Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Monday, December 17, 2012

Dunia yang Dipilih..

      seorang pemuda bertubuh gemuk tergeletak dengan tatapan kosong tanpa asa di atas kasur usang di salah satu kos mahasiswa. dua lubang telingannya tersumpal headset yang masing-masing kabelnya terhubung dengan hp yang sedang memutar lagu-lagu pop dengan kencang. sesekali kedua kelopak matanya mengatup dan bibirnya bergerak-gerak sembari mengeluarkan suara lirih mengikuti syair lagu yang sedang dinikmatinya.. tangannya mengepal, masih terlihat warna merah di kedua bola matanya, seperti sedang terjatuh dalam suatu masalah kehidupan. entahlah.

      dunia yang tlah dipilih ternyata tak seperti apa yang diharapkannya, kisah hidup anak anak bungsu 7 bersaudara yang sedang dijalaninya membuatnya slalu bergantung pada mereka. memilih menjadi anak yang penurut (sekali), namun pada akhirnya mematikan daya fikirnya, hanya menuruti kata mereka dan menuruti lagi, hilang sudah kemandiriannya, prinsipnya apa lagi.dan sepertinya kedewasaan akan terlambat datang.


     hingga kini umurnya yang beranjak ke angka 24, asanya masih terus berusaha mengejar proses-proses kedewasaan yang seharusnya tlah dia lewati layaknya pemuda-pemuda seumurannya, namun sayang, ditengah usahanya itu, tiada dukungan untuknya, tak didapati arahan-arahan, hingga sirna sudah semangat hidup. yang ada di matanya hanyalah tuntutan-tuntutan target tanpa sedikitpun ada yang mengerti bagaimana dia, apa yang dia butuhkan..

    amarah, hanya amarah yang muncul di kepalanya, terlalu membuncah untuk ukuran seumur dia, ada emosi tanpa ekspresi, juga gejolak besar yang setiap detik bergemuruh di dada, "ada apa dengan yang kupilih?",

   ya, dunia yang dulu dipilihnya sekarang entah pergi kemana, kemanjaan-kemanjaan itu, sanjungan-sanjungan itu, ketergantungan-ketergantungan itu, kini sirna, tragisnya, tiada lagi yang peduli padanya lagi, bahkan ketika asa kecil kembali muncul  kesekian kali di dadanya, untuk bangkit dan mengejara ketertinggalan itu, menjadi dewasa..namun, tak ada kesempatan bicara, "aaah...sudahlah, aku siap menanggung resiko di depan, aku siap nggembeell..!!!!"

     ditekannya lebih dalam lagi kedua ujung headset yang tlah menancap di kupingnya sedari tadi, diputarnya tombol volume sehingga terdengar semakin keras, meski sekeras apapun suara musik yang berdentang di gendang telinganya, dia sadar itu takkan sanggup merontokkan masalah-masalah yang menggumpal di kepalanya. ia kembali larut dalam keterpurukan dan lamunan-lamunannya itu, barangkali lamunan itu lebih indah dari keadaan nyata dia, andaikan bisa, mungkin dia akan memilih tinggal di alam mimpinya itu lebih lama dan selamanya.

     "menikah...???!!!!, beereskan kuliahmu dulu, kemudian kerja, baru bahas soal nikah!!!." kata-kata itu selalu terngiang di kepalanya hingga seolah-olah kepalanya sebentar lagi akan meledak.
"adakah satu saja diantara mereka yang mengerti keadaanku bahwa jalan fikiranku berbeda..????!!!, adakah yang mampu memahamiku dan menuntunku perlahan meski aku memang salah???bagaimana mungkin aku dituntut untuk menyelesaikan studi ketika aku tak lagi semangat untuk menjalankannya...??? bagaimana pula aku akan memperjuangkan sesuatu yang bukan berasal dari pilihanku sendiri??" kepalanya hampir meledak oleh pertanyaan-pertanyaannya sendiri. tragis,

    pemuda itu perlahan mulai mengerti, sang penurut kini tak lagi hidup dalam mimpi-mimpi. ada kehidupan realita yang kini harus diisi, mau-tidak mau, meski di fikirannya masih berkecamuk penyesalan dengan sedikit pemberontakan. namun memberontak hanya akan memperparah dirinya, apakah dia akan larut dalam kekosongan-kekosongan ini, sedangkan detak jam di dinding kamarnya tak pernah berhenti meski sejenak menunggu dia bangkit dari mimpi-mimpi.

    "haruskah aku minggat dan memulai hari baru dari sini, mungkin kehidupan sebatang kara lebih mengajariku akan arti tanggung jawab diri, hingga aku mau belajar dan belajar lagi tentang kehidupan ini, juga kedewasaan yang tlah lama kunanti. haruskah kutinggalkan mereka, agar aku tak lagi menggantungkan nasibku pada mereka, agar tak ada lagi rewelan-rewelanku demi simpati mereka??"

     "akan tetapi...." mulutnya tertahan, dipandangnya lekat-lekat foto kecil berbingkai yang ada di atas lemarinya, ibunya tak lagi muda, baru beberapa bulan yang lalu sang ayah meninggal dunia. "apakah aku tega meninggalkan ibu...,aku tak ingin membuatnya sedih atas keadaanku.." dan alasan itu slalu menjadi penahan baginya, bahkan ketika dia slalu memperlihatkan wajah sumringahnya kepada ibu saat di rumah, meski dibalik itu masalah tak pernah absen bertangkai di otak dan fikirannya. namun demi sang ibu, dia menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja.

"bagaimana skripsimu?", "sebentar lagi wisuda yah?", "sudah semester berapa kamu ini, kok tidak kunjung lulus?"
"iya, insyaAllah sebentar lagi", senyumnya tertahan, seolah semuanya masih berjalan.. meski kata-kata kebohongan adalah hal yang paling dibenci, namun satu kata ini slalu membuatnya untuk mengulangi kebohongan, lagi dan lagi..

    pandangannya menuju pada selembar kertas yang menempel di meja belajarnya 4 tahun lalu, dia bangkit dan mendekat, diambilnya kertas itu dan dibacanya tanpa satu kalimatpun keluar dari rongga mulutnya.

bismillahirrahmanirrahim,
PLANNING HIDUP
1. dapat beasiswa
2. semester 7 menikah
3. lulus 3,5 tahun dengan IPK  min 3.4
4. ambil S2 ilmu politik UGM

bulshiiit...!!!! kraaaakkk.....
disobeknya kertas tadi dan dibuangnya potonga-potongan kecilnya ke tempat sampah kecil yang mulai penuh di pojokan kamarnya. kini tak ada lagi asa yang tertinggal, meski sedikit lagi targetnya terkejar. bukan maen-maen target itu ditulisnya, pada masa awal kuliah, dia begitu menggebu-gebu mengejar target yang ditulisnya, siang malam dia belajar keras, agar target demi target terlampaui, hasilnya di semester awal dia mampu menyaingi teman-teman kelasnya yang notabene kebanyakan lulusan SMA Negeri Favorit di beberapa kota besar, sedang dia hanya lulusan Madrasah Aliyah Swasta kala itu. dia mampu membuktikan ke ayahnya kalau dia pantas melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi setelah sebelumnya sang ayah menolak tegas keinginannya. 

     namun sayang, beberapa semester kemudian dia kembali berhadapan dengan karakter aslinya. watak-watak yang ingin sekali dia hapus dari dirinya, tak berprinsip dan masih bergantung pada orang lain. saat semester dua kuliahnya sempat kacau karena dia tidak mempunyai komputer untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah kala itu, untungnya sang ibu mengerti dan membujuk ayahnya yang keras itu untuk mau membelikannya komputer, akhirnya dengan modal tabungan juga uang pemberian ayahnya, di semester 3 dia bisa membeli sebuah laptop sederhana. 

      bencana justru muncul di masa-masa pertengahan dimana dia seharusnya lebih fokus lagi dengan studinya, gairah belajarnya menurun, karena dia merasa prestasinya ini tidak berarti apa-apa dimata ayah dan keluarganya, tak ada kata pujian, tak ada senyum kebanggan, semuanya berjalan datar seperti biasanya.
"sebenarnya untuk siapa perjuangan-perjuangan ini??' hatinya mulai berontak kala itu, sejak kecil dia terbiasa mengorbankan keinginan dan angannya demi orang lain, dia melakukan ini itu untuk membahagiakan keluarganya. meski sebenarnya dia tidak ingin. dan sekarang batinnya mulai berontak.

     semester 5 diambang mata, dia merasa sangat butuh kendaraan untuk kepentingan kuliah, bertahun tahun dia rela berjalan kaki dari kos ke kampus dan melupakan rasa malu dengan teman-teman kuliahnya ketika dia sampai di kampus dengan baju setengah basah oleh peluhnya, kini dia mau tidak mau memberanikan meminta ijin kepada ayahnya agar diperbolehkan ke kampus dengan membawa motor karena di semester ini akan ada banyak tugas observasi, apalagi sebentar lagi ada praktek kerja lapangan, namun tanpa melihat kebutuhan anaknya itu sang ayah bersikeras menolak dengan alasan yang menurutnya diada-adakan, "nanti uangmu habis buat beli bensin,", "nanti kamu keseringan jalan-jalan dan lupa sama kuliah kamu", "nanti kalau di jalan kamu kenapa-napa gimana" ,,

     "AArrrrkkHHh...!!!!" bibit-bibit permusuhan itu muncul kembali setelah 2 tahun lalu sempat reda.,ya, sang pemuda tertunda kuliahnya selama setahun karena keluarga terutama sang ayah tak mengijinkan, di satu tahun itu seringkali sang pemuda terlibat cek-cok dengan sang ayah, karena memang tabiat mereka berbeda.

      sedikit demi sedikit gairahnya untuk berprestasi menurun, dia sering pulang ke rumah dengan alasan kuliah kosong, hal yang paling dibencinya kini malah menjadi langganannya, Titip Absen.. teman-temannya pun mulai meninggalkannya satu persatu..dan indeks prestasinya meluncur dari angka 3 ke angka 2. yang ada di kepalanya hanya ada dendam dan amarah, terutama kepada ayahnya. sedikitpun dia tak merasa nyaman ketika berdekatan dengan ayahnya, karena ayahnya seringkali marah-marah tak jelas. hanya salaman basa-basi yang dilakukannya ketika mau berangkat ke perantauan atau pulang. yang jelas hatinya tetap membara. apalagi tiap kali melihat sebuah motor tergeletak tak terpakai di samping rumahnya, ingin sekali dia menyulut api dan membakarnya, ada dan tiada motor itu sepertinya sama saja baginya.

     17 Januari 2012, ayahnya pergi untuk selama-lamanya, sedikit terbersit penyesalan pada dirinya akan hubungan buruk yang cukup panjang dengan ayahnya, dan kini, dia harus berhadapan dengan kakak-kakaknya. mereka mulai curiga kenapa dia tak kunjung lulus, suadara, tetangga, teman, dan semua orang-orang terdekatnya mempertanyakan dengan gaya sok peduli mereka, itu bagaikan ribuan moncong yang semuanya mengarah tepat ke kepalanya dan siap ditembakkan.. apalagi kakaknya mulai menuntut untuk segera lulus, padahal masih banyak ketertinggalan yang harus dia penuhi di kampus. "uang tunjangan ayah sudah hampir habis untuk bayar spp kamu, cepatlah lulus..!!!",
"ok, tapi aku ingin menikah kak, agar aku semangat menamatkan studiku", lalu aneka jawabanpun mulai berhampuran mencerca dirinya.
"selesaikan kuliahmu, lalu kerja, baru bahas nikah..!!!"
"gak usah banyak mimpi dulu...!!!"
"mau kamu kasih makan apa istri kamu nanti???"
"masih kecil aja sudah ngomong nikah."
 
titik...!!!!

glekkk....

     kalimat-kalimat itu membuatnya merasa seperti seekor kambing yang tak berotak...padahal kambingpun dijamin rejekinya oleh Allah. menurutnya kini yang ada di mata kakak-kakaknya hanyalah ukuran materi, dia slalu mempertanyakan, kenapa menikah harus bersyarat materi, apakah kita ragu dengan janji Allah,  kalau orientasinya selalu materi, kenapa dulu dia harus dipondokkan dan mengerti ini semua, kenapa dulu tidak disekolahkan saja di SMA biar arah fikirannya tidak seperti ini, dia bisa bebas pacaran, dan mungkin dengan itu, dia tidak begitu berhasrat akan menikah muda. kenapa dia tidak bernasib mujur sebagaimana teman-teman ikhwahnya dikampus yang didukung keluarga untuk menikah muda, dan kenapa dia harus menahan ini semua..

    kepalanya kembali cenat-cenut oleh pertanyaan-pertanyaannya sendiri, pandangannya kembali kosong, semangat hidup pun tak ada lagi tersisa, apalagi semangat untuk melanjutkan studi....nothing..bahkan sesekali terlintas difikirannya untuk memotong jalan hidupnya, namun imannya masih bicara.

    kini hanya ada jasad yang bergelimang kekosongan, meski sebenarnya masih ada senyum tawa ketika bergaul dengan sesama, namun didalamnya tak sekalipun dia merasakan nikmatnya hidup, ingin sekali dia menemukan seseorang yang bisa memahaminya, dan membimbingnya secara tulus, namun belum jua ada jalan keluar, air matanya seringkali keluar menetes membasahi sajadahnya, dan menunggu apakah air mata ini menghasilkan jawaban atau sia-sia belaka. namun dia tak akan menyalahkan Tuhannya, bagaimanapun dia mengerti betapa Tuhannya Sang Maha Berkehendak. barangkali ini memang ujian hidupnya. semoga imannya yang menempel menjadi alasan diberikannya pintu syurga.

pemuda itu mulai membuka matanya, kepalanya bergerak kearah kalender yang menempel di dekat pintu kamar, "Ya Tuhan, sebenta lagi umurku 24."

1 comments:

Anonymous said...

Semoga Allah menunjukkan jalanNYA yang paling lurus untukmu

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--