Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sunday, January 8, 2012

Laskar Santri (part IV)

    Tugas utamaku saat menjadi santri hanya satu, survive..!!! yah, itu yang ada di benakku kala itu, dengan segala perubahan kondisi yang drastis aku harus bertahan di pondok yang penuh kedisiplinan dan tuntutan ini, sempat beberapa kali aku hendak mundur dari status santri ini, namun alhamdulilllah, ternyata Allah berkeinginan lain. aku bisa dikatakan berhasil menyesuaikan dengan suasana pondok dan ikut mengalir di dalamnya sampai aku naik ke kelas dua. dan benar, di kelas dua kutemui bangku-bangku kosong temanku dulu.

    ya, beberapa diantara kita akhirnya memilih mundur dan pindah ke sekolah lain. ada Feri, Ali, Alfiardi, Indra Bayu, dan Lutfi, mereka adalah para laskar santri yang kehilangan ara untuk bertahan di gua peradaban ini. aku mencoba memahami, tekanan-tekanan tuntutan yang sebegitu beratnya di tambah dengan beberapa pengajar yang sedikit 'kejam' di kelas membuat mereka menaikkan bendera putih di pondok ini. aku saja mengalami perubahan berat badan karena hal ini, tubuh gendutku berubah menjadi kurus dalam waktu satu tahun. bagaimana tidak, dengan menu makan seadanya, peraturan yang begitu mengikat, tuntutan hafalan dan prestasi lain yang terkadang membuat kita tak sempat untuk tersenyum, melainkan ketika kita sedang dalam keadaan free karena libur dan kosong.

    di kelas dua ini suasana sedikit berbeda, kita teman satu kelas semakin akrab dan hubungannya lebih dari sebuah kedekatan kawan, karena kita sudah seperti saudara, sudah paham karakter masing-masing. tema 'mengikuti arus' pun sekarang mulai berganti menjadi 'mengejar garis finish'. kita sudah mulai konsen dengan pelajaran. pandangan kita perlahan mulai memaju dan meluas. beruntung kita dikarunia seorang guru yang sangat paham dengan karakter kita, beliau adalah pak Himawan, putra salah satu sesepuh di sekolahanku yang mengajar sosiologi dan ekonomi kala itu. beliau tidak hanya mengajarkan sebuah formalitas, namun lebih jauh lagi, sebuah perspektif. kata-katanya membuat kita semakin berfikir lebih kedepan, dan kedepan lagi. mendobrak batasan pemikiran santri yang terkenal tidak tertarik dengan masalah yang universal. itulah yang pada akhirnya angkatan santri ini berubah haluan saat melanjutkan ke perguruan tinggi.

    Di tahun kedua ini, kami mulai lancar membaca kitab gundul beserta artinya, arabic speaking pun sudah tak menjadi momok yang menakutkan, kita sudah mulai mengaplikasikan ilmu-ilmu yang ada dengan pemahaman yang menyeluruh, tidak hanya sekedar formalitas. dan jabatan kepengurusan pondok berpindah ke pundak-pundak kita. aku menjabat sebagai bendahara pondok kala itu. dengan perpindahan kepengurusan itu kami berusaha menunjukkan ke adik-adik angkatan sikap lunak dan familiar agar tidak ketakutan dengan peraturan yang ada. karena sebelumnya. banyak sekali diskriminasi yang terjadi kepada adek-adek tingkat sehingga terkadang terjadi permusuhan 'dingin' dengan beberapa qismu.

   Setiap hari senin dua pekan sekali kami berangkat ke sekolah induk untuk apel bersama dengan murid-murid yang lain di sana. dan kami disana slalu menjadi sorotan perhatian,terutama karena prestasi. ya, anak-anak "terpadu' ini slalu dikenal dengan karena prestasinya, mungkin karena seringnya kita sarapan kitab-kitab gundul, kami jadi lebih mudah untuk mencerna pelajaran-pelajaran umum, bahkan beberapa bab pelajaran bisa langsung kita kuasai hanya dalam satu tempo. ketika ujian semesteran di sekolah induk, biasanya kami yang selesai dan keluar duluan. itu yang menyebabkan kami dikenal oleh anak-anak induk dan ditaksir oleh beberapa siswi di sana. iya, tak asyik rasanya kalau tidak membicarakan urusan cinta remaja disini. meskipun kami seorang santri namun manusiawi kami pun bisa terkadang muncul, sebuah gejolak keremajaan yang tidak perlu dinafikan, hanya butuh pengarahan.

    Biasanya ketika kami berkunjung ke selatan pasti ada sapaan-sapaan goda dari siswi-siswi disana, kami anak santri yang terkenal lugu ini hanya menanggapi dengan ketawa kecil dan sekali waktu menggoda teman santri yang sedang ditaksir oleh salah satu dari mereka. namun dalam perjalanannya ada juga santri yang tidak tahan dengan godaan siswi disana, yang entah darimana awalya kemudian bisa saling mengenal, komunikasi, dan menjalin hubungan rahasia. tapi jangan tanya kalau urusan seperti ini tercium oleh mudir, bisa-bisa kita diinterogasi berjam-jam di ruang guru.
    Memang selain sekolah induk, sekolah kami juga mempunyai pondok putri, namun jauh sekali jaraknya. sekali waktu kita berpapasan di jalan tanpa ada tegur sapa, hanya menundukkan pandangan tanpa berani mencuri pandang. kita hanya mengenal nama-nama mereka tanpa tahu siapa pemilik namanya. mungkin ada beberapa diantara kita tahu mereka lebih dalam karena mempunyai adik disana, namun hal tersebut tidak mengganggu aktifittas pondok kami. hanya sebuah tinta dengan warna lain yang ikut menghiasi lukisan perjalanan hidup kami di pondok ini.

  Kami sangat suka jalan-jalan, apalagi kalau malam jum'at dimana para santri diperbolehkan keluar dengan batasan waktu tertentu, biasanya sehabis maghrib para santri sudah mulai berekspansi jalan kaki ratusan meter bahkan kilo meteran ke beberapa tempat keramaian, seperti pasar, mall, alun-alun kota, dan ke tempat mengasyikkan lainnya. dan satu hal yang tak pernah kami lewatkan setiap malam jum'atnya, menyantap mie ayam pak bejo  dengan cakar ayamnya yang khas. sudah menjadi langganan para santri disana, kami makan dan bercanda bareng teman-teman yang lain menghapus sejenak masalah-masalah pondok.

    Aku, hilmi, dan ridho, tidak seperti yang lainnya, trio santri ini menghabiskan malem juma't nya di GOR kudus, bukan karena mau maem-macem, tapi kami mengikuti bela diri taekwondo disana, kami mengayuh sepeda dalam jarak 3-4 km dengan keadaan berpuasa. lucunya kami minum air keran masjid ketika berbuka. baru setelah latihan, kita mampir ke warung sebelum balik ke pondok. namun pada akhirnya latihan taekwondo kamipun putus di jalan. karena terbentur oleh kegiatan pondok. biasanya ujian kenaikan tingkat dilaksanakan hari ahad, sedangkan hari itu kami tidak libur sekolah, jadi akhirnya kami memutuskan untuk berhenti, lagian di pondok masih ada dua bela diri yang diajarkan, yaitu INKAI setiap hari selasa sore yang diajar oleh pak Aris Harnawa, dan Tifan Po Khan yang diajar ustad Ahid setiap selasa malamnya. belum lagi acara kepanduan selasa siang dan terkadang jumat pagi yang dipandu pak Tri. membuat tubuh kami bugar dan bertenaga, meskipun jika dilihat seksama, masih terlihat sebagai pemuda kurang gizi. bukan suatu penderitaan bagi kami merasakan hal-hal seperti itu. namun sepertinya pengorbanan mulai terukir indah diatas jalan perjuangan yang tidak rata ini. ^^

2 comments:

Estuadi Tatag Ramadhan said...

Salam santri
ana uhibbu kitabatuka

youpzz.. kyaknya memang nggak semua bisa jadi santri seutuhnya... harus melalui beberapa tahap dan proses yang panjang,, dulu saya juga demikian tidak tahu apaapa tentang pondok, tapi alhamdulilah bisa tamat...

Darkness Prince said...

wa'alaikumsalam ya akh..
syukron 'ala qira'atuk....

ya begitulah, semuanya membutuhkan proses yg tidak mudah...alhamdulillah, 'ala kulli hal..kita bisa merasakan hasilnya. ^^

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--