Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Monday, January 16, 2012

MeNCoNtek,?? gak deeh...!!!

   minggu-minggu ini aku akan menghadapi ujian semester ganjil, temen-temen kuliah pun pada rame bikin status di fb tentang strategi nyontek dan bekerja sama dengan temen-temen yang lain, melihat hal itu aku jadi ingin menulis tentang seluk beluk percontekan yang pernah meracuni hidupku ini.

   sebenarnya dulu aku adalah seorang pecandu contekan tiap kali menghadapi ujian, bahkan jauh sebelum temen-temen yang lain menyadari 'enaknya' membuat 'cacil' atau catatan kecil waktu SD, aku sudah mahir membuat itu tanpa diketahui guru pengawas.hehehe, namun sejak mulai kuliah, aku tidak pernah lagi mengaplikasikan jurus-jurus tebang otak itu, karena aku menyadari efek negatif yang ada dan memang sudah saatnya untuk berubah, jadi setiap kali ujian, sesulit apapun mata kuliah itu, aku tetep gak akan menyontek. malah sekarang aku yang geleng-geleng tiap kali liat para mahasiswa pada berekspansi mata saat ujian, ternyata tingkah orang-orang yang nyontek itu lucu juga..hohoho. mau tau kenapa aku berhenti melakukan itu, mari kita sibak tirai kegelapan itu.
1, menyontek membuat kehilangan rasa percaya diri.
      pernah suatu kali aku mendapat tempat duduk disamping temen yang ber-indeks prestasi mumpuni waktu itu, sekitar 3,4 atau 3,5-an gitu deh, aku lega waktu itu, karena nantinya bakal aman dari colekan-colekan atau humming-humming di sekitar tempat dudukku. dua godaan saat ujian yang kerap kali melandaku adalah godaan untuk menyontek, dan godaan karena diganggu temen minta dicontekin sama kita. nah itu dia masalahnya, saat aku mulai konsen dengan soal-soal yang ada, tiba-tiba terdenganr suara 'sstt...sstt..maul...!!!', kucari sumber suara itu, waduh, bukan maen kagetnya, ternyata si mbak ber-IP tinggi itu minta dicontekin ama aku, spontan aku hanya menanggapi dengan 'belom' sambil nyengir kuda. memang sih waktu itu mata kuliah yang diujikan lumayan memeras keringat. tapi gak segitunya kali. seperti diantara hidup dan mati aja tuh mbak.hehehe..

2. menyontek membuat kita slalu bergantung dengan orang lain.
    kalau yang ini sudah pasti dipastikan iya, masalahnya dengan ketiadaan rasa percaya diri ketika akan menghadapi ujian, mata kuliah yang lumayan gampang pun terasa sangat horor ketika diujikan, masak soal argumen aja kudu minta dicontekin..haduuuh..ni anak, pernah suatu saat menjelang masuk ke ruang ujian, ada temen yang bisik-bisik ke aku, "eh, ntar aku duduk di belakangmu ya, jangan ditutupin kertas jawabannya", aku jawab aja,"tau deh entar..", padahal dalam hati aku pun sebenarnya gak begitu bisa menjawab soal, tapi entah kenapa persepsi orang kalau dia enggak minta contekan, berarti dia pinter dan bisa jawab soal, lumayanlan kalo emang iya, berarti rating ku naik di mata temen-temen..hagahaghag..

3. menyontek merendahkan harga diri kita.
    kalau pengen bukti, perhatikanlah perilaku mereka yang suka mencontek itu, belum masuk ruang ujian saja sudah mulai pucat mukanya, liat-liat keadaan kelas mencoba mencari celah untuk bergerilya nanti, temen-temen yang briliant pun mulai di deketin dan dirayu-rayu biar mau meluangkan sedikit waktu untuk memberi bantuan, emang siape yang mau dirugiin.hehehe..ketika masuk ruang kelas, dia langsung duduk dan meletakkan catatan-catatan kecil buah karya semalam, entah di tempati dimana aja, yang jelas tempatnya aneh semua, tapi lumayan kreatif sih.hehe., hebatnya lagi, ketika lembar kertas soal dan jawaban sudah dibagikan, sudah mulai pengerjaan soal. harusnya kan pengawas yang mengawasi para mahasiswa yang sedang ujian,tapi yang ini beda, malah si doi yang slalu ngawasin gerak gerik pengawasnya, berharap sang pengawas mendapat telfon, membaca koran, atau diajak ngobrol dengan pengawas kelas lain.hahaha..

kalo udah begitu, mulai dek bergerak, menggerak-gerakkan kepala bak senam SKJ taon 90-an, mulutnya bersuit-suit ria sambil sesekali sang mata tajam fokus ke arah pengawas, jari-jari berputar menekuk kesini-dimari buat kasih kode soal. lebih lucu lagi kalo pas buka catatan kecil yang disimpen di kaos kaki atau rak meja,hehehe..ngeliat gaya mereka bukannya bisa fokus ngerjain soal yang ada malah pengen tawa cekikikan.
so, kalau kita perhatikan mereka, lama-lama pandangan kita kepada temen yang suka mencontekpun jadi beda, karena orang yang didekat kita adalah orang yang seharusnya bisa menyokong kesuksesan kita, bukan yang kita sokong kesuksesannya (begaya pak mario (^-^) ), maka perilaku mereka sedikit banyak membuat suatu warning line di fikiran, jadi ketika ada semacam tugas atau kerjaan kuliah, pasti langsung bunyi tuh alarm 'awas dimanfaatin ama tuh orang', nice,,akhirnya kita jauhin dia toh, nah..bagaimana kalo yang nyontek itu kita? lalu bagaimana penilaian orang kepada kita? so, jauhin deh tu kebiasaan buruk.

3. menyontek membuat kita malas.
     bayangkan apa yang difikirkan oleh orang yang hobi menyontek ketika akan menghadapi ujian, malamnya bukan sibuk mencari-cari catatan tapi malah bikin contekan, hebatnya, seharusnya dia mengerti apa yang di catat di contekannya itu, tapi mengapa dia gak paham sama sekali, karena yang ada difikirannya hanyalah waktu yang pas buat membuka contekan, bukan apa isi contekan itu. apalagi buat materi-materi bahasa inggris yang pastinya lebih bikin susah, rasa tawakal orang-orang ini menjadi lebih tinggi dengan mengatakan "aah, besok nyontek si anu aja ah..!!", akhirnya ni orang bermain ngelayap gak belajar. so, sebetulnya bukan masalah belajar atau tidak belajar yang kita amati disini, namun lebih kepada kebiasaan yang akan mempengaruhi sikap kita nanti ketika berada di dunia kerja, akhirnya ya seperti point-point di atas, malas, gak pede, trus menggantungkan diri ke orang lain. kasihaan.....

4. penyontek gak pernah puas.
   sebenarnya orang yang suka mencontek itu tidak pernah berfikiran untuk mendapatkan nilai terbaik dari ujian yang diajukan, karena dia sulit untuk mendapatkan itu.dia hanya berkiprah untuk menghindari nilai buruk, selesei ujian, ya sudah, tidak ada rasa penasaran untuk membuka catatan menjawab soal yang sulit, tidak ada ekspresi lega ataupun deg-degan. datar aja...dan kalaupun dia mendapatkan nilai baik dia tetep biasa-biasa saja, karena nilai itu dihasilkannya bukan dari buah fikirannya sendiri, melainkan berkompilasi antara contekan temen yang satu dengan temen yang lain, sehingga dia tidak pernah tahu tingkat intelektual ada pada dirinya, so, tidak akan pernah ada perubahan diri ke arah yang lebih baik.

5 menyontek itu memalukan.
      bayangin jika kita kepergok nyontek di ruang kelas, trus kerjaan kita dicoret sama pengawas, mana diliatin orang sekelas lagi, ancur deh martabat yang ada. manyun...lucu lagi kalo nyonteknya itu asal-asalan, jadi kata-katanya itu tertulis seperti apa yang dilihat dari kerjaan temennya, mungkin karena agak jauh dan pandangan terbatas ditambah lagi keterbatasan waktu, jadi apa yang dilihat ditulis saja tanpa ada koreksi terlebih dahulu, apalagi kalau materi bahasa inggris, boro-boro ngoreksi dulu, paham aja kagak. nah pernah bayangin gak begimane ekspresi dosen ketika mengevaluasi kerjaan kita, bukannya dikasih nile malah dikasih tawaan, lah tulisannya aja kacau dan gak sistematis gitu, malah gak nyambung maksudnya babar blas. keliatan banget kalau nyontek. beruntung gak disinggung waktu di kelas, kalau disinggung, rating turun coy.hehe

     salah kalau menganggap bahwa menyontek itu lambang keberanian, itu hanyalah kenekatan yang sama sekali tidak punya dasar. buat apa kita capek-capek mempermasalahkan nilai kalau ternyata tidak bermanfaat sama sekali buat diri kita, sekolah itu tidak hanya untuk sebuah prestasi akademis, namun lebih kepada pembentukan karakter menuju seorang intelektual sejati yang berusaha memperbaiki dirinya dan mengaplikasikan pengalaman-pengalaman intelektualnya untuk pembangunan ke arah yang lebih baik, yang akan menyebabkan bermunculan orang-orang yang jujur dan haus akan ilmu pengetahuan, bukan hanya soal nile, kalau kita hanya memeprsoalkan nilai, bisa-bisa nantinya kita masuk berita karena berhasil menjadi pejabat pemerintah atau anggota dewan karena prestasi kita, namun akhirnya terlibat korupsi dan menyengsarakan rakyat, lalu buat apa pendidikan bertahun-tahun bahkan sampai ke luar negeri kalau sedikitpun esensi intelektualitasnya tidak muncul dari dirinya. sia-sia, mending gak usah sekolah saja.

   percayalah bahwa Allah slalu berada didekat kita, apalagi dengan kejujuran dan sportifitas kita ketika mengerjakan ujian, itu membuat kita punya alasan untuk dimudahkan oleh Allah dalam melewati masa sulit itu. mantabkan diri, dan berdoa, belajarlah meskipun kita tidak begitu briliant untuk memahami materi, setidaknya dengan kehendak Allah mungkin tiba-tiba materi yang kita pelajari tadi malem keluar dan melintas dengan sempurna di fikiran kita, bagaimana kita akan dibantu oleh Allah kalau belajar saja tidak. sangat tidak mungkin, dan itu sungguh logis. percayalah Allah akan menolong kita, aku sendiri sering merasakan akan bantuan Allah dari itu semua, pernah dalam suatu mata kuliah yang lumayan horor di perkuliahan kita, mata kuliah Curriculum of Material Development, waktu menjelang ujian, teman-teman pada ribut, ada yang bawa catatan, ada yang kongkalikong antar teman. sedang aku mencoba belajar sebisanya dan yakin dipermudah oleh Allah, tak dinyana soalnya cuma 4 dan tidak ada di dalam kopian, melainkan dari apa yang di jelaskan sang dosen saat kuliah, beruntung aku membaca catatanku sebelum masuk ke ruang ujian, dan benar saja, saat dibagikan hasil ujian oleh dosen, teman-teman yang lain mendapat nilai tak lebih dari 50, ada yang dua empat, tiga lima, dan lain-lain, tidak disangka aku mendapat nilai tujuh puluh, padahal belajarku tidak begitu maksimal kala itu, namun ketika mengerjakan seolah fikiran sudah dituntun untuk menjawab setiap soal, dan banyak lagi kejadian-kejadian hebat lainnya, buah hasil dari kejujuran, karena sadar atau tidak, orang yang jujur ketika ujian benar-benar tinggi rasa tawakal dan rasa kebergantungannya kepada Allah, dia berdoa mudah-mudahan jawabannya tepat seperti yang diharapkan. dan Allah slalu malu untuk tidak menjawab doa hambanya yang berusaha menjadi baik karenaNYA, tapi di sisi lain, Allah murka kepada hambaNYa yang tidak taat padanya. so, kuncinya adalah, yakin, berusaha, berdoa, kemudian menerima hasil yang ada.

    kita sekolah bukan untuk mencari uang pren, mungkin kita memahami perkataan orang tua 'sekolah yang tinggi biar jadi orang sukses' secara harfiah saja, sehingga dalam perjalanannya kita berusaha mendongkrak nilai kita agar mudah diterima waktu melamar pekerjaan. kita mungkin lupa bahwa dalam pekerjaan, nilai kita hanya berpengaruh beberapa persen untuk karir kita, itu saja hanya berlaku ketika job interview, namun sebenarnya skill kita sendiri lah yang akan berpengaruh, dan kepribadian kita, kita mampu dan kita jujur dalam bekerja, maka kita akan naik jabatan karena kepercayaan yang diberikan kepada kita. jujur saja tanpa kemampuan diri, itu akan membuat kita terdepak karena kita tidak mumpuni dalam pekerjaan. namun kemampuan diri tanpa kepribadian baik membuat suatu kehancuran sendiri bagi perusahaan yang anda tempati, akhirnya andapun juga terdepak untuk mengantisipasi kehancuran perusaan oleh tangan anda, bahkan dengan lebih tidak hormat.

      melihat hal ini, aku teringat kepada ucapan sahabat Ali bin Abi Thalib kepada kedua anaknya, Hasan dan Husein tentang sebuah pekerjaan (kurang lebih) :" wahai anakku, ambillah Rizki yang mencarimu, bukan rizki yang kau cari-cari.", maksudnya adalah, tidak perlu kau permasalahkan bagaimana caranya agar aku menjadi sukses dan kaya, cukup tingkatkan skill mu sehebat-hebatnya, dan tingkatkan ketakwaanmu sehingga menjadi pribadi yang paling mulia, maka jika kamu hebat dan baik, kamu akan dicari-cari orang dengan sendirinya, engkau akan digaji dengan sebesar-besarnya tanpa engkau meminta. sedang harta yang kamu cari-cari itu membuat kamu lupa dengan cara yang benar, kamu memotong proses menuju kesuksesan, akhirnya kamu melakukan segala cara agar kamu menjadi kaya dan hebat, mungkin kamu akan mendapatkannya, tetapi kamu tidak akan menikmatinya dengan sebenar-benarnya. semoga ini menjadi bahan perenungan kepada kita betapa dunia menawarkan keindahan luarnya, meskipun dalamnya busuk, sedang akhirat menawarkan keindahan luar dan dalam, meski jalannya berliku. semoga bermanfaat (^^)d

3 comments:

novi said...

Keren... tempel di mading....

Darkness Prince said...

ceplook...!!

PrasAsti Fa said...

siiiiiiiiiiiiipppp daaahhh,,,,,

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--