Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, April 5, 2012

kucari sebuah komitmen

       Pagi ini dingin masih menyeruak disekitarku, hingga terbuka  tabir mimpi untukku melanjutkan aktifitasku hari ini, sang mentari pun mulai mengintip dengan keindahannya dibalik ufuk yang entah berapa jauh jaraknya. dan aku masih terdiam diantara kabut pagi yang menyelusup rongga-rongga kecil kamar kosku, pandanganku tertuju ke awang-awang dan fikiranku melayang. 'Komitmen', kata itu terus membayangi setiap detik hidupku, bahkan lebih pekat dari bayanganku sendiri. bagaimana tidak, di umurku yang sudah 23 tahun ini aku belum sekalipun meresapi kata itu dengan segala penghayatannya. dan aku takut itu berimbas pada masa depanku. aku akan terlambat merasakan naturaliasi proses perkembangan diriku yang seharusnya berjalan secara alamiah..

           Benar, ini semua tidak terjadi tanpa sebab, namun apakah semua anak bungsu sepertiku memang slalu mengalami krisis kedewaasaan seperti ini?? perlukah aku slalu tampil bak seorang yang dewasa dan bijaksana sedangkan jiwaku malah semakin haus dibuatnya. tubuh bongsorku dan kemampuan komunikasiku pun masih tak sanggup menyimpan rasa ketidak berdayaan jiwaku.manja dan serba ketergantungan. mesipun begitu aku tak sanggup menyalahkan siapapun untuk keadan ini. karena pada dasarnya di dunia ini hanya ada aku dan Tuhan.yang lainnya hanya sanggup berkerumun disekitar fikiranku, sedang akulah yang menjalani, dan Allah yang memutuskan.namun terkadang ragu masih bersiul-siul didepanku, menyulitkanku untuk menatap dunia lebih dari tatapan biasanya.

         Dan menikah, itulah alasan aku mencari semua ini. aku masih normal untuk berhasrat menikmati perjalanan cinta dengan sebenarnya, dan dengan pertautan waktu yang entah kapan berhenti di dunia ini. aku harus segera mengetuk pintu ini. namun apa daya, sifat kurang dewasa yang masih melekat di jiwaku terlalu lemah untuk mencoba membuka dunia baru dengan sebuah komitmen yang penuh makna dan tanggung jawab.aku merasakan kesusahan untuk membuka satu pintu kebaikan ini dan godaan semakin menyesakkan dada. lalu, adakah jalan keluar untuk ini?

           Aku seorang lelaki, mempunyai 5 kakak lelaki yang semuanya mendidikku dengan kelaki-lakian, namun aku juga punya ibu yang kelembutannya mengalahkan didikan 5 kakak lelakiku ini, aku dimanja dan ditimang-timang sampai sejauh ini.mungkin inilah yan gmembuaku lebih baik menikmati kash sayang ibu dan terlelap dalam mimpi-mimpi indahku.dan dengan semua itu, ya, kuakui aku adalah seorang anak bungsu yang manja dan sering bersembunyi di ketek ibuku, namun hatiku slalu berontak untuk segera bangkit meninggalkan kehidupan yang buruk itu menuju komitmen yang penuh kedewasaan. aku ingin bersusah payah mencari nafkah, aku ingin bersusah-susah menimba ilmu. aku ingin menjadi manusia seutuhnya, aku ingn orang-orang menganggapku sebagai manusia dewasa. yang sampai sekarang, aku masih hanya sanggup membayangkannya.

       Adakah sebuah dorongan untukku bangkit dan bertindak? adakah komitmen yang mampu menggerakkanku untuk berlepas diri dari semua ketidak berdayaan ini? ataukah aku yang harus mendorong dan bergerak untuk orang lain? aku merasakan permainan dunia ini, dan dunia ini benar-benar kurasakan hanya sebagai sebuah mimpi buruk yang tak kunjung sirna.

         Mungkin aku benar-benar harus berinstropeksi diri. kalau memang keunian dan keanehan yantg kumiliki ini tak ada satupun yang menyukai, pasti  ada seseorang yang mampu memahami ini dan hanya dia. semoga ada secercah cahaya untukku di sana, yang jelas, semoga aku tidak menikah tua.

        Dan saat aku mencoba mengurai makna dibalik kata komitmen ini, aku tak mendapati sesuatu didalamnya selain ribuan tanggung jawab yang terikat oleh kebijaksanaan, sedang pintunya adalah kedewasaan, jendelanya adalah iman. tanpa kedewasaan tak mungkin aku berlaku b ijaksana. sedangkan kedewasaan hanya didapatkan dalam setiap action dan masalah yang dijalani, kedewasaan mungkin membuatku memandang sesuatu dengan pandangan yang lebih panjang, jauh dan luas, namun tetap dalam sehingga tercipta sebuah pemikiran dan sikap yang penuh pertimbangan, itulah bijaksana.dari situ mungkin aku akan mantab dalam membuat suatu komitmen dengan segala resiko dan tuntutan yang ada, berbalut keimanan dan ketaqwaan kuyakin membuat apa yang kujalani ini penuh makna dan terasa  ringan sekali, namun sayang, teori-teori yang kudapati itu hanyalah sebuah teori, karna aku  miskin action dan pengalaman. aku terlalu jauh berkutat pada pemikiranku dan duna imajiku sendiri, lupa dengan dunia nyata yang sedang kujalani ini. aku tertohok dengan konsep ilmu dan amal yang kudapati di kajian-kajian yang ku pernah kuhadiri, mungkin aku akan memulainya dengan awalan yang sedikit, sebagai perjuanganku untuk membuktikan bahwa aku manusia yang berkomitmen.

       Sebuah ketakutan dan keraguan, ya, mungkin itulah kendala yang selalu membayangi dan menghalangi orang-orang sepertiku untuk mencoba berubah ke arah yang lebih baik, hingga potensi exelent yang menggunung itu terlihat seperti seonggokan kubur di tengan sawah.  mungkin benar aku hanyalah manusia biasa yang takut salah dan mati, atau tersakiti. namun aku malu untuk takut pada ketakutanku sendiri bahkan pada kematian, bukankah aku seorang muslim, aku punya Alah, aku masih punya kampung halaman yang lebih baik setelah ini, syurga. ya RAbb, ijinkan aku mengaplikasikan semua ilmuku ini.

     Akui rasa hidup hanyalah sebuah mimpi yang penuh kabut nan mencekam, tugasku hanyalah mempersiapkan  mimpi-mimpi itu untuk bangunku di esok hari yang lebih segar dan menceriakan. aku minta maaf kepada seseorang yang nanti akan mengisi hidupku dengan izin Allah, bahwa kalau memang aku bukan yang   terbaik, aku berharap kau yang terbaik untuku, dan aku akan melakukan yang terbaik buatmu, meski bukan yang terbaik.

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--