Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Monday, December 12, 2011

serangan mental

Aku seperti dipermainkan oleh kehidupan, kepalaku hampir pecah dibuatnya. Ketika kuliahku beranjak hancur, uangku menipis, dan tekanan2 lainnya yang membuatku benar2 gila, aku gila saat melihat temanku semangat dengan skripsinya, aku gila saat melihat temanku bahagia dengan keadaannya, aku gila aku gila,dan aku tidak tahu harus kemana lagi dan bagaimana lagi..bahkan untuk menceritakan kepada seseorang aku tidak bisa. Aku sepeti benar2 terpenjara dalam kamar kos ini, aku takut, disamping aku penakut, bahkan aku tidak menemukan sedikit kesegaran fikiran di rumah. Ayahku pemarah, dan tidak pernah mengerti keadaan dan kebutuhanku disini,aku hanya dituntut, aku hanya diomeli. Aku tidak bisa berbuat apa2, dan aku tidak bisa kemana2. Aku hanya merasakan takut, dan kalut..otakku seakan mau pecah, aku diambang stress, aku hampir kehilangan kehidupan...disini, dalam permainan dunia, hanya ada aku sendiri,dan Allah bersamaku, entah akan bertahan berapa lama lagi...

Ya Rabb,,apakah ini akibat dosa2ku, bahkan untuk sekedar hidup pun seolah aku tak punya tempat. Aku tak punya semangat. Untuk bermanfaat bagi dirikupun aku tak kuasa. Hanya di kamar kos kecil ini aku terhantui berbagai tuntutan hidup. Tuntutan tanpa dukungan, hanya sebagai tekanan. Entah mereka menginginkan aku gila. Di kota ini, aku gila karena tuntutan kuliah dan tuntutan dari rumah dengan keterbatasan yang tak pernah mau dimaklumi, aku dulu hebat, sekarang....AKU HINA...

Bahkan ketika aku mencari seberkas semangat dan harapan serta dukungan di rumah, aku tidak mendapatkannya sama sekali, setidaknya aku masih bisa bermain dengan ponakan kecilku, ternyata dia lebih membahagiakanku daripada yang lain, yang membuatku sering pulang ke rumah dengan alasan dia, bukan yang lain. Meskipun aku dimarahi kalau terus2an bermain dengan ponakan kecilku ini, aku serba salah, aku tidak jua bahagia di rumah..aku gilaaa....

Ayahku berlidah tajam dan tak pernah mengerti keadaanku, hingga membuatku ngambek dan menghancurkan kuliahku, alasan motor butut itu sebenarnya alasan kedua aku menghancurkan kuliahku, karena selain aku tidak difasilitasi, aku diomeli dan dituntut lebih leh ayahku, ini alasanku yang pertama,lebih kejam..kakak2kupun tidak begitu memahami keadaanku,akupun tidak begitu mempersoalkan, yang penting dia masih care meskipun aku bersikap menutup2i keadaanku ma mereka, saat ditanya kenapa aku pulang, aku hanya bilang 'stress', mereka tidak tahu maksudnya apakah ini hanya bercanda karena aku tidak menampakkan bukti adanya,padahal aku bener2 stress,kakak..

Dan ibuku, aku benar2 tidak tega dengan beliau, dia sangat penyayang dan ikut trenyuh dg keadaanku,namun tidak bisa berbuat apa2.hanya bisa menasehatiku tentang kekurangan yang ada, ibu tidak tahu tekananku yang sebenarnya, aku sangat sayang beliau melebihi apapun karena dari beliaulah harapanku satu2nya untuk berbakti kepada orang tua, aku tidak bisa memberikannya pada ayah. Karena itulah aku slalu berusaha dekat dengan ibuku saat dirumah, aku menemaninya nonton tv, aku ngobrol dekat dengannya, bahkan slalu kusempatkan shalat berjamaah,mengimaminya di rumah, ibu tau perasaanku meskipun aku tidak menampakkan lewat ekspresi mukaku, kemaren saat dirumah, saat abiz di 'maki' ayah dengan kata2 yang lembut tapi tajam menyayat, ibuku menasehatiku untuk mengerti kalau dari dulu ayahku seperti itu, mendengar kata2 beliau akan malah semakin tak dapat membendung tangis, aku menangis lama dimusholla rumah setelah shalat berjamaah berdua dengan ibu..ya Allah,,apakah memang harus seperti ini.

Aku mendapatkan sosok ayah yang membuatku harus merasakan penderitaan mental ini, sewaktu kecil aku sering dipukuli tanpa alasan, aku slalu salah, dan ayah tidak pernah bisa diajak bertukar fikiran,itulah kenapa dari kecil aku jauh dengan ayah, berbeda dengan kakak2 lelakiku yang cuek dengan sikap ayah meski dulu juga merasakan sama sepertiku, namun aku lebih perasa seperti kakak perempuanku yang pertama,aku tipe pemikir, dan pengambek, bukan pemarah yang bisa melampiaskan kemarahan kemudian selesai, aku bisa menyimpan memori dan rasa2 yang ada sampai bertahun2, memori saat ayahku sering memukuli, mencaci, dan merendahkanku di hadapan teman2 beliau, aku hampir tak percaya kalau ada ayah yang bisa menghancurkan anaknya dari dalam.

Aku mulai paham, ayahku baik, punya tujuan baik terhadap anak2nya, namun caranya yang salah membuat semuanya menjadi berbeda. Entahlah, aku rasa ayahku tidak benar2 mengerti apa yang tlah diucapkan pada org yang membuat orang lain sakit hati. Itu kuketahui ketika aku blak2an bilang kepadanya kalau omongannya menyakitkan, seolah dia tidak pernah melakukannya, aku sadar, ayahku tidak pernah mau mengerti perasaan orang lain, ayahku kaku, kalau dia bilang A, ya harus A..itulah kenapa aku yang bermindset mahasiswa tak pernah bisa mengubah pandangan ayah tentangku, terrnyata ayah belum siap mempunyai anak seorang mahasiswa..maaf ayah, aku siap menerima cacianmu ketika kau tahu, aku menjadi pemalas dan tidak lulus tepat waktu, mungkin kau akan memarahiku karna aku tidak tahu diuntung, aku tidak konsekuen, aku tidak memanfaatkan keadaan yang ada, aku siap ayah, karena aku punya alasan sendiri, yang kau tak pernah tahu bagaimana alasan itu..aku hanya berharap, aku tidak mengikuti jejakmu dalam mendidik anak2ku nantinya, meskipun mungkin anak2ku nanti juga akan durhaka padamu,sebagai konsekuensi,aku durhaka padamu, entah,mana yang salah...
Published with Blogger-droid v1.6.7

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--