Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, June 8, 2013

BoM Itu Bernama Tv,

      mungkin aku tak pernah bisa membayangkan, gimana jadinya kalau hidup tanpa televisi. tak ada yang
bisa memungkiri, manusia hari ini tak bisa lepas dari kotak ajaib itu, hampir disetiap rumah ada televisi.jangankan rumah, di kosan saja sebagian besar kamar ada televisinya.jika setiap hari sebagian besar waktuku kuhabiskan dengan menonton tv, berapa waktu yang terbuang sia-sia di hidupku ini, tv memang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, sampai-sampai ada istilah, "hari-hariku sepi tanpa televisi"


        benar, Tv memang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sebagian besar kehidupan manusia.  dulu waktu masih kecil, aku sudah terbiasa menonton tv, meskipun tv di rumah dulu masih berupa tv jadul yang harus dikasih boster biar keliatan gambarnya, tapi aku enjoy aja menonton tv sampai kadang kesetrum waktu nyolokin kabelnya ke kontak. kalau malam gitu keluarga besarku pada ngumpul di depan tv ramai sekali, menonton tv dengan ibukku ma kakak-kakak yang lain sambil bercanda ria. kalo bapak emang dari dulu gak suka menonton tv, sukanya ngedengerin radio, dulu pun kebanyakan acara malam seperti sekarang, penuh dengan tayangan sinetron, sinetron yang populer pada waktu itu 'Inem Pelayan Seksi', trus kalau malam sedikit ada acara  ludruk seperti 'Srimulat', 'Ketoprak Humor', atau wayang orang yang lain. hari spesial bagiku juga temen-temen sebaya yang lain adalah hari minggu, karena banyak sekali acara anak-anak di sana. ada popeye,doraemon, kamen rider,dragon ball, battle borg, dll, biasanya kalo minggu mandi pagi-pagi sekali, setelah itu ngumpul bermain bareng sama teman-teman abis itu nonton tv sampe siang.

       ternyata menonton tv jadi bagian dari kehidupanku sejak kecil. hingga tiap kali ada kesempatan luang, selalu digunakan untuk menonton tv, apalagi semakin lama semakin banyak tv swasta yang muncul di permukaan, sehingga kalau channel yang satu iklan, langsung ganti channel, sehingga hampir setiap waktu tidak ada waktu sisa untuk menjauhi televisi, agak parahnya itu ktika ada acara anak-anak ba'da maghrib, banyak temen-temen yang lebih mementingkan nonton tv sejak abiz maghrib daripada untuk mengaji atau belajar, hingga waktu itu ada beberapa temen yang kemampuan akademisnya bisa dibilang memprihatinkan, mungkin karena kehidupan kami dulu kehidupan pedesaan. jadi di beberapa keluarga, ada yang tidak begitu memperhatikan pendidikan anaknya, anaknya dibiarkan keluar rumah dan nonton tv sesuka hati, untungnya waktu kecil dulu tiap mau maghrib aku diajak bapak ke masjid Muhammadiyah yang agak jauh dari rumah, sehabis shalat biasanya langsung belajar baca al-qur'an di sana, kalau tidak mau aku dipukul bapak sampe nangis-nangis, jadi aku gak berani menolak, meskipun biasanya habis isya aku ikut nimbrung nonton tv sama kakak-kakak, kalau ditegur bapak baru belajar, kalau tidak ya bablas nonton tv nya.hehehe

     begitupun saat aku telah beranjak dewasa, racun tv benar-benar tlah menyebar di otakku. masih ingat dulu waktu masih hidup di pondok, setiap kali pulang ke rumah, selalu begadang nonton tv, sampai dimarahin bapak.itupun aku tidak jera, biasanya aku menunggu orang rumah tidur semua baru aku menghidupkan tv, saking nekatnya kalau pas ada acara bagus tapi takut di marahin babe, tu tv gedhe yang berada di ruang tengah kugotong kupindah ke kamarku sehingga aku leluasa menonton tanpa takut diacak-acak babe. itu semua kulakukan mungkin dulu aku merasa tv adalah solusi tepat buat refresing setelah sebelumnya bergulat dengan kegiatan pondok. itu fine-fine saja menurutku karna kuperhatikan hampir semua temanku juga memiliki kebiasaan seperti itu.

        dan kebiasaan itu pun masih melekat selepas kelulusanku dari pondok, hampir tiap malam aku nonton tv sampai dini hari, entah kenapa semakin larut filmnya berasa semakin bagus, mungkin karena terbawa suasana malam.

        ketika aku duduk di bangku kuliah sepertinya fikiranku mulai menolak kebiasaan ini, mungkin karna peningkatan gaya berfikirku yang sudah mulai melogis. aku tidak lagi peduli dengan acara-acara tv, menonton tv pun cuma sekedar ajang untuk kumpul bareng dan bercanda dengan teman-teman kos, kadang aku malah menganggap aneh temen-temen kos yang masih fanatik menonton acara tv sampai dibela-belain gak kemana-mana menjelang acara, seperti dragon ball, one peace, atau naruto, bahkan ada satu yang tingkat kefanatikannya gak ketulungan, yakni ketika acara bola kesayangan. sepertinya mereka akan bener-bener kecewa kalau sampai terlewatkan acara kesayangannya itu. kemudian waktu aku beli PC, otomatis aku beli tv tunner juga. dari situ aku mulai merasa bahwa hidup ini bener-bener ketergantungan dengan tv, apalagi tv di kamar kos sendiri, tidak ada yang ikut campur apalagi rebutan channel. dari pagi nonton tv, pulang kuliah nonton tv, sore hari, apalagi malem. sampai-sampai tv masih nyala meski aku sudah tertidur pulas.

          selain masalah waktu yang terbuang sia-sia saat menonton tv. ternyata kalau diperhatikan acara-acara yang disajikan di tv semakin lama semakin terasa merusaknya, meski ada badan sensor namun standarisasi sensor tidak sestandar syariat, jadi rasanya malah lebih banyak nonton sampah daripada entertainment itu sendiri, gambar paha-paha bertaburan, dada-dada berkeliaran, iiiiih,,,,menjijikkan. belum lagi konten berita yang gak jelas asal usul kebenarannya, hanya sebuah penggiringan wacana publik kearah yang diinginkan redaktur tv, terlihat sangat absurd. mana ada berita kriminal ditayangkan dngan memperlihatkan cara-cara kriminalisasi, bukannya itu malah menjadi pendidikat kriminal terbaik sepanjang sejarah, karna disajikan gratis mudah dimenengerti.

   dalam perenunganku tiba-tiba fikiranku kembali menerawang jauh kedepan seperti biasanya, lantas, bagaimana kehidupan rumah tanggaku nanti kalau aku tetap pasang tv di rumah, bisa-bisa kehidupan rumah tanggaku sama saja dengan kehidupanku sebelumnya, lalu apakah aku dengan istriku nanti menghabiskan waktu bersama menonton tv malam harinya, kemudian pagi bekerja, malamnya lagi nonton tv sama istri seperti malem-malem bisanya.belum lagi nanti kalau sudah punya anak. padahal aku sangat berharap kehidupan anak-cucuku nanti jauh lebih baik dari kehidupanku dulu.

         kalau saja aku membeli tv buat keluargaku nanti, mungkin saja pertumbuhan anakku tidak berkembang secara sempurna, sebagian besar waktunya digunakan untuk menonton tv, padahal saat-saat seperti itu pendidikan permainan sungguh sangat berarti. masak anakku bisanya cuma menirukan iklan yang di tv atau menyanyikan lagu-lagu yang sedang ngehits, belum lagi tayangan-tayangan dewasa yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan di tv, mau dikemanain anakku.? 

         tapi kalau tidak ada tv, betapa sepinya rumahku nanti. lantas kugunakan apa waktuku, oh ya, aku punya koleksi buku-buku islami yang kukumpulkan sejak aku kuliah di solo ini, kenapa gak digunakan untuk baca buku atau baca alqur'an, masalah sepi bisa disetelin rekaman murattal atau kajian, bukane lebih baik ngobrol berdua di belakang rumah itu lebih asyik, kalau sudah ada adek bayi juga pasti rame, trus kalau anakku nanti rewel gimana, biasanya kalau orang tua yang lain kan disetein tv biar diem..emmmh..kenapa nanti gak ngoleksi film-film kartun atau islami aja di komputer, kan lebih aman tuh.hehehe..

        ya begitulah fikiran kecilku dari dihasilkan dari problematika kehidupan yang dicampur dengan harapan-harapan besar, entah bagaimana nantinya, tapi aku hanya bisa merencanakan kebaikan untuk keluargaku nantinya, masalah aksi, semoga Allah memudahkannya, ya setidaknya dapetin istri yang benar-benar shalihah lah (gak ketinggalan cantiknya ya.hehehe), biar lebih mudah nanti pengaplikasiannya.hehehe

semoga yang baca juga bisa menjadikan tulisan ini bahan renungan ya..hidup sekali, jangan dibikin merugi.....ganbatteee....

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--