di tempat yang tidak semestinya, vulgarnya, tidak untuk main serong dengan wanita lain.

       Sholeh, apakah suami sholeh itu tidak romantis? Bagaimana mungkin, sedang sebelum menikah dia berusaha menjaga hati dan perasaan mereka untuk istrinya nanti yang bahkan dia belum menemukan siapa dia.dia tidak bercampur baur dengan yang bukan mahramnya, dia tidak main sentuh wanita lain.bahkan sekedar berdekat-dekatan atau TTM. Apa itu bukan suatu awalan yang romantis? Sepanjang pengamatan yang saya lakukan orang-orang sholeh itu adalah orang yang paling romantis kepada istrinya. Satu, karna hatinya terjaga, istrinya itu adalah cinta pertamanya, dua,……….

        Jangan meremehkan orang sholeh, sejelek-jeleknya orang sholeh dia takkan menyakiti hati bahkan main tangan terhadap istrinya. Karena hati dan fikiran orang sholeh selalu terkait langsung dengan Allah, jadi tindakan jelek sedikit apapun itu, dia takut Allah melihat dan membalasnya. Apalagi yang diharapkan dari seorang istri selain keshalehannya? Tidak jengahkah kita melihat penderitaan para istri yang selalu dianiaya suami, diterlantarkan suami, yang dulunya tidak menghiraukan keshalehan suaminya, kenapa cinta selalu menjadi alasan.bahkan rela menderita karnanya. Ingat, semuanya bisa berubah kecuali keshalihan. Jangan dikira yang ganteng tidak tergoda hatinya, jangan anggap kekayaan sanggup membeli kebahagiaan. Ingatlah, yang shaleh lebih menjanjikan…!!!!!

          Terkadang wanita juga aneh, kalau di facebook sok-sok mengshared postingan grup tentang kriteria calon suami sholehah yang diinginkannya. Namun berjilbab saja ogah, sukanya keluyuran ma temen-temennya, pergaulannya gak di jaga, jangankan bangun buat shalat malam, shalat subuh aja di jamak di waktu dhuha. Diingetin malah tersinggung. Lalu gimana pria shaleh mau sama wanita kayak gitu, heuh...

         Begitu dengan kriteria calon istri yang baik, kalau kebanyakan para wanita cenderung melihat materi sebagai pesona utama calon suaminya, para lelaki cenderung melihat tampilan fisik seperti  postur tubuh dan paras wajah. Para lelaki sering sekali dibuat mabuk oleh para gadis-gadis abg yang meski cantik namun gak begitu  jelas kepribadiannya, yang sekarang biasa disebut cewek cabe-cabean. Tertarik itu hal biasa, terpesona pun masih wajar karena kita lelaki juga dikaruniai insting. Namun mengambil satu kriteria cantik saja untuk menjadikannya seorang istri, itu hal yang tak masuk akal, tapi orang-orang sekarang beda, lebih modern pemikirannya, namun tetap sama saja dengan sebelumnya, mereka tidak melihat satu sisi saja, misal cantiknya saja, namun para lelaki (wanita juga begitu) berusaha mencari sosok sempurna, mereka mengambil banyak sisi, namun membuang satu sisi yang justru paling krusial, yaitu kesolehan. Anda pasti setuju dengan hal ini. Dan agaknya kita, para lelaki juga harus berfikir matang dulu sebelum memilih, jangan sok suka asal tubruk aja, santai bro. diluar sana juga banyak para lelaki bahkan para suami yang dikecewain istrinya karena dia mendapati istrinya tidak seperti yang dia harapkan, lha difikirkan saja tidak, bagaimana diharapkan, harusnya kalau mengharapkan keluarga langgeng, kita juga jangan asal main iya aja sama wanita cantik. Karena kecantikan bukan modal kebahagiaan utama, kecuali emang lu suka pamer atau merasa hidup lu hanya di ranjang aja.

           Boleh aja kita pengen punya istri cantik, semua lelaki juga berharap punya istri bak bidadari, begitupun aku, namun juga kita harus paham di dunia butuh keseimbangan, tiap orang punya kelebihan juga kekurangan, nah, dalam hal ini kita harus benar-benar mempertimbangkan kelebihan-kekurangan yang gimana yang paling pas buat kita jadikan pasangan hidup. Keshalihahan, ternyata itu kunci keseimbangan pribadi bro. keshalihan menyempurnakan kepribadian, tak banyak wanita biasa yang berkepribadian baik . Begitu pula tak banyak wanita shalihah, namun dia pasti ada, tinggal bagaimana kita mencarinya disemak-semak hidup ini.

Ada beberapa hal perlu kita renungi

       Mungkin kita lebih terpesona dengan kecantikan seseorang daripada kepada para wanita yang berjilbab gedhe begitu, namun pernahkah kita membayangkan punya istri yang cantik namun kerjaannya tiap hari minta duit buat shopping, perawatan wajah, malas-malasan di rumah dengan alasan menjaga diri buat suami, kita kan ngerti bahwa untuk membahadiakan kita gak perlu gitu-gitu amat.

      Pernahkah kita membayangkan saat lebih memilih wanita yang up date daripada yang lebih suka bepergian ke pengajian. Ketika menikah nanti mereka tidak benar-benar menganggap keberadaan kita, lebih konsen pada BBM atau sosial media, chattingan gak penting sama orang-orang yang gak penting juga, bahkan ma lelaki lain. Kita gak digubrisnya, kalau diingetin malah dibilang gak mengerti perasaan wanita. Saat diberitahu bagaimana melayani suami yang baik malah minta diambilkan pembantu, ini yang dinikahi tu sang istri atau pembantunya toh..

      Pernahkah kita memikirkan saat kita lebih memilih wanita yang karir, cerdas, berintelektual tinggi, mengagung-agungkan persamaan gender, daripada wanita yang lebih suka di rumah merawat anak-anak meski berpendidikan tinggi. Ketika kalian menikah nanti kalau membimbingnya dia serta merta meninggikan ucapannya, disaat kita  mengingatkannya dia malah menantang dengan segala argumennya, disaat kita ingatkan agar melakukan tugasnya sebagai seorang istri juga ibu, dia malah marah mengatasnamakan persamaan derajat.

      Bukan berarti wanita shalehah itu jelek, bodoh, dan tidak up to date, tapi mereka paham bagaimana menempatkan itu semua pada porsinya, dan ukurannya tidak main-main, yaitu dari ajaran agama, sesuatu yang berhubungan langsung antara dia dengan Tuhannya, bukan karena takut suami, atau takut mertua. Wanita shalehah cantik, banyak. Yang pintar juga banyak, apalagi yang kaya. Namun kebanyakan kita, para lelaki berfikir mempunyai istri yang terlalu shalehah itu seperti jaring yang menghambatnya melakukan sesuatu seperti yang lainnya. Merasa ikut aneh saat yang lainnya menganggap istrinya yang berjilbab besar dan bercadar itu aneh. Merasa malu punya istri yang gak mau diajak bersalaman dengan lelaki yang bukan mahram, padahal cuman salaman. Merasa punya istri yang kerjaannya membaca buku dan alqur'an di rumah itu tidak bisa diajak bersenang-senang, diajak keluarpun susah karena terhalang jilbabnya yang besar yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang. Selalu ada fikiran seperti itu ketika kita, para lelaki diberi option seorang wanita shalehah, percayalah, keraguan itu dari syetan…!!!

         Kita terlalu banyak berspekulasi aneh-aneh diluar area kita, keraguan jelas ada karena kita belum pernah menjalani sebelumnya, dan kita terlalu naif untuk cepat mengambil kesimpulan dari sesuatu yang baru sedikit kita ketahui, itu salah fatal. Karena kita tidak benar-benar memahami mereka (para wanita shalehah) secara sempurna. Kita melihat sekilas saja. Dan kita tidak benar-benar mau mendalaminya. Bagaimana tidak, lha kita berkumpul dengan teman shaleh saja susah, diajak ngaji ogah. Bagaimana kita bisa tahu. Padahal kalau kita tahu tentang sisi lain dari para wanita shalehah itu. Pasti tak ada komentar lain selain kamu menilainya sebagai bidadari dunia.

       Wanita shalehah, jangan tanya seberapa setianya dia, sebelum menikah saja dia menjaga diri sedemikian ketatnya untuk kita. Jangan tanya seberapa perhatiannya dia kepada kita, kalau setiap hari dia berusaha memperbaiki hubungannya dengan Tuhannya, jangan tanya seberapa patuh nya dia kepada kita, kalau kepada Tuhannya saja dia rela dikucilkan orang-orang demi ketaatannya pada ajaran agamanya. Sisi romantis? Itu semua akan terlihat romantis jika kita merasakannya dengan cinta, apalagi yang diridhoi Allah, berkah mas bor, situ bahagia, pahala juga kena. Apalagi yang menjadi keraguan atas mereka...???

        Kalau sudah begini biasanya masalahnya Cuma satu, yaitu sebuah pertanyaan utama, apakah bidadari-bidadari syurga itu mau dengan kita, laki-laki biasa yang hanya berharap bisa mendapatkan sosok istri seperti itu. Nah, mari kita berkaca berjamaah. Kita berusaha memperbaiki diri. Setidaknya kita punya niat sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri, gak punya ilmu agama yang memadai, santai aja, mereka pasti mau membimbing, yang penting kitanya sungguh sungguh. Nah loh.


Hidup hanya sekali, dalam kehidupan yang sekali ini tentunya banyak banget kita berhadapan dengan opsi. Opsi-opsi yang mempunyai pengaruh jangka pendek maupun jangka panjang. Dari mulai hal yang sepele sampai hal yang prinsip. Itu semua butuh pertimbangan. Maka sebaik baik pertimbangan adalah atas dasar syariat agama ini. karena hidup ini hanya sekali, dan akan ada hidup lagi setelah ini..






0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--