Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Wednesday, December 7, 2011

laksana air tergenang

Pagi ini kurasakan tubuhku masih merebah diatas kasur tua berseprei usang di salah satu kamar kost dikota perantauanku, kipas angin kulihat masih menyala dengan laptop yg masih keadaaan setengah idup,alias standby. Speakerku baru saja kumatikan sekembaliku dari kamar mandi, ya, hidupku 3 tahun lebih ini tak lepas dari tiga makhluk kecil buatan manusia: leptop, speaker aktif, dan kipas angin. Tekadang tak lupa modem menyertaiku dalam pertapaanku di kamar kecilku sepanjang hari, setiap detik.
Entah hal dan keadaan ini menjadi lumrah bagi seorang mahasiswa yg terlampau bebas menikmati kebebasannya di kota orang, yg bisa mejeng kemana2, malas tanpa batas, merokok, gitaran, dan pacaran. Namun berbeda dengan aku, aku tak pernah bisa mejeng ato jalan2, aku tidak suka merokok, tidak bisa bermain gitar, dan sulit pacaran. Aku hanya pemalas yg terkurung dalaam keterasingan diri juga mental. Paranoid masa depan.

Entahlah, pagi ini masih tedengar suara lagu dangdut dari kamar kos temenku, tidak lupa sang pemutar lagu itu mengikuti dengan suka cita, terkadang aku mendengar kata2 'semangat..!!!..Semangat..!!!' disela2 nyanyiannya. Iya, pagi itu kudengar sayup2 dia sedang semangat mengerjakan skripsi nya, sungguh sangat beruntung dia, dia anak berada yg tak pernah kurang oleh materi dan perhatian dari kedua orang tuanya. Terakhir saat kita berbincang, katanya dia sedang didekatkan oleh orang tuanya dg seorang gadis cantik anak teman bisnis orang tuanya tersebut, mungkin itu yang membuatnya semakin bersemangat menyelesaikan studinya.

Beda lagi dengan kamar depanku, pagi2 sekali dia sudah pergi ke perpustakaan kampus untuk mencari referensi skripsiinya. Dia seorang yg benar2 dari desa, ditinggal ayahnya pergi mencari nafkah ke luar jawa, namun perhatian dari ayahnya tak pernah memuai karna jarak yg memisahkan. Ayahnya seringkali menelpon dan memberi wejangan, begitu perhatian sekali ayahnya yang bahkan soal nilai pun beliau tanyakan satu-persatu kepada temanku ini, padahal beliau tidak pernah merasakan kuliah, namun beliau benar2 siap menjadi ayah seorang mahasiswa. Akupun pernah mendapat wejangan dari beliau,sampai aku dianggap sepeti anaknya sendiri. Dan perjuangannya untuk meningkatkan taraf hidup anak2nya pun tidak main2. Dia pernah membawa sekarung beras hasil panen dari demak ke solo untuk anaknya, temanku ini. Beliau benar2 memperlihatkan kesungguhan perjuangan untuk anak2nya. Pantas saja temanku ini benar2 ingin memperlihatkan prestasi dan kebanggaan kepada ayahnya lewat usaha yg begitu serius. Benar saja, kamarnya penuh piala dan dia dikenal banyak orang dikampus,karena kepandaiannya.

Atau beda lagi dengan teman kos satu atap yg juga satu jurusan satu angkatan denganku ini. Ketekadannya untuk segera menikah membuatnya semakin bersemangat menyelesaikan studinya di kampus. Orang tuanya telah memberi lampu kuning untuk dia menikah setelah lulus nanti. Setiap hari tak pernah kulihat dia kecuali dikampus atau perpus.

Dan apalah aku, mungkin aku memang anak yang kurang beruntung, atau memang anak yang tidak tahu diuntung. Mungkin dari anak2 kos yg lain cuma aku yang masih menggeliat2 di kasur pagi ini. Meskipun tadi malam aku habis mengikuti kajian, aku tetep saja tidur larut dan bangun kesiangan. Soal kuliah. Tak pernah terfikirkan sama sekali. Setiap hari aku hanya berkutat dengan kasur dan leptop. Pemalas sekali aku ini, bahkan untuk bermimpiku aku tak sanggup, yah, meskipun aku pernah bermimpi tiga tahun lalu. Saat aku awal kali menginjakkan kaki di kota solo dan kampus, saat aku merasa aku mendapat angin segar di kehidupanku sebelumnya yg penuh dengan polusi mental. Saat aku hendak membuktikan pada ayahku bahwa aku bukanlah orang bodoh..!!!

Aku rasa setiap minggu tak kudapati hari lain selain apa yg tlah tertulis dikalender kamarku. Bukan, maksudku adalah keadaanku selama ini. Bahkan saat aku hendak mencari dukungan di rumah agar bersemangat kuliah, aku malah mendapati polusi itu mengepul lagi di hatiku. Aku bersitegang untuk kesekian kali dengan ayahku dengan permasalahan yang sebenarnya terlampau sepele. Namun ricuh..!!!

Yah, memang kepulangaku kala itu aku berusaha benar menjauhi amarah ayahku, meskipun kerap kali saat kejadian aku bukan yang salah,namun aku merasa bersalah sebagai anak. Tidak bisa berbakti kepada orang tuaku. Orang tua yang penuh amarah, bukan, ayah yang penuh amarah. Kala itu setiap sehabis sarapan aku langsung pergi ke rumah kakak, karena mulut ayahku slalu gatal saat melihat aku dirumah. Hari kedua aksiku serupa, aku menjauhinya ke rumah kakak,namun kali ini gelagatku terbuka. Ayahku menanyaiku dengan omongan pedas mengapa aku slalu kabur dari rumah, dengan hati berkecamuk aku bilang saja kalau aku dirumah slalu saja jadi bahan pelampiasan omongan pedas,kakak2kupun tahu. Dan dia tidak bisa diajak komunikasi yang baik, dia mengelak ngmong kalo aku yang tidak pernah mengajaknya komunikasi, aku terus terang aja omongannya terlalu pedas. Lalu peperangan dilanjutkan dengan perang dingin. Itu lebih baik daripada bualan yg kuterima. Semga dia berfikir mendalam,itu saja,yg slalu kudoakan untuknya.

Itulah ayahku yang selama ini kuanggap sebagai biang hancurnya masa depan dan diriku. Bahkan sampai sekarang kita tak pernah melakukan komunikasi dengan baik, meskipun aku berusaha dan slalu berdoa. Namun aku hanya mendpatkannya dari ibu. Dia ayahku, kalau kumelihat ada anak kecil yang berlari menuju ayahnya yang baru pulang dari kantor,kemudian memeluknya, mengajak bercanda. Aku langsung teringat masa kecilku. Dimana aku dididik dengan tangan dan omongan pedas, sampai aku takut untuk dekat dengannya, sampai aku suka cita saat dia pergi entah kemana. Ayahku baik, ya,kuakui dia baik. Namun dia kaku, dia tidak pernah mau mengerti perasaan orang lain, omongan orang lain, pendapat orang lain. Maka aku melihatnya tak lebih dari serang hitler kala itu, bagaimana tidak, dia baik sekali mau mengajakku ke masjid setiap maghrib, namun dia tak segan memukulku, menendangku saat aku tak mau ikut dengannya. Dia baik mau mengingatkanku saat aku salah kala aku kecil dulu, namun dia mengingatkan aku. Dengan lecutan ikat pinggang atau daleman ban karet yang biasa dibuat mengikat kayu di kebun, aku sering kebingungan kala itu. Masa kecil yg penuh tanya tentang 'apa salahku' dan 'aku harus bagaimana', hampir semua yang aku lakukan slalu salah dimatanya,sehingga pada akhirnya aku terbentuk menjadi anak baik yang penurut,namun penakut dan suka kebingungan. Bahkan dewasa ini aku sampai hendak meneriakinya saat dia memarahiku gara2 aku bingungan kalau disuruh mengerjakan sesuatu. Aku menjadi anak yg pendiem. Dan sekarang sisa2 itu masih terasa sampai disini..

Dialah ayahku, yang dengan rela hati memasukkanku ke pondok pesantren agar aku berubah baik, namun dia juga yang menceritakan semua aibku ditengah pejalanan waktu kepada ustadku dan keluarganya karna ketidakperubahan diriku, aku benar2 merasa dipermalukan olehnya kala itu..aku benar2 marah..oleh perilakunya,sampai terkadang aku benar2 memaklumi, kalo tidak seperti itu,maka dia bukan ayahku.

Dialah ayahku, yang saat aku hendak kuliah dia membodoh2kanku dihadapan ibuku. Dia yang menuntut ini itu tanpa disertai pengertian akan kebutuhanku saat aku menjadi mahasiswa. Dan dengan segala kekurangan yang ada, aku masih mendapat celaan sewaktu dirumah. Komplitlah aku,merana di perantauan, terhina di rumah sendiri..

Dan inilah aku..aku marah dengan semua ini..aku seolah tidak sudi memperlihatkan kesuksesanku pada ayahku, aku ingin memperlihatkan bahwa didikannya salah, bahwa pemikirrannya salah..aku rusak kuliahku, aku rusak masa depanku...meskipun aku tahu, suatu saat nanti aku mungkin lagi2 yang disalahkan..egois..!!!!!

Dan sampai sekarang keretakan ini tak pernah disatukan, apalagi dengan keadaan sekarang dimana aku membutuhkan materi namun aku diperrsulit, aku membutuhkan perhatian motivasi,aku tidak mendapatkan,hanya sebuah tuntutan yang diselingi omelan dan makian pedas,aku sudah siapp...!!!

Aku sudah siap diomeli karna aku tidak lulus2, aku sudah siap dicaci karena dianggap anak yang tak bisa diuntung. Atau yg lainnya....

Aku benci dengan kebencianku pada ayahku karena saking takutku pada dosa, namun aku terpaksa membencinya...sebagaimana daun kering yang terkena panas matahari..api tak terhindarkan lagi...

Maafkan atas keterpurukanku,mungkin aku akan gila karena aku terpuruk oleh keadaan,bukan kemauan...

Maafkan atas keegoisanku, yg aku slalu berfikir kenapa aku bilang begitu,padahal aku slalu berusaha menjadi baik...namun seperti tak bisa..

Maafkan..maafkan...entah kepada siapa aku hendak meminta maaf..

Karena aku sendiri sedang menunggu kata maaf dari seseorang...,


Ayah....
Published with Blogger-droid v1.6.7

2 comments:

Ahmad Yanwar Nabawi said...

wah,, mas ... curhat mu jdi mengingatkanku pd kehidupan masa kecilku... sy jga sama dengan mas. namun yg mendidik sy dengan tangan besi adalah kakek saya. Ya, kakek sy yg skrng udah sakit2 an dan hampir pikun. Sy dulu tinggal bersama d rumah kakek. Sy di didik dg ajaran agama sperti solat dan mengaji. Namun kakek jg tak segan2 memukuli sy yg tdk mau solat atau yg lainnya. Bahkan sy pernah d ludahi dan d kunci d luar rumah. Sy marah... apa slah saya... sy cuma anak kecil. Dan akibat perbuatan itu sy tumbuh mnjadi anak pendiam dan suka bingung kyak mas... sy kadang menyalahkan didikan keluarga yg salah dg keadaanku saat ini.... sungguh kita senasib mas.. sy tau apa yg mas rasakan... dan stelah sy kuliah sy mulai baca buku2 psikologi dan self help. buat apa? ya buat mengatasi kelainan mental sy ini. Itu memang sbuah tragedi yg luar biasa mas. sy msih berjuang utk sembuh. dan bisa hidup normal kyak yg lain.

Darkness Prince said...

@anwar: ternyata semua introvert alur.ceritanya sama ya mas.. dari kebanyakan orang introvert yg curhat sama aku, kebanyakan sebab-akibatnya sama, bedanya adalah introvert yg terbentuk seperti kita, adalah murni karena keadaan/lingkungan, bukan ingin kita sendiri, seenggaknya kita paham apa yg kita alami skarang dan kita berusaha berjuang melawannya meski seringkalu terseok dan lumpuh lagi, saya juga sering baca buku2 psikologi dan dl pernah sempat masuk jurusan psikologi, tapi keluarga menghendaki ambil pendidikan, akhirnya sampe skarang belum slese jg (ud smter 13)
take care saja mas, qt trima keadaan dan memaafkan masa lalu kita meski itu susah. apalagi karna byknya orang2 disekitar kita yg tidak mengtahui benar bgmana keadaan kita, mereka terkadang hanya meliat dr luar dan berkata "whats wrong with u??" ktika hidup kita tidak senormal org2 lainnya. at least, jangan bawa bahkan wariskan keadaan ini pada anak kita nantinya mas, seenggaknya kita kudu tahu bgmn ini terjadi dan nantinya dapat diantisipasi,

here my WA 085724422210 and my BBM 7CC4A6B0 saya berharap tidak ada lagi tragedi seperti kita. take care mas :-)

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--