Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Friday, May 9, 2014

Jangan (dulu) Bangga Punya Anak Penurut

A: jeng, putra jengenan itu lho, kok nurut banget ya sama ortunya, gak kayak anak saya, susah banget diaturnya.
B: lha iya jeng, wong kalo dia gak nurut ya langsung  dipukul sama bapaknya.

    Siapa sih yang gak pengen punya anak penurut, kalo di rumah gak banyak tingkah laku, kalo disuruh langsung dikerjakan, dan gak sering bikin onar atau masalah baik waktu di rumah atau di luar. Orang tua pasti mendambakan mempunyai anak yang pinter, penurut, hormat sama orang tua, dan membanggakan keluarga, sudah bisa ditebak pasti ketika dewasa nanti dia menjadi orang besar atau sukses. Ya, seperti itulah pengamatan yang saya dapat dari orang-orang dekat mengalami hal seperti itu, sayangnya tidak semua anak bisa diperlakukan seperti itu. Lihatlah contoh berikut ini,


     Panggil namanya Lukito, pemuda 25 tahun ini rupa-rupanya mengalami ketidak normalan hidup, ketika teman-teman sebayanya sedang fokus dengan karir di pekerjaan mereka, bahkan ada yang sudah berkeluarga dan punya anak, Lukito masih bergulat dengan kuliahnya yang tak kunjung selesai, bukan, dia sedang bergulat dengan masalah psikisnya. Jika dilihat dari sekilas, lukito tampak seperti pemuda kebanyakan, supel, ramah, cerdas, dan semuanya terkesan normal, namun tidak seperti itu atas apa yang terjadi di dalam dirinya. Kecemasan tinggi sedang menggerogoti dirinya, masalah kuliah yang tak kunjung usai, masalah hubungan dengan keluarga, masalah keuangan, dll. Sedangkan dia tak bisa berfikir bagaimana cara mencari jalan keluar, dia merasa iri melihat teman-temannya menjalani kehidupan seperti tak ada beban sama sekali, sedangkan dia, untuk bergerak maju rasanya susah. Dia merasa sangat takut ketika hendak menghadap dosen pembimbing skripsinya, dia butuh uang, namun dia tak berani mengirimkan lamaran kerja ke lowongan kerja freelance. Setiap hari dia hanya bisa menghabiskan waktu dengan meratap ketidak mampuannya mengatasi sesuatu.

     Apa yang terjadi dengannya, ternyata dia mengalami masa kecil yang suram. Mempunyai seorang ayah yang temperamen dan suka main tangan. Apapun yang dilakukannya semasa kecil selalu terlihat salah di mata ayahnya, kemudian serta merta disabetnya dia dengan sabuk atau sabuk ban dalam karet yang biasa digunakan untuk mengikat kayu. Sampai-sampai dia bingung, apa salahnya sampai tiap apa yang dilakukannya selalu terlihat salah sehingga dia dipukulnya. Itu membuat dia berfikir kalau dia anak nakal yang selalu bikin salah. Sehingga dia merasa untuk menjadi anak yang baik dia harus menurut apa segala kata ayahnya tanpa terkecuali, meskipun dia tidak suka atau meskipun dia mempunyai pendapat yang berbeda dengan ayahnya.

   Cobaan lainnya adalah ayahnya tak pernah puas dengan kerjaannya, ketika disuruh sesuatu dan salah, yang diterima adalah umpatan, sehingga ketika ayahnya hendak menyuruhnya, dia sudah merasa cemas dan takut kalau dia tidak bisa melakukan pekerjaan dan melakukan kesalahan lagi.

     Hari berganti hari lukito beranjak remaja, dia menjadi anak yang pintar dan penurut,sehingga ibunya sangat menyayanginya, tak pelak apa yang diinginkan lukito selalu diberikan oleh ibunya, namun syangnya, hubungannya dengan ibunya tak sebaik hubungan dengan ayahnya, memang terlihat normal biasa, namun dalam hati lukito, dia selalu berusaha menjaga jarak dengan ayahnya, karena ketika dia berada di dekat ayahnya, ada dua kemungkinan yang terjadi, dia dimarahi ayahnya dengan mengungkit kesalahan-kesalahannya, atau dia akan disuruh melakukan sesuatu, karena ayahnya paling tidak suka melihat anak-anaknya diam tak melakukan pekerjaan atau malas-malasan menonton tv. Makanya dia cenderung sering berada di dalam kamar tidurnya yang selalu dalam keadaan terkunci, harapannya, dia aman dari jangkauan ayahnya. Beberapa saudara kandungnya pun merasakan perlakuan yang sama dengan apa yang lukito alami dari ayahnya, hanya saja saudara2nya yang lain cederung berani untuk menentang, atau sering keluar melarikan diri. Sedang lukito tak berani, dia duduk manis di rumah tatkala ada bapaknya, baru dia berani bermain-main atau menonton tv kalau bapaknya sedang pergi keluar. Bahkan seringkali dia main kucing-kucingan dengan ayahnya. Lukito kalau menonton tv selalu berada ditempat dimana pandangannya bisa menjangkau keberadaan ayahnya, kalau dirasa ayahnya mau masuk rumah, dia langsung mematikan tv dan berlari ke kamar, begitupun kalau dia nonton tv malam hari, dia selalu mengawasi kamar ayahnya, saat lampu kamar ayahnya menyala, segera dia mematikan tv dan pura-pura tertidur, kalau ayahnya kembali ke kamar, baru dia menyalakan tv kembali, satu-satunya saat yang paling aman dari amarah ayahnya adalah ketika sedang bersama kakak-kakaknya yang lain atau ada ibunya, dengan begitu dia merasa aman melakukan apa saja. Ternyata hal tersebut secara tidak langsung membentuk perkembangan kepribadian lukito menjadi tidak seimbang, karena dia seperti bukan dia, tidak berani melakukan sesuatu karena merasa takut dan cenderung mengikuti perintah orang lain daripada kata hatinya sendiri.

     Lukito beranjak dewasa, ayahnya tak lagi memukulnya, namun kata-kata pedas dari ayahnya tetap keluar kepadanya. Selama dia jadi penurut, selama itu pula dia merasa aman. Melanjutkan jenjang pendidikan ke sekolah manapun dia tidak begitu peduli, apa kata ayah, apa kata ibu, apa kata mereka. Ibuny yang mempunyai ikatan batin kuat dengannya pun tak khayal menuai tanya kepadanya. "sebenarnya mau jadi apa kamu nanti,nak?'', "apakah kamu punya cita-cita?".. Dan lukito hanya menanggapinya dengan diam lalu geleng-geleng.

    Akhirnya ketika beranjak sekolah menengah atas, lukito dimasukkan ayahnya ke pondok pesantren.berharap lukito ini menjadi seorang ustad tersohor di kampungnya. Lukito menanggapinya dengan gembira, bukan karena dia sepemikiran dengan ayahnya. Tapi karena dia ingin menjauhi ayahnya. Pun ketika dia di pondok, ayahnya masih suka mengomelinya karena perilakunya tak seperti anak pondok, padahal ayahnya beraharap ketika pulang ke rumah, anaknya itu bisa adzan dan jadi imam di masjid dekat rumahnya. Namun sayangnya bukan lukito tidak mau, namun buah dari benih-benih perlakuan ayahnya sudah mulai terlihat, entah kenapa lukito selalu merasa cemas terhadap sesuatu meskipun itu sepele. Akhirnya dia hanya beranidatang  ke masjid kalau sudah ada yang mengadzani. Tak pelak lukito mendapat julukan baru dari ayahnya, penakut dan tidak bisa ngomong dengan orang banyak. Lukito hanya diam saja.

      Setelah tiga tahun berada dipondok, akhirnya dia menamatkan pendidikan sekolah akhirnya dan lulus ujian negara, dia berhasil membuktikan ejekan ayahnya sesaat sebelum dia menghadapi ujian nasional, yang bilang bahwa beliau akan menyembelih 2 ayam kalau dia bisa lulus ujian nasional yang punya standar nilai cukup tinggi itu.pun berhasil lulus ujian nasional tak menjadikan ayahnya bangga terhadapnya. Amarahnya malah semakin besar karena lukito tidak berhasil menjadi ustad seperti harapan beliau saat memasukkannya ke pondok. Lukito jarang pergi ke masjid, ikut pengajian, malah malas malasan dan sering nonton tv, itu menjadi alasan ayahnya untuk membenci lukito. Pun lukito yang beranjak dewasa itu sudah berani memberontak, baginya kenapa harus ke masjid karena paksaan, dia harus bisa ke masjid sendiri tanpa paksaan dari ayahnya atau karna takut pada ayahnya seperti saat dia kecil dulu. Berbeda penafsiran dengan ayahnya, lukito dicap sebagai anak yang durhaka, meskpun seringkali mendapat pembelaan dari ibu dan saudara-saudara lukito, bahwa lukito itu sudah cukup baik sebagai seorang anak, dia baik, penurut, menjaga shalatnya, ngaji tiap abis maghrib, tidak seperti anak-anak yang lain yang lupa shalat atau suka keluar rumah. Namun ayahnya bersikeras menganggap lukito anak yang tidak baik karena dia tidak seperti apa yang beliau harapkan.

     Bahkan saat kuliahpun lukito akhirnya memilih jurusan pilihan saudara-saudara nya.namun itu tak menjadi masalah buat lukito, yang penting kuliah di luar kota, jauh dari ayahnya. Hari berganti hari, lukita berkembang menjadi seorang aktifis kampus dengan prestasi kuliah yang tidak bisa diremehkan, lukito bahagia, karena harapannya mengubah dirinya di luar kota beranjak menemui titik terang. Namun sayang, bagaimanapun prestasi lukito di kampusnya, di rumah diapun menjadi lukito seperti sebelumnya, intensitas konflik pun tak semakin berkurang malah semakin intens, entah apa yang difikirkan ayahnya, dia seperti boneka, di rumah pun dia harus belajar, dan tidak boleh malas-malasan, padahal menurutnya, teman dia yang paling berprestasi di kampusnya pun tak beda jauh dari dia, tidur siang, nonton tv, sama saja dengan yang lainnya, dia merasa usaha memperbaiki diri saat diluar kota tak berarti apa apa buat ayahnya. Dia kembali terpuruk, menjadi pemuda rendah diri, pesimis dan tidak berani berbuat apa-apa.

         Saat teman-temannya kini tengah meniti karir, menjalani kehidupan baru dengan menikah,tidak begitu dengan  Lukito, dia merasa sudah tak punya masa depan, jangan kan untuk menuntaskan kuliah, hendak bergerak kemana pun dia tak punya arah,keluarga bingung dengan apa yang dialami lukito, padahal menurut keluarga, lukito bukanlah tipikal pemuda nakal, dia penurut, rajin shalat dan tidak neko-neko, hingga akhirnya menyimpulkan lukito hanya terkena penyakit malas karena kuliahnya tak kunjung usai.

Sedangkan lukito hanya berharap dia tidak berfikiran pragmatis dengan mengakhiri hidup karena merasa tak punya warna hidup lagi.

    pendidikan anak memang sangat berpengaruh terhadap karakter anak nantinya dalam menjalani kehidupan dewasanya. jangan menganggap bahwa anak-anak hanyalah fase kehidupan awal yang berarti belum hidup secara sempurna, pada hakikatnya setiap fase kehidupan punya tahapan sendiri, dan tahapan awal inilah yang seharunya digunakan untuk mengisi bekal dan membuka perlahan karakter juga potensi anak.

    Pendidikan di dalam keluarga yang serba diktator juga otoriter membuat mental dan kepribadian anak tidak terbentuk sempurna, mereka terlihat seperti kerbau yang dicucuk hidungnya lalu digiring kesana-kemari sesuka hati, mungkin saja mereka nantinya akan sukses, namun kecenderungannya adalah mereka tidak bahagia di bidang yang dipilih orang tuanya, dan mereka tidak menjadi diri mereka sendiri.

     Memang, orang tua adalah sosok yang paling memahami bagaimana seluk beluk dunia itu, sebagaimana mereka pernah menjalani, mereka paham bagaimana karakter setiap fase kehidupan. asam-manis kehidupan yang tlah dirasakan itu membuat mereka mempunya pandangan tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup agar tidak sepahit rasa yang mereka kecap dulunya. dan anak-anak mereka, yang menjadi tumpuan harapan mereka nantinya. mereka ingin anak-anak mereka mendapatkan hal terbaik, tidak seperti kehidupan mereka sebelumnya.  Namun hendaknya kita juga perlu menyadari bahwa kita dengan anak kita tidaklah sama. Karakter, watak, tingkat intelegensi, keadaan sosial, perkembangan teknologi, dan cita-cita anak tentunya berbeda dengan kita, pun sebaiknya kita memberiarkannya berkembang agar mereka lebih peka dengan kehidupannya. Kasihan, ketika pada akhirnya nanti mereka mendapati jalan buntu disaat mereka harus bergerak karena terbiasa kita tunjuki. Lantas tegakah kita meninggalkan dia dengan keadaan goyah.???

    mempunyai anak-anak yang begitu penurut tentunya menjadi dambaan bagi tiap orang tua, hanya saja kebanyakan dari orang tua terlalu bersikap pragmatis untuk membentuk kepribadian penurut anak secara instan, yaitu dengan sikap tekanan. mungkin banyak diantara kita masih belum beitu sadar bahwa psikis anak saat kecil mempengaruhi pembentukan mental dia saat dewasa nanti. tekanan psikis, tuntutan yang berlebihan, paksaan terhadap segala sesuatu, larangan bahkan pemukulan akan mengerdilkan mental anak yang seharusnya berkembang sempurna secara alami menjadi pribadi yang terlihat penakut, pengecut. sang anak kehilangan jati diri dan hidup penuh kepura-puraan, demi membuat orang tua terkesan senang atas keadaan adem ayem anaknya itu. padahal yang adem ayem belum tentu baik.

sebaiknya sebagai orang tua kita harus peka, tentang bagaimana karakter anak, sehingga kita pun bisa mensikapi mereka dengan baik, membentuk kepribadian secara natural. bukan untuk membebaskan mereka bersikap semaunya, namun mendengarkan hati mereka berbicara, itu lebih utama. 


anak adalah titipan, yang diciptakan dengan berbagai macam karakter, kelebihan juga kekurangan, kita hanya butuh mengarahkan, bukan memaksa dia untuk menjadi seperti apa yang kita egokan. bukan apa-apa. takutnya nanti dia tidak bisa seperti apa yang kita harapkan dulunya, juga tidak sanggup menjadi seperti apa yang di impikannya sendiri,

2 comments:

putri setya S said...

kena banget kak :3

Darkness Prince said...

iya..semoga bisa diambil pelajaran ya :)

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--