Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Monday, June 10, 2013

Terjebak Introvertion

..Sedangkan yang khas dari introvert adalah pendiam, pemalu, mawas diri, gemar membaca, suka menyendiri dan menjaga jarak kecuali dengan teman yang sudah akrab, cenderung merencanakan lebih dahulu – melihat dahulu – sebelum melangkah, dan curiga, tidak suka kegembiraan, menjalani kehidupan sehari-hari dengan keseriusan, dan menyukai gaya hidup yang teratur dengan baik, menjaga perasaannya secara tertutup, jarang berperilaku agresif, tidak menghilangkan kemarahannya, dapat dipercaya, dalam beberapa hal pesimis, dan mempunyai nilai standar etika yang tinggi (Aiken, 1993 : 87).

rasa penyesalan tertinggiku di dunia ini adalah ketidak sadaran keluargaku bahwa dikeluarga ini terdapat satu anggota keluarga yang unik (entah itu aneh), dan tidak seperti orang umumnya, siapa lagi, saya. hingga dengan ketidak pahaman inilah secara tak langsung menimbulkan berbagai macam problema di keluarga, semoga tidak sampai mengarah ke 'konflik', meskipun lampu indikatornya mulai menyala. iya, di dalam satu keluarga 7 bersaudara ini mungkin cuma aku yang terlihat aneh, dulu aku berfikir hanya kakak perempuanku yang paling paham keadaanku, sayangnya beliau sudah meninggal 12 tahun yang lalu. dan sekarang aku merasa terlunta sendiri di dunia ini, aku merasa tidak memiliki siapa-siapa meski aku bagian dari sebuah keluarga besar yang hampir setiap hari rame oleh suara. aku merasa sendiri terikat berbagai macam problema hingga sepekat ini sedangkan mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi padaku, seolah ini murni kesalahanku, murni kelalaian sehingga aku berada dalam titik bencana seperti ini,, padahal AKU SEDANG TERJEBAK DALAM INTROVERSI..!!!
 dulu semasa masih hidup, bapak selalu kecewa melihat keadaanku, kenapa aku pendiem dan tidak pinter (baca:suka) berbicara. kenapa aku tidak bisa melebur ke dalam masyarakat seperti orang-orang lain. bahkan pandangan seperti itu tetap bertahan ketika aku duduk di bangku kuliah. ibukku yang menjadi juru bicaranya bapak sering memberitahuku tentang pandangan bapak ini, aku tidak mungkin menjelaskan panjang lebar tentang keadaan diriku yang sebenarnya, karna itu malah menambah bingung ibukku. aku hanya bilang kalau aku dikampus aktif di organisasi dan aku menjadi salah satu mentor di kampus.

sedangkan ibukku berpandangan bahwa aku orangnya terlalu easy going, tidak begitu mempunyai prinsip dan obsesi yang jelas serta dapat diperjuangkan, dari saat aku hendak mendaftar smp sampai perguruan tinggi aku selalu dipilihkan, dan tidak pernah ada sanggahan dari, just 'yes' and 'ok'. sampai ibukku pernah bertanya kepadaku, sebenarnya aku ini pengen jadi apa..ibukku tidak pernah percaya dengan kemampuanku, tapi bukan karena pandangan yang jelek, tapi ibukku terlalu kasian dan khawatiran kepadaku, semisal aku disuruh mengerjakan pekerjaan yang belum pernah kulakukan, ibukku bilang, apa kamu bisa???ntar kalo gini gimana, ntar kalo gitu gimana. hingga aku merasa tidak bisa melakukan apa apa.

sedangkan kakak-kakakku memandangku sebagai adek yang pendiem,pasif,penyendiri,gak suka berpergian,kuper,super penurut dan yes man, sedikitpun tidak pernah aku menolak perintah mereka, semuanya kuturuti tanpa sedikitpun aku memberikan pendapat ketika berada dalam suatu keadaan, aku merasa lebih baik kakakku minta aku melakukan sesuatu dari pada meminta pendapatku untuk melakukan sesuatu. bahkan dalam perbincangan sehari-hari, aku lebih banyak diam dan tidak menyela pembicaraan. bisa dibilang aneh memang, namun bagi mereka itu gak ada masalah. mereka suka mempunyai adek yang penurut itulah yang selama ini membuatku bertahan, istilahnya meski dalam keadaanku yang gak lulus-lulus, namun mereka agak sudi membantuku. karena aku anak rumahan yang baik dan penurut.

namun dibalik itu semua, ada hal yang mereka tidak mengerti apa yang di dalam hatiku. itu bukan berarti aku sebenarnya tidak seperti apa yang terlihat, tidak, tapi aku telah terbiasa mengorbankan segala yang ada buat mereka, aku tulus, meski kadang merasa kesal. bahkan ketika kesal aku masih tetap jadi orang penurut. bukan, tapi aku butuh mereka menyadari bahwa memukul rata pemberian sikap kepada orang itu salah. aku seorang introvert, seharusnya mereka tahu bagaimana membuat adiknya yang introvert tumbuh selayaknya orang lain. seperti aku lebih suka support daripada tantangan. terlebih kita sekeluarga punya karakter turunan yang sama, ngambekan. dan ketika aku ngambek, im doin nothing, aku rela merusak diriku sendiri cuma untuk membuat mereka sadar apa yang aku rasakan atau harapan. dan ketika mereka sadar, aku telah benar-benar rusak. mereka tidak tahu bahwa aku hanya menginginkan tempat di hati mereka, support, pendekatan yang bersifat psikis, bukan materi. bukan didiemin dan dibiarkan begitu saja. mereka tidak sadar kalau sekecil apapun perkataan juga sikap mereka kepadaku, aku rekam dan simpan itu sebaik-baiknya di otakku. sehingga aku mudah tersinggung atau sakit hati.aku lebih suka diajak bicara dari ke hati sehingga ada penunjukkan perhatian.

dulu waktu aku berniat melanjutkan ke studi ke perguruan tinggi, kakakku yang diberi kelebihan materi tidak sungguh-sungguh dalam menyikapi ini mereka menolak mengkuliahkanku dengan alasan yang menurutku kurang logisdan tidak bener-bener memahami perasaanku, padahal jika saja mereka ngomong dari hati-ke hati, aku bisa mengerti, hingga akhirnya selama setahun itu aku merusak diriku sendiri, tidak ada lagi gambaran anak pondok yang sebelumnya kutempuh 3tahun lalu.

dulu waktu akhirnya aku bisa kuliah dengan bantuan kakak iparku, lalu aku membuktikannya dengan IP yang tinggi, tidak ada satupun yang memberikan kesan bahagia atau ungkapan selamat atau setidaknya memberikan 'kesan' dukungan. shingga aku mulai berfikiran ini semua seperti tak ada gunanya.

dulu waktu aku memohon bapak agar dibolehin bawa motor karena sebentar lagi mengikuti PPL, bapakku tidak juga merestui, padahal ada motor yang nganggur, ada saja yang berfikiran ntar kalau aku bawa motor malah sering keluyuran, studi terganggu, menambah biaya kehidupan di luar kota, hingga urusan keselamatan, seolah aku tidak mampu untuk mengatur itu semuua. dari situ aku mulai jengah dengan pencapaian-pencapaian yang tlah kulewati, prestasi kuliahpun merosot drastis, dan aku yang tekun menjadi pemalas, benar-benar pemalas.

dulu waktu aku berkeinginan untuk menikah saat masih kuliah, keluargaku paling keras melarang aku, 'lulus dulu, mapan dulu, baru ngomongin nikah,mau kamu kasih makan apa istrimu nanti, gak usah mimpi..', mereka tidak sadar bahwa aku selalu mempunyai sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu.ketika aku merasa tidak lagi mendapat perhatian dari mereka, aku ingin punya seseorang yang punya perhatian tulus kepadaku,sehingga aku bisa bangkit dari keterpurukanku sebelumnya. aku lebih suka memperjuangkan hidup dari nol, hidup sederhana namun penuh kebersamaan dengan ketakwaan daripada slalu berada pada zona aman namun lupa dengan Tuhan, sebagaimana yang kudapat dari pengembaraan spiritualku di Solo ini. atau setidaknya kalau mereka berfikir begitu, mereka membicarakan itu baik-baik kepadaku, dari hati ke hati dan memperlihatkan dukungan kepadaku dengan mengatakan,"iya, makanya kamu ndang lulus tah, ntar aku carikan calon istri untukmu..kamu tau si ini gak..si itu gakk....bla..bla.bla.." bukankah kalimat tadi lebih memberikan motivasi bagiku untuk segera menuntaskan studi daripada kalimat sebelumnya??

    dan kini, dengan kejadian-kejadian sebelumnya..aku berada di titik terendah dari kehidupan, aku dianggapnya sebagai orang yang pemalas, tidak mengerti keadaan dimana keuangan keluarga sudah hampir habis tapi aku tak jua kunjung lulus,dan judgment sebelumnya, padahal itu semua kalau mau dirunut pasti ada sebab'..yasudahlah,hanya kata itu yang bisa kuberikan kalau aku disuruh menanggapi keadaan diatas, mungkin aku yang tidak mau tau tentang keadaan ini. aku yang bebal, aku yang dungu. aku pasrah sepasrah-pasrahnya. aku merasa sendiri di dunia, masih untung ada ibu yang membuatku merasa harus pulang ke rumah sesekali, coba kalau beliau tiada. mungkin aku akan menjauh dari mereka, meskipun aku takut, memutus silaturahmi itu dosa besar. namun aku juga tidak mau slalu terkurung dalam keadaan seperti ini, seolah tidak ada apa-apa tapi hati teriris sangat. aku ingin memulai kehidupan dari nol, aku ingin hidup dengan kemauanku sendiri, meskipun aku hidup sengsara, namun itu lebih kusukai dari keadaan seperti ini.

   terpaksa aku membongkar kehidupanku disini teman, karena tak ada seseorang yang tepat untuk cerita ini kucurahkan dan aku sudah tak tahan lagi dengan keadaan..silahkan mau berpandangan bagaimana kepadaku.

1 comments:

sebatang pohon said...

pelaku introvert memang seperti itu

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--