Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Monday, December 17, 2012

Memotong Jalan Kehidupan...

barangkali ucapan temenku kemarin lalu benar-benar terjadi juga padaku, kekhawatiran-kekhawatiran yang bercampur harap berlebihan atau sesuatu besar akan terjadi, dan lebih baik memotong kehidupan ini begitu saja. "itu gilaaa...!!!" kataku, 
"bagaimana mungkin kita seorang muslim berani mendahului takdir yang belum Allah tetapkan??!!!",
"tapi ini urusannya prinsip, kalau tidak segera menikah, akan hancur agamaku,,,," sanggah temanku.
"rasanya lebih baik mati daripada hidup terombang-ambing seperti ini.!!"
beruntung tidak lama setelah itu proposal menikah muda diterima, akhirnya keluarganya merestuinya untuk segera menikah, sekarang dia hidup bahagia dengan istri dan anak bayinya meski di satu sisi dia pontang panting mencari nafkah..kebahagiaan yang tak terkira didapatkannya.

kini aku merasakan masa-masa galau seperti dia dulu itu, dan sayangnya, aku harus mengubur mimpi-mimpi indah layaknya temanku itu lalu membiarkan hidupku terpontang panting dan hidup tanpa arah dan tujuan bagai zombie, jasadnya berjalan kesana-kemari tanpa sedikitpun terwarnai sosok jiwa yang mengisi jasad itu, kosong..


oh, betapa aku ini, merasakan keterlambatan perkembangan jiwa dengan pelan namun dalam, hanya karena terhalang dalam melewati fase-fase kedewasaan yang seharusnya sudah terlampaui dan segera beralih ke fase yang lain. itu sangatlah perih. sepertinya kisah sang bungsu akan mengalami kisah lama, dimana dia akan berjalan aman dalam menapaki fase-fase kehidupan meski akan (slalu) terlambat.

kehidupan tak selalu menawarkan sesuatu yang indah dan enak, meskipun dalam keluarga, tak semuanya mengalami kepahaman karakter satu dengan yang lain, bisa jadi dalah hubungan persaudaraan, etika pukul rata tak terelakkan dalam memandang antara satu dengan yang lainnya, sayang, sifat seperti itu tak selalu membantu memecahkan permasalahan keluarga, ada yang mandiri, ada yang belum bisa mandiri, ada yang terbuka, ada yang tertutup, ada yang keras, dan ada yang sensitif. satu dengan yang lain pastinya akan membutuhkan penanganan yang berbeda untuk memastikan setiap permasalahan anggota keluarga terpecahkan dengan baik, bukan memukul rata dan merespon sama di setiap permasalahan yang muncul. jika itu terjadi, masalah yang lain akan muncul meski tidak langsung terdeteksi.

aku mempunyai 6 saudara yang kelimanya adalah lelaki, masing-masing mempunyai karakter bawaan hasil racikan karakter dari ayah dan ibu, beberapa terpengaruhi pengalaman kehidupan, diantara keluarga ini akulah yang paling mirip ibu dalam hal karakter, terutama adalah paling khawatiran. sifatku yang lain adalah tertutup, dan hanya aku yang memiliki sifat seperti itu, sehingga setiap masalah, emosi. hanya menyumpal otak tak sampai keluar ke tangan atau mulut. aku orangnya penurut, semua perintah dan aturan kulakukan saja tanpa fikiran meski beberapa bertolak belakang dengan pendapatku, 'yes man, i do it, then everything gonna be fine'. sayangnya, dari karakterku ini tak satupun paham keadaanku sebenarnya, hanya kakak perempuanku yang sekarang sudah tiada. komplit bukan.

terkadang aku berfikir kenapa aku gak jadi sebatang kara saja. mungkin aku akan lebih bertanggung jawab kepada diriku sendiri, merasakan apa yang benar-benar aku rasakan, dan melakukan apa yang sebenarnya ingin aku lakukan, tanpa keterpaksaan, tuntutan, atau ketergantungan. mungkin itu lebih baik jika ditilik dari keadaaanku yang sekarang ini, ingin ditimang-timang manja sebagai anak bungsu yang masih ingusan meski berumur hampir 24.

so, pilihan tetap pilihan. hanya saja entah kenapa bahkan untuk mencari sebuah pilihan aku merasa tak sanggup lagi, adakalanya aku sadar bahwa diamku akan berubah menajdi ancaman bagi masa depanku sendiri, namun bagiku itu sudah merupakan sebuah pilihan, hanya satu yang menjadi harapan ku satu-satunya. aku ingin menghilangkan rasa kesal pada kakak-kakakku atas apa yang tak sanggup mereka mengerti dariku, namun aku belum bisa, belum bisa...semoga ada jalan, meski aku masih belum mendapatkan tujuan.

1 comments:

Anonymous said...

“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar(pada nikmat-Ku).

(QS. Al-Baqarah:152)

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--