Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sunday, May 27, 2012

Dalam Sebuah Dinamika Kehidupan

     hidup bukanlah sekedar bagaimana mencari dan menikmati, hidup adalah bagaimana mengisi dan memberi.sudah begitu familiar dalam hidup kita ini akan kehidupan hedonis, sejak kecil terbiasa dituntut untuk belajar keras agar bisa berprestasi, sekolah setinggi-setingginya, lalu dapat kerja yang enak, dengan gaji yang menggiurkan. menghabiskannya dengan sesuka hati. dan tidak ada yang dapat melarang, karena dengan kesuksesan itu, orang tua merasa cukup untuk menjaganya, sang anak tlah mendapatkan segalanya, sang orang tua bangga, dengan status anaknya. jangan..demi Allah, jangan sekali-kali berfikiran seperti itu. kapankah kiranya kita duduk sebentar diatas sajadah tua dan merenungi, tentang hidup ini..lagi,,dan lagi.

        ''kerja dimana sekarang?", "mobilnya apa?", "sudah punya rumah dimana?", seringkali pertanyaan-pertanyaan seperti itu dari tetangga begitu menohok batin.yang menjadikan muncul sebuah pergolakan hati "iya ya..kenapa masih begini saja kita?" suatu diskusi dari pasangan itu melahirkan sebuah jawaban dari rasa kurang puas akan kehidupan ini, "kalau begitu kita harus menyekolahkan anak kita tinggi-tinggi agar menjadi orang sukses dan dapat mengangkat kehidupan kita pak.", lalu seterusnya sang anak diajarkan untuk belajar keras namun bukan demi sebuah kepandaian, melainkan nilai yang baik, menyogok pihak sekolah agar diterima di sekolah terbaik di kotanya, sampai akhirnya kuliah, lulus dengan predikat yang memuaskan, dan bekerja di perusahaan besar.
"ini loh bu, si Arif sekarang sudah bekerja di perusahaan xxx, gajinya 15 juta loh sebulan,"
"oowh" sontak ibu-ibu yang mendengarkan.
setelah perjuangan itu, akhirnya dengan bangga sang ibu menceritakan anaknya yang baru saja datang dari luar kota dengan mobil mewahnya. sang ibu merasa bangga atas kesuksesan anaknya,tlah berhasil menjawab tantangan tetangganya, entah itu bangga entah sombong. ibu tetangga yang dulu pernah menantang ibu tadi cuma manggut-manggut, namun di kepala ibu-ibu tetangga yang lain bercokol pemikiran rusak sehingga ikut pula mengaplikasikan konsepsi keduniawian kepada anak-anaknya,"sana belajar, biar pintar, dapet kerja yang bagus kayak anaknya ibu itu..!!!",

      suatu kebanggaan tersendiri memang mempunyai anak yang sukses seperti itu, hasil dari didikan yang keras dan disiplin, menciptakan obsesi-obsesi keduniawiaan di fikiran sang anak. dan itu memang hal yang begitu lumrah, namun ketika sang anak yang sudah sukses tadi perlahan mulai meninggalkan perintah agama seperti shalat, puasa dan orang tua memaklumi perbuatan dosa besarnya itu hanya karena kemakluman atas pekerjaannya yang begitu padat dan berat,mungkin karena sudah cukup suapan uang banyak dari sang anak tiap bulannya, naudzubilllah, apakah untuk ini kita hidup?

        sedangkan disudut rumah yang lain diacara pkk yang sama pula 10 tahun yang lalu, persis ketika sang tetangga bertanya tentang kehidupan ibu-ibu pkk yang lainnya, seorang ibu setengah baya berjilbab hanya terlihat tersenyum dan berkata,"Alhamdulillah bu, kami dikarunia kenikmatan yang cukup oleh Allah, saya tidak membebani anak saya untuk sukses di dunia, saya hanya ingin dengan didikan yang saya dan suami saya berikan kepada mereka, mereka menjadi anak yang taat agama dan bisa mengangkat kami ke syurga nantinya, tidak lain, dan tidak lebih, selain karena keshalihan mereka"

        sang ibu tadi dan suaminya mendidik anaknya sebagaimana tuntunan agamanya, berdisiplin waktu dalam beribadah dan menjauhi dosa, anaknya di sekolahkan di pesantren, yang putri sudah berjilbab sejak kecil, meski terlihat sangat sederhana, suara lantunan alqur;an tak pernah sepi bersahutan di rumah mereka ba'da maghrib dan subuhnya. sang anak pun pernah bertanya kepada orang tuanya,"umi, abi, pengen alif menjadi apa?, lalu jawab sang umi "umi pengen alif menjadi anak yang sholeh, yang hidup dengan Allah selalu di hati Alif, yang tidak terpukau kemilau dunia, yang selalu mendoakan umi dan abi agar bisa berkumpul bersama di syurga,

mungkin memang beda hasilnya, sang anak ibu tadi yang besarnya menjadi seorang direktur di perusahaan, mungkin sang anak ibu shalihah ini anaknya hanya menjadi tukang kayu, atau penjual roti keliling, namun tidak pernah absen shalat berjamaah dimasjid, rajin sedekah, dan jauh dari uang haram juga kemaksiatan.

*****

        dari kedua karakter cerita diatas, saya tidak akan bertanya kepada anda ingin menjadi apa keluarga anda kedepan, karena pasti jawabannya adalah keluarga yang sakinah mawadah warahmah, sukses dunia dan akhirat. namun saya hendak bertanya kepada anda, apa yang telah anda lakukan dengan keluarga anda, apakah mendekatkan mereka kepada titah Sang RAbbi, ataukah mengajak mereka kepada kemilau dunia yang merusak keluarga anda secara perlahan.

        wahai saudaraku, berkali-kali aku mendengar, dan aku merasakan sendiri, betapa keshalehan sangat jauh dan tidak bisa dipersatukan dengan harta, jabatan, dan semua yang berhubungan dengan keduniawian. aku mersa begitu dekat dengan Rabbku, merasa tenang, nyaman, dan shalih ketika kutinggalkan segala kemewahan hidup ini, namun ketika aku terjerumus pada obsesi keduniawiaan, ingin ini ingin itu. ingin menjadi ini, ingin menjadi itu. aku merasa sangat gersang dan panas, yang ada difikiran hanyalah bagaimana cara mendapat uang, lalu menghabiskannya untuk membeli ini dan itu. dan sedikitpun tidak terbersit kata 'Allah' di dalam hati, alih-alih mengingatnya, beribadahpun rasanya mudah untuk ditinggalkan.

       saudaraku, jagalah dirimu dan keluargamu, setidaknya terluput dari keegoisan dunia ini, sehingga kita tidak diperbudaknya, begitupun keluarga kita. memang benar harta adalah anugerah yang dapat mensejahterakan, namun untuk masalah hati dan jiwa, aku rasa satu-satunya cara untuk mensejahterakannya adalah dengan mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah dan meninggalkan keduniawiaan ini, dunia ini hanyalah sebagai secuil dari hidup kita, yang bisa menjadikan alasan bagi Allah untuk kita dimasukkan kedalam syurgaNya, atau menjadi penuntut kepada kita untuk nanti dimasukkan ke NerakaNya, semua tergantung kepada kita bagaimana memanfaatkannya.

          pernah aku berdiskusi hangat dengan salah seorang teman dekat saya tentang pentingnya ekonomi bagi kehidupan seorang muslim, dimana dengan kekayaan dia sanggup membantu ummat untuk kemashlahatan dakwah, benar saja, dia seorng aktifis taat, mungkin dia akan tetap istiqomah meski dikaruniai harta yang berlimpah sekalipun, namun bagi orang-orang yang belum istiqomah betul, harta akan menjadikannya bumerang kepada kenistaan. sekaya apapun abu bakar, hartanya dilihat sebagai harta ummat, sehingga membuatnya berinisiatif untuk mendermakan seluruhnya kepada ummat, begitu pula utsman ra, dan sahabat-sahabat lainnya, namun bagi kita, sanggupkah kita?

           kalau boleh berharap di dunia ini aku hanya ingin seorang istri yang shalihah juga keturunan yang shalih-shalihah, yang menjadikannya itu cukup bagiku di dunia ini, kebersamaan kita adalah pendekatan kita kepada Ridha Allah, cengkerama kita adalah ibadah kepada Allah, dan didikan kita adalah dakwah ilallah, tanp ada kata harta, jabatan, kedudukan, yang menyebabkan semua impian itu sirna ditelan keegoisan diri yang tertamaki.

              Allah Maha Besar, dan tanpaNya kita bukan apa-apa, namun tanpa kesadaran yang tinggi, kita akan melupakan Allah dengan segala kebesaraNya, lupa dengan NerakaNya, lupa dengan tuntutanNya nanti di Akhirat, sehingga hari kita dipenuhi oleh keinginan untuk melampiaskan nafsu keduniawian, setiap detik, setiap menit, hingga secara tak sadar ajal di depan kita, namun tak ada bekal sekalipun untuk persiapan perjalanan jauh itu, kembali kepada Allah pun sudah terasa sulit, bacaan shalat sudah lupa, bacaan alqur'an sudah lenyap di fikiran, ingin meminta bantuan kepada anak-istri kita, mereka telah lama meninggalkan kita dengan segala keegoisan dunia yang tlah kita ajarkan dan didikkan kepada mereka dulunya. apakah kita ingin tersiakan wahai sahabat?

segalanya terasa bagai syurga jika kita mau untuk mengukir semua itu dengan keimanan, dan keluarga adalah yang pertama,hidup itu bukan bagaimana kita akan menghabiskan, namun bagaimana kita akan menjalani. semoga kita selalu tersadar, bahwa keluarga adalah segalanya, dan tanpa ada perjuangan untuk menyelamatkan keluarga kita di akhirat kelak, kita bukan siapa-siapa bagi mereka.

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--