Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Tuesday, June 12, 2012

Musik in My Life

Musik adalah bagian dari kehidupan masyarakat, iramanya yang khas dengan suara yang renyah katanya dapat menghilangkan kepenatan hidup bahkan kegundahan hati, di beberapa kota memang musik jadi alat pemersatu masyarakat, seperti musik dangdut, apalagi dewasa ini musik berkembang sangat pesar, beberapa aliran modern mulai memadati ruang-ruang telinga rakyat indonesia, contohlah pop, rok, pop-rock, reggae, melayu, sampai alternatif. semuanya menawarkan kenikmatan pendengaran menurut selera dan kapasitas masing-masing penikmatnya. hingga menjadi barometer kedamaian, persahabatan, bahkan hubungan asmara manusia, begitu klasik namun fantastik jika kita melihat seberapa jauh pengaruh musik bagi kehidupan orang-orang. namun bagaimanapun, bagiku musik mempunyai cerita tersendiri di hidupku.

dulu, Musik adalah inspirasiku, kedua kakak terdekatkulah yang memperkenalkannya padaku, maklum, sewaktu kecil mereka ABG di rumahku, dari mulai iwan fals, sampai sheila on 7, semuanya ada, setiap hari pun kenikmati secara perlahan musik-musik itu. dan ternyata memang alunannya membuatku semakin nyaman, kuhafal tiap bait liriknya, dan kuimajinasikan ke dalam hidupku, dan benar saja, gara-gara keseringan ngedengerin musik, aku sudah merasakan jatuh cinta saat aku baru beranjak kelas 5 SD.


waktu aku beralih ke SMP, aku semakin dekat dengan musik, meskipun aku dulu agak culun, namun hampir tiap minggu aku membeli kaset lewat temenku, maklumlah, uang sakunya lumayan tebel. koleksiku hampir mengalahkan koleksi komik yang ada di lemari kamarku. musik..musik..dan musik.

semakin parah lagi ketika aku SMA, musik menjadi teman baikku di rumah, musik mempengaruhi mood ku dan semakin mengaduk-aduk perasaanku, karena waktu itu aku sudah mulai berani berhubungan dengan yang namanya wanita dan cinta. aku hampir hafal semua lagu cinta dari era 90 an seperti Chrisye, Iwan Fals, Titi DJ sampai lagu-lagu modern. bagiku musik tidak sekedar bagaimana mengebitkan suara, namun lebih kepada improvisasi perasaan saat mendengarkan, makanya aku lebih suka musik-musik cinta yang tidak terlalu ngerock, namun cukup mendayu-dayu. hasilnya aku menjadi seorang introvertis yang mahir bermain rasa dengan perempuan kala itu, aku pinter membuat puisi dan pintar bermain kata dengan perempuan. cukup parah memang, namun menurutku selama tidak ada sentuhan, everything going to be fine (pemikiranku saat itu).

pergolakan hati mulai terasa ketika aku kuliah, dimana aku mulai mengikuti kajian di sana-sini, mendengar tentang keharaman musik, aku menjadi gundah. bagaimana cara aku menghentikannya,aku coba untuk meninggalkannya namun susah. sehari meninggalkan, dua hari kembali larut dalam alunan, padahal aku masuk dalam sebuah lembaga dakwah kampus kala itu. meskipun banyak juga teman-teman aktivis yang masih doyan musik, hal itu tak berarti aku bisa mengela, namun aku juga susah meninggalkannya.

di rumah pun aku mulai tak berani memutar musik keras-keras,keluargaku sudah 'ngaji' semua sekarang, ibukku, kakak-kakak iparku pun sudah pada berjilbab, kakak-kakakku yang dulu memperkenalkanku tentang musik, sekarang sudah tobat, tinggal seorang kakak dan aku yang masih aktif ngedengerin musik namun sembunyi-sembunyi. waktu aku kepergok ibukku dengerin musik, beliau bilang "mengko neng akhirat kupingmu dicor timah panas lho" (nanti kalo di akhirat telingamu di masukin timah panas lho)

aku memang merasa sungguh kuat efek dan pengaruh musik bagi psikologis seseorang. pantas saja banyak wanita yang begitu mengagung-agungkan peraasannya, sudah pasti dia juga seorang pecandu musik. musik itu candu, semakin lama semakin berbahaya, bayangkan saja bagaimana shalat kita terganggu hanya karena alunan itu kembali berputar difikiran kita saat kita sedang berhadapan dengan Allah.

keimananku kembali diuji, ketika aku sudah mempunyai kamar kos sendiri (sebelumnya dua tahun berturut-turu sekamar dengan ikhwan) dan dengan modal tabungan yang lumayan aku bisa membeli sebuah speaker aktif yang lumayan jreng suaranya, hasilnya selama kuliah ini aku tetap menjadikan musik sebagai pelampiasan keadaan.

namun aku sadar, keadaan seperti ini harus segera dirubah, apalagi aku tahu hukumnya seperti apa. tanggunganku lebih berat, aku pun merasa lucu kalo lagi bernyanyi, bener-bener mengurangi kehormatan. maka beberapa hari lalu aku mencoba mengkonsepsi hidupku kembali, mana yang harus aku rubah, dengan berjanji kepada Allah, ya, itulah satu-satunya cara agar aku bisa berubah, karena aku takut mengkhianati janjiku dengan Allah. alhamdulillah selama seminggu ini aku bisa meninggalkan musik dan kebiasaan buruk lainnya.

aku berharap perubahan ini menjadi sangat berarti, karena aku berfikir menutup kesalahan dari orang lain (ikut2an rusak karena melihat orang lain rusak, merasa ada teman rusak) bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana.

semoga kedepannya aku bisa benar-benar berubah dan berkomitmen, aku sungguh takut ketika waktu terus berjalan sedang aku stagnan. karena bagaimanapun, nyawa tidak bisa dibeli, dan menua itu sesuatu yang pasti. selamat tinggal musik, selamat datang kehidupanku yang baru...

2 comments:

outbound malang said...

kunjungan gan .,.
saat kau kehilangan arah ingatlah masih ada yang menolong mu
dan tetap berdoa mengharap untuk menemukan jalanmu.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.

Darkness Prince said...

haduh, kumat lagi aku :(

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--