Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, December 8, 2011

emak..

Kegelisahanku mendalam, setelah banjir bandang merendam tanaman padi yang sebentar lagi tinggal menuai hasil. Para tetanggaku menangis diantara luapan genangan banjir setinggi paha orang dewasa ini. Kupeluk adikku ratna, kupandangi sayu mata emak yang terlihat menggusar memandangi sawah kami dari dalam jendela,


Kegembiraan tadi siang tentang khayalan masa depan yang ditorehkan emak kepadaku kini lebur sudah. Ya, siang tadi,aku dibuat gembira karena kata emak akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi lantaran hutang keluarga kami pada pak gond akan dilunasi dengan panen sawah tahun ini. Emak masih saja bersikeras mengkuliahkanku meskipun keadaan keluarga seperti ini, aku sudah bilang kalau uang itu digunakan saja untuk ratna,adik kecilku satu-satunya itu yang masih duduk di kelas 2 madrasah tsanawiyah. Emak bilang kalau almarhum abah dulu mewasiatkan agar aku disekolahkan setinggi-tingginya agar menjadi orang sukses,biar tidak tertindas seperti keluarga kita sebelumnya. Aku hanya mengiyakan sambil meneteskan air mata, betapa emak sangat memikirkan nasib anaknya.

Malam ini air masih menggenang tinggi. Para tetangga desa berkumpul diluar rumah ramai sekali membicarakan banjir langganan yang tidak berhenti ini, pasalnya tahun kemarin para calon anggota dewan memberi janji untuk membuat bendungan agar banjir tidak melewati desa ini, hampir semua warga desa termakan janji manis mereka, kecuali emak, abah dulu mewanti2 agar jangan berhubungan dengan penguasa atau pemerintah yang tidak menjalankan hukum Allah, agar kita tidak ikut terseret masuk neraka sebagai orang yang mengkhianati syariat islam, karna itu emak tidak pernah ikut nyntreng,meskipun sodara-sodara emak mengiming-imingi dengan amplop yang dibagikan pada warga menjelang pencblosan, namun emak bersikeras menolak meski digoblok-goblokkan sodara-sodaranya, ''kamu itu miskin lastri, gak usah sok suci..!!'', benar kata alm, abah, kehormatan itu jauh lebih tinggi dari kekayaan. Dan benar kata abah, kulihat para warga beramai-ramai menanggalkan kehormatan mereka hanya untuk sebuah amplop yang tidak seberapa besarnya. Dan kini terlihatlah kebusukan janji-janji para pejabat. Setelah terpilih menjaddi dewan, mereka melupakan janji-janjinya begitu saja. Setelah kejadian itu para warga sedikit demi sedikit mulai menunjukkan rasa hormat pada emak.

Hujan belum juga berhenti, genangan air semakin tinggi, suara kentongan dari pos-pos ronda terdengar bersahut-sahutan, para warga menangis sampai berteriak2 di rumah pak RT, karna hasil panennya sudah bisa dipastikan gagal karena terendam banjir. Kulihat emak berdoa lirih dengan air mata meleleh perlahan dengan rukuh usang di atas sajadah tuanya. Iya memang ini cukuplah berat, kalau biasanya meskipun sawah terkena hama wereng, setidaknya masih ada seperempat hasil panen yang bisa buat modal tanam berikutnya dan untuk makan juga kebutuhan sehari-hari, tapi kalau wabah banjir seperti ini, hampir tidak ada hasil panen yang bisa dinikmati, jalan satu-satunya adalah memasukkan diri keperangkap pak gondo.lintah darat yang tega memanfaatkan kesengsaraan warga sekitar untuk memperkaya diri dengan hutang2an warga itu.

Emak merangkulku sambil menahan tangisnya.
''mungkin emang sudah kehendak gusthi Allah,irfan, pasti ada hikmah dibalik semua ini.''
Aku selalu dibuat bangga dengan kata-kata emak yang begitu bijaksana,kesabarannya yang tiada batas selah menjadikan ujian yang menimpa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bahkan kalau ada rejeki lebih emak tidak segan-segan membelikan makanan untuk dibagikan kepada tetangga sekitar. Sungguh hebat didikan abah selama ini. Abah selalu mengingatkan kami agar selalu ingat akan hak Allah dimanapun, dalam keadaan apapun, agar tidak menjadi hamba yang serakah dan lupa terhadap tugasnya di dunia ini. Sayang sekali hanya sebentar aku merasakan dekapan kasih sayang dari abah, abah meninggalkan kami saat aku berusia 8 tahun, saat ratna masih balita.

Dua bulan setelah banjir itu, banyak warga yang berganti pekerjaan dan meninggalkan sawah mereka penuh rumput dan semak belukar, sementara ada beberapa yang nekat ngutang ke pak gondho dengan segala resiko yang ada. emak memilih untuk berjualan hasil kebun dan menyewakan sawah kita ke orang lain, sedangkan aku membantu emak membawakan jualan ke pasar.

Suatu ketika, ada seorang yang mengaku temen deket abah di jakarta menawarkan untuk membawaku ke jakarta membantu-bantu pondok pesantrennya sambil mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi tahun depan, emak mengiyakan dengan penuh harap disertai doa semoga cita-citaku terkabul.

Pagi itu penuh dengan kelembutan, entah aku mensikapi dengan kebahagiaan karena aku akan mengejar cita-citaku, ataukah dengan kesedihan. Kucium dan kurangkul tubuh renta emak, juga ratna, adikku cantik satu2nya. Perlahan bayangan merreka berdua menghilang terhapus jalan yang mengantarku ke jakarta. Kusembunyikan air mataku dari pandangan pak hanif, namun sepertinya beliau sudah paham, dirangkulnya pundakku selama perjalanan kudus-jakarta, sepanjang perjalanan beliau menceritakan tentang abah, tentang saat2 mereka memperjuangkan dakwah islam di masyarakat dengan segala halangan dan teror orang2 sekuler dan nasionalis fanatik, sehingga pak hanif dan abah dijuluki sebagai islam ekstrim karena tidak mengakui asas tunggal pancasila kala itu. Aku semakin bangga pada abah, dan berharap semoga bisa melanjutkan perjuangan abah dalam dakwah islam ini.

Satu tahun dijakarta mengubah pandanganku tentang dunia, aku yang dulu anak desa nan lugu sekarang menjadi terdidik, dengan didikan pak hanif pastinya. Beliau mendidikku seperti anaknya sendiri di pondok beliau. Akhirnya aku diterima sebagai mahasiswa sospol di universitas indonesia dengan beasiswa dari yayasan pesantren pak hanif, selagi kuliah kusempatkan untuk bekerja sambilan sebagai editor surat kabar lepas, dan ngajar di pondok. Uang gajinya kurikim ke emak untuk biaya sekolah ratna dan mencukupi kebutuhan sehari2. Tak lupa kutulis surat sebagai pelepas kangenku pada emak, doa emak slalu menjadi balasan darri suratku, betapa emak ingin melihatku menjadi sarjana dan hidup layak tidak seperti emak.

Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan buatku, setelah perjuanganku selama empat tahun, aku lulus sebagai salah satu sarjana berprestasi. Aku tidak bisa membayangkan betapa bangganya emak dan ratna saat melihatku pakai toga di wisuda nanti siang. Seminggu sebelumnya kutelpn emak lewat telpon pak RT tentang kelulusanku dan dia bilang mau datang ke jakarta dengan ratna untuk menyaksikan wisudaku.

Kutunggu kedatangan emak di depan pintu audirium, namun emak tidak kunjung datang, pak hanif berjanji akan menjemput emak di stasiun dan datang ke acara wisuda secepatnya.namun mereka belum menampakkan diri mereka. Acara wisudapun dimulai. Dipanggilah satu persatu para wisudawan, hatiku semakin kacau. Dipanggilah namaku sebagai salah satu wisudawan berprestasi. Aku melangkah galau, hanya berharap emak ada diantara ratusan hadirin yang melihatku dilantik sebagai sarjana berprestasi. Selesainya acara wisuda,kunyalakan hapeku, berharap ada kabar dari pak hanif tentang emak. Ternyata ada puluhan sms yang belum terbaca,juga miscall yang belum terjawab. Belum sempat kubuka smsnya, hapeku berdering...senyap...
Hatiku berdegap kencang, air mataku tak tertahankan. Aku berlari sekencang2nya tanpa memperdulikan teman2 yang suka ria merayakan wisudanya. Kupacu motorku menerjang lalu lintas dengan fikiran kacau. Telpn tadi,pak hanif bilang kalau emak tertabrak saat menyeberang hendak menuju mobil pak hanif, ratna cidera di tangan dan kakinya, sedangkan emak kritis di UGD. Emaaak.....

Kulihat emak terbaring membisu dengan selang pernafasan di hidungnya. Kupeluk ratna erat, kupegang erat tangan hangat emak,berharap emak membuka matanya dan melihat anaknya ini. Kulantunkan surat arrahman, kesukaan emak, dengan penuh syahdu. Degupan jantungnya meningkat. Perlahan terbuka matanya, aku segera mendekat, pandangannya yang sayu mengarah padaku dan senyumnya melebar dan mencoba berbicara lirih:
''irfan anak emak yg sholeh, emak bahagia melihatmu tlah menjadi sarjana, emak merasa sudah waktunya, jagalah ratna, jagalah Allah, doakan emak dan abah selalu..laa...ilaaa.aaha.....illaaallaaaah...muhammaadur...rasuulullaaah''
Nafas emak mulai berhenti panjang, matanya menutup dan tak membuka lagi..kupeluk tubuh emak yang dingin...emaaak....!!!!

.....:......................................................................

Pagi itu langit tampak biru muda cerah sekali, tepat dua tahun sepeninggal emak, aisyah, putriku kecilku minta aku diajak ziarah ke makam emak, dia sangat tertarik saat kuceritakan tentang sosok neneknya yang hebat itu. Tak lupa nisrina, istriku tercinta putri pak hanif yang mengisi kekosongan hatiku. Sedangkat ratna,adikku satu2nya sedang menyelesaikan studi syariahnya di al azhar,mesir.

Desiran udara menggugurkan daun kamboja hingga jatuh melayang disekitar gundukan tanah tenang nan bersih ini, langit tiba-tiba mendung, gerimis merintik-rintik membasahi baju koko biru muda kesukaan istriku yang kupakai ini. Kuseka air mataku, dan kusadari istriku pun meneteskan mutiara matanya diatas makam ini. Emak..kuukir indah hatiku saat engkau bersamaku dalam kesusahan dunia, sekarang kuikhlaskan engkau dalam kedamaian hati bersama abah di syurga. Doaku akan slalu menyertaimu, emak..''

Kugandeng anak dan istriku meninggalkan dua makam yang berdampingan mesra dalam ketenangan, abah dan emak dengan menyisakan kenangan indah. Dan kembali memfokuskan diri untuk melanjutkan program doktoral di jerman.
Published with Blogger-droid v1.6.7

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--