Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, February 4, 2012

Selamat Jalan Bapakku..

           17 Januari 2012, ba'da dhuhur setibanya dari masjid, di luar kamar kosku terdengar ponakanku sedang menerima telepon dengan nada serius, tumben anak itu bicara serius, fikirku saat itu. tak berapa lama kemudian kamarku di ketuk dan namaku dipanggil-panggil, "om..om..aku karo kuwe dikon muleh bapak saiki, penting"(''om..om.aku dan kamu disuruh cepet balik ke rumah sekarang, penting''). aku sempat bingung mendengar berita dari ponakanku itu, balik sekarang?? dan alasannya pun belum jelas, sedangkan hari-hari itu aku sedang menghadapi ujian semesteran, aku mencoba menebak, namun aku belum berani memastikan, hingga hapeku berbunyi dan kubaca sms dari kakakku, ''la..pake tinggal..kuwe muleh karo dian saiki" (la..bapak meninggal dunia, kamu dan dian (ponakanku) pulang sekarang!), saat itu pula fikiranku mulai kacau dan mataku berkaca-kaca.. bapak..aku belum sempat meminta maap dengan beliau, dan beliau meninggalkanku secara tiba-tiba, 
       Waktu itu aku segera bergegas dan pulang dengan ponakanku ke kudus pakai sepeda motor. aku khaawatir aku terlambat datang dan belum sempat melihat jenasah beliau untuk terakhir kali, entah kecepatan berapa yang terlampaui sepeda motor yang kunaiki ini, aku benar-benar gak perduli. hujan sempat turun disepanjang jalan yang kami lalui, alhamdulillah, jam empat kurang seperempat aku sampai di rumah. 

        Sebelum benar-benar sampai di rumah, hatiku sudah gak kuat lagi, apalagi ketika masuk ke gang rumahku, di gangnya sudah ada bendera hitam, dan di depan rumahku ada tratak terlihat dari kejauhan. sesampainya di rumah, lekas aku masuk ke rumah, beberapa sanak saudara dan tetangga dekat sudah hadir disitu, ''bapak mana-bapak mana.??'' kutanyakan pada kakakku. kulihat jenazah bapak sudah terbungkus rapi di dalam keranda. beruntung tetanggaku membukakan kain kafannya untukku melihat terakhir kali.

         Air mataku tak tertahankan lagi, mengalir membasahi keringat dan debu yang menempel di wajahku dalam perjalanan Solo-Kudus tadi, aku menangis bukan karena dia meninggalkanku di dunia,aku paham usianya sudah semakin senja, dunia bukan tempat yang nyaman untuk mengukir kebahagiaan, namun aku menangis karena aku terlalu menyiakan pertemuanku dengan beliau sebelum-sebelumnya, kita memang tidak pernah punya hubungan komunikasi yang baik, dan aku kadang tak kuasa untuk bersikap tidak baik kepada beliau. aku menangis sejadi-jadinya ketika mengingat dosa-dosaku pada beliau, ku kecup kening dan ku usap-usap dahinya. beliau terlihat seperti orang tidur, dan wajahnya kelihatan lebih muda dari sebelumnya, ibuku menangis sesengukan di belakangku. aku beristighfar, ini bagian dari kehendakNYA.

        Bapak dimakamkan pada jam lima sore, beliau dikebumikan di samping makam kakakkuyang meninggal mendahului bapak sekitar 7 tahun yang lalu. kata kakak-kakakku, banyak sekali orang-orang yang bertakziah, aku pun maklum karena bapak memang dikenal banyak orang, bahkan para besan yang dari jauh, ada yang dari cepu, dan bangsri, jepara. itu datang ke rumah untuk bertakziah.

        Malamnya ketika prosesi pemakaman selesei, kita dan saudara-saudara yang lainnya berkumpul, aku agak tenang karena ibukku lebih tabah dari apa yang kubayangkan sebelumnya. waktu kumpul-kumpul itu kakak dan ibukku menceritakan bahwa bapak tidak sakit apa-apa, cuma kemarin sore beliau masuk angin dan muntah-muntah, itupun masih berangkat ke masjid. cuman malam harinya bapak muntah-muntah banyak dan tidak kemasukan makanan, hanya air minum. ketika subuh, ibu membopohnya ke kamar mandi untuk wudhu dan sholat subuh di rumah. pagi harinya bapak keliatan lesu namun tidak menampakkan tanda apa-apa, seperti sakit biasa. kakak-kakakku pun masih pada berangkat kerja. 

        Dan siang itu, ketika waktu dhuhur tiba, bapak minta dibopoh ibu ke kamar mandi, itupun bapak masih bisa mandi, buang air, dan wudhu sendiri, ketika di bopoh ibu ke mushalla rumah, bapak melemas, bapak terduduk di lantai, ibuk memanggil kakakku yang waktu itu pulang ke rumah istirahat kerja.kakak mencoba mengangkatnya untuk diposisikan shalat sambil duduk, sedang ibukku mengambilkan pakaian shalat, dan ketika ibu hendak memakaikan baju, tiba-tiba bapak roboh di pundak ibu, menghembuskan nafas terakhir beliau di dunia ini.

        Ada cerita menarik dari kematian bapak ini, bapak meninggal tanpa menyusahkan ibu dan anak-anaknya seperti yang kebanyakan orang tua lain lakukan, bahkan ketika dimandikan oleh kakak-kakakku, sedikitpun tidak ada kotoran yang keluar, karena sehari sebelumnya beliau sering muntah dan cuma minum air. ketika meninggal mulut bapak tertutup rapat. tidak menganga, bahkan matanya pun terlihat sayup, seperti tidur nyenyak.

     Cerita lainnya datang dari ibu, bulan januari itu tabungan bapak diambil semua dan dikasihkan ke ibu. kecuali disisakan sedikit untuk saldo. beberapa hari sebelumnya beliau masih sempat cukur rambut. sebelum meninggalnya katanya bapak slalu pengen dekat dengan ibu,ketika masakan ibu sudah matang, bapak mengajak mantu dan cucu-cucunya makan bareng. bapak juga pernah bilang ke ibu kalau bapak memaafkan semua kesalahan ibu, dan bapak minta maaf, kemudian berwasiat agar anak-anaknya jangan sampai meninggalkan shalat. bapak adalah orang yang keras dalam mendidik anak, itulah yang menyebabkan aku dengan beliau kurang lancar komunikasinya. namun sebulan sebelumnya ketika aku pulang ke rumah, sedikitpun beliau tidak memarahiku, tidak seperti biasanya. dan sore hari ketika bapak mulai sakit, bapak bilang ke ibu, mungkin sudah datang waktunya.

       Bapak dikenal sebagai orang yang supel dan sering shalat berjamaah di masjid, mungkin amal itu yang membuat bapak (insyaAllah) meninggal dalam keadaan yang baik, khusnul khatimah, dalam keadaan suci, hendak shalat di mushalla. bapak paling getol dalam urusan agama meskipun ilmunya tidak begitu hebat. dia seorang yang pemberani karena bentukan sedari kecil. para tetangga pun sering dinasihati dan dibantu sehingga masyarakat sekitar sangat menghormati bapak meskipun berbeda golongan (bapak MD, masyarakat NU).

       Sebenarnya setahun sebelumnya ada beberapa malam yang aku bermimpi tentang kematian bapak ini dalam waktu yang berurutan. akupun sudah mulai merasakan. karena sebelumnya aku pernah mengalami bermimpi tentang kematian kakakku dulu sebelum kejadian. setelah kejadian itu aku berusaha bersikap baik dengan beliau. meskipun terkadang watak sulit diubah.

       Ada sedikit rasa bangga berbalut kesyukuran melihat keluargaku tidak menangis berlebihan sepeninggal bapak, karena sebelumnya ketika tetanggaku ada yang meninggal, keluarganya menangis meraung2 memiriskan hati, alhamdulillah keluargaku terdidik agama secara baik, bapaklah yang mendidiknya, meskipun seringkali dengan cara kekerasan, beliau berprinsip bahwa pohon yang muda itumasih bisa diluruskan sebelum benar2 melengkung dan tidak bisa lurus lagi ketika dewasa.dan aku mencoba memahami bahwa banyak sekali sikap dan ucapan bapak mempunyai makna yang sangat dalam ketika kita mencoba mengambil maknanya, namun sangat berlawanan ketika kita hanya mengambil ucapan atau tingkahnya dari luar, dan pada akhirnya, itu semua terbuktikan dengan keadaan anak-anaknya sekarang yang alhamdulillah paham agama.

         Setidaknya ada tiga keluargaku yang meninggal dengan membawa begitu banyak keajaiban karena amalan khususnya, si mbah kakung ku dari ibuk, seorang yang jujur, bijaksana, dan teguh dalam beragama, beliau seorang aparatur desa yang menolak menghadiri natalan pada masa orde baru dulu, beliau pernah bercerita di datangi dua orang berjubah putih dan memberitahu kapan beliau akan meninggal, dan itu terbukti, yang kedua, kakak perempuanku, ahli shalat malam dan ahli shadaqah, meninggal ketika melahirkan dan dia juga punya firasat akan kematiannya, sehingga beliau merekam wasiat untuk keluarga. dan yang ketiga, ayahku, seorang ahli masjid, beliau meninggal dalam keadaan suci, ketika hendak shalat di mushalla, la haula wala quwwata illa billah. 

       Ada satu hikmah yang benar-benar kudapatkan dari kematian bapakku ini, dalam masalah pendidikan anak. terkadang aku melihat banyak sekali orang tua mendidik anaknya untuk menjadi orang yang sukses tanpa didukung didikan agama yang baik, toh akhirnya walaupun anaknya berhasil jadi orang sukses, mereka akan terlupakan ketika meninggal dunia, barangkali upacara pemakaman dibikin sehebat dan sehikmat mugkin, namun itu percuma nanti kalau mereka sedikitpun tidak mendoakan orang tuanya, padahal di alam kubur sang orang tua benar-benar menanti oase doa dari anaknya disetiap detik dalam kegelapan itu, berbeda dengan anak yang dididik dalam didikan agama yang benar, meski tidak begitu sukses di dunia, namun setiap shalat dia slalu ingat kepada orang tuanya sehingga dia tidak beranjak dari sujudnya melainkan dia mendoakan kedua orang tuanya yang tlah tiada. amal-amal shalih anaknya menjadikan perantara untuk memasukkanya ke syurga, bukankah itu hal yang menyenangkan dan menguntungkan masa depan kita??? semoga kita mau berfikir, didiklah anak-anak kita dengan didikan agama yang benar.

selamat jalan bapakku, semoga aku bisa meneruskan perjuanganmu dengan segala keteladanan baik yang kudapatkan darimu, semoga kita bisa berkumpul lagi bersama di syurga nanti, di kehidupan yang sebenarnya.dan semoga harapanku untuk menghadiahkanmu mahkota syurga dikabulkan oleh Allah..Allahummagfirlahu warhamhu wa'afiehi wa'fuanhu...

Karnadi bin Sutaman

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--