Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Friday, May 9, 2014

Satu Saat Nanti

      Salah satu moment yang paling aku sukai akhir-akhir ini adalah duduk sendiri di balkon atas belakang  tempat kos. Dari atas sana kita bisa melihat orang-orang lalu lalang mengendarai motor, kita juga leluasa melihat sawah yang hijau terbentang meski lama-kelamaan terkikis oleh bangunan-bangunan kos yang menjulang, namun jika berada di tempat itu saat malam, itu rasanya seperti merefleksikan suasana hati sendiri. Gelap, dan cukup sunyi, hanya sedikit cahaya kelap-kelip dari sorot lampu motor ataupun lampu bangunan kos. Desiran angin malah yang cukup kuat seolah mampu meniup kekalutan hati yang sedang dialami. Tenang, perlahan membiarkan fikiran melayang lalu bergerak melukis angan dilangit gelap nan tinggi menjulang itu.



       Merenungkan satu lembaran kisah baru nantinya, malah membuatku seolah memadatkan haru di kalbu. Mengingat ada saja rintangan yang menghadang, silih berganti. Membuat asa yang telah tertulis, perlahan memudar. Ya, siapa sih yang tidak ingin menjalani kehidupan berumah tangga. Ini bukan sekedar tentang cinta, bahkan seks belaka. Namun merasakan kehidupan baru yang lebih berkualitas dengan hadirnya sosok yang dari dulu kita cari dan tunggu, istri, anak. Ya mereka bukanlah sekedar pelengkap dalam kehidupan kita, namun itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Itulah yang membuat para lajang selalu merindukan pernikahan, meski mereka seluruhnya paham maksud juga dari pernikahan itu sendiri. Itu seperti tubuh yang secara reflek mencari makanan saat perut terasa lapar, atau lari saat merasakan ada bahaya. Itulah INSTING, sesuatu yang dikaruniakan Allah untuk memenuhi kebutuhan kita.

    Bagi seorang lajang, hal terindah yang biasa dilakukan adalah merefleksikan bentuk-bentuk kepenasarannya terhadap pasangannya nanti lewat khayalan. Seperti apa dia nanti, bagaimana ketika melamarnya, kemudian saat-saat awal menikah nanti merajut cinta, dan sebagainya. Semuanya tentang kebahagiaan berdua, meskipun memang ada konsekuensinya. Aku paling tidak suka ada orang (terutama orang tua) yang malah menakut-nakuti para lajang yang hendak menikah, memberitahu gimana susahnya mencukupi kebutuhan keluarga, belum nanti kalau ada yang sakit, apalagi ditambah ketidak puasan dengan keadaan pasangan sebagaimana yang dia harapkan sebelumnya. So what? Jangankan menikah, kita miara ayam saja butuh konsekuensi, rutin memberikan makan, ngecek kesehatan, jemur tiap pagi. Dll. Dan bukankah wajar jika terkadang kita mengalami kesusahan apalagi ketika berumah tangga, kekurangan harta,konflik dan problem lainnya. Terkadang manusia seringkali mengecap kebahagiaan itu adalah ketika kita selalu berada di titik aman diantara dinamika kehidupan yang ada, semisal selalu ada duit, hidup nyaman. Itu bukan karakter dunia. Tapi nanti, kelak di syurga.

       Suatu ketika aku berbincang-bincang dengan teman dekat yang memilih dunia dagang sebagai mata pencahariannya, dimana teman-teman yang lain kebanyakan mengincar pegawai, atau PNS, yang mempunyai gaji tetap tiap bulannya. Ada satu hal yang menarik buatku, dia bilang bahwa tenyata kehidupan pedagang cenderung lebih dekat dengan Allah ketimbang jadi pegawai, bagaimana tidak, setiap dia mau berangkat jualan, dia selalu berdoa sungguh-sungguh agar daganganya laku, mengingat keluarga dirumah selalu menanti hasil dari jualan tersebut untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari. Kemudian, ketika dia berada saat dimana dagangnnya belum laku, dia mencoba bersabar, dan setiap ada yang beli dagangannya, dia benar-benar merasakan tangan Allah disitu, merasa tiap orang yang membeli itu dituntun Allah. Sehingga selalu ada kesyukuran yang lebih besar setiap harinya. Lalu bagaimana dengan pegawai?. Dia rajin gak rajin, tetap aja setiap bulan dapat gaji. Kehidupannya hanya berkutat bekerja dan menanti gajian, sungguh sedikit sekali mereka menyandarkan urusan mereka kepada Allah, karena setiap bulan sudah pasti akan mendapat gaji.so? Mana yang lebih berkualitas menurut anda?

       Menikah, memang butuh uang, namun uang tidak seharusnya menjadi alasan.menghalangi seorang lajang untuk menikah. Bagaimana aku kehabisan akal ketika mendapati pada masa keemasan Rasulullah dimana moral tlah tertatapa rapi, anjuran untuk menikah lebih intens dibandingkan dengan sekarang yang anak seumuran jagung saja sudah punya fikiran tentang berhubungan badan antar lawan jenis karena saking mudahnya mendapatkan film-film dewasa di tv ataupun internet. Sudah membudaya pergaulan bebas dan hamil diluar nikah, dan mereka-mereka ini lebih memilih menunda nikah dan membiarkan dirinya terjerumus ke dalam pergaulan bebas demi menjaga karir yang pasti kembali ke uang juga. Lalu apakah sedemikian bobroknya dunia ini sehingga semua moto hidup  menjadi, dari uang, oleh uang, karna uang, dan untuk uang. Naudzubillah min dzalik.

       kita cermati perhatian tentang pernikahan pada zaman rasulullah dulu. Suatu hari rasulullah melihat seorang sahabat yang sedang beristirahat di serambi masjid yang berdekatan-bersambungan dengan rumah rasulullah. Memang ada beberapa sahabat yang tidak punya apa-apa, mereka memilih tinggal di masjid untuk melayani rasulullah. Nah, kemudian rasulullah menanyai sahabat tadi, apakah kamu sudah menikah?" dia menjawab " belum ya rasulullah". Lalu rasulullah kembali menanyai? " tidakkah kamu ingin menikah?" kemudian sahabat tadi menjawab, "saya hanyalah orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa ya rasulullah", kemudian menurut anda, apakah yang akan diucapkan rasulullah setelah itu? Apakah "oh yasudah, cari uang dulu sana buat nikah?", TIDAK.!! Rasulullah kembali mengulangi pertanyaan 'tidakkah kamu ingin menikah?' tadi sebanyak tiga kali, biasanya, pengulangan yang diucapkan rasulullah bermakna bahwa hal itu sangat penting sekali, seperti saat rasulullah menggambarkan kengerian siksa neraka. Maka setelah sahabat itu paham makna ucapan rasulullah, dia menjawab mau. Akhirnya rasulullah menyuruh dia untuk mendatangi salah seorang warga  agar menikahkan anaknya dia dengan dirinya atas perintah rasulullah. Tanpa rasulullah mempertimbangkan dulu bibit-bebet-dan bobot sahabat yang tidak punya apa-apa tadi dengan anak yang hendak rasulullah nikahkan dengannya, jelas. Karena derajat, kehormatan, atau yang disini biasa disebut bibit-bebet-dan bobot itu adalah dari tingkat ketaqwaannya, bukan pendidikan ataupun kekayaan. So, setelah mendengar kisah tadi,bagaimana menurut anda?

       Rasulullah menikahkan Fatimah r.a, putri kesayangaannya dengan Ali bin Abi Thalib, keponakannya. Ketika hendak menikahkan mereka, Rasulullah menanyakan apa yang Ali punya untuk dijadikan mahar, bukan menanyakan seberapa kaya dia untuk bisa membahagiakan PUTRI RASULULLAH secara materi. Ali bilang bahwa dia tidak punya apa-apa. Kemudian Rasulullah teringat baju besi yang dimiliki Ali,akhirnya rasulullah meminta itu sebagai mahar untuk menikahi seorang putri Rasulullah, yang notabene penguasa arab kala itu. So? Kalau bukan kehidupan pada zaman rasulullah yang kita teladani, terus apa yang akan kita harapkan dari beliau saat kita mati nanti. Padahal kunci syurga ada pada beliau lewat sunnahnya.

     Saya maklum dengan orang tua yang menahan anaknya untuk menikahi atau dinikahi karena belum punya pekerjaan atau mapan, sayapun pasti akan melakukan hal seperti itu kalau saya jadi bapak. Namun baiknya kita tidak selalu cenderung kepada urusan dunia, seperti kisah teman  pedagang yang aku ceritakan tadi bahwa kita harus selalu pada tingkat kesadaran bahwa Allah lah yang berhak kita gantungi terhadap segala urusan, bukan dengan ketersediaan kekayaan kita merasa aman. Kita juga sebaiknya menyadari bahwa menikah ini bukan sekedar menikah biasa, namun ini ibadah kepada Allah. So, apakah Allah membiarkan hambaNya yang berusaha menjaga hubungan denganNya hidup terkatung-katung begitu?. Mungkin kita merasa was-was karena target hidup kita terlalu tinggi, tidak cukup hanya dengan mencukupi kebutuhan. Namun kemewahan sudah menjadi patokan, sehingga kita terlalu khawatir jika kualitas hidup kita pas-pasan.ah kita terlalu naif jika kata Allah kita abaikan,malah justru komentar manusia yang kita perhatikan. Bukankah Allah yang mencukupi kita.

     Whatever, saya ikhlas dengan keadaan. Saya hanya merasa menikmati kesempatan bicara tentang kegalauan seorang lajang yang terhalang derasnya arus kehidupan. Namun saya yakin, pun matahari yang begitu terik saat siang akan menghangat disaat senja. Hujan badai akan mereda, banjirnya menyurut, dan derasnya badai berubah rintikan hujan yang bersambut indahnya pelangi. Dan begitulah jalan cerita ini. Baik ataupun buruk, bahagia atau derita, itu akan selalu memberikan makna tersendiri bagi seorang mukmin. Karena tiada satupun keadaan yang mengubah keyakinannya terhadap janji Allah, dia hanya menelusuri jalan panjang dan menunggu saat itu tiba. Keberuntungan ataukah kegagalan, hanya akan nampak setelah kematiannya.

Maka ijinkanlah kita para lajang mengkhayalkan moment untuk satu saat nanti.
Saat-saat kesabaran pencarian dan penantiannya berbuah manis oleh keimanan ini.


Meski kini tuk merenungkanmu seolah membuka haru baru,
Mungkin karna Berbagai rintangan berganti menghalau asaku,
Akan selalu terselip keyakinan,,
Bahwa suatu saat nanti binar parasmu akan nampak jelas dimataku.

Aku tak peduli apakah waktu benar memberikan kesempatan pada kita tuk bertemu,
Akan slalu ada deru suara hati yang menanti jawabnya doa di setiap malam panjang.
Yang perlahan kan mengurai satu persatu kabut yang menutupi  kita.

Tetaplah tersenyum,
Meski terlalu banyak  Waktu yang tlah berlalu, dan jarak yang masih sangat terbentang.

 Lihatlah kudisini memendam rindu.
Setiap kali kumenadah tangan kuselipkan namamu...
usah kau simpan lara menanti...


0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--