Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, January 14, 2012

Suhaib Ar-Rumi

      Dunia ini sangatlah melenakan, terkadang sampai sibuknya kita dengan urusan dunia, kita merasa dengan amalan tertentu kita sudah dapat tiket syurga Allah, padahal bukan karna banyaknya pahala kita akan menjadi golongan para ahli syurga, namun dengan Ridho Allah, dengan senyuman Allah kepada kita, yaitu dengan keteguhan kita menjaga iman, kecintaan kita kepada Allah dengan diikuti permusuhan kepada musuh-musuhNya, pengorbanan dan ketaatan kita kepada Allah, sehingga kita berjalan di dunia ini dengan penuh kehati-hatian, apakah tindakan kita ini sesuai dengan ajaran Rasulullah sehingga diterima di sisi Allah sebagai amalan baik atau bukan.
       Implikasi orang yang mencari ridho Allah adalah jika dia meninggalkan sesuatu yang bernilai besar di dunia demi mendapatkan ridho Allah, jika dalam pekerjaannya tidak mendapatkan ridho Allah, dia melepaskan pekerjaan itu tanpa menyesal sedikitpun atas gaji besar yang dia relakan itu, hanya untuk mendapatkan ridho Allah. mungkin kita masih ragu bagaimana sih gambaran orang-orang yang mendermakan dirinya kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan tanpa ragu, mari kita simak kisah berikut ini.

         Keadaan ummat islam di mekkah pada tahun ke empat nubuwwah, pasca dakwah terang-terangan yang dilakukan Rasulullah sangat mengkhawatirkan, penghinaan, pelecehan, bahkan penyiksaan yang tidak ringan dialami oleh para pengikut rasulullah. ummat islam mengalami tekanan dan intimidasi sedemikian rupa sehingga membuat rasulullah merasa khawatir dengan keadaan ummatnya. para pengikutnya pun sejak awal sudah menyadari bahwa dengan menerima Islam yang didakwahkan Rasulullah, itu berarti mereka menantang bahaya dan maut. namun juga mereka paham bahwa dakwah Rasulullah dimaksudkan untuk melenyapkan kehidupan jahiliyah yang bodoh dan aturan yang semena-mena. Rasulullah pun tetap melanjutkan dakwah di tengah halangan dan rintangan para musyrikin Quraisy, Rasulullah mendelegasikan beberapa sahabat ke Habasyah, kemudian ke Thaif, mendakwahkan Islam ke kabilah-kabilah yang sedang menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. sembari menunggu wahyu mengenai perihal ini. ada yang bersedia masuk Islam, namun banyak juga yang menolak. benih-benir pencerahan muncul ketika dua belas penduduk yastrib masuk Islam dan berbai'at kepada nabi untuk pertama kali di Mina pada musim Haji. kemudian setelah itu mereka kembali ke yatsrib bersama dengan Mushab bin Umair, Duta delegasi Rasulullah untuk mendakwahkan islam di yatsrib dengan para ahli bai'at.


      Sebelum musim haji tahun ketiga belas nubuwwah, Mush'ab bin Umair kembali ke Mekkah dengan membawa berita gembira perihal keberhasilannya mendakwahkan Islam di Yatsrib dan keadaan penduduk Yastrib yang sudah mempunyai kekuatan untuk memberi perlindungan kepada ummat muslim di Mekah. sehingga pada musim haji ketiga belas, lebih dari tujuh puluh muslimin yatsrib pergi ke mekah untuk  berhaji dan berbai'ah kepada Rasul dengan cara sembunyi-sembunyi.

        Dengan semakin banyaknya orang-orang yang masuk islam dan berbaiah kepada Rasul,semakin besar pula kekuatan Islam di luar Mekah, maka Rasulullah memerintahkan ummatnya untuk hijrah ke Yastrib, sekelompok demi sekelompok ummat muslim Mekah berhijrah ke Yatsrib sembunyi-sembunyi, begitupun Rasulullah,

        Dialah Suhaib Ar Rumi, sebenranya dia bukanlah orang Romawi, dia adalah seorang keturunan arab yang sedari kecil di tawan dan dijadikan budak oleh orang romawi, ketika dewasa, dia melarikan diri ke arab setelah diceritakan oleh seorang nasrani bahwa ada seorang Nabi di Arab. sesampainya di Mekah dia berdagang sampai dia menjadi saudagar kaya. kemudian bertemu dengan Rasulullah dan masuk islam bersamaan dengan kawan karibnya, Arqam bin abil Arqam waktu itu. dia juga merasakan dera siksaan dari orang-orang Musryikin Quraisy sebagaimana para sahabat lainnya. dia slalu ikut dalam majelis rasulullah di rumah sahabatnya Arqam.

       Ketika mendengar perihal hijrahnya para muslimin dan Rasulullah ke Yatsrib, Suhaib ingin sekali pergi menyusul Rasulullah ke Yatrib, maka dalam suatu waktu yang dikira aman, dikumpulkannya semua harta dan diringkas  menjadi beberapa karung bersisi emas yang di angkutkan ke onta-ontanya. Suhail berangkat dengan empat ekor ontanya yang masing-masing onta membawa dua karung emas.namun ketika sampai di perbatasan, karena kaum quraisy mendapat informasi mengenai keberangkatannya ke yatsrib, dicegatlah si suhaib ini, sehingga terjadilah perbincangan yang sangat hebat:

musyrikin quraisy : "hendak kemana kamu wahai suhail?"
suhaib : "aku hendak ke Madinah, menemui kekasihku, Rasulullah"
musyrikin quraisy : " kamu hendak ke madinah untuk menemui si shaabi'* itu?"
suhaib : "iya benar. saya akan menyusul beliau."
musyikin quraisy :" lalu apa yang ada di bawa oleh onta-ontamu itu, ?"

lalu ditusuklah karung yang dibawa oleh-onta suhaib ini hingga sobek dan keluar dinar emas dari karungnya. membuat kaget para orang-orang quraisy ini.

Musyrikin quraisy : "emas ini...??"
Suhaib :"ya benar, ini adalah kekayaanku semua"
Musyrikin Quraisy :" itu seluruh kekayaan yang akan kau bawa menyusul kekasihmu itu?"
Suhaib: "iya, benar"
Musyrikin Quraisy: "kami belum gila suhaib untuk membiarkan kamu berangkat ke Yatsrib dengan seluruh kekayanmu ini.kamu boleh pilih salah satu diantara tiga pilihan yang kami tawarkan, satu, kamu boleh tetap tinggal di mekah, hidup enak, mapan, berfoya-foya dengan seluruh kekayaanmu, tidak akan kami ganggu sepeserpun, akan kami lindungi, atau kalau kamu tetap ingin pergi ke yatsrib kamu harus menyerahkan seluruh kekayaan beserta ontanya, kamu boleh pergi hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhmu itu, jalan kaki. atau kalo kamu tidak mau memilih keduanya, kami bunuh kamu sekarang juga."
Suhaib: (tersenyum);"jadi kalau saya tinggalkan seluruh kekayaan ini, tuan-tuan akan membiarkan saya pergi ke yatsrib menyusul Rasulullah muhammad kekasihku?"
Musyrikin Quraisy:"ya.."
Suhaib:"saya memilih tetap pergi ke Yatsrib"

      Kemudian dia berangkat jalan kaki ke yatsrib meninggalkan seluruh harta dan ontanya begitu saja karena hendak mencari ridho Allah. Suhaib mempercepat parjalanannya Dengan membawa iman dan kecintaannya kepada Rasulullah, dia melarikan diri untuk menuju Allah tanpa menghiraukan harta kekayaan yang dikumpulkannya semenjak muda. Tak sedikit pun dia menyesali. Setiap kali rasa capek menggoda, dia mengingat-ingat rasa rindunya kepada Rasulullah SAW. Bila sudah begitu, bangkit lagi semangatnya untuk melanjutkan perjalanan. dan benar saja, belum sampai di Madinah ayat sudah turun kepada Nabi Muhammad, pujian atas pengorbanan Suhaib mencari Ridho Allah.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqarah: 207).

Sesampainya di Quba’, Rasulullah menyambut Suhaib Ar-Rumi dengan wajah berseri-seri seraya berkata berulang-ulang, “Ya Abu Yahya (maksudnya Suhaib Ar-Rumi) untung besar perniagaanmu…”
Bukan main suka cita hati Suhaib. Wajahnya cerah ketika berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada orang yang mendahuluiku. Berarti tak ada yang memberitahu Anda Kecuali Jibril ‘alaihi salam.”

begitu besar perjuangan dan pengorbanan yang Suhaib jual kepada Allah, dan benar, dia mendapatkan keuntungan besar dalam perniagaan ini, semoga kita bisa mengambil hikmah dan meneladani sifat-sifat terpuji yang sulit sekali kita temukan sekarang ini, Wallahu a'lam bisShowab.

ket: - Yatrib = Madinah
      - Shabiiq= orang-orang yang meninggalkan agama nenek moyang

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--