Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Friday, May 9, 2014

Saat Anak Ingin Menikah di Usia Muda

    Menikah ? siapa sih yang tidak ingin menikah dan membangun mahligai rumah tangga dengan segitu iming-iming kebahagiaan yang kata orang rasanya layaknya syurga dunia. namun menikah itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, ada banyak persiapan yang harus dijalani sebelum memutuskan untuk menikah, terutama yang masih berusia muda. nah, bagaimana baiknya kita mensikapi anak/saudara yang berniat menikah diusia muda dari sudut pandang orang tua?

               Berikut ini tips (menurut saya) saat menghadapi anak yang tiba-tiba mengutarakan niatnya untuk                 menikah saat masih kuliah: 

  1. Ketika anak menyinggung-nyinggung pembahasan nikah (karena malu)Bersikaplah surprise, jangan cuek, jangan memberikan kesan meremehkan

  2. "wiih,,,, liat nih mi, anak ayah lagi jatuh cinta ma seorang putri kayaknya..sapa dia nak, anak mana, pasti cantik"

  3. Berikan satu gambaran sebagai tempatnya bercermin ke kita sebagai ayahnya, untuk memberikan dia kesan bahwa ada respon positif dari kita, sehingga dia lebih berani mengutarakan niatnya.

  4. "ayah dulu juga seperti kamu, pengen banget nikah waktu kuliah, bisa dibayangkan gimana senengnya ngontrak rumah berdua, berangkay kuliah bareng, belajar bareng, tapi sayangnya orang tua dan keluarga ayah gak sepaham, karena mereka fikir menikah saat kuliah hanya akan memperlambat kelulusan, padahal itu semua kan tergantung orangnya, terus mereka bilang bakal mo kasih makan apa istrimu nanti, padahal menurut ayah, kalo kita yakin sama Allah dan berusaha, semua pasti ada jalan, dan perjuangan mencari rizki untuk istri itu nikmat2nya perjuangan, meskipun hasilnya gak seberapa, tapi itu gak mengurangi kemanisan berumah tangga, apalagi seumuran kamu itu, akhirnya ayah bisa sabar, target ayah buat nikah molor, akhirnya menikah sama mami kamu di umur yang bisa dibilang terlambat."

  5. Ajak dia bicara ke arah yang lebih serius

  6. "bener udah siap buat menikah, nak? Bukannya ayah gak mengijinkan kamu menikah saat masih kuliah begini, tapi menikah muda juga punya konsekuensi yang lebih berat daripada menikah saat kamu mapan, ayah bukan ingin menakuti kamu, tapi ayah ingin tahu seberapa siap kamu untuk menikah muda. Ayah gak papa kamu menikah muda, dan ayah gak peduli bagaimana respon orang-orang ke kita nantinya. Karna ayah lebih percaya sama kamu dari pada mereka, maka itu jangan sia-siakan kepercayaan ayah."

  7. Ketika anak benar-benar mengutarakan keinginannya untuk menikah, berikan dia gambaran gimana nanti menikah atau kalau dirasa anak memang belum siap untuk menikah (Cuma pengen=pengenan), motivasi dia biar segera menuntaskan studinya.

  8. (kalo dirasa dia emang sudah siap untuk menikah)
    "kalo kamu emang menikah, ayah akan bantu semua kebutuhan kamu, asal kamu harus punya penghasilan sendiri,meskipun tidak seberapa, tapi itu bentuk tanggung jawab kamu sebagai seorang suami, dan aneh kalo melamar seorang wanita tapi belum punya pekerjaan. Ayah gak setuju bahwa kehidupan setelah menikah, anak harus hidup mandiri sepenuhnya, itu hanya akan membuat orang takut untuk menikah, dan ayah akan tetap bantu finansial kamu tapi kamu juga harus cari duit sendiri, jangan mengandlakan ayah,

    (kalau dirasa dia memang belum siap untuk menikah)
    "bagaimanapun itu nak,sebaiknya kamu selesaikan studi kamu,ayo cepat selesaikan studi kamu, nanti ayah siapkan segala kebutuhan nikah kamu, jadi ntar kamu wisuda, langsung kita melamar gadis pujaan hatimu itu, jadi kamu gak harus terbebani urusan studi, jadi kehidupan rumah tanggamu nanti makin mantab dan tertata. 3 tahun itu cepet kok.nah selama kuliah kan kamu bisa menambah ilmu tentang pernikahan, ikut seminar-seminar pra-nikah yang biasanya diadakan di kampus-kampus, barangkali selama kamu kuliah, kamu mendapatkan pujaan hati kamu disana."




    Ketika seorang anak berulang kali membicarakan masalah pernikahan, bisa dipastikan dia sedang ada keinginan untuk menikah, ada yang benar-benar serius pengen nikah, ada juga yang hanya pengen-pengenan karena melihat teman-teman mereka pada nikah tapi dia belum begitu paham banyak tentang pernikahan. Sebaiknya apapun respon kita, mengijinkan atau menolak, bahasakan itu dengab respon yang baik, agar anak tidak merasa diremehkan atau malah ditentang. Sebaiknya setiap pembicaraan kita mensingkronkan fikiran agar tidak terjadi misscom atau missunderstand, kebanyakan dari orang tua memaksakan anak untuk memahami jalan fikirannya, dan hal tersebut tidak akan berefek baik karena berfikiran orang tua terlalu egois dan tidak mau memahami anaknya, sehingga seringkali berujung konlik.

    Bicarakan semua secara baik-baik dan sebagai  yang lebih tua kita harus bijaksana dengan berbicara lewat bahasa dan jalan fikiran mereka, dengan begitu mereka merasa tetap dirangkul dan disupport meskipun hasilnya tidak seperti apa yang diharapkan, bandingkan repon orang tua yang menolak mentah2 keinginan anaknya yang ingin menikah tapi belum selesai studinya, dengan respon yang cukup dimengerti sang anak:

  1. 'mau kamu kasih makan apa istrimu nanti..??selesaikan kuliahmu dulu, terus kerja, baru bahas nikah..!!!'

  2. Dengan :

  3. 'wah anak kita udah dewasa nih mi, udah mau nikah, anak mana yang jadi pujaan hati nih?? Cantik gak,,,makanya ayo diselesaikan kuliahnya, ntar kalo wisuda kita lamar gadis itu, kalo takut ntar diambil orang, kita ke rumahnya aja untuk membahas masalah ini, ntar nikahnya kalo setelah wisuda, enak kan, makanya ndang diselesaikan kuliahnya,nak, biar pujaan hatimu gak lama menunggu'



  4.      Mungkin kalimat pertama (A) tersebut terlihat umum dan cukup bijaksana bagi para orang tua yang melihat, namun bagi anak itu adalah bentuk ketidak perhatian orang tua pada dirinya, serta merta menolak dan tidak memberi ijin tanpa mendengar penjelasan anak terlebih dahulu, hal tersebut bukannya memberikan efek negatif kepada anak, malah menjadikan anak semakin kacau, karena dia mendapatkan penjelasan yang gak logis dari penolakan tersebut (versi pemikiran anak), yang kedua, mereka merasa tidak mendapatkan perhatian. Bahayanya adalah ketika anak mulai mencari jalan keluar sendiri karena tidak ada support dari orang tua, seperti, kawin lari, hamil duluan biar di ijinin, atau mengacaukan kuliahnya sebagai tindakan responsif atas sikap orang tua tersebut, naudzubillah, sebagai orang tua kita tidak boleh kaku, mungkin kita merasa itu pilihan tepat atau benar, tapi kita harus memahami, tentang bagaimana anak berfikir (yang tentunya gak sematang orang dewasa), sebenarnya mereka lebih  butuh tuntunan,bimbingan dan support dari perijinan itu sendiri, maksudnya pun ketika kita memberi ijin, dia juga mulai berfikir ke depan dan tidak gegabah membuat keputusan, dia akan berusaha mempersiapkan segalanya lebih cepat, dia hanya ingin mengetahui seberapa jauh sang ayah mensupport setiap tindakannya.

          Menikah memang tidaklah mudah, banyak sekali konsekuensi yang harus ditanggung ketika menikah,belum lagi problem-problem rumah tangga yang muncul dan tak pernah dia dapati sebelumnya, apalagi yang menikah dini, namun kita juga harus ingat bahwa menikahkan anak itu tidak sama dengan membelikan anak motor bagus, ini bukan tentang memanjakan anak atau yang semisal dengan itu, karena menikah adalah bagian dari tuntunan agama, dan anak yang meminta untuk dinikahkan tidak sama dengan anak yang minta dibelikan motor baru, dia pastinya telah merasakan pemikiran yang dalam karena ini bukan tentang kesenangan, namun menjalani kehidupan baru yang sarat akan tanggung jawab.

       Sebagai orang tua, kita tidak boleh sok naif, menafikan urusan seksual dengan menabukannya dalam keluarga. Setiap anak mengalami proses kematangan seksual yang berbeda-beda, ada yang sedari kecil sudh mengenal seksual, ada yang normal, bahkan ada yang tidak begitu terpikat urusan seperti itu, nah, dewasa ini dimana virus-virus seksual masuk dengan cepat ke otak anak melalui tayangan-tayangan di tv dan film2, bacaan-bacaan yang begitu bebas beredar, juga pergaulan yang semakin mengarah ke kebinatangan. Jangan salahkan anak ketika dia mengalami proses kematangan seksual secara cepat, karena itu hal yang wajar. Tugas kita adalah mengarahkan semua potensi itu agar tersalurkan ke tempat yang semestinya. Atau kita merelakan dia terjerumus ke pergaulan bebas yang sudah mewabah di kampus-kampus juga masyarakat, jangan nafikan itu. Anak yang meminta dinikahkan karena dia merasa tlah matang dan takut terjerumus ke pergaulan bebas, harusnya kita bangga karena dia masih punya keinginan untuk menjaga kehormatannya, jangan malah mengolok-oloknya karena kematangannya tersebut.

        Seorang anak yang telah mencapai kematangan seksual dan dia tidak segera menikah sebagai tempat penyalurannya, itu akan berdampak buruk bagi biologis serta psikisnya, semua potensi yang dimilikinya akan luntur, akalnya tumpul karena setiap waktu dia hanya  memikirkan seks. Akhirnya dia menjadi seorang pesimis dan depresif, kalut menghadapi masa depan dan gairah hidup sirna dari wajahnya. Dia akan hancur dunia akhirat..!!!!

            Jika kita takut akan kondisi finansialnya setelah dia menikah nanti, kenapa kita gak serahin saja urusan itu sama Allah, biar Allah yang mengaturnya, kita menuntun caranya. Allah yang menciptakan dia melalui perantara kita, so, gak mungkin Allah membiarkannya begitu saja, apalagi jika dia seorang yang saleh dan begitu yakin akan Tuhannya.

          Kita paham, bahwa setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik buat anaknya serta berharap anaknya mencapai taraf kehidupan yang lebih baik darinya. Tentunya karena para orang tua lebih dulu merasakan manis pahit perjuangan kehidupan. Sehingga merasa setiap keputusan yang diberikan kepada anaknya adalah benar-benar terbaik, tidak ada orang tua yang berharap buruk bagi anaknya. Namun sebaiknya kita juga perlu memahami bahwa anak juga memiliki kehidupan mereka sendiri, mengalami proses pembelajaran hidup sendiri, perkembangan sendiri, dengan segala perubahan kehidupan yang berjalan mengirinya di setiap langkah, anak bukanlah semena-mena milik kita, namun dia adalah titipan yang harus kita tuntun ke arah yang benar, jadi tidak harus kita dikte kemana dia harus melangkah, namun kita hanya bertugas mengiringi agar dia tetap berada di jalan yang benar, adapun masalah keduniawiaan mereka, biarkan mereka yang memilih dunianya, kita memberikan pilihan dan penjelasan, nasihat juga peringatan. Biar mereka yang menentukan.

         Dan sang anak pasti lebih memahami kehidupannya sendiri dibandingkan orang lain, tentang apa yang terbaik buat dia nantinya, apa yang harus dilakukan untuk tetap eksis di kehidupan ini, untuk memaksimalkan potensi juga kesempatan hidup di dunia ini. Pengekangan, tuntutan, itu seperti rantai yang menghambat perkembangan kita, dan itu tidak memberikan kesan baik untuk kita sebagai orang tua, mereka malah menganggap kita kolot.

             So, dia tahu apa yang terbaik buat dirinya sendiri, adapun tentang perbedaan antara orang tua dengan anak apapun itu, sebaiknya dibicarakan dengan satu jalan fikiran, tujuannya agar dicapai satu pemahaman dan tidak terjadi salah pengertian yang memicu konflik tak berguna.

            Pernikahan adalah hal yang mulia, menikah membuat seseorang mengalami kehidupan baru dengan adanya pelengkap di kehidupannya, tidak melulu tentang sex, tapi juga tidak bisa menafikan itu. Bagaimanapun, sesuatu yang besar nan mulia itu tidak bisa dicapai dengan mudahnya, akan selalu ada rintangan, perihal kecukupan finansial, omongan orang=orang sekitar, penolakan ijin orang tua. Juga permasalahn lainya yang membuat kita maju mundur untuk menikah, tapi ingatlah, Allah berfirman belum sempurna iman seseorang ketika dia meninggal sedang dia belum menikah, belum sempurna ibadah seseorang jika dia belum menikah.orang yang belum menikah akan mengalami banyak godaan dan fitnah yang sebegitu menghancurkan dunia juga akhiratnya. So, siapa diantara makhluk Allah yang paling membencii pernikahan manusia, SYETAN.ya, dia akan berusaha mengganggu manusia dari luar dan dalam agar dia terhalang untuk menikah. Jadi teruslah berjuang untuk menikah dan jadikan itu sebagai perjuangan dalam beribadah kepadaNya.

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--