Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Tuesday, May 21, 2013

Renungan Senja..

    malam datang tanpa melewatkan senja,sebagaimana fajar datang sebelum pagi tiba,senja yang begitu kuning merona, redup sedang namun tetap menampakkan rona,itulah senja,saat-saat dimana manusia mulai berhenti dari berbagai aktifitasnya, para buruh pabrik pulang dari kerjanya, anak-anak yang sekolah TPA/TPQ pulang dari madrasahnya, sang ibu memandikan anak-anaknya, dan semuanya bersiap menanti malam, malam yang penuh ketenangan dan peristirahatan, siap merecharge energi guna aktifitas esok kembali.wallaili idza yaghsyaa.

    atau mungkin saja senja itu adalah diri kita nantinya,saat usia udzur dan menua, dengan ijin Allah kita benar-benar akan memasuki masa senja ini kedepannya. masa dimana tubuh kita penuh renta, dengan otot-otot yang tak sekencang semula, gigi yang ompong, dan rambut yang memutih, juga kulit yang penuh keriput, tak banyak yang kita lakukan dan tak banyak yang kita harapkan di saat seperti itu, karena tenaga sudah tak ada, dan dunia pun tak sanggup lagi kita nikmati, hanya memandang keatas meski mata tlah meredup, dan bersiap, barangkali hari itu, besoknya, atau besoknya lagi, kita tak berhak lagi untuk tinggal di dunia ini.

    mengerikan bukan..masa senja yang dipenuhi dengan kerentaan dan ketidakberdayaan, belum lagi ujian-ujian yang datang sebelum ajal menjelang, seperti kehilangan perhatian dari anak cucu kita yang mulai sibuk dengan urusannya masing-masing, belum lagi penyakit yang datang silih berganti. namun dari sekian banyak cerita senja yang layak untuk diambil pelajaran, tak banyak manusia yang benar-benar sadar akan rentannya masa-masa ini. terlalu bangga dengan idealismenya sendiri sehingga di usia senjanya dia menyesal, lalu begitu pula yang terjadi pada anaknya, lalu cucunya, terus sampai entah generasi yang keberapa, kalau dia tidak benar-benar memahami Islam dan mengamalkannya dalam keluarga.

      bagaimana bisa..???banyak dari mereka berfikir bahwa tingkat kesejahteraan, kehormatan, kematangan hidup dan kebahagiaan itu tergantung dari seberapa besar materi yang mereka punya, atau mereka wariskan pada anak cucu nantinya, itu saja.bahkan agama seolah tak mampu menyentuh sanubarinya untuk memandang sesuatu lebih dalam lagi dari sekedar ukuran materi, sehingga sedari kecil mereka dididik untuk mengejar prestasi dunia, lalu mengejar karir dalam bekerja, entah ditaruh dimana agamanya. begitupula saat mereka berkeluarga, mereka berusaha menanamkan  idealisme "Rimba' di benak anak-anaknya, bahwa siapa yang berkuasa, dialah yang menang.

maka timbullah penyesalan-penyesalan itu persis ketika pintu senja tlah di depan mata, mereka terabaikan dari perhatian anak-anak mereka disaat mereka benar-benar membutuhkan perhatian, hanya diganti dengan sekedar lembaran uang juga suster asuh yang merawat dan memenuhi kebutuhan masa tuanya, bukan anak-anaknya sendiri.maka dimanakah layaknya kebahagiaan itu berada.??

       dimana hasil didikan saat anak-anak mereka kecil dulu, dimana rasa bangga dengan prestasi yang mereka raih, dimana pundi demi pundi uang yang mereka kumpulkan, bergunakah itu semua..?belum lagi saat mereka telah terbujur kaku didalam kubur, adakah doa dari anak-anak mereka terpanjatkan, bagaimana mungkin, sedangkan dulunya mereka sendiri yang membiasakan anak-anaknya meninggalkan shalat dan lebih mengutamakan pekerjaan. lantas apakah jika anak-anak mereka suatu saat ingat akan kedua orang tuanya lalu berdoa, adakah doa mereka dikabulkan sedang mereka terbiasa melanggar larangan??? menangislah, sebelum menangis itu menjadi sia-sia.

       sadarilah, bahwa kehidupan ini laksana hari-hari, ada pagi, siang, sore, dan malam. lalu akan ada hari-hari berikutnya yang dengan kejam meninggalkan waktu sebelumnya, kecuali ada yang berkesan, yang akan menjadi kenangan. ya, pagi yang begitu indah itu terlihat yang paling berwarna dari potongan-potongan hari yang lain, terang namun tetap teduh, ada embun yang begitu menyejukkan, momentum terbaik buat burung beterbangan dan bernyanyi riang, juga para ayam nan beradu suara kokok. bagi kita pagi itu adalah masa kanak-kanak kita hingga masa kecil kita, penuh keceriaan, penuh keindahan, hanya ada kelembutan dan tawa riang. sedangkan siang nan panas tajam, sinar matahari tepat diatas pandangan. begitu pula kita sebagai manusia, siang layaknya masa dewasa, produktif dan bekerja keras, menimba ilmu, mengukir karir. menabung asa untuk hari kedepannya. dan sore, ketika matahari mulai menguning lembut dan langit menjadi redup, ketenangan akan kembali pada asalnya.

      kita tak mampu menolak fitrah bahwa manusia diciptakan dengan kelebihan sedemikian rupa bukan untuk mengukir istana di dunia ini, namun untuk menyembah dan mengisi hari-hari dengan beribadah kepada Sang Rabbi, akal yang luar biasa ini harus mampu menjangkau syariat Islam yang tertulis dalam kitab Al-Qur'an juga Sunnah Rasulullah Muhammad saw. sedangkan urusan duniawi hanyalah bekal dikehidupan, kehidupan yang sementara pastinya, karena setelah kehidupan ini ada kehidupan lagi, yang jalannya akan sangat panjang dan tak berujung, yang keadaannya akan sangan membahagiakan atau bahkan mengerikan, itu semua tergantung bekal akhirat kita, bekal dunia tak dapat kita bawa, lalu mana yang kita utamakan.

kehidupan sekulerisme perlahan masuk dan bersemayam di fikiran kita tanpa sadar namun mematikan, sifat pragmatis dan hedonis menjadikan tiap individu berusaha menjadi manusia yang paling dihormati dan disegani di dunia. dengan mengumpulkan pundi-pundi uang atau berusaha meraih kekuasaan, namun itu semua tiada berguna di mata Allah, hidup ini sekali, kapan lagi kita mau menghargai kesempatan emas ini...

waktu berjalan dan terus berjalan, tanpa sedikitpun mau menengok ke belakang, sedangkan setiap hari nyawa kita menguap semakin berkurang, namun kenapa kita masih memikirkan dunia. dimana perhatian kepada sepetak tanah 2x3 yang akan kita diami nantinya. semua yang tampak absurd di dunia barangkali hal paling nyata yang kita alami nantinya, Mati, sayangnya tidak harus orang-orang tua yang mengantrinya, anak-anak, remaja, juga pemuda. semua mempunyai jatah sendiri-sendiri. tidak harus takut, ini lebih kepada bagaimana kita menjemput.

senja, ya..cepat atau lambat kita akan melaluinya, meski umur masih muda, apalagi yang sudah tua.mari kita kembali kepadaNya sebelum kita benar-benar kembali, pintu masjid masih selalu terbuka, sajadah-sajadah masih tergelar bersih, al-Qur'an masih tergeletak, itu nanti yang akan mewarnai kubur kita di penantian sesungguhnya, bukan rumah mewah kita, bukan mobil baru kita, bukan titel kita, bukan jabatan kita, bukan saudara, istri bahkan anak kita, kita akan sendiri, dan benar-benar sendiri.

beruntunglah bagi yang masih diberi kesempatan hidup, karena hidup ini adalah kesempatan berharga, karena setelah kematian, akan ada kehidupan tanpa kematian, akan ada tempat yang tak akan rapuh oleh zaman, takkan lapuk oleh waktu. akhirat. di syurgakah kita, atau neraka. mari merefleksikan diri, wallahu musta'an.....


0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--