Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sunday, November 20, 2011

Aisyah

Ahad ini rencananya aku masak sendiri, sebagai ketua wisma yang paling senior, aku bertanggung jawab dengan keadaan ikhwan-ikhwan penghuni wisma Bina Taqwa ini. sebenarnya hari ini adalah hari pertama diadakan acara masak ala ikhwani untuk mencukupi kebutuhan bulanan yang serba kepepet. pasalnya setelah kemarin kita memutuskan untuk membantu mbah ipah, tetangga wisma yang sakit dan butuh biaya ke rumah sakit, para ikhwan mengeluh dengan uang bulanan yang hampir habis, padahal bulan ini baru beranjak ke minggu kedua, subuh tadi diadakan rapat dadakan. masing-masing penghuni kudu kasih solusi untuk masalah ini. Doni memulai pendapat dengan mengusulkan untuk membuat usaha bareng, semua kurang setuju karena usaha pasti butuh modal. Anugrah berpendapat untuk sementara kita ke kampus jalan kaki bareng-bareng, sepertinya juga rada sulit, mengingat hampir semua penghuni wisma adalah semester tua, kecuali si Ahmad yang baru datang bulan lalu dari Purwodadi.jadi aku berinisiatif untuk memanfaatkan peralatan masak beserta kompor ibu kos untuk masak bersama dengan biaya patungan.

"DEALLL...!!!!" sontak seluruh ikhwan tanda puas.
sebenarnya tidak hanya mereka yang sedang terbebani masalah finansial. aku juga mempunyai masalah yang sama dengan mereka, apalagi aku yang membiayai kuliahku dengan segala kebutuhan disini. setidaknya uang yang kudapat dari ngelesi dan mengajar TPA di desa cukup untuk mencukupi kebutuhanku selama ini.namun kuakui sulit sekali untuk menyisihkan uang bulanan apalagi menambahnya. Semestinya aku harus mempersiapkan segala sesuatu agar tidak setiap malam aku diganggu oleh mimpi tentang pernikahan, namun tak apalah, setidaknya uang yang kukeluarkan ini berada pada jalan yang semestinya, dan aku yakin Allah sendiri yang akan mempersiapkanku nanti ketika waktu itu telah datang.

Jam enam adalah jam dimana pasar telah mulai rame, setidaknya tidak seramai jam 7, apalagi ini hari ahad, kugenjot sepeda ontel pinjaman akh aprie dari gonilan ke pasar kleco kartasura melewati area persawahan yang sedikit demi sedikit mulai bermetafora menjadi warung makan, kos-kosan, atau toko klontongan. Semakin lama area mahasiswa UMS ini semakin melebar, mungkin karena semakin majunya kampusku ini sehingga setiap tahun jumlah mahasiswa barunya bertambah, meskipun biaya kuliahnya setiap tahun juga ditambah-tambahkan entah untuk kepentingan siapa, dan setelah desa Menco Raya, desa kedua yang menjadi target akomodasi mahasiswa adalah gonilan, terlihat dari tempatku yang berada di gang pertama,baru empat bulan sudah muncul 6 warung makan baru dengan segala menu khas yang diandalkan, apalagi setelah ada pengaplikasian kebijakan aparatur desa untuk mengaspal jalan di desa Gonilan ini, ramai sekali orang lewat lalu lalang.

Sebenarnya tidak cukup jauh jarak antara gonilan dengan pasar Kleco Kartasura, hanya sekitar 15 menit perjalanan sepeda kayuh, dari tempatku gonilan tinggal jalan lurus ke arah desa mendungan yang cukup berkelak-kelok sepanjang kurang lebih satu kilo meter.sesampainya di sana kuparkirkan sepedaku di dekat masjid al Manar, masjid yang masuk kedalam fantasi kang Abi dalam novel 'ketika Cinta Bertasbih' aku berharap novel berikutnya menggunakan namaku sebagai tokoh utama, karena ceritaku pun tak jauh beda soal perantauan demi mengejar cita-cita, entah kalau soal cinta.hehehe.

Dari gapura barat sudah mulai terlihat keramaian pasar kleco, aku sangat suka suasana seperti ini yang sudah jarang ada di tempatku, sungguh natural sekali melihat para ibu-ibu yang menggendong anaknya sedang menawar ikan yang hendak di belinya, atau ibu-ibu penjual yang menawarkan dagangannya kepada siapa saja yang lewat. Bukankah ini cerminan dari budaya bangsa kita, terutama bangsa timur yang lekat dengan keramahtamahannya juga keadaan sosial yang bagus didalam masyarakatnya, terkadang ada rasa kecewa kenapa sekarang pasar-pasar tradisional seperti ini dihancurkan dan disulap menjadi pasar modern bahkan minimarket-minimarket yang merupakan congkolan investor-investor asing. Padahal hal ini bisa merubuhkan ekonomi rakyat kecil dan menengah, entah siapa yang diuntungkan dalam hal ini, dan sebagai bagiat dari rakyat biasa aku tidak begitu yakin itu bertujuan untuk pembangunan, tragis, aku melihatnya seperti si unyil yang disulap menjadi transformer.

Hari ini aku berniat memasak sayur pindang khas kudus, masakan khas kudus yang cukup terkenal di kotaku, ini sayur pertama yang akan kupresentasikan kepada teman-teman sebagai pembuktian bagaimana kudus mempunyai selera masakan yang sangat eksklusif. Lihat saja keramaian warung pinggiran di daerah antara kali gelis ke timur sampai alun-alun kota Kudus, atau gang satu pecinan yang warung-warung makannya tak pernah sepi setiap malam, atau bisa juga di daerah pasar kliwon. Mulai dari soto kudus, sweke enthok, nasi tahu, dan lain-lain semuanya menjanjikan goyangan lidah yang tidak mengecewakan, terlihat dari banyaknya orang pati dan jepara yang justru keluar mencari makan di sana, semuanya serba kuliner.

Kulihat nota bumbu yang akan kubeli untuk menu ku kali ini, nasi pindang bahan utamanya adalah daging kerbau, memang terkesan aneh, nasi pindang kok dagingnya kerbau, entah bagaimana asal mula ceritanya, langkahku mulai menerobos pasar membelah kerumunan orang yang datang dari rumah mempunyai itikad sendiri-sendiri, termasuk itikad untuk mengambil uang orang secara instan, alias njembret, makanya hatiku tak pernah lepas dari dzikir dan berdoa. Mataku mulai menerawang kesetiap sudut pasar mengingat di solo ini agak susah mendapatkan daging kerbau segar, sesekali kutorehkan senyum penolakan pada ibu-ibu atau mbah-mbah yang menawarkan dagangannya. Dari kejauhan agak kedalam terlihat daging kerbau yang bergelantungan. 'nah, akhirnya dapat juga' segera kudekati bapak penjual daging yang sedang memotong-motong daging pesanan pelanggannya, biarlah ngantri sebentar, yang penting aku dapet dagingnya.

Ternyata penjualnya ikhwan, terlihat dari penampilannya yang mencerminkan ikhwan, mulai dari jenggot tebalnya, sampai celana gamis diatas mata kaki yang sering dipakai ikhwan-ikhwan, akupun memakainya karena untuk tubuh besarku ini cukup sulit mencari celana pendek dengan ukuran yang pas. Dan di kota Solo ini seringkali kudapati ikhwan-ikhwan dengan penampilan seperti ini di tempat-tempat umum, begitu pula denga akhwat-akhwatnya yang berjilbab besar dan bercadar. Pemandangan seperti itu sudah biasa, mungkin kalau di kota besar lainnya akan terasa aneh atau bisa-bisa dibilang ''teroris', dan memang inilah salah satu kenapa aku memilih kota Solo sebagai perantauan masa depanku, karena selain kota pergerakan, bisa dibilang kota santri yang cukup militan.

''assalamu'alaikum'' kusalami bapak dengan dahi hitam bekas sujud itu.

'wa'alaikumsalam warahmatullah, butuh daging berapa kilo akh???''

''mmhh, seperempat kilo saja pak, tolong sekalian diirisi kecil-kecil ya''

Sembari menunggu sang bapak mengirisi daging pesananku, kuamati beberapa jualan yang dipampang di dalam pasar, berharap menemukan sesuatu untuk tambahan lauk, kubiarkan saja sang bapak bekerja karena aku yakin ikhwan tidak pernah curang dalam bertransaksi, bahkan menurut beberapa cerita, para ikhwan mempunyai jaringan perdagangan sendiri, jadi setidaknya saya aman dari daging gelonggongan.

Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan pasar, tiba-aku dikejutkan dengan sesuatu yang menepuk kakiku, spontan aku melompat takut itu anjing pasar, ternyata aku salah kira. subhanallah, itu anak perempuan kecil nan cantik sekali berbalut jilbab besar menutupi tubuh kecilnya, aku yakin itu putri bapak tadi. Segera kudekati tanpa menyentuhnya, karena meskipun dia belum balighah, aku menghormati orang tuanya yang menjaga kehormatannya sejak kecil. Kurendahkan tubuhku dan kutanya dengan senyum.
''namanya siapa...???''
''aicaah'' jawabnya lugu dengan lidah masih sedikit cadel, lucu dan imut sekali.
''ini putrinya ya pak..?''
''iya akh, anak keempat''
''lah uminya mana..??'' kutanya anak itu dengan lembut
''umi agi beyi sayul buat aicaah'' jawabnya malu,
Segera kurogoh sakuku, teringat dengan permen kembalian tadi.
''aisyah mau permen gak, ne kakak beri''
Lalu denga lugu diambilnya permen dari tanganku.
''nah..aisyah..kalau dikasih kakak permen bilangnya apa..??''
''jazakumullah kakak..'' jawabnya polos, kemudian dia berlari menuju ke arah uminya yang mulai terlihat dari kejauhan.
''ini akh, totalnya 15 ribu'' kata sang bapak sambil memberikan dagingku.
''oh iya..ini pak,mmh, bahagia ya pak sudah berkeluarga seperti itu..??'' pancingku sambil tersenyum mengingat ini kesempatan emas untuk mendapatkan info dan penjelasan langsung dari orang nya mumpung tidak ada lagi pelanggan bapak.
''menikah adalah bentuk karunia Allah kepada kita akh, dimana rasa karunia yang satu itu benar-benar mengakar keindahannya dalam hidup kita, menikahlah akh, maka antum akan benar-benar merasakan suatu hal yang baru, dalam ridho Allah lagi.''
''iya pak, namun jalan untuk kesana kok sepertinya terasa berat ya..''
''hehehe..istri ane itu ustadzah, tapi berbeda dengan keluarganya yang abangan, ane menikah umur 22 tahun, waktu itu ane dikasih tahu ustadz ane bahwa ada akhwat yang membutuhkan bantuan, waktu itu ibunya istri ane hendak dioperasi dan butuh biaya besar, ada teman bapak istri saya yang ingin membantu membiayai ibu istri saya dengan misi ingin menikahkan anaknya ke istri saya, padahal teman ayah istri saya itu adalah dukun, bapaknya bilang kalau temannya jadi membantu biaya operasi, maka bapaknya akan menikahkan anaknya itu dengan istri ana, mendengar cerita itu tanpa banyak berfikir panjang, bahkan tanpa istikharah berupaya membantunya dan hendak menikahinya, karena ana berfikir bahwa si anak dukun yang sudah tergila-gila dengan istri saya ini pasti melakukan segala cara untuk mendapatkan istri ana, sebagai seorang mu'min ana wajib menolong agamanya,dan ana yakin Allah akan menolong dan membantu ana menghadapi masalah ini.padahal secara apapun aslinya ana belum siap untuk menikah,modal bismillah akh, akhirnya ya alhamdulillah seperti ini, meskipun ana mengorbankan kuliah ana namun dibalik itu ana malah bisa belajar banyak ilmu agama dari istri ana, karena dulu ana adalah orang awwam yang tidak mudeng agama.

Ada kepuasan lain sepulangku dari pasar, aku tidak hanya mendapatkan daging, namun juga tausyiah, hidayah, pokoknya pencerahan banget dari pak bukhori, penjual daging itu. Aku menjadi semakin mantab melangkahkan kaki untuk menyempurnakan agamaku. Apalagi tadi melihat si aisyah kecil nan cantik dan sholehah, aku seperti tidak sabar untuk punya keturunan dan mendidiknya menjadi mujahid dan dai juga ummahatul mu'minin di tengah dunia yang berasa neraka ini.

Perjalanan pulang dari pasar pun terasa berbeda, langit terlihat sangat cerah dan udara persawahan seperti mendorongku untuk mengayuh sepeda lebih cepat. Akupun tersenyum dan mengiyakan, kupacu kayuhan sepedaku meski suara gesekan sepeda tua ini semakin keras dan berdecit, biarlah, semoga si anugrah tidak ngomel karena makan siangnya terlambat.
Published with Blogger-droid v1.6.7

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--