Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Friday, January 6, 2012

Stagnasi hidup...

siang tadi seperti biasanya aku pergi ke warung hijau dekat kosan hendak membeli sarapan. setelah mencuci muka, aku melangkahkan kaki menuju ke warung tersebut. selangkah demi selangkah kunikmati  setiap gerak kaki beserta pandangan yang menerawang ke berbagai arah, tiba-tiba fikiranku menerawang ke sesuatu, oh ya, kemarin aku melakukan hal yang sama seperti ini, cuci muka kemudian berjalan ke warung makan itu lalu kembali lagi, bahkan hari-hari sebelumnya, dan sebelumnya, ternyata aku melakukan hal sama yang berulang-ulang dalam hidupku.
begitu juga kurasakan beberapa tahun lalu sebelum aku kuliah disini, saat aku mengenyam pendidikan non formal disalah satu lembaga bimbingan, aku mengayuh sepeda dengan jarak kurang lebih sembilan kilometer sambil menyeka keringat dan terkadang menutupi wajahku yang menjadi bulanan mentari atas sinarnya itu. aku melewati jalan desa alternatif yang penuh kubangan juga berkelak kelok, dengan arah yang sama juga keadaan yang tidak jauh berbeda. hingga tak terasa aku melakukan hal tadi berulang-ulang dalam jangka waktu setahun, sampai aku lulus di lembaga tersebut.

aku terperanjat, seperti inikah alur kehidupan itu, aku membayangkan bagaimana ibukku selalu berada di rumah menjaga keluarga, belanja, memasak, jarang sekali bepergian dari sejak menikah sampai mempunyai tujuh anak, sampai mempunyai belasan cucu. tidakkah beliau merasa bosan. sangat berbeda sekali dengan orang-orang yang super sibuk, yang hampir setiap hari melakukan perjalanan ke luar kota bahkan keluar negeri. lantas apa perbedaan diantara keduanya.

ketika aku mencoba memahami, aku mendapati bahwa perbedaan diantara keduanya adalah landasan perilakunya.sebab prinsip yang menjadi alasan kenapa keduanya melakukan hal seperti itu. ibukku mungkin begitu paham bahwa tugas seorang istri adalah berada di rumah dan menaungi keluarga, mungkin itu saja sudah cukup baginya untuk mendapatkan kebahagiaan dan ridho dari Allah, namun ada juga seorang ibu yang melakukan semua itu dengan terpaksa, mungkin sambil mendongkol dan cemberut karena ketidak sukaannya dengan apa yang dijalaninya.

terkadang kita salah menilai arti hidup ini, kita sering terlalu memikirkan perubahan dan perkembangan keadaan yang ada sehingga lupa dengan jati diri yang sebenarnya, yaitu hidup untuk mengabdi. stagnasi kehidupan bukanlah ketika kita hanya melakukan suatu perbuatan secara berulang-ulang, namun ketika kita tidak mendapatkan esensi dari apa yang tlah kita lakukan selama ini, yaitu ridho Allah. itulah yang dinamakan stagnasi itu. sebenarnya kita gak butuh maju. karena dengan berusaha untuk menjaga pengabdian diri kepada Allah, sudah merupakan kemajuan yang besar. itu terlihat bagaimana mudahnya manusia sekarang memperkaya dirinya, mensukseskan dirinya, namun untuk sekedar shalat berjamaah di masjid, itu terasa berat sekali. bagaimana orang yang menghabiskan hartanya demi sebuah gaya hidup yang dibilang 'ngetrend' itu lebih mudah dilakukan daripada hanya menyisakan beberapa persen gajinya untuk dishadaqahkan setiap bulannya. mungkin dari sini fikiran kita lebih mudah memahami arti 'kemajuan'.

pernahkah kita memandang bahwa hidup ini begitu singkat? hingga sangking singkatnya kita tidak sadar telah mengalami perubahan dengan umur yang semakin menua. orang-orang terdekat perlahan meninggalkan kita satu-persatu dan menanti giliran kita mengikuti mereka. namun kenapa dengan kesadaran yang seperti itu tidak diikuti dengan perubahan perilaku. terus saja menjalani kegiatan yang mungkin bagi orang lain terlihat sangat hebat, namun bagi Allah itu tidaklah bermanfaat. alias sia-sia. mungkin hal seperti itu yang membuat  para sahabat dan para tabiin dulu benar-benar menjauhkan diri dari kesibukan dunia meski mereka sangat berpeluang untuk menguasainya. contohlah Abu Bakar r.a, beliau dengan mudahnya menyerahkan semua harta bendanya di jalan Allah dan hidup dengan kesederhanaan (mungkin orang sekarang melihatnya sebagai orang yang kekurangan), lihatlah khalifah Umar ibnu khattab r.a, kepemimpinannya sama sekali tidak merubah gaya hidupnya yang sangat zuhud, hingga bukan bintang pangkat yang melekat di baju kepemimpinannya, namun tambalan.

stagnasi hidup, aku tidak akan mendefinisikan itu dengan definisi pada umumnya
karena banyak orang merasa maju, namun tidak memiliki kemajuan kesabaran..
sebagaimana sekarang orang yang mengaku beradab namun paling jauh dari adab..

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--