Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Wednesday, January 11, 2012

Perda Miras dicabut, mau dikemanakan negeri ini???

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Semoga Allah melaknat khamr, peminumnya, yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, pemerasnya, orang yang diperaskannya, orang yang membawanya dan orang yang dibawakan kepadanya'." ( Abu Daud dan Ahmad)

    Baru-baru ini rakyat indonesia berasa kesetrum ngeliat berita di tipi kalau Mendagri, Gunawan Fauzi menghapus 9 perda tentang miras dari 351 perda yang dulunya tlah disahkan dan disetujui, pencabutan itu berlaku di kota Tangerang, Bandung, Banjarmasin, Balikpapan, Sorong, kabupaten indramayu, Manokwari, Maros, dan provinsi bali. katanya sih cuman dievaluasi agar merujuk langsung pada UU yang lebih tinggi, yakni Kepres nomer 3 tahun 2002, tapi masalahnya sampe kapan tu evaluasi berjalan dan berstatus jelas dalam hukum, dan kenapa harus dicabut padahal mereka sendiri yang mensahkannya???

    Sebagai seorang rakyat yang berhak mendapat jaminan keamanan fisik dan moril di negeri ini, perlu kita mempertanyakan segala kebijakan-kebijakan pemerintah yang sama sekali tidak menguntungkan rakyat dan tidak mencerminkan 'demokrasi' sebagaimana yang digembar-gemborkan pemerintah saat kampanye, taruhlah pencabutan perda pelacuran, so, dari sisi mana rakyat harus memahami itu sebagai suatu ketertiban dan kenyamanan umum jika prostitusi merebak dan meracuni generasi muda? tampaknya kita memang harus mempertanyakan tujuan demokrasi yang sebenarnya dalam masalah kerakyatan, karena dalam implementasinya, demokrasi hanya dijadikan tunggangan untuk menimang-nimang para pejabat tinggi dengan keringat, darah, dan nyawa rakyat indonesia sendiri.

    Miras adalah minuman dengan tingkat kadar alkohol tertentu yang menyebabkan seseorang jauh dari kesadaran dan lepas dari kendali diri, biasanya orang yang minum miras lebih cenderung bersikap impresive dan sensi, alias mudah tersinggung, perkosaan, tawuran, pengrusakan, dan juga tindak kriminalitas lain terjadi seringkali karena efek dari mabuk yang ditimbulkan miras tersebut, so, mari kita sedikit memandang kedepan tentang bahaya pencabutan perda miras dilihat dari sisi sosial juga kerakyatan.

yang pertama, semakin banyaknya produksi dan transaksi miras di Indonesia yang akan menimbulkan efek buruk bagi masyarakat. karena masyarakat lebih mudah mendapatkan barang haram tersebut tanpa harus kucing-kucingan dengan polisi. seorang pelajar jadi tidak takut beli miras, seorang yang sedang punya masalah bisa langsung lari ke miras. dan yang jelas akan mengakibatkan turunnya semangat kerja karena merasa mudah mendapatkan perkerjaan hanya dengan menjual miras. mau dibawa kemana generasi penerus ini??

yang kedua, semakin tingginya angka kriminalitas di negeri ini, ada sebuah sebutan 'menasihati orang mabuk itu kayak ngomong sama anjing' tidak akan digubris dan malah bisa mengakibatkan pemabuk itu emosi dan main anarki. tentunya itu perlu mendapat sorotan khusus bagaimana semakin merajalela miras di Indonesia, itu berarti semakin rendah moralitas bangsa, semakin banyak orang mabuk maka semakin banyak pula orang-orang yang tidak sadar akan jati dirinya, sehingga berbuat sesuka mereka tanpa sedikitpun terselip rasa takut, bahkan iba. maka tak khayal tindakan perkosaan, tawuran, pembunuhan, pengrusakan, dan kekerasan lainnya akan semakin tinggi, yang ujung-ujungnya akan ada kekebalan hukum karena saking banyaknya peristiwa kekerasan yang diakibatkan oleh efek miras tadi. para aktifis HAM dan LSM akan semakin puyeng karena banyaknya aduan, aparat juga semakin capek karena seringnya menangkap para pemabuk, indonesia akan semakin rusak karena peraturan pun lama-lama jadi melembek. siapa yang paling pantas disalahkan?

yang ketiga adalah meningkatnya tingkat keresahan masyarakat. itu jelas sekali terlihat bagaimana nantinya kita akan mendapatkan para pemabuk berkeliaran di tempat-tempat umum dengan segala kelakuan jelek yang mereka perlihatkan ke orang-orang. bagi orang tua takut sekali kalau anaknya yang masih pelajar sudah suka mabuk-mabukan, takut kalau anak perempuanya menjadi korban para pemabuk. mengerikan sekali mendengarnya, itu terlihat seperti para zombi yang berkeliaran memangsa manusia di malam hari, semakin bertambah dan semakin bertambah. tidak ada tempat aman bagi rakyat indonesia di negeri sendiri, kecuali mereka ikut rusak sebagaimana keinginan pemerintah menyangkut keputusan ini. kalau seperti ini rakyat terlihat seperti budak jaman yunani, persis sekali, kita hanya terlihat seperti budak-budak demokrasi yang tidak bisa mendapatkan jaminan kebahagiaan. kita diwajibkan bayar pajak dan mematuhi hukum yang ada, namun kenyataannya pajak rakyat disalah gunakan orang-orang atas dan hukum dijadikan alat untuk semakin menikam rakyat, siapa yang paling diuntungkan pada kondisi seperti ini.

dan alasan yang terakhir adalah ini tak ubahnya seperti ancaman bagi rakyat indonesia yang notabene berpenduduk muslim terbesar di dunia, bukan hanya ancaman fisik menyangkut kekerasan para pemabuk nantinya, namun juga ancaman moril, yang merembet kepada rusaknya keimanan yang seharusnya dijaga, hal ini tentu akan semakin mempersulit umat islam untuk menjalankan ibadahnya dengan aman dan nyaman dibawah payung negeri ini, menerkam dan menggerogoti moralitas dan jati diri seorang muslim yang sebenarnya. tidakkah itu menjadi PR buat pemerintah yang notabene kemerdekaan bangsa Indonesia adalah kiprah dari para santri dan ummat islam.

    semoga dengan ini, hendaknya kita lebih interopeksi diri, dan berusaha menjaga diri masing-masing dari segala kebijakan-kebijakan yang merugikan dan perlakuan-perlakuan yang tidak menyenangkan yang nantinya akan kita terima dari keputusan ini, benar-benar sangat dilematis memang, karena semakin kita mentaati peraturan yang ada, semakin terasa pula diskriminasi dan ketidakadilan yang diberikan kepada kita. namun tetap kita harus beramar ma'ruf nahi mungkar. menyuarakan kebenaran dan menolak kebatilan di negeri yang kita cintai ini khususnya. wallahu a'lam bisshowab.

Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--