Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Wednesday, June 12, 2013

Mengenalkan Allah Sedari Kecil

      betapa pentingnya pendidikan Islam buat anak sedini mungkin. memperkenalkan apa itu Islam, siapaTuhan kita, apa yang harus dilakukan oleh seorang muslim, apa yang harus ditinggalkan dan dijauhi, bagaimana memahami konsekuensi beramal shalih atau berbuat dosa? bahkan kalau perlu kita masukkan mereka ke pondok pesantren. meski banyak sekali teman-teman yang bilang kalau memasukkan anak ke pondok pesantren akan melunturkan bakat akademis terutama kemampuan berorganisasi, terlihat katro (kurang update), dan sulit untuk menempatkan diri dalam masyarakat. nonsense!,
      bagaimana mungkin mereka berfikiran seperti itu sedangkan fitnah akhir zaman sudah mulai memenuhi tiap ruangan bumi ini. bahkan aku lebih bangga jika saja nanti anakku tidak bisa mengikuti perkembangan zaman namun dia paham urusan agama. aku lebih  terharu anakku tidak mempunyai ijasah sekolah formal namun dia hafidh al Qur'an. meskipun banyak yang menasehati 'pemikiran' saya dan bilang "kalau bisa dua-duanya kena, dunia dan akhirat", bagiku meluangkan sedikit urusan dunia akan mengorbankan banyak urusan akhirat, aku yakin kesuksesan yang terlahir dari ketaqwaan itu akan lebih mantab dari kesuksesan orang yang mengejarnya (baca:diperbudak olehnya) dengan menyingkirkan perhatian akhirat.
   
       banyak sekali orang mencibir para lulusan pondok yang berkerja tidak layak, "lulusan pondok kok jadi satpam, lulusan pondok kok jual roti, dll" meski aku paham maksud mereka, kenapa tidak menjadi ustad saja? aku membayangkan bagaimana nantinya setiap orang mengenyam pendidikan pondok meski hanya 3 tahun, lalu mereka bertebaran di negeri ini dengan berbagai latar belakang pekerjaan, itu akan terlihat mengagumkan, akan bisa kita lihat begitu banyak pegawai-pegawai yang disiplin, pedagang-pedagang yang jujur, pejabat-pejabat yang amanah, manajer-manajer yang berhati,bahkan tukang sapu yang tulus. ketika tiba waktu shalat mereka bareng-bareng rehat dari pekerjaan mereka dan pergi ke masjid. bahkan jika ada yang melenceng nantinya, terlibat pergaulan dosa, jadi preman, kena narkoba, dll. mereka akan menemukan 'jalan pulang' ketika mereka sadar dan hendak kembali ke jalan yang benar. benar kan?

     pendidikan Islam sedari kecil itu sungguh berpengaruh sekali untuk masa depan si anak kedepannya. meskipun bapakku orang yang temperamen dengan didikannya yang keras, namun aku merasa beliau berhasil mendidik anaknya dengan didikan Islam waktu kecil. saat aku belum sekolah setiap sebelum tidur aku disuruh menghafal surat-surat pendek, sehingga ketika aku sekolah aku sudah hafal sebagian besar surat di jus 30 diluar kepala meski aku tidak tahu judul suratnya, karena bapakku tidak mengenalkan ini surat apa, tapi kalau dibacakan depannya aku langsung paham bagaimana kelanjutannya. aku juga diceritakan kisah-kisah rasul, rukun-rukun iman-islam, setiap hari aku slalu ditanya sudah shalat belum, kemudian disuruh memperlihatkan lenganku untuk mengetes kejujuranku. setiap menjelang maghrib aku diboncengin bapakku pakai sepeda onta tua ke masjid yang jaraknya lumayan jauh dari rumah, tak pelak terkadang aku dipukul hingga nangis kalau tidak mau ikut, sehabis maghrib qiraah alqur;an bareng anak-anak yang lain di masjid. kemudian setiap seminggu sekalin ikut kajian rutin.

      aku dulu sekolah di SD Negeri, namun ketika kelas tiga aku dipindah ke Madrasah Ibtidaiyah di kota yang jaraknya jauh sekali dari rumah, tak pelak dulu yang cukup jalan kaki, kini harus mengayuh sepeda atau naik angkot,bapakku bilang biar aku paham agama. bapakku benar-benar menanamkan kedisiplinan dan keshalihan pada anaknya sedari kecil meski terkadang lebih pakai cara-cara kekerasan dulu aku sempat berfikir kenapa aku tidak sesenang teman-teman lain yang sehari-harinya bisa leluasa bermain tanpa ada yang melarang, bebas sekali mereka, sedangkan aku selalu dibatasi, kalau terlambat pulang sore, aku dilabrak bapakku pakai tongkat, kalau malam harus ke masjid bareng beliau, setelah itupun tidak boleh keluar rumah, harus belajar. namun aku baru merasakan hasil dari didikannya setelah aku gedhe seperti sekarang ini,

       aku melihat seperti ada kebiasaan baik yang mengarahkanku sesadari kecil hingga sekarang. seperti kalau melihat teman-teman bermainku dulu, meski kini mereka lebih sukses dari aku namun aku melihat kehidupannya begitu-begitu saja, terlalu larut dalam keduniawiaan bagiku itu seolah menjijikkan, seperti orang penuh keringat namun jarang mandi, bahkan banyak dari  mereka yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas atas nama 'gaul', banyak juga sudah biasa meninggalkan shalat. hmm..aku merasa walaupun bapak meninggalkanku tanpa menyisihkan warisan, namun inilah warisan untukku, didikan sedari kecil.

       tanpa bermaksud apapun sedikit kugambarkan hasil didikan bapakku dulu tentang islam sedari kecil, sejak kelas 3 SD aku sudah puasa penuh disaat teman-teman yang lain baru belajar puasa. aku slalu memikirkan waktu untuk shalat dan takut sekali meninggalkannya, hingga pernah waktu itu aku berada di sebuah rental PS (Play Station), aku ijin ke mbak penjaganya untuk numpang shalat dhuhur di sana. di usia-usia seperti itu aku sudah sering 'berinteraksi' dengan Allah, aku sering berdoa kalau aku sedang menginginkan sesuatu, aku pun sering merasa terjaga dari dosa. lingkunganku mayoritas nahdiyiin, meski terkadang aku ikut ngaji bareng teman-teman di komunitas mereka, namun aku selalu menolak kalau disuguhi makanan yang sebelumnya di ritualkan di makam yang dikeramatkan.aku masih teringat satu mimpiku waktu masih kecil yang gak pernah kulupakan hingga sekarang, pernah suatu hari aku ngambek ke ibu karena ada kemauanku yang gak keturutan, aku mendiamkan ibu meski aku paham tidak boleh mendiamkan saudara lebih dari tiga hari, dan di malam hari yang kedua, aku bermimpi seolah aku berada di padang mahsyar, aku menggotong dua keranjang besar seperti orang jualan tape. ketika dihitung, dua keranjang amalku sama-sama penuh dan besar, hanya saja keranjang dosaku berisi kayu, sedang keranjang amal sholehku berisi kapas, meski sama banyaknya, tapi beratnya jauh sekali, paginya, setelah mimpi itu, aku baikan dengan ibu.

       akupun ingin sekali mendidik anakku nanti agar menjadi pribadi yang kaffah, aku sadar meski begini masih ada kotoran-kotoran akibat kebiasaan waktu kecil yang memang itu terjadi karena kurang ketat filter dari didikan keluarga, seperti musik dan nonton tv, aku berharap sekali suatu kali akalu berkeluarga nanti, aku menjauhkan mereka dari yang namanya tv dan musik, kuganti dengan buku dan bacaan murattal, sedkitpun tak kuijinkan mereka mendengar dan melihat hal-hal kotor meskipun itu di luar rumah. ingin sekali kutanamkan nilai-nilai islam dengan penuh, kalau anakku perempuan, kukerudungi dan tak kubiarkan auratnya terlihat sedikitpun, meski dia masih balita.aku ingin pondokkan dia, tak peduli anakku nantinya terlihat rendah di dunia, tidak punya nilai akademis, atau tidak sukses sekalipun, aku hanya berharap anakku nanti mampu mengangkat aku dan istriku ke syurga, anak adalah investasi akhirat, bukan investasi dunia. mungkin akan banyak perbedaan pandangan tentang pandanganku ini, namun setiap orang pasti mempunyai pandangan dan misi yang berbeda, terutama banyak dipengaruhi dari penilaian manusia akan kehidupan dunia itu sendiri. maka sebaik-baik pandangan dunia, adalah memandangnya dengan kaca mata islam. bukan yang lain.wallahu a'lam bisshowab.

      harapan tetaplah harapan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian, aku hanya berharap alangkah bahagianya aku dikaruniai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, keluarga yang shalih-shalihah lagi menyenangkan-menentramkan hati. dan pula oleh Allah dimudahkan bagiku untuk mencapai itu semua, memang benar, sungguh berat. namun bagaimanapun jalan sepertii itu harus diambil demi mereka, demi kita, yang ketika aku mati nanti, lampu kuburku terang oleh amal-amal shalih yang mereka kerjakan, ruhnya kenyang oleh doa-doa yang slalu mereka panjatkan, buah dari didikanku dan istriku, semoga saja.amien ya Rabbal alamien...

1 comments:

Topik kini said...

Artikel yang sangat bermanfaat. Sememanglah kita mesti menerapkan ini sejak anak-anak....

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--