Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, August 29, 2013

Program KB dan Ledakan Penduduk

ketika kita mengeluhkan  kesedihan, kemiskinan, penderitaan. ingatlah hidup ini penuh keseimbangan.tak pernah ada kata terang jika kita tidak pernah merasakan gelap,tak ada kata cinta jika kita tidak pernah merasakan kebencian.bagaimana hidup ini penuh keseimbangan.??karena ada Tuhan, so, tak perlu ada tinggi hati untuk mencela org lain..tiada rendah diri untuk bersembunyi di balik kehidupan ne..be positive..!! 
-Maula Achadin-

   saya begitu merasa tergelitik waktu melihat tayang iklan masyarakat tentang program KB yang intinya kalau ban kita meledak, bisa ditambal lagi, tapi kalau  jumlah penduduk yang meledak, apa kata dunia??? . ketika mendengar pernyataan tersebut hatiku langsung berkata " itu kata-kata orang yang tidak beriman, bagaimana mungkin Allah menciptakan ketidak seimbangan di dunia ini, dia Tuhan, yang Maha Tahu dan Maha Mengatur segalanya. ribuan bintang dan meteor yang beterbangan di langit saja tidak berjalan di porosnya dengan begitu disiplin, sehingga tidak menabrak satu sama lain, padahal kalau difikir-fikir bumi ini planet yang paling rentan bertubrukan dengan jutaan benda angkasa yang berukuran lebih besar dari bumi itu sendiri. apalagi ini urusan jumlah manusia. kalaupun dikhawatirkan terjadi pemadatan manusia di bumi ini, pasti Allah sudah tahu, mungkin Allah menciptakan bumi yang besarnya lebih besar daripada matahari biar cukup waktu untuk manusia bertempat di bumi sampai kiamat tiba, tapi kenyataannya bumi segitu saja, kenapa? karena Allah lebih tahu segalanya. semua tepat pada porsinya.


       mengapa saya begitu yakin dengan pernyataan saya tersebut, karena saya ingat dengan hadits rasulullah :

Dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Seorang lelaki pernah datang (menemui) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya aku mendapatkan seorang perempuan yang memiliki kecantikan dan (berasal dari) keturunan yang terhormat, akan tetapi dia tidak bisa punya anak (mandul), apakah aku (boleh) menikahinya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak (boleh)”, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk kedua kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali melarangnya, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk ketiga kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan membanggakan (banyaknya jumlah kalian) dihadapan umat-umat lain (pada hari kiamat nanti). Bagi seorang perempuan yang masih gadis. kesuburan ini diketahui dengan melihat keadaan keluarga (ibu dan saudara perempuan) atau kerabatnya, lihat kitab ‘Aunul Ma’buud, 6/33-34). (HR Abu Dawud (no. 2050), an-Nasa-i (6/65) dan al-Hakim (2/176), dishahihkan oleh Ibnu Hibban (no. 4056- al-Ihsan), juga oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi).
         nah, sebagai seorang muslim yang beriman, kita gak perlu takut tentang hal-hal yang sifatnya sunnatullah. itu urusan Allah yang mengaturnya. urusan kita adalah bagaimana kita menggunakan dan memanfaatkan apa yang tlah dikaruniakan kepada kita dengan penuh rasa amanah. tentang hadits diatas, apakah kita meragukan apa yang tlah dikatakan Rasulullah saw? lantas ummat siapa kita ini kalau begitu. sedangkan kita di dunia ini hanya disuruh untuk menjalankan kewajiban mematuhi syariatnya dari apa-apa yang tercantum lewat ayat-ayat Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah, kan? 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan/kebaikan) hidup bagimu.” (Qs. al-Anfaal: 24). (Lihat “Tafsir Ibnu Katsir”, 4/34)

       mungkin ada dari kita yang masih berfikiran mencoba logis namun belum sempurna, seperti kalau nanti jumlah penduduk membludak, terus kita tinggal dimana?, terus kalau banyak anak, mau dikasih makan apa? mencari lapangan pekerjaan aja susah, bagaimana nanti kalau semakin padat?

      sekali lagi, hidup ini penuh keseimbangan, jika ada yang lahir di dunia, juga ada kematian. meskipun tidak harus bersamaan dan angkanya pun tidak sama. namun itu pastinya sudah membuat roda kehidupan ini tetap berputar. ada juga bencana alam yang menelan korban langsung dalam jumlah besar. meskipun mungkin kalimat-kalimat tadi bukanlah jawaban yang sebenarnya, seenggaknya logika kita masih bisa merasakan ini semua,Allah Maha Tahu, tugas manusialah yang harus berusaha mencari tahu misteri-misteri kehidupan yang belum terjawab ini.

   lalu bagaimana dengan rejeki seumpama kita punya anak banyak, bagaimana cara ngasih makan ke mereka. lagi-lagi pertanyaan seperti itu menandakan belum mantabnya tingkat kepercayaan (iman) kita kepada Allah. waktu remaja dulu aku juga berfikiran seperti itu, namun setelah pemikiran panjang. kenyataannya orang-orang dulu punya banyak anak dan pekerjaannya cuma begitu-begitu saja, namun in the fact anak-anak mereka tumbuh besar dan melanjutkan kehidupan secara normal tanpa ada kekurangan, mungkin ada kekurangan namun tidak sampai level menyedihkan. karena hidup tak pernah lepas dari yang namanya ujian.

Allah ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Qs. ath-Thalaaq: 2-3).

dan juga

Allah ta’ala berfirman:
ولا تقتلوا أولادكم خشية إملاق نحن نرزقهم وإياكم إن قتلهم كان خِطْأ كبيراً
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Qs. al-Israa’: 31)

Allah itu Maha Besar, Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Mengatur, Allah Maha Memberi Rizki, Allah Maha Membalas....dll
      kalau kita mengingat asma-asma Allah yang 99 itu, hati kita jadi tenteram, bagaimana tidak. semuanya nama-nama itu akan bermuara kepada kita. kita hanya butuh menjalani kehidupan sebagaimana mestinya tanpa rasa takut, cemas atau khawatir yang berlebihan. ya, mungkin 'berlebihan' ini memang sumber dari segala sumber masalah. sebenarnya kalau kita bisa hidup sederhana. berkerja sebentar pun sudah bisa mencukupi kebutuhan dasar kita, apalagi sudah ada janji Allah yang akan mencukupi kebutuhan manusia. orang binatang dan tumbuhan yang tidak mempunyai akal saja bisa tercukupi segala kebutuhannya, tapi sifat berlebihan inilah yang menjadi sumber kerusakan bagi manusia. semuanya di ingini. 
     analoginya, kalau ada 2 makhluk Allah,yakni manusia dan ayam yang ditempatkan di lumbung makanan. secara logika mereka berdua akan memakan makanan di lumbung tadi dengan lahapnya, namun perbedaannya, si ayam akan berhenti makan setelah kenyang lalu pulang, mungkin kalau ditanya dan bisa menjawab dengan bahasa manusia, dia sudah cukup mendapat rizki dari Allah hari ini, dan dia akan mencukupi kebutuhannya besok di esok hari. namun tidak dengan manusia. setelah kenyang mungkin dia akan mengambil satu karung untuk membawa makanan ini pulang, biar besok bisa dimakan lagi katanya. lalu beberapa saat lagi dia terdiam dan lalu mengambil satu karung makanan lagi untuk dibawa pulang, ternyata dia kefikiran untuk menjual makanan ini biar bisa menghasilkan uang. euh.., dasar manusia -_-"
      kesalahan manusia hari ini adalah mereka terlalu meninggikan standar hidup, sehingga tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada, selalu mengejar dunia dan melupakan kewajiban sebagai seorang hamba, sering mengeluh terkesan tidak mensyukuri anugerah kehidupan, lalu yang terakhir, merendahkan orang-orang yang berada di bawah. mungkin pemikiran-pemikiran ini yang menjadi induk kecemasan manusia akan kepadatan penduduk.
        mereka takut jika anggota keluarga mereka tidak memiliki kemapanan karena banyak anak, mereka takut anaknya nanti hanya menjadi pegawai kecil karena tidak mampu mengkuliahkan mereka. mereka takut tetangga menggunjing mereka karena tidak bisa hidup layak, memangnya siapa yang memutuskan standar kelayakan hidup?
           Aku teringat satu kisah di jaman khalifah Umar bin Abdul Aziz Rhm, dimana ketika panitia zakat mengumumkan kepada rakyat untuk mengambil jatah zakatnya di Baitul Mal (tempat pengumpulan zakat). tidak ada satupun dari rakyatnya yang mengambil jatah zakat itu. bukan karena mereka sudah kaya semua, namun karena mereka merasa cukup. nah loh, sekarang liat, pembagian BLSM saja orang-orang yang mampu berusaha menampakkan dirinya kurang mampu agar terdaftar sebagai penerima BLSM,  nah loh, mereka sendiri yang memposisikan diri sebagai orang yang tidak mampu, meskipun harga diri terbuang entah kemana. padahal dalah Islam orang yang paling beruntung adalah orang yang paling bertaqwa.
       sejatinya kita sendiri lah yang membuat semacam keadaan horor tentang masa depan yang seharusnya tidak perlu kita fikirkan, kalau itu ada syariatnya, ya kita lakukan, kenapa kita gak memiikirkan bagaimana masa depan kita di akhirat nantinya, bukankah itu esensi terpenting dari kehidupan ini? 
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(Qs. an-Nahl: 97)

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--