Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sunday, April 27, 2014

Aku dan Neurosis

    dunia ini penuh keseimbangan, ada hitam juga ada putih, kalau ada besar pasti ada kecil, bahagia dengan duka, dan normal dengan tidak normal. memang di dunia ini tidak selalu tersaji dengan sempurna, bukan karena Tuhan tidak mampu, namun karena Dia hendak membuka mata kita, agar selalu ada keterikatan dengannya melalui rasa syukur atas apa yang dia terima, baik itu lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya.


   aku tidak pernah benar-benar menyangka bahwa aku telah berhadapan dengan kondisi seperti ini. beberapa tahun lalu saat masa kuliahku sudah sampai setengah jalan, aku merasa seperti malas yang tak mempunyai ujung, memang benar ada masalah dengan orang rumah dan cenderung menyalahkan mereka atas keadaan ini, namun ketika aku mencoba tuk bangkit, i was paralyzed, aku seperti santai saja meninggalkan beberapa mata kuliah dan mengambilnya lagi di tahun berikutnya, sampai hampir 3x mengulang, whats wrong with me. awalnya aku berfikir apakah ada sesuatu yang lain di dalam diriku (kerasukan jin) karena dari pengetahuan yang kudapat, orang yang kemasukan jin mempunyai indikasi malas yang berkepanjangan, apalagi menyangkut ibadah. namun setelah sekian lama aku mencoba menelaah apa yang sebenarnya terjadi, membaca jurnal-demi jurnal tentang kondisi psikologi, aku terdiem dan agak terperangah ketika mataku berhenti pada tulisan NEUROSIS.


    ada apa dengan neurosis, neurosis adalah sebuah penyakit psikis dimana seseorang mengalami kecemasan yang berlebihan terhadap sesuatu atau segala sesuatu, sehingga dia mengalami masa-masa ketidak normalan dalam hidupnya. ada orang yang cemas terhadap kotoran, dia slalu lama kalau di kamar mandi dan apa-apa selalu cuci secara tidak normal. untuk lebih lanjut bisa diliat catatanan tentang neurosis ini di sini, sini,atau sini

ini beberapa indikasi yang membuatku berkesimpulan bahwa aku seorang neurosis:

   kalau menunggu jam kuliah, aku tidak menunggu di depan kelas, tapi agak jauhan, dari kelas yang mau saya masuki, menurutku, berada di depan kelas membuatku cemas, cemas saat sang dosen keluar kelas dan mengajak ngobrol atau bertanya sesuatu padaku.

   lebih baik gak masuk kuliah daripada telat. aku selalu datang kuliah lebih cepat dari rata-rata mahasiswa pada umunya,kecuali emang berniat bolos. setidaknya 15 menit sebelum pergantian jam, aku harus stand by di kampus. menurutku moment saat terlambat (mengetuk pintu saat jam kuliah berlangsung, kemudian berjalan melewati para mahasiswa yang tengah belajar, pastinya membuat diriku jadi pusat perhatian) sangat terasa mengerikan.

   kalau mau masuk kelas rasanya dag-dig-dug. entah mengapa selalu ada perasaan was-was saat mau mengikuti kuliah di kelas, perteanyaan-pertanyaan gak jelas selalu berkecamuk dalam fikiran, bagaimana kalau nanti dosen tanya dan aku tidak bisa menjawab, gimana kalo nanti sang dosen menyuruhku melakukan sesuatu tapi aku tak bisa melakukannya, dll, efek baiknya aku selalu menyiapkan kuliah dengan matang dan teliti, aku tidak pernah lupa bawa buku, ngerjain tugas atau hal-hal yang berkaitan, karena kecemasan memaksaku mengingat hal-hal yang sifatnya detail. bagus sih, cuma masalahnya. im not enjoy with the condition.

   tak pernah menikmati enaknya kuliah. bawaannya tegang. kalau melihat para mahasiswa lain atau teman-teman begitu nikmatnya kuliah, bercanda dengan teman-teman, nongkrong bareng saat pergantian jam kuliah, atau jalan-jalan rame-rame seusai kuliah. meski kufikir mereka tidak begitu peduli dengan masalah kuliah, santai, dan terkesan yang penting nekat. namun itu justru membuat mereka berhasil melalui setiap tahapan hidup atau dalam perkuliahan ini meski dengan hasil yang standar dan tak maksimal, lalu aku? bisa dibayangkan bagaimana tugas presntasi untuk minggu depan sudah membuat fikiranku kacau semingguan, thats good? not, itu hanya fikiran, tidak ada aplikasi untuk menyelesaikan.walhasil, mata kuliah yang ada presentasi ato observasi ke luar biasanya sering dilepas atau ngulang beberapa kali.

   takut duduk di barisan terdepan. karena biasanya barisan depan yang paling sering ditanya, atau disuruh melakukan sesuatu, paling intens berinteraksi dengan dosen. i dont like that.

   kalo ke masjid nunggu suara adzan dulu, takut keduluan disana sehingga aku disuruh adzan, padahal sebenarnya pengen banget adzan, begitu juga imam.

   tidak berani jalan-jalan/maen-maen ke luar. kalau di kosan, aku jarang banget keluar kecuali diajak teman, itupun paling cuma pergi makan atau berli sesuatu, kalau di rumah, meski dapet libur kuliah 2 bulan, hampir dipastikan aku selau berada di rumah buat sekedar nonton tv, bersih-bersih rumah, atau ngobrol ma keluarga. mungkin mereka fikir akunya emang pemales, tapi ada hal lain yang membuatku tercegah untuk pergi keluar.

  seringkali ngulang ketika wudhu, hal-hal yang mendetail selau terlintas di kepalaku, seperti ketika sedang wudhu, sedikit air/angin/kotoran yang menempel di tubuhku membuatku khawatir apakah itu najis. begitu pula kayak misalnya ketika sudah sampe membasuh tangan, kefikiran tadi kepalanya sudah rata belum, akhirnya ngulang, dan itu berulang kali, maka jangan heran ketika aku shalat, celana atau sarung yang kupakai bener-bener kebasahan.

   seringkali ngulang shalat, kalo lagi shalat terus merasakan sesuatu sedikit, merasa kentut, akhirnya shalat lagi waktu balik di kosan sebagai tambalan kalau-kalau shalat yang sebelumnya ternyata emang batal.

    kalau ke kamar mandi sekedar kencing, bener-bener detail waktu ngebersihinnya, aku gosok rata, terutama bagian pinggul kebawah slalu kusiram air takut terkena cipratan air najis.

   sering cuci kaki atau tangan tiap kali lewat kamar mandi. paling gak tahan kalau tangan dan kaki kering, kalau pas pergi keluar, pasti selalu absen ke tempat yang ada kerannya untuk sekedar mencuci tangan dan kaki, itu makanya sandal aku selalu basah sampai kumel.

   pakaian(daleman, bawahan atasan) ada tiga jenis; buat keseharian, buat bepergian/kuliah, buat shalat (takut najis). hanger di kamar tak pernah sepi gantungan pakaiannku. karena saking banyaknya yang kutempel disitu, pakaian buat sehari-hari terutama celana pendek tak pernah kusatuin dengan yang pakaian buat pergi, takut ada najis yang ikut tertempel, dan gantungan buat shalat kubikin terpisah dari lainnya, untuk memastikan kesuciannya. kalau sedikit saja pakaian shalat menempel sesuatu yang gak yakin tingkat kebersihannya, langsung buang ke keranjang cuci.

   mengusahakan tiap kali mau shalat selalu mandi meskipun tanpa sabun, kecuali kalo bener-bener yakin tidak kena najis (tidak nempel sesuatu), meski sekedar guling-guling di kasur membuatku cemas tentang kesuciannya (soalnya kalau pakai pakaian santai biasanya sering dibuat ke belakang(kamar mandi)). itu membuatku suhu badanku selalu dingin, sampai-sampai kalau ada budhe main ke rumah selalu megang-megang tanganku karena dingin seger.

  tidak pernah bisa menikmati keadaaan, bawaannya cemas. mau ngapain juga selalu kudu mempersilahkan spekulasi-spekulasi gak jelas lewat di fikiranku, gimana kalau nanti gini, gimana kalau nanti gitu, kecuali sedang dalam mood tinggi, makanya dulu aku sering beli macam-macam barang, gonta-ganti hp, tujuannya biar menjaga mood tetap senang, dengan begitu dinamika hidupku agak lebih stabil dari biasanya,

   kalo lagi di kumpulan cenderung sembunyi, entah kenapa, padahal itu lebih terkesan sebagai seorang pengecut.

   gemetar kalo naik motor ke kota,takut kalo melanggar lampu merah, takut tiap kali liat polisi di samping jalan. apalagi kalau menyalip atau bertemu dengan truk dengan ban besar. itu membuatku memikirkan hal-hal yang mengerikan. takut mogok di jalan dan tidak bisa memperbaiki, itulah makanya aku selalu minta diboncengin kalau diajak jalan-jalan pakai motor meski terkadang duku berkorban uang buat bensin-in.

   paling gak suka nganggur, tapu takut kalo ingin melakukan sesuatu, takut malah hasilnya jelek, seperti mau utak-atir motor tapi takut kalau malah jadi rusak, makamya aku gak begitu paham dengan segala urusan lelaki, seperti hal-hal yang berkaitan dengan motor, dll. karena aku takut mencoba, alasannya? ya seperti itu tadi.

  malu minta duit, malu gak bisa cari duit, tapi takut kalo mau cari duit.aku itu kalau mau minta duit buat bayar kuliah itu deg-degannya melebihi anak yang mau membohongi orang tuanya minta duit kuliah tapi buat foya2. sedangkan banyak sekali teman yan menawarkan pekerjaan meskipun itu tidak begitu berat, tapi spekulasi macam-maca membuatku was-was dan merasa tidak PD, gimana kalau nanti aku tidak becus kerjaannya, gimana kalau aku dapat masalah. bla..bla...terakhir aku menerima tawaran jadi waitres di salah satu resto jawa dengan gaji yang menggiurkan namun cukup meemeras keringat karena shiftnya dari jam 3 sore sampai jam 11 malam, tapi sehari udah resign, bukan karena kalah sama capek, tapi merinding karena selalu berada dalam pengawasan sang mandor. padahal udah hampir bahagia karena mau dapet penghasilan sendiri. tapi pupus juga.

   bebarapa kali menjalin hubungan, tapi takut menjajagi ke hubungan yang serius, akhirnya kandas, seolah aku mempermainkan rasa/tidak sungguh-sungguh, padahal sebenarnya benar-benar cinta dan ingin menikahinya. tapi kecemasan membuat akhirnya memutuskan hubungan dan merelakannya dimiliki orang lain. mungkin menurut mereka aku adalah playboy, mau enaknya saja, tidak bertanggung jawab dan tidak mau menjalin hubungan yang serius. dan aku terpaksa menerima semua praduga itu demi menutupi ketertakutanku itu.

     itu semua memang terjadi bukan tanpa sebab. orang lainpun tak akan menerima keadaanku kalau tidak bener-benar mengamati perilakuku dan tau aku sejak kecil. aku dilahirkan dalam keluarga besar, dengan seorang ayah yang cukup temperamen. aku merasa bahwa pengalaman masa kecilku banyak mempengaruhi keadaanku sekarang,kecemasanku, ketakutanku, kepesimisanku, semua. mungkin orang lain berfikir bahwa seharusnya aku sudah bisa berubah dalam dewasa ini, namun sayangnya perjalanan menuju kedewasaanku pun mengalami kebuntuan. dan aku harus menerima keadaan, merelakan tiap waktuku terbuang sia hanya merasakan tiap harapan yang sirna.

mungkin ada seorang psikolog disini yang bisa membantu saya...


1 comments:

College of Computer qassim said...

Speaking about surfing. I would say it is one of the best sports but good coverage is not given to this sport on international media.
Qassim & QU

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--