Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sunday, May 6, 2012

Sekeping Mata Uang

         di salah satu sudut bumi, terdengar lirih isak tangis seorang lelaki muda dengan baju koko yang basah oleh air mata, diam tersujud di sajadah usang, fikirannya menerawang atas dosa-dosa yang telah dilakukan, berharap Allah benar-benar mengampuni dan membebaskannya dari jerat neraka yang mengerikan, dadanya bergetar seolah neraka berada di hadapan, tangisannya menyala-nyala mengharap Allah berhiba, dan dia bertekad kuat untuk meninggalkan seluk beluk dunia yang ada, dan selanjutnya. setiap gerak bibirnya mengandung istighfar, setiap panggilan Allah dia terima dan jawab dengan penuh ketulusan. dia merasa ringan sekarang, hatinya tenang, jauh dari kekalutan. setiap masalah dia tanggapi dengan mengucap 'apa kata Allah tentang ini?", atau "apa manfaatnya bagi akhiratku?", semuanya begitu sempurna, dia menjadi pribadi yang mengagumkan teman-temannya, tidak hanya itu, banyak akhwat yang naksir kepadanya, namun apa dikata, hatinya sudah terpaut dengan Tuhannya. Baginya, sedikit cela, akan menjadikannya jauh dan jauh sekali dengan Allah, dia berjanji tidak akan melewatkan secuil masa melainkan untuk berdua dengan Rabbnya, dalam kehidupan beragamanya, juga dalam keduniawiannya,
        disatu tempat dari masa yang berbeda, sebuah tv menyala hampir 24 jam, juga suara keras musik yang keluar dari speaker aktif ternama, membuat kamar itu seperti sebuah konser musik. di dalamnya, seorang lelaki sedang asyik mengutak-atik keyboard degnan jarinya didepan laptop yang sudah dari pagi menyala. sesekali dia tertawa dengan wajah sumringah sambil mengikuti alunan musik yang ada. suasana cinta dari bilik hatinya terungkap lewat kata-kata cinta yang dia tulis di status facebook dan twitter. dalam fikirannya menerawang senang, gadis pujaan hatinya kini hampir menjadi miliknya, sebuah hp tak henti-hentinya berdering dan menyala. balasan sms dari sang pujaan hati menjadi energi baru untuknya, cinta yang benar-benar dalam baginya, sampai-sampai suara adzan yang saling bersahutan beberapa menit yang lalu seperti tidak melintas di telinganya. hirauan atas ajakan teman sekosan untuk shalat berjamaah di masjid sudah menjadi biasa, baginya sekarang, hal yang terpenting bagi hidupnya adalah tak pernah melewatkan saat-saat bersama idaman hatinya. tidak hanya itu, hidupnya pun dirasa berubah total, bajunya necis dan penampilannya kasual abis.tabungannya yang lumayan banyak menjadi incaran para penjual di toko dan swalayan. barang-barang di kostnya pun kian lama kian banyak, aneka pajangan, aksesoris, bahkan komik-komik hampir semua ada. hanya baju koko bekas keringat yang belum tercuci sebulan yang lalu masih menggantung dengan jaring laba-laba yang sudah mulai teruukir di tengah motifnya. dia lupa saat-saat dimana dia dekat dengan Tuhannya.

       dua hal yang berbeda ditempat yang sama, itulah kita, benar.. aku bukan bercerita tentang dua orang dengan karakter yang berbeda, itu sudah sangat biasa, ini adalah dua karakter dengan satu jiwa, satu tubuh,  berjuta rasa, inilah kita. sekeping uang koin yang terlempar-lempar di angkasa, terkadang sisi baik yang berada di atas, terkadang juga sisi buruk mendominasi. itulah kita..dan dengan penuh kesadaran kita mengakui bahwa ada saat-saat dimana kita berada di tempat yang teduh bersama Allah, beribadah dengan penuh kenikmatan, meninggalkan kotor dunia dengan penuh keikhlasan.sehingga hari-hari terlewati dengan tanpa terkecuali, Allah slalu melintas di fikiran. dan dosa dan kesalahan benar-benar terjauhi bahkan dimusuhi dengan sangat. 

      namun terkadang juga, kita berada di awang-awang dunia, menikmati gemerlap kenikmatan yang ada, bercanda ria, bersenang-senang, dan sangat berat untuk melaksanakan perintah agama, bahkan tidak jarang tergelincir pada dosa-dosa kecil, yang hampir-hampir ikut menenggelamkan kita pada suatu kesalahan besar, yaitu lupa bahwa kematian berada di depan mata.

       lalu, bagaimana mungkin kita bisa berada di dua keadaan sekaligus, padahal kita bukan seorang yang munafik, pura-pura,. kita yakin bahwa kita benar-benar tulus dan dekat dengan Allah di satu waktu, dan kita juga mengakui bahwa disatu keadaan yang lain, kita berada didalam keadaan yang sangat jauh dari Allah, kita mengakui. dan kita tidak berpura-pura, namun bagaimana bisa itu terjadi.??

     teman, itu semua terjadi karena kita manusia lemah, manusia yang dikaruniai hati yang mudah terbolak balikkan keadaannya, kita punya nafsu yang melahirkan obsesi dan ambisi, dan meski kita juga berperasaan untuk memilih jalan kebaikan, kita punya musuh utama yang akan selalu mengintai dan mencari celah untuk menyesatkan kita pada jeratan dosa. itulah yang membuat kita berada diatas, dan terkadang pula jatuh terpental kebawah.

      biasanya kita berada dalam keadaan baik, tenang, khusyuk, teduh, bahagia, adalah saat kita melakukan ketaatan kepada Allah, entah itu karena ibadah tertentu yang membuatnya merasa dekat dengan Allah semisal shadaqah, shalat dhuha, shalat tahajud, dll. apalagi ketika hal tersebut sudah menjadi sebuah rutinitas, kitaakan berada di suatu keadaan dimana kita merasa bahwa dunia ini sudah bukan lagi hal yang mengganggu fikiran, dunia ini hanyalah sebuah ladang ujian, dimana kita harus mengistimewakan Allah diatas segalanya, sehingga ketika kita melihat teman kita jarang pergi ke masjid, kita meral terasa jijik melihatnya, melihat orang pacaran, kita merasa mual. dan melihat barang-barang bagus, kita tidak berminat. karena kita tidak takut miskin, tidak takut mati, hanya takut kepada murka Allah, nah..

      namun di suatu waktu yang lain kita tidak sengaja/sadar melakukan sebuah kesalahan, seperti sekali tidak pergi ke masjid untuk shalat berjamaah, setelah melakukan itu kita merasa tiba-tiba jauh dari Allah, dan sebuah bisikan tanpa alamat mengajak kita untuk melakukan berbagai kesalahan dan dosa yang lain lagi dengan alasan 'toh Allah sudah jauh dengan kita', atau 'toh kita sudah terlanjur berbuat dosa, sekalian saja'. kemudian kita melakukan dosa-dosa yang begitu banyak tanpa ada rasa prihatin yang menyingkap tabir gelap itu dalam beberapa waktu yang cukup lama.

    dan dalam satu kesempatan yang lain lagi, kita dihadapkan kembali pada satu keadaan yang sekali lagi membuka mata batin kita, semisal melihat kecelakaan maut, atau ada sebuah kata-kata sang ustad yang menohok hati kita dalam suatu kajian islam. tiba-tiba hati kita bergetar untuk kedua kalinya, kita baru tersadar bahwa ini adalah keadaan buruk, bergelut dengan begitu banyak dosa dan jauh dari Allah..astaghfirullah..astaghfirullah,,lalu niatan untuk kembali kepada Allah itu muncul lagi. insyaf..lalu kembali taat dan menjauhi berbagai dosa...kembali menjadi pribadi yang mantab untuk kesekian kali.

lalu ada lagi masa dimana kita mendapati kembali keadaan buruk itu, lalu insyaf..lalu kembali bergumul dosa, insyaf lagi...begitu seterusnya,,,,karena kita begitu dekat dengan syetan, dan kita lupa akan kedekatan Allah..

    sekeping mata uang, bagian dari sebuah kemunafikan meskipun tidak pernah ada niat untuk melakukan,,,hanya sebuah keadaan yang mempengaruhi jiwa,,,,dan kelakuan..itulah kita,,beruntung bagi hamba-hamba yang istiqomah dan tegar selalu di jalanNYA,,,,namun bagi yang masih sering merasakan kegalauan iman seperti itu, ada trik untuk berusaha agar tetap istiqomah.

1. rajin shalat berjamaah
2. rajin membaca AlQur'an
3. kumpul dengan orang shaleh
4. puasa sunnah
5. tidak kompromi dengan dosa dan kemaksiatan
6. tidak pernah berniat untuk melakukan dosa dan kesalahan
7. langsung bangkit dan bertobat ketika melakukan sebuah kesalahan.
8. tidak neko-neko terhadap dunia.

semoga bermanfaat..semoga kita dianugerahi sebuah ketaatan yang tidak akan terpengaruh oleh keadaan, bahkan bisa mempengaruhi keadaan menjadi lebih baik.amien..

1 comments:

Anonymous said...

subhanallah,,, cantik sekali penggambarannya... wah makanya kita nek sholat disuruh mbaca yang artinya" wahai dzat yang maha membolak-balikan hati tetapkanlah hati ini didalam kebaikan"..

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--