Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Tuesday, June 11, 2013

Mengikuti Alur Allah

tawakal itu kita mengikuti alur Allah, kalau ditengah jalan kita dibelokkan dari rasa aman, beruntung, kejayaan, kesuksesan, percayalah. itu ada maksud tertentu yang kita terlalu bodoh untuk mencerna maksudnya, dan kita baru paham suatu hari nanti sambil mengatakan ''ooh...ternyata maksud Allah itu begini" bersabarlah, karena sabar itu satu paket dengan kesyukuran. dan janganlah sekali-kali bersuudzon dan putus rahmat kepada Allah..karena itu dari syetan.

      mungkin kita semua paham, dinamika kehidupan berjalan dengan sangat cepat dan berubah-ubah, perubahan kondisi keduniawiaan seperti tak pernah mengenal lelah sedangkan kita berjalan lambat, dan waktu berlari cepat. kita dilahirkan dengan segala kebutuhan penghidupan, oleh karena itu kita diberi insting untuk mempertahankan hidup dengan berkerja mencukupi segala kebutuhan primer -sekedar menambal hidup-. kemudian kita juga dikarunia obsesi untuk memperoleh keadaan hidup lebih baik dan lebih baik lagi. dan Allah menciptakan akal juga potensi untuk kita kembangkan dalam persaingan hidup antar manusia. semuanya dikaruniakan Allah dengan begitu sempurna. namun kita lupa, untuk apa kita ciptakan ke dunia?

        kita diciptakan Allah ke dunia hanya untuk menyembah dan beribadah kepadaNya saja. itu kewajiban mutlak kita sebagai manusia kepada Allah, dan setelah kehidupan ini masih ada kehidupan lagi yang kekal. maka dari itu para Rasul Allah mewanti-wanti jangan sampai kita terlena dengan kenikmatan dunia ini. Rasulullah saw mengatakan dunia ini tak lebih selembar sayap nyamuk. nikmatnya sementara saja. dan kadar kenikmatan itupun hanya satu persen dari aslinya. yang 99 persen akan kita rasakan di Syurga Allah nantinya.

     namun kita lupa, kita terlalu sibuk dengan pencapaian-pencapaian dunia, kita terlalu perhatian dengan prestasi-prestasi materi yang kita dapatkan, kita terlalu bangga dengan kedudukan yang kita kuasai. kita melupakan Allah, kita lupa tugas kita di dunia. hingga akhirnya kita berkompromi dengan dosa dan kemaksiatan. kita tidak sadar kita telah berada dalam lingkaran syetan yang menjerat manusia dengan jalan kenikmatan. seolah dengan sedekah saja, haji saja. kita sudah menjadi makhluk yang diridhoi Allah dan kita akan selamat di akhirat nanti.

        lalu saat kita terganjal sesuatu kita memaki Tuhan. merasa seolah kita tidak mendapatkan keadilan. kita semakin menjauh dan menjauh lagi kepadanya dan berlari dengan berpakaian kekufuuran. hanya karena sedikit sentilan dari Allah agar kita sadar dan kembali ke jalanNya. lupakah kita bahwa azab kita sebenarnya dimulai ketika kita mati nanti. sedang kita masih diberi kesempatan. kita terlalu memikirkan diri sendiri, padahal kita ini hanyalah seorang hamba. kita tak berdaya dihadapanNya, sungguh. kita manusia lemah.

        hidup di dunia ini hanyalah secuil perjalanan yang begitu singkat, kita tidak sadar kita semakin dewasa kita semakin menua. lantas amal apa yang akan kita bawa sedangkan karena dunia kita lupa bagaimana mendapatkan ridhoNya. janganlah kita menyangka dengan kekayaan kita ini berarti Allah ridho kepada kita lalu aman jalan hidup kita.??dan janganlah kita menyangka kalau kita diberi kesempita di dunia ini berarti Allah murka kepada kita. sebaik-baik kekasih adalah yang selalu menjaga hubungan dengan kekasihnya, berusaha menjaga perasaannya. dan selalu memberikan yang terbaik bagaimanapun keadaannya.

         mari kita mengikuti Alur Allah saja. tak perlu kita menoleh kesana kemari untuk memperoleh jalan lain yang menurut kita lebih cepat, lebih indah. bahkan untuk menegakkan agamaNya sekalipun. ihdinash shiratal mustaqiem...ya Allah tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus. jalan keselamatan menuju ke akhirat. meskipun di jalan itu kita menjadi terlihat hina, gila, di hadapan dunia. namun kita hanya mengejar kehidupan yang lebih baik dan kekal di akhirat sana, syurga. kita tak ingin mengorbankan yang secul itu untuk yang besar,kan?

       kita sadar dunia ini penuh realita. 1+1=2, jika tidak bekerja, maka kita tidak akan kaya. jika tidak belajar kita tidak akan pintar. tapi kenapa kita lupa jika kita hidup tanpa ridho dari Allah, kita tidak akan masuk syurga..kita lupa..kita lupa..kita lupa..apakah kita akan membiarkan ini semua bergulir sampai mata kita menganga dan mulut berbusa, saat sekarat kita??

          lupakanlah dunia, jika kita paham bahwa kehidupan yang mapan itu mensejahterakan, kita juga harus paham dalam mendapatkan itu seberapa besar Allah kita korbankan?? jika kita sadar kekayaan memudahkan kehidupan, kita juga harus sadar seberapa dalam iman kita terkoyak demi kekayaan?? lihatlah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabat.. lihatlah rumah Rasulullah, sang pemimpin ummat kala itu, lihatlah bagaimana sahabat Abu Bakar r.a menyerahkan semua hartanya di jalan Allah, lihatlah bagaimana sang Khalifah Umar bin Khattab r.a berpakaian penuh tambalan, lihatlah bagaimana sang gubernur Salman al Farisi hidup dengan menjual sulaman daun. lihatlah bagaimana kesadaran mereka bahwa dunia ini sampah. bahwa materi memperbudak pemiliknya?? sadarlah itu wahai kawan, apalagi yang akan kita kejar. sedang kita dekat sekali dengan kematian.

         kita ikuti saja alur Allah, bagaimana kita hidup dengan hanya mencari ridho Allah, kita belajar karena Allah, kita berkerja Allah, dan kita akan meninggalkan itu semua tanpa merasa sedih jika di dalamnya tidak terdapat ridho Allah, bahkan murka Allah. bukankah dunia ini titipan.??istri yang cantik itu titipan, kekayan yang melimpah itu titipan, yang kapan saja Allah berhak mengambilnya, maka jangan sekali-kali kita merasa bahwa itu milik kita, berikanlah kepada yang berhak, jika kehidupan yang sempit dapat menjaga hubungan kita dari Allah, kenapa tidak??

         dan teruslah berkhusnudzon kepada Allah, yakinlah bahwa Allah begitu dekat dengan kita, dan takdir yang ada adalah semata-mata demi kebaikan kita, seperti kesempitan, ketidak beruntungan, kekurangan, ketidak suksesan, kegagalan, dan semua yang terkesan mengganjal dan menyempitkan hati kita, yakinlah bahwa Allah mempunyai tujuan baik untuk kita. barangkali kita akan merasakan di suatu hari di depan nantinya. atau sudah menunggu kado syurga atas ini semua. wallahu ta'ala a'lam bisshowab, akal kita terlalu sempit untuk mencerna setiap kehendak Allah yang terjadi pada diri kita.

      jadikanlah hidup ini untuk menimba ilmu Allah agar kita semakin dekat denganNya dan tahu bagaimana mendapatkan ridhoNya, belajarlah mengikhlaskan dunia untuk mendapatkan yang lebih besar di akhirat nanti. jangan takut menjadi orang kecil, jika dengan itu kita terselamatkan dengan fitnah dunia, jangan berharap menjadi orang besar, kalau dengan itu kita melupakan Allah dan selalu memicu murkaNya. hidup ini singkat, sesingkat keddipan mata. sungguh, para ulama menghabiskan hari-harinya dengan tangisan jika ingat kematian dan siksa neraka. namun kita hanya berkutat dengan nafsu, mengejar pencapaian-pencapaian dunia lalu membuangnya percuma. 

semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang beruntung di akhirat nanti.wahai syurga..panggillah nama kami...

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--