Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, December 22, 2011

Hari Ibu...???

today is mother day, begitulah aku mendengarnya, ramai sekali ungkapan tadi terekspos dalam status facebook teman-teman, tweetline, dan blog ini semenjak tadi malam. entah kenapa manusia suka sekali merayakan sesuatu seolah waktu itu adalah titik puncak keistimewaan moment untuk yang diperingati, sedangkan pada waktu-waktu lainnya, sedikitpun tidak membekas sama sekali dari apa yang tlah dirayakan sebelumnya. itulah kenapa aku tidak ikut meramaikan acara-acara seperti ini, selain karena memang hal ini sudah diluar batas syariah yang tidak ada manfaat sama sekali bagi akhiratku bahkan membahayakan karena mengekor pada budaya-budaya orang kafir, aku merasa perlu untuk mengambil prinsip bahwa tiada batas waktu untuk memaknai moment yang ada, just do the best totallity. namun bagaimanapun, aku ingin bercerita tentang ibuku, karena dalam perjalanan hidupku ini, ibuku ibarat lentera dari berbagai macam cahaya Allah yang diberikan untuk menerangiku di dunia, tak lebih, namun teramat istimewa.
ibuku adalah seorang bidadari yang mengorbankan keindahannya untuk diberikan kepadaku, kepada kakak-kakakku dan keluargaku. betapa tidak, disaat diluar sana banyak sekali ibu yang setiap hari meninggalkan anaknya hanya untuk sekedar mengejar karir, sebagai alasan untuk menjamin masa depan anaknya dengan materi. ibuku justru di rumah mengajarkanku arti kesederhanaan dan kebermaknaan hidup. disaat diluar sana para ibu memenuhi kebutuhan materi anaknya dengan begitu istimewanya, hingga merasa bahwa sang ibu tlah bertanggung jawab dengan keadaan dan perkembangan anaknya, justru ibuku memberiku kasih sayang dan pendidikan perasaan bagaimana kebahagiaan itu tidak lahir dari sebuah kecukupan materi. bahkan yang lebih hebat lagi. ketika para ibu membangga-banggakan anaknya karena dia sukses dalam pendidikannya dan pekerjaannya, ketika para ibu diluar sana bersusah payah melakukan apa saja hanya untuk melihat anaknya menjadi orang kaya dan berwibawa, ibuku hanya berharap agar aku bisa masuk syurga dan memasukkannya ke syurga. itulah sekilas tentang ibuku, ibu nomer satu yang sekarang ini hampir tidak ada yang melampaui kehebatan kasih sayangnya.

aku masih ingat sewaktu aku masih balita dulu, beliau menggendongku membeli sarapan pagi buat ayah dan kakak-kakakku, dan aku slalu dibelikan bubur santan oleh beliau. aku nak terakhir dari tujuh bersaudara pantas jika perhatian ibuku kepadaku lebih besar, dan kakak-kakakku sering mengataiku aku anak manja, karena hampir semua kemaunku keturutan.namun hal itu tidak merusak hubunganku dengan kakak-kakakku, kita saling menyayangi karena dari awal kita terdidik dari kesederhanaan, bahkan bisa dibilang kekurangan.karena gaji PNS ayah waktu itu katanya tak lebih tinggi daripada gaji buruh pabrik waktu itu. sedangkan ibu ngurusi keluarga di rumah, terkadang diselingi jualan jajanan yang diantar kewarung-warung untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

sedari kecil memang aku sudah dekat dengan ibu, lebih dekat daripada hubunganku dengan ayah, karena ayah seorang temperamen dan ibuku seorang penyayang. aku masih ingat waktu aku kecil dulu setiap malam, ketika waktunya tidur aku yang sudah setengah ngantuk digendong ibuku dari ruang tengah sampai ke tempat tidur, dan sebelum tidur biasanya aku disuruh menghafal surat-surat pendek yang membuatku sudah hafal sebagian besar jus 30 sejak kecil meskipun aku tidak tahu nama surat yang kubaca. saat tengah malam biasanya aku bangun dan membangunkan ibu meminta diambilkan air minum, karena kebiasaanku itu ibukku selalu menyediakan air minum di jendela kamar sebelum tidur, waktu itu aku belum bisa mengangkat gelas sendiri karena masih kecil, jadi aku meminumnya dengan kedua tanganku dengan memiringkan gelasnya. segar sekali rasanya, bahkan sampe sekarang ketika aku minum air putih ketika bangun tidur, masih terngiang moment itu. seperti saat kecil dulu.

aku sangat dekat sekali dengan ibukku sedari kecil,teramat sangat dekat,saking dekatnya bahkan aku masih suka ngempong (minum asi) saat umurku sudah 4 tahun, pernah suatu kali aku maen ke rumah bu lek dan disuruh nginep disana karena bulek punya anak yang cuma beda beberapa tahun dari aku, yang kita sering main bersama saat kecil. malamnya ketika aku hendak tidur, tiba-tiba aku teringat dengan ibukku, lalu aku nangis dan minta diantarkan paklek ke rumah.

ibukku sangat penyabar, beliau mendidik dan merawat kami dengan hati, menasehati kami dengan bahasa perasaan, dan tak pernah marah. meski dulu aku aku seorang anak kecil yang suka ngambek dan ngamuk, aku sering minta ini-itu kepadanya, aku dulu suka sekali mainan, setiap kali temanku mempunyai mainan baru, aku tidak mau ketinggalan, dan langsung merengek minta dibelikan sama ibu, ibukku tidak tega dan pada akhirnya menuruti kemauanku. itu yang membuatku slalu minta ke ibu kalau butuh apa-apa dan tidak berani minta ke ayah.

dulu ayahku suka main tangan, bukan cuma kepadaku  namun semua kakakku pernah merasakan temperamen beliau, kalau sudah begitu, ibuk ku lah yang slalu melindungiku saat aku menjadi bulan-bulanan ayah, pernah ibukku  berusaha melindungiku dengan memelukku hingga meneteskan air mata saat aku di pecuti dengan sabuknya hingga ibukku juga terkena lecutannya, itu kali pertama Allah membuka fikiranku hingga sekarang aku menjadi tipe pemikir, karena sejak kejadian itu, aku berusaha menjaga ibukku dari apa saja,

pernah suatu hari aku ngambek dengan ibu, mendiaminya dan tidak mengajak ibu ngomong sama sekali, kalau bahasa jawanya biasa disebut 'mutung'. kala itu aku masih SD, entah kelas berapa. namun yang jelas aku sudah tahu bahwa seorang muslim tidak boleh mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari atau dia akan masuk neraka. waktu itu adalah hari kedua aku membuat ibukku bingung karena pengambekanku ini, aku biasa ngambek karena kemauanku tidak dituruti. pada malam kedua menginjak hari ketiga. aku diingatkan oleh Allah secara langsung, dan saat itu aku merasa Allah benar-benar mengawasiku dan mendidikku secara langsung, mungkin karena kala itu aku masih suci, berkah dari kesolehan kedua orang tuaku. malam itu aku bermimpi aku sedang berada dipadang mahsyar. lalu akau membawa dosa dan pahalaku dalam wakul yang kugendong.(wakul adalah alat untuk mengangkat dua keranjang, biasanya digunakan orang-orang yang jualan tape). di dalam mimpi itu aku melihat kedua keranjang di wakulku itu, di keranjang yang satu adalah pahala, di keranjang yang satunya lagi adalah dosa. aku melihatnya sama-sama penuh, namun keranjang yang berisi dosa itu penuh dengan kayu, sedangkan keranjang yang berisi pahala penuh, namun oleh kapas, jelas sekali bahwa keranjang dosaku jauh lebih berat daripada keranjang yang berisi pahala meski sama-sama penuh. takut sekali aku waktu itu dan paginya aku baikan dengan ibukku, itulah sampai begitunya Allah memperingatkanku untuk mengasihi ibukku yang jelas shalihah itu meski umurku masih terlampau kecil untuk memikirkan hal-hal seperti itu.

dalam perkembanganku menuju keremajaan ibukku mulai memperkenalkanku dengan pemikiran dan kesadaran, itu membentukku menjadi anak yang penurut, meski disatu sisi aku sering crash dengan ayahku yang sering main tangan, aku juga diberi bidadari satu lagi yaitu kakak perempuanku satu-satunya yang mengajarkanku nilai-nilai kebijaksanaan dan kedermawanan, meskipun akhirnya kakakku meninggalkan aku di dunia ini saat aku kelas 2 SMP. akupun mulai menghilangkan kebiasaan jelekku (ngambeka) dan mencoba memahami ibukku dengan kedewasaan, pernah dulu ketika aku kelas 3 smp, ayah dan ibu berangkat haji, setelah kepulangannya, aku jarang diberi uang saku, biasanya 3 hari sekali atau 4 hari sekali baru diberi uang saku, akupun menerimanya dan tidak komplain, kala itu uang sakuku adalah 3 ribu, kemudian suatu hari sepupuku main kerumah dan dengan candaan bertanya kepadaku tentang uang sakuku, ibukku yang menjawabnya, aku cuma cengar-cengir saja karena aku anggap itu cuma bercandaan, sepupuku bilang kalau uang sakuku itu sedikit, anak sekarang itu uang sakunya 5 ribu. ternyata ibu mengambil hati ucapan sepupuku tadi, uang sakuku ditambah menjadi 5 ribu setiap harinya, padahal uang 5 ribu kala itu banyak sekali, aku hanya menerima dan menabungkannya, terkadang aku menolaknya dengan alasan masih punya uang. begitulah betapa ibukku memberikan segalanya untukku, namun dengan didikannya semenjak kecil, aku tidak mengambil kesempatan dari sikap ibukku, karena aku sangat sayang dengan beliau.

dan sampai saat ini, menjelang kedewasaanku, saat aku sudah mulai mengambil prinsip dan keputusan sendiri, ibukku slalu mewanti-wantiku untuk slalu mengingat Allah dengan rajin beribadah. saat ketegangan hubunganku dengan ayah semakin keras, ibukku lah yang menjadi penengah, menyuruhku untuk mengalah. suatu kali aku meminta maaf kepada beliau karena kuliahku keteteran bahkan mungkin tidak sesukses seperti anak-anak yang lain, namun apa jawabannya, dia hanya berharap aku tetap teguh dengan islam, beliau tidak menginginkan aku menjadi seorang yang kaya dan sukses namun lupa dengan Allah. beliau slalu bilang, bahwa beliau tidak menginginkan kekayaanku, namun syurgaku, beliau berharap kita bisa berkumpul di syurga nantinya, rupanya beliau paham bagaimana hiruk pikuk dunia ini dengan segala kesesatannya membahayakan agama anak-anaknya. beliau orang yang terbijak meskipun dia hanya lulusan smp. aku jujur mengatakan, beliau lebih bijaksana daripada para orang tua yang punya berbagai macam titel namun hanya berorientasi pada materi.

ibuku sekarang sudah lanjut usia, meskipun beliau terlihat masih segar, namun umurnya semakin menua, pancaran keimanannya masih terlihat dari raut mukanya, cucu-cucunya sendiri bilang beliau masih terlihat cantik meski sudah lanjut. selagi pulang ke rumah aku berusaha menggunakan waktu semaksimal mungkin untuk dekat dengannya, beliau sering mengingatkanku, membangunkanku ketika datang waktu shalat, dan kita sering shalat berjamaah bersama di rumah, ketika aku mengimami beliau, aku sering membacakan surat yang paling disukai beliau, yaitu Ar Rahman dan Al Waqiah. seusai shalat dia slalu berdoa lirih untuk keluarganya, aku yakin doanya slalu terijabahi (insyaAllah) karena beliau seorang yang shalihah dan lembut hatinya. aku berharap suatu saat nanti benar-benar memberikan kado berupa mahkota permata di akhirat nanti, syukur-syukur Allah memberikanku kesuksesan di dunia sehingga aku masih bisa membahagiakan dan mencukupi kebutuhannya, selagi aku bisa, karena aku merasa. kesempatan itu semakin menipis.

itulah ibuku, ibu terhebat sejagat raya. semoga beliau masih bisa melihatku membawakan bidadari lainnya sebagai mantunya, dan pejuang-pejuang islam, istri dan anak-anakku...amien ya Rabbal Alamien..

3 comments:

YouRha The X_PloReR said...

amiiin...

hampir mirip sama ma2 ku..
ketika prestasiku tak sbrapa dibandingkn anak2 temannya. itu tak masalah, yg pntin aq sllu menyanyanginya dan jgn lupa ibdah sma Allah dan berbuat baik pda manusia..

Darkness Prince said...

@yourha~itulah arti kasih sayang dari orang tua, mengarahkan kebenaran, bukan hanya kesuksesan, btw, mama km hebat, smoga km jg gitu nantinya :Dd

YouRha The X_PloReR said...

hehhe...amiiiinnn...
smga saya selalu bermetamorfosa ke arah yg baik..:D

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--