Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, July 28, 2012

Belajar Memaknai Keikhlasan

     Bulan Ramadhan ini benar-benar kujadikan bulan tarbiyah bagiku, bulan untukku meredefinisi dan mereposisi makna kehidupan agar lebih lurus dan benar, tentunya dengan ilmu, karena bagi kalangan intelektual, idealisme itu terbentuk dari sebagai mana luas cakupan ilmu (kebenaran) yang dikuasai juga pengalaman yang tlah dijalani, sehingga membentuk sebuah paradigma atau suatu sudut pandang dalam menerima dan menyikapi berbagai permasalahan kehidupan, lalu mengakar dan dijadikan acuan dalam setiap gerak pemikiran dan tindakan, itulah yang disebut idealisme. dan kata orang, tingkatan idealisme tertingggi seeorang adalah ketika dia sanggup berfikir dan bertindak secara 'filosofis', entahlah.

      filosofis, aku rasa kata itu tidak terlalu menarik bagi seorang yang beriman, karena berfikir filosofis berarti berfikir lebih dalam lagi. kemudian memandang keadaan lebih dalam. sehingga yang terpintas dalam benak manusia ketika melihat suatu permasalahan adalah 'substansi' juga 'esensi', padahal seorang muslim itu dituntut untuk bersikap universal. iman yang ada di dalam hatinya tidak hanya harus diaplikasikan sebagai bentuk konsekuensi jati diri, namun juga disebarkan lewat amar ma'ruf nahi mungkar.

     dan inilah permasalahn yang tiba-tiba muncul dalam fikiran, bagaimana mungkin seorang muslim melakukan universalitas relijinya dalam keadaan seperti ini. dimana hawa sekularitas lebih pekat di lingkungan yang harusnya di isi dengan relijisitas sosial. bagaimana mungkn seorang muslimah berani memakai jilbab di tengah-tengah khalayak yang berpakaian modernis. bagaimana menjaga pandangan, membatasi pergaulan. sedang dari situpun akan memunculkan berbagai benturan sosial, meski yang minoritas ini tetap dikatakan sebagai pihak yang paling benar, namun bagaimana mereka bisa bertahan dengan semua itu. dengan berbagai clash dan konflik yang ada.

     dan ternyata kekuatan dibalik kekuatan itu terletak pada sebuah motif, yang lgi-lagi terbentuk oleh idealisme tunggal yang dipengaruhi ilmu dan pengalaman. sayangnya tidak semua orang yang berperilaku baik ini mempunyai motif yang sama baik. sehingga mereka tidak benar-benar sempurna dalam menjalankan nilai-nilai relijius yang ada padanya, dan lebih-lebih mereka akan terjebak pada hipokitas yang menghancurkan dirinya sendiri. dan lebih lagi, mereka dijadikan patokan oleh orang-orang sekuler yang membenci syariat islam, sebagai sampel bahwa ajaran islam tidaklah sehebat apa yang dikatakan. kita lihat bagaimana seorang muslim yang berakhlak buruk terhada sesama, yang korupsi, yang terlibat skandal, itu semua menjadi bomerang bagi dirinya, namun efeknya menjalar kepada agama yang dianutnya, meskipun secara logis, kita tidak mungkin men-justice mutu sebuah mobil dari pengendaranya.

      dari sinilah aku menemukan makna keikhlasan dalam sebuah hegemoni kehidupan. karena akan selalu ada motif dibalik sebuah tindakan, kesalahan ummat islam sekarang ini adalah mendefinisikan sebuah permasalahan dengan definisi keumuman, padahal Islam mempunyai definisi sendiri yang lebih tepat untuk ummatnya. ikhlas, bukanlah sebuah ketulusan, dimana kita biasa menyimbolisasikannya dengan proses 'buang hajat', kerjakan dan lupakan, ternyata itu kesalahan terbesar. bagaimana mungkin kita melakukan suatu tindakan tanpa motif. sedangkan motif itu sendiri yang akan membedakan tingkat kedalaman kesadaran. NIAT. 

     dalam kitabnya yang berjudul ISLAMUNA, sayyid sabbiq mendefinisikan ikhlas sebagai ' Kesengajaan hati didalam mengarahkan perkataannya, perbuatannya, perjuangannya, hanya mencari wajah (Ridho) Alloh tanpa melihat pada kekayaan, pangkat, nama, popularitas, tampang lahir, maju, atau mundur.'
maka seorang muslim yang baik akan selalu melakukan sesuatu atas dasar menjalankan perintah Allah sehingga Allah ridho padanya, tanpa sedikitpun tercampuri oleh urusan duniawi ataupun pribadi, selama itu adalah suatu perintah dan menyebabkan Allah, maka dia akan melakukannya dengan keyakinan yang kuat, dan dia akan meninggalkan sesuatu begitu saja ketika dia mendapati bahwa di dalamnya tidak ada keridhoan Allah, bahkan menyebabkan murkaNya, tanpa berfikir panjang.

     itulah sebuah motif agung yang diajarkan Islam kepada pemeluknya, dimana mereka diajarkan untuk tidak takut akan kemunduran, kemiskinan, ataupun kehinaan dalam melakukan sesuatu meskipun itu dengan pengorbanan, hanya demi mencari Ridho Allah. sehingga dilakukan dengan cara yang benar.

      seorang pegawai yang bekerja dengan meniatkan pekerjaannya untuk mencari ridho Allah, maka dia akan bekerja dengan sungguh-sungguh sebagai bagian dari amanah, dan dia tidak akan berkhianat ataupun korupsi meskipun itu membuatnya gagal menjadi orang yang kaya, dan kalau dia mendapati sesuatu yang menyebabkan kemurkaan Allah dari pekerjaannya itu, seperti peraturan kantor yang melarang pemakaian jilbab atau ketiadaan waktu untuk melakukan shalat wajib. maka dia melepaskan pekerjaannya tanpa beban, tanpa takut karirnya hancur. bukankah pegawai seperti itu yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan?? sungguh luar biasa islam memberikan konsepsi kehidupan bagi ummatnya. itulah ikhlas yang sesungguhnya.

       kita tidak bisa mendefinisikan keikhlasa sebagai ketulusan, karena rasa tulus tidak di dasari oleh sebuah keimanan yang kuat, dia hanya bagian dari rasa simpati dalam hati, namun jauh dari itu, sifat ikhlas mendorong seorang muslim untuk tegar menghadapi resiko yang akan ditanggungnya dari perbuatannya itu, tidak terpengaruh oleh banyaknya pujian, dan tidak gentar oleh banyaknya cobaan.

       marilah kita belajar tentang keikhlasan ini dari yang Maha Benar, karena nilai kebenaran tidak bersifat relatif di mata Allah, andaikan kebenaran bersifat relatif, mampukah mereka menciptakan syurga untuk sebuah kebenaran yang diciptakannya sendiri itu??wallahu a'lam bis showab, semoga bermanfaat

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--