Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, June 21, 2012

Kamar Wismaku

      inilah kamarku, kamar kost yang entah sampai kapan aku merasakan segala rasa disitu, diantara semua hal yang membuatku nyaman dan tenang, mungkin kamarku menempati urutan penting di hidupku, tak perlu tanya mengapa untuk seorang introvert seperti aku, pada awalnya aku berfikir ini adalah singgahan sementara bagiku, untuk selanjutnya aku akan menempati tempat permanen entah bagaimanapun bentuknya namun berbalut masa depan, dan ternyata salah, waktu dan keadaan menyudutkan impianku sehingga aku berfikir dua kali dan berkata, mungkin kau selamanya bagiku.
     
      tidak terlalu besar memang, sebuah kamar diantara puluhan kamar yang ada di wisma mahasiswa ini. entah bagaimana awalnya, aku seperti terjodohkan dengan kamar bermotif semi pilkadot dengan pintu tersilang oleh hiasan police line ini. apalagi kalau musim hujan, sudah menjadi bagian dari kewajibanku padanya, untuk memeras genangan air yang merembes turun dari celah atap yang memungkinkan, atau ketika aku harus rela berbagi rasa dengan para tikus yang asyik bermain dibalik atap rapuh ini, namun aku masih terlampau suka untuk menghabiskan beberapa waktu disitu, tau kenapa?

        di Solo ini, ketika awal mula aku berstatus mahasiswa, aku tinggal sekamar berdua dengan teman dekatku di pondok dulu, si Ridho,di daerah menco, tempat metro nya orang-orang kampus. selama setahun itu pula  suka duka perjalanan hidup kita berdua sebagai seorang mahasiswa dan aktifis kampus terukir sejarahnya dalam setiap saksi bisu dilempengan tembok yang menaungi kita berdua. tidur sekasur, makan berdua, jualan jajanan ke kos-kosan terdekat, semuanya berdua. pada awalnya berat memang, sebagai seorang penyendiri, harus tinggal sekamar berdua, namun itu semua kurelakan karena aku memang masih asing dengan kota rantauan ini. aku rasa sedikit pengorbanan layak aku lakukan demi secuil pengalaman hidup di kota tuan.

           sampai di tahun yang kedua, kita pun berpisah, si Ridho mencari tempat kosan baru di daerah gonilan, sedangkan aku ditawari untuk pindah kos dan mengontrak dengan salah satu temanku. namun baru beberapa minggu, aku tidak merasakan kenyamanan disitu, akhirnya aku kembali lagi ke tempat kos semula, karena meski agak mahal, kuakui tempat kos yang satu itu islami dan tempatnya nyaman. namun sayang, ada salah seorang teman yang 'ngikut' untuk tinggal sekamar denganku, aku pun tak sanggup menolak, hanya saja aku memang tidak begitu cocok dengan dia, akhirnya akupun mengalah, meski biaya sekamar dibagi rata, aku sering tidur di ruang tengah depan tivi, lebih mengenaskan keadaanku daripada waktu bersama si Ridho ini, sampai suatu saat aku ditawari sebuah kamar di salah satu wisma daerah gonilan. akupun langsung mengiyakan, dan dalam beberapa waktu, kukemasi barang-barang dan segera aku pindah ke kosan itu meskipun masaku di kos yang sebelumnya masih lama,

       dan inilah kosanku sekarang, aku kembali dipertemukan dengan si Ridho untuk kedua kalinya, dengan kamar yang berbeda pastinya. meskipun tidak senyaman kos sebelumnya, namun rasanya kenyamanan psikologis lebih dalam kurasakan disini. kamar kita di lantai dua, berhadap-hadapan. setelah sebelumnya aku sempat terisolir di kamar bawah yang terkenal dengan kondisi sosial yang mengenaskan. di kamarku yang sekarang ini aku benar-benar merasa mendapatkan apa yang selama ini aku butuhkan, sebuah tempat dimana semuanya menjadi milikku, aku bisa melakukan apa saja tanpa dicela atau sekedar dikomentari, aku bisa meluapkan marah, kesal, senang, bahkan nangis sendirian tanpa ada campur tangan bahkan tanpa diketahui orang lain, dan inilah kamarku. persinggahan masa depanku.
        setelah mempunyai tempat bernaung yang meskipun sering bocor dan panas namun menjadi milikku seutuhnya ini, aku mulai mendesainnnya, hingga terakhir jadilah seperti itu, semua perabot dan isi kamar, aku beli satu persatu bukan tanpa makna. seperti puluhan buku yang berada di rak itu, aku berfikir, mumpung masih di Solo dan masih dijatah orang tua, daripada dihabiskan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, alangkah baiknya jika kubelikan buku saja. mungkin akan sangat bermanfaat bagi keluargaku nanti, khususnya untuk anak dan istri, karena aku sadar, aku kurang mumpuni soal permasalahan agama. jadi semoga buku-buku itu dapat menambal kebodohanku, sehingga tanggung jawabku kepada mereka tidak berkurang sedikitpun,

        sejujurnya aku memang tipikal orang yang suka shoping dan bosenan, apalagi dengan uang bulanan yang lumayan banyak, jadi kalau di market sering bertingkah kayak ibu-ibu, bawa trolli dan ambil barang-barang banyak, apalagi yang menyangkut kamar, soal design, pernak-pernik..pokoknya semuanya, bahkan terkadang mie instanku berjejer banyak sekali di lemariku. sekali shoping bisa habis ratusan ribu. namun akhir-akhir ini aku menjadi tersadar setelah mendengar kata-kata temanku ikhwan "apalah arti semua itu, yang penting kita bisa tercukupi makan sehari-hari, itu sudah cukup", sehingga barang-barangku yang tergolong mewah pun aku jual, sekarang yang ada hanya beberapa barang pokok dan buku, satu itu tidak bisa kutinggalkan sampai kapanpun, karena buku merupakan aset bagiku nanti, warisan bagi keluargaku.

    kamarku lumayan luas, berdinding pilkadot yang sebenarnya bukan kemauanku, melainkan warisan jelek yang dikasih oleh penghuni sebelumnya. kamarku berada di pojok depan atas, dekat dengan kamar mandi. sehingga tidak perlu jalan jauh kalo mau ke kamar mandi. sudah setahun lebih aku tinggal disini, antar tetangga kamar pun sudah seperti keluarga sendiri, semua aktifitas kebanyakan dilakukan secara bareng-bareng, sehingga kedekatan kami begitu hebat. kata teman-teman, kamarku ini paling wah, memang sih dulunya ada tv nya, tapi setelah kufikir itu hanya akan menambah kemalasan, kujual lagi. kamarku banyak sekali bukunya,teman-teman pun sering mampir untuk sekedar membaca dan mencari referensi. begitulah kamarku, aku melakukan ini semua bukan karena ingin dipuji lebih atau diistimewakan, namun ini lebih sekedar gambaran bagaimana aku dan apa yang ada dibalik semua ini, sebuah harapan untuk menjadi lebih baik, lebih rapi, dan lebih berfikir kedepan.      

    dulu aku berfikiran akan sementara tinggal di kamar ini, sebentar lagi lulus, dan kembali ke kampung halaman. namun ternyata Allah berkehendak lain, kuliahku berjalan kurang lancar dan aku mulai terpikat untuk menetap di Solo ini. itu artinya untuk beberapa tahun kedepan lagi, aku masih tinggal disini. setidaknya sampai Allah menegurku untuk tinggal di rumah mertua ^^

        setidaknya apapun yang tlah kucapai selama ini, bagaimanapun aku menjalani kehidupan di sini, kamarku ini menjadi bagian dai memori hidupku yang tak terlupakan. karena kenanganku tidak hanya kebahagiaan, dan kamarku ini adalah saksi bagaimana aku merasakan rasa-rasa itu.

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--