Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Tuesday, November 22, 2011

pak Abdul, si penjual rambak keliling

Wisma Islami Bina Taqwa adalah salah satu asrama mahasiswa UMS yang terletak di desa Gonilan, sekitar 1km sebelah utara kampus utama, bagi para ikhwan atau santri yang kuliah di ums ini, salah satu hal yang sangat diperhatikan adalah tempat tinggal, kos, atau asrama. pasalnya dengan lingkungan kampus yang tercipta dari sebuah hedonisme mahasiswa penuh. pergulan bebas, pakaian yang sangat tidak mencerminkan norma. membuat para ikhwan lari mencari kos islami meskipun dengan harga yang jauh dari miring atau dengan jarak yang sangat jauh sekalipun.

aku sendiri sudah pindah kos tiga kali dengan berbagai alasan, dari kos yang pertama aku pindah setelah menyadari bahwa ada pengkaderan politik disana, kemudian aku mencoba mengontrak rumah dengan beberapa ikhwan, ternyata juga tidak cocok dengan keadaan sekitar, dan untuk yang ketiga kali ini aku akhirnya menetap di wisma penuh cinta ini. karena selain dekat dengan warga desa. para penghuni wisma bisa berkontribusi langsung untuk desa, terutama dalam dakwah. terkadang ada undangan untuk mengisi kajian kecil-kecilan di masjid, atau ngajar di TPA.setidaknya kita bisa menjaga desa ini agar tetap islami.

seperti biasanya pagi hari setelah murajaah hafalan adalah waktu yang pas untuk ngobrol di halaman kos sambil berktifitas pagi, ada yang mencuci pakaian, mencuci motor, atau hanya ikut nimbrung membicarakan sesuatu yang bermanfaat sebelum siangnya dikejar deadline kuliah.pagi itu aku duduk berdua dengan bang said di bangku depan sambil memperhatikan pohon mangga yang sudah mulai berbuah lebat. sementara para penghuni yang lain belum menampakkan batang hidungnya, mungkin mereka masih asyik balas dendam karena tadi malam begadang nonton pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Vietnam dalam seperempat final sea game yang akhirnya dimenangkan tim Indonesia 2-1, tak kusangka anak-anak yang diluar kelihatan datar-datar aja, bisa rame kalo nonton timnas berlaga, sepertinya sifat nasionalisme ada untungnya juga untuk hal-hal seperti ini, yang penting tidak melanggar batasan syara. aku bisa bayangkan mungkin 95 persen masyarakat menyaksikan dan mendukung timnas tadi malam, sisanya tidak menonton karena pekerjaan, sisanya lagi mungkin tidak punya tivi di rumah, maklum saja, tingkat kemakmuran di Indonesia masih merata kemiskinannya.

untung saja tadi malam tim indonesia yang memenangkan pertandingan dan melaju ke final menghadapi Malaysi, coba kalau kalah, mungkin lebih geger lagi suara wisma bina taqwa malam tadi. untung saja kalau lagi pertemuan dengan warga masyarakat setiap bulan aku mewanti-wanti untuk memaklumi kegegeran anak bina taqwa kalau sedang menyaksikan pertandingan bola bareng-bareng, ''ah gak papa mas..malah biar maling pada takut main ke desa kita", aku cuman nyengir kuda aja denger kata pak RT yang merupakan kandidat rektor di salah satu universitas swasta di Solo ini, semoga saja guyonannya tadi emang guyonan, pasalnya anak-anak bina taqwa memang sering bantu-bantu desa, dari hal-hal keislaman sampai jadi panitia lomba di desa, aku takut kalau pak RT bilang gitu karena segan sama kita.huft..yang penting suasana kondusif.

sebenarnya tidak begitu berat obrolan antara aku dan bang said kala itu, paling tanya-tanya tentang sekolahnya, karena bang said menjadi salah seorang ustad muda disana, jadi ada baiknya aku mengorek informasi tentang pengajaran sebelum benar-benar terjun ke sekolahan nantinya. di tengah-tengah obrolan pagi muncullah pak abdul dengan sepeda onta tua kesayangannya. di kiri kanan dan jok belakang penuh dengan plastik yang berisi krupuk kulit atau orang Solo biasa menyebutnya rambak

"assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam warahmatullah, mau setor krupuk pak?"
"iya dek, sambil mengambil uang hasil kemarin"
pak abdul ini memang sudah terbiasa menitipkan jualannya di wisma ini, begitupun dengan penjual jajan lainnya. mereka menempatkan jajan jualannya ditoples yang diluarnya dikasih harga. alhamdulillah anak-anak bina takwa amahan semua, jadi tidak ada uang yang kurang. karena pak abdul pernah cerita kalau saat beliau menitipkan jajanannya di kos umum, sering sekali uangnya kurang, alias ada yang ambil jajan tanpa membayarnya. namun karena pak abdul tidak hanya menitipkan jualannya di satu kos, namun banyak kos, jadi kekurangan uang itu masih bisa ditutupi oleh hasil dari jualan di kos lain, dan sisa kekurangannya, biar Allah yang menutupi. kata pak Abdul

itulah yang kusukai dari pak abdul, meskipun penampilannya terlihat biasa saja, namun jiwanya penuh kemuliaan. aku saja waktu pertama kali bertemu beliau di kos yang sebelumnya kutinggali. dia menyalamiku, lalu mengobrol denganku dan memancing-mancing tentang keadaan sekarang, dari mulai masalah sosial, masyarakat, bahkan keadaan politik dan pemerintahan dia nyambung semua meski tidak terlalu detail. dan hebatnya lagi, disetiap pembicaraan dia selalu mengaitkannya dengan Islam, misalnya tentang demokrasi dan umat islam yang terlibat dalam politik demokrasi, atau tentang terorisme yang lagi menghangat-hangatkannya. usut punya usut ternyata beliau rajin sekali ikut pengajian. pantas saja menurutku, terkadang aku malu sendiri karena sebagai seorang aktifis kampus, aku kalah rajin dalam menimba ilmu agama dengan beliau.

pak abdul adalah sebagian kecil dari cerminan korban kebobrokan sistem di Indonesia dimana tidak ada sedikitpun peluang untuk mencari kesejahteraan, bahkan pemerataan peluangpun tidak, beliau ada salah satu masyarakat sipi yang terlepas dari tanggung jawab negara dan termakan para predator-predator kapitalisme yang buas di negeri kita. namun beliau juga cerminan seorang mu'min sejati yang patut diacungi jempol dalam siituasi seperti ini, dia adalah seorang mu'min yang tidak putus asa menghadapi ujian dunia yang mengerikan ini. ujian ekonomi adalah ujian paling mengerikan kurasa, namun beliau masih aktif meluangkan waktunya untuk mengikuti kajian bahkan menyampaikan dakwah islam meskipunn dengan cara yang dia sanggupi, namun cukup efektif.

sebenarnya pak abdul ini mempunyai sepeda motor butut yang dibeli dari jualan kerupuk itu, namun saat motornya raib saat dia menitipkan jualannya di salah satu kos di mendungan, namun saat kutanya, dia terlihat sangat tenang dan menjawab insyaAllah Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. saat itulah aku benar-benar dibuat takjub oleh beliau dan mulai belajar banyak tentang kehidupan dari beliau, sang guru dari universitas rimba raya. darinya aku mendapat banyak tausyiah tentang shadaqah, kesabaran, bahkan terkadang nyeletuk ke masalah pernikahan. terkadang aku memberikannya beberapa barang yang tak kubutuhkan atau makanan dari sisa pengajian, tentunya dengan segala jurus jitu yang kukeluarkan agar beliau mau menerimanya. karena pernah aku hendak memberinya uang, dan dia benar-benar menolaknya..Ya Allah Ya Rabb...Allahu Akbar...teriakan dalam hatiku kala itu..bagaimana tidak orang sesusah dia masih memikirkan kehormatan dan harga diri nya di hadapan Allah dan hambaNYA. sedangkan disana para perjabat pemerintah berusaha melakukan apa saja hanya untuk menutupi korupsi yang dilakukannya dengan para dedengkot mereka.atau bahkan dengan para peminta-minta di sekitar kampus yang terkadang meminta uang dengan agak memaksa, padahal seringkali aku mendapati mereka sedang bermain hape kalau jalan lagi sepi. sungguh beruntung aku mengenal pak abdul yang sudah mulai menua namun semangat keislamannya masih terlihat muda ini.

kalau aku boleh menerka, umur pak abdul ini hampir menuju 50 tahunan, wajahnyapun terlihat agak pucat dan kehitaman karena sering berkutat dengan panasnya siang hari kota solo. namun cerah wajah keimanannya terlihat jelas menutupi renta fisiknya, entah bagaimana aku memandangnya,mungkin kupluk putih agak kusam yang sering dipakainya itu membuat wajahnya lebih kelihatan muda. yang jelas aku tidak pernah mendapati wajah pak abdul terlihat muram, selalu ceria dengan senyum ramahnya..padahal aku yakin masalah yang dihadapinya berkali-kali lipat dari masalah yang terkadang menghantuiku, yang terkadang membuatku menangis sesengukan saat curhat kepada Allah tengah malamnya.

pak abdul, sang penjual rambak yang sholeh. begitulah aku mengingatnya, entah ada berapa sosok pak abdul di Indonesia ini, yang jelas tak lebih dari hitungan jari. karena kalau ada banyak sosok seperti pak abdul ini, aku yakin tak akan kudapati orang-orang berkerumunan menunggu dana bantuan kemiskinan yang di jatah pemerintah setiap bulannya, tak ada lagi berita kriminalitas di tivi, dan yang jelas. acara reality show yang berhubungan dengan orang miskin turun rating.

pak abdul seringkali memberiku wejangan saat mampir di kos, apalagi kalau melihat wajahku terlihat sedikit murung atau kecapekan sepulangnya dari kampus, beliau langsung mendekatiku dan merangkul pundakku tanda menghibur. itulah yang membuatku selalu menjaga ekspresi muka saat berada di dekatnya. malu kalau ketahuan lagi murung.

ada satu untaian kalimat mutiara yang pak abdul sampaikan kepadaku disela pembicaraan kita tentang sikap kita sebagai hamba Allah dengan segala manusiawi kita di dunia, beliau menukilkan perkataan imam syari r.a, seorang ulama yang terkenal sangat keras menjaga kehormatannya, mungkin imam syafi'i lah yang menginspirasi beliau ini, dengan penghayatan beliau menukil ucapan imam syafi'i :" kalau aku hidup dimana-mana akan kudapati makan, dan kalau aku mati dimana-mana akan kudapati kubur, jiwaku jiwa merdeka, jiwaku-jiwa raja-raja yang melihat kebatilan sama dengan kekufuran", begitu indahnya untaian kata imam syafe'i ini, ketika hidup beliau tidak takut kekurangan rejeki yang menyebabkan menggadaikan keimanan untuk secuil rejeki seperti manusia sekarang ini, dan dia tidak takut menyampaikan kebenaran meskipun dia diancam mati oleh para raja dan penguasa. benar-benar kebalikan dengan ummat islam sekarang ini. pantas saja karya-karyanya mendunia sekarang ini, sampai dijadikan sebagai rujukan organisasi islam terbesar di Indonesia, meskipun kenyataannya mereka cuma menumpang nama sebagai pengikut madzhab iman syafe'i, namun ibadahnya jauh dari apa yang tlah diajarkan imam syafe'i. ironis memang.

dari kedekatanku dengan pak Abdul ini aku berharap agar umat islam bersikap seperti itu, tidak terlalu dengan keadaan dunia yang dijalani, fokus kepada kampung akhirat. aku yakin, jika itu diterapkan, pastinya akan tercipta keadaan sosial yang kondusif dan penuh kemuliaan, biarlah orang atasan berlaku sewenang-wenang dan berpesta pora dengan ketidak adilan mereka, mungkin suatu saat dengan keimanan dan ketaqwaan keadaaan akan berubah, entah itu di dunia, dan pastinya di akhirat, karena Allah tidak akan membiarkan hambaNYA yang taat terdzolimi oleh makhluk lainnya.


0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--