Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Tuesday, August 27, 2013

Kesempatan Kedua

dan di saat hati melembut,itu pertanda diri siap menerima taufiq dan hidayah dari Allah.maka segeralah mendekatkn diri kpada-Nya, karena jika hati kembali mengeras.melihat kematian pun tak membuatnya bergetar....                                                                                                  -Maula Achadin-

 
   Tak disangkal lagi, kita manusia, adalah makhluk yang sangat lemah. seberapapun kuatnya diri ini, tak pelak mempunyai satu titik yang rentan terhadap pengaruh dari luar, hati. ya. bahkan sekejam-kejamnya Fir'aun sanggup terluluhkan oleh air mata Asiah yang memohon agar tidak membunuh si Musa kecil. hati mampu meresapi berbagai keadaan dan pengaruh dari luar sehingga menghasilkan perasaan suka-duka, cinta-benci, bahagia-sedih, dan berbagai aktifitas jiwa lainnya. dalam perjalanan kehidupan yang lain, pada akhirnya hati lah yang memotori semua pergerakan tubuh secara unvisible yang menjadikan seluruh perbuatan mengarah kepada salah satu dari dua arus, kebaikan atau keburukan.


Nabi  bersabda dalam hadits Ibnu Mas’ud:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam hati ada segumpal daging yang kalau dia baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, dan kalau dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah di adalah hati.” (Muttafaqun alaih)

     hati tak ber-input, tak jua ber-output, dialah saring/filter dalam tubuh manusia ini. kalau diri ini slalu dialiri oleh perbuatan dosa, maka sebagai filter, hati pun ternodai sedikit demi sedikit. akhirnya kotoran-kotoran jiwa itu tak mampu lagi tersaring karena hati sudah sedemikian kotornya termasuki hal-hal yang negatif, maka output dari itu semua, adalah kepribadian yang buruk. semisal kita sering menonton video porno, maka perlahan-lahan seluruh otak kita terpenuhi dengan hal-hal yang berbau seks, sehingga apa yang kita lihat pasti akan terhubung dengan yang namanya seks. sudah pasti selain kita jauh dari yang namanya positif thinking, lama-lama fikiran itu menjadi perilaku yang buruk, seperti free seks dll. begitu juga dengan narkoba. jika kita sering mencicipi narkoba, lama-lama kita jauh dari aktifitas positif, akibatnya setiap hari yang kita fikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk membeli narkoba, begitu seterusnya. hati semakin keruh dan mengeruh.

       ketika hati sudah benar-benar menghitam, susah rasanya untuk kembali kepada jalan-Nya, ketika mendengar adzan, rasanya tubuh susah sekali digerakkan menuju ke masjid, bahkan ketika mendengar salah satu teman kita membaca alqur'an, rasanya eneg sekali untuk mendengarnya, apalagi ikut membacanya. jiwa syetan sudah benar-benar menyelimuti, sebagai seorang manusia yang mempunyai fitah bertuhan, ingin rasanya kembali menjadi hamba yang benar-benar ta'at, meski di tengah keinginan itu masih saja tubuh kita melakukan dosa. dan Allah selalu mendengar dosa hambanya meski hanya sebatas bisikan lirih nan begitu lemah. 

          mungkin suatu kali di tengah keterpurukan ini, tiba-tiba hati menjadi sendu, ketika mendengar adzan atau bacaan alqur'an hati terasa sejuk. mungkin itulah pertanda Allah membuka hati kita untuk menjawab panggilanNya kembali. maka bersegeralah menjawab panggilan itu. lantas bagaimana caranya? khusyukkanlah diri kita untuk mengakui dosa-dosa yang tlah lalu dan bertobat meminta ampunan kepadaNya. lalu buktikanlah itu dengan menjawab setiap kewajiban yang sebelumnya kita lalaikan. seperti bersegera mendatangi masjid untuk shalat berjamaah saat terdengar adzan, membaca alqur'an, membaca buku-buku agama, ikut ke pengajian-pengajian, dan segera bertekat untuk tidak mendekati hal-hal yang akan menjerumuskan kepada perbuatan dosa lagi.

“Wahai Yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.” (HR. At-Tirmidzi dari Anas bin Malik )

            sebagai manusia yang begitu lemah, mungkin suatu saat kita tergiur oleh bisikan syetan dan kembali lagi kepada jalan-jalan dosa setelah pertobatan panjang, biasanya kita merasa begitu pesimis untuk kembali ke jalan lurus lagi karena sudah merasa bahwa Allah tlah murka kepadaNya. sepertinya pemikiran seperti itu adalah alat yang paling jitu untuk memantabkan orang-orang yang tergelincir pada kesalahan agar tetap melakukan kesalahan. padahal Allah selalu menerima taubat seorang hambaNya selagi nyawa masih di kerongkongan.

Dari Abu Musa AbdullahIbn Qais al-Asy'ari ra. dari Nabi saw., bersabda:
'Sesungguhnya Allah Ta'ala itu membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu siang, dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu malam. Demikian ini terus menerus sampai terbitnya matahari dari arah barat.' (HR Muslim)

   lalu masih adakah fikiran bahwa Allah tidak akan menerima taubat kita dan berlarut-larut dalam perbuatan dosa??? maka sebaiknya ketika kita melakukan kesalahan, baik itu dosa kecil ataupun besar, selayaknya kita segera beristighfar, meminta ampunan kepada Allah dan memperbaikinya dengan amalan shaleh yang lebih besar atau lebih serius dari sebelumnya sebagai pembuktian kekhilafan kita.

ada juga bisikan syetan yang lain, yaitu menyepelekan dosa, merasa bahwa toh Allah nantinya pasti akan menerima taubat kita, sehingga kita merasa punya cukup waktu untuk 'menikmati' hidup ini dengan dosa-dosa lalu berniat bertobat di akhir hayat kita. apakah kita tahu seberapa panjang umur kita?


وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
"Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertobat sekarang" Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (QS. Al-Nisa': 18)

    bahkan dalam hadits shahih disebutkan, "Setiap umatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali al-mujahirun." Yakni orang yang berbangga dengan kemaksiatannya dan tidak lekas bertaubat dengan meninggakan dosa.
naudzubillah. ingatlah bahwa setiap bisikan itu berasal dari syetan. mereka menipu dengan berusaha mencari celah kemudahan/pengampunan untuk terus mengikat manusia kepada jeratan dosa.

     kalau kita sadar, Allah begitu sayang kepada kita, Dia bersedih ketika kita jauh dan bermaksiat kepadaNya, bukan karena Allah butuh kita, namun karena perbuatan kita di dunia nanti akan berimbas pada kehidupan setelah kematian, yakni akhirat. maka tak salah jika para rasul dan para sahabat dulu menangis bahkan sampai pingsan ketika mendengar ayat atau teringat tentang kematian dan siksaan neraka sehingga mereka benar-benar menjaga betul diri mereka dari keharaman dan perbuatan dosa. sedangkan kita? terlalu asyik mencari kesenangan dunia dan terlupa pada bekal kita nanti di akhirat. mungkin kita tidak sadar, seringkali Allah memberikan 'sentilan' kecil agar kita tersadar dan kembali ke jalannya, seperti kehilangan, kesialan, atau suasana hati yang tidak menyenangkan. amatilah seksama, sebelum sentilan-sentilan kecil itu benar-benar membesar dan tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali ke jalanNya, namun merupakan balasan atas perbuatan kita. naudzubillah.

      orang bijak mengatakan habiskanlah jatah kesalahan kita dengan memperbaikinya sebelum kesalahan itu datang kepada kita. barangkali kita berfikir bahwa kenikmatan, kelonggaran, kebahagiaan yang kita rasakan ini merupakan pertanda Allah ridho terhadap kehidupan kita, jika memang demikian, maka bercerminlah pada hati kita, adakah kita masih memiliki dosa? jika kita merasa berdosa dan berfikir keenakan-keenakan dunia ini merupakan bonus dari Allah, maka berfikirlah secara terbalik, mungkin saja keenakan-keenakan itu nantinya dijadikan alasan untuk siksaan yang paling keras untuk kita nanti di akhirat. janganlah menangis karena kita alasan dunia, karena kehilangan, kekurangan. itu karunia lain dari Allah untuk kita syukuri bagaimanapun adanya, menangislah karena sebab akhirat. karena di akhirat nanti, semuanya bergantung kepada amalan kita.  janganlah bahagia kerana kenikmatan dunia, barangkali itu bumerang bagi kita, namun bahagialah karena Allah masih memberikan 'kesempatan kedua' untuk kita meraih kebahagiaan syurga yang tak tergantikan nantinya. mari saling memperbaiki diri.

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau karuniakan nikmat kepada mereka; bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat .
( surah al-fatihah, ayat 6-7 )
 

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--