Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Wednesday, March 9, 2011

pacaran masa kini, elegi cinta setengah hati

      pacaraan memang sesuatu yang sangat mengasyikkan bagi para remaja.bagaimana tidak..bisa jalan-jalan berdua, gandengan tangan kesana kemari.foto-foto bareng..sayang-sayangan..dan hal-hal mengasyikkan lainnya, remaja, dalam masa transisinya yang penuh dengan pergolakan dan ketidak stabilan psikis bertemu dengan perasaan yang dapat membuatnya menggelepar-gelepar..apalagi disaat mellow-mellow gitu, mendengarkan lagu romantis dengan segala khayalan terhadap sang pacar.serasa sejuk dan semakin cinta..romantis...

      memang tidak dapat dipungkiri, satu hasrat yang sanggup membolak-balikkan perasaan manusia itu adalah hasrat mencinta dengan segala kontennya ;menuai kasih, menebarkan perasaan, memendam kerinduan, dan pengungkapan sayang. boleh dikatakan bahwa cikal bakal kedamaian di dunia ini adalah bertebarnya rasa cinta kasih diantara sesama manusia, dan secara spesifik lagi, rasa cinta dengan pasangan.namun bisa juga dikatakan rusaknya generasi ini juga oleh sebab cinta. cinta, memang benar rasa ini datang tanpa permisi, karena rasa cinta adalah fitrah, bekal manusia dalam perjalanannya di muka bumi ini.terkadang juga seseorang baru mengerti itu adalah cinta justru ketika mereka sudah masuk dalam pengaruh perasaan terdalamnya. namun sebagaimana juga fitrah yang ada, segala sesuatu yang dijalankan tanpa aturan hanya akan memperburuk keadaan.


     cinta datang begitu saja dengan mudahnya, sedangkan kita bingung dengan perasaan yang kita miliki ini, apakah setiap cinta yang datang harus ditanggapi dengan jawaban 'iya', lalu memaksa diri untuk mengikuti alur yang ada sampai sedemikian rupa seperti orang-orang yang sedang kasmaran  lainnya.padahal disatu sisi lain kita juga tidak dapat memungkiri bahwa ketika masalah dalam suatu hubungan muncul, kita merasa cinta kita bukan disitu..lalu menikmati kesendirian sebagai rasa kedewasaan dalam konsekuensi kemelut suatu hubungan yang mengakibatkan putus seperti tadi. kemudian setelah beberapa lama cinta itu datang lagi...lagi dan lagi...merayu kita untuk kembali menuai kasih dengan berjuta-juta harapan untuk mendapatkan cinta yang lebih baik dari sebelumnya..begitu seterusnya tanpa kita sadar. hati kita telah usang dengan berbagai macam cinta yang kita terima begitu saja.hati kita tak lagi peka dengan keadaan, lalu rapuh, goyah oleh ketergesaan kita, menanggapi dan merespon cinta saat menyapa. lantas yang menjadi pertanyaannya. apakah sejatinya cinta itu..??seperti apakah cinta itu hingga sering berubah warna dan slalu menggoda..??

       mungkin dulu saat cinta pertama muncul ada sebersit asa dan harapan dibenak anda,'ini untuk yang pertama dan yang terakhir, karena aku begitu mencintainya', rasa seolah-olah tulus itu menyelimuti hati karena cinta pertama adalah hal tersulit dalam menjalin awal hubungan, bagi wanita, sangat sulit untuk membuka perasaanya kepada seorang lelaki karena insting preventifnya menjaga perasaan, dan bagi lelaki sangat sulit untuk 'melumpuhkan' perasaan wanita yang disukainya karena merasa aneh dan belum berpengalaman, wajar. dan itu adalah insting yang tepat karena sebenarnya untuk membuka hati kita dan mencintai orang lain dibutuhkan sesuatu yang tidak hanya disanpaikan sebatas kata. perasaan ragu apakah dia benar-benar mencintai kita, perasaan khawatir apakah dia bertanggung jawab, dan perasaan gelisah lainnya. itu adalah kata hati anda bagaimana sesuatu yang tidak pasti hanya akan mengganggu arah hidup anda.namun sekali lagi, kelemahan terbesar manusia adalah pada perasaannya. begitulah syetan selalu mengarahkan anak panahnya tepat padanya.akhirnya terjalinlah hubungan atas nama cinta, namun tanpa ikatan yang kuat, meskipun dengan berbagai pengakuan akan begitu besar cintanya.

      kemudian dalam perjalanan cinta itu rasa manis, rasa kangen, rasa cemburu dan seolah-olah telah benar-benar saling memiliki menjadi hiasan bagi dua insan ini. tawa canda, bahkan tangis tak luput dari gelaran tikar asmara. namun tragis, secara tidak langsung mereka telah mendobrak tabir kehormatan mereka sendiri. yakinlah, sejauh apapun pengelakan terhadap hal-hal yang berbau negatif. seiring berjalannya waktu mereka akan tersadar mereka telah terjerumus dalam kesesatan sejauh itu. kissing, hugging, petting, bahkan sex. seolah sudah bukan urusan orang lain untuk mencampurinya, mereka melakukannya atas nama cinta, suka-sama suka..

      namun begitu pelik ketika mereka tersadar, mereka hanya berjimbun pada kesenangan, pelampiasan perasaan. dan hanya karena masalah sepele kemudian putus begitu saja. sang perempuan kalut, setelah sebelumnya memberikan apapun dan semuanya kepada sang pacar, dan kini ditinggal begitu saja. stress, depresi...dan akhirnya menenangkan diri dengan caranya sendiri, berfikir bahwa dia telah rusak, dan tidak bisa kembali lagi, menjerumuskan dirinya pada cinta-cinta berikutnya yang lebih buruk, dan sekarang tiada lagi perasaan sayang menghinggapi hati. hanya sebatas menjalani, kemudian menjalani....

    dalam kisah yang lainnya tersebutlah dua insan yang lebih memahami agama dan mengerti tujuan eksistensinya di dunia, satu sama lain berusaha menjadi pribadi muslim yang taat, hanya saja di sisi yang lainnya rasa cinta memaksanya untuk berfikir dan berdalih, pacaran islami itu lebih memungkinkan, jauh dari kemaksiatan, tiada sentuhan, tiada kedekatan fisik, hanya sebatas ikatas sederhana untuk awalan sebagai nantinya diangkat menjadi pasangan suami istri, kata mereka, karena saat itu tidak mungkin bahkan dirasa immposible untuk menikah, sang lelaki belum bekerja, dan sang perempuan masih terlalu belia. namun rasa sayang yang mengetuk hati mereka dan rasa takut kehilangan membuat mereka terpaksa menikmati dosa manis dua insan ini, atas nama islam, katanya.berawal dari surat/ sms yg sangat meyakinkan dari sang ikhwan, yang dengan berbagai pertimbangan dan pergolakan hati akhirnya meluluhkan sang akhwat, jadilah mereka berdua sepasang kekasih islami, bukan...bahkan mereka tidak mau dibilang pacaran. karena bertemu pun mereka tidak berani, hanya sebatas berkirim-kiriman sms ataupun chat lewat messanger. 

    namun mengaku ataupun tidak mereka sepakat bahwa terjalin sebuah ikatan perasaan diantara mereka berdua. saling gundah memikirkan, saling terpesona dalam pesan dan nasihat, kemudian saling percaya dan meyakinkan. maka simpul-simpul perasaan mereka telah kacau balau, sedikit banyak mereka sadar sudah tak lagi benar-benar bersih, lalu ditinggalkannya ladang dakwah yang sebelumnya mereka jalani. atas nama cinta 'yang islami'. kemudian seiring berjalannya waktu rasa memiliki sudah sangat pekat di hati, panggilan akh/ukht berganti menjadi dik/ mas. cemas menunggu jawaban sms dan melupakan segalanya. 

     dan tak urung sang ikhwan mulai berani mengespresikan cinta lewat puisi dan kata-kata manis di sms. sang akhwat malu-malu, namun menerima. berbeda dengan cerita yang pertama tadi, sang akhwat lebih dalam cintanya, karena beriorentasi pada pernikahan, bukan sekedar memaknai cinta dengan pacaran, namun begitulah dunia, ketika kita terlalu goyah dengan keadaan, berasa bingung, dan lupa bahwa kita punya dua pedoman ;al Qur'an dan as Sunnah yang seharusnya digunakan disetiap sendi kehidupan. banyak yang menganggap kurang sempurna,sehingga memilih jalan yang terbaik sebagai 'mashlahah', dengan mengutamakan tujuan, mereka mengabaikan proses, dan berharap mendapat pengampunan dari Allah. semua terjadi karena satu hal, kurangnya keyakinan kita pada Allah swt.

     mungkin bisa jadi ikhwan dan akhwat tadi melanjutkan hubungan ke arah pernikahan, namun pastinya mereka mempunyai cela. setidaknya ketika mereka menasehati anaknya untuk tidak pacaran, lidah mereka kelu ketika sang anak bertanya apakah orang tuanya tidak pacaran, lalu hilanglah satu figur yang seahrusnya menjadi penopang sang anak dalam menghadapi masa depan yang cerah dalam ruang lingkup keluarga yang shalih bukan..??? atau karna sebelum menikah sudah 'sayang-sayangan' dulu, rasa surprise dari sebuah pernikahan pun hilang begitu aja dan pastinya sang pasangan mendapati tidak singkronnya sikap pasangannya antara sebelum dan setelah menikah, berbeda, hal itu menimbulkan kekecewaan dan lebih jauh lagi adalah sikap penyesalan, kemudian menjalani kehidupan keluarga setengah-setengah sehingga sulit untu mencapai kehamonisan, dan sedikit banyak pun akan berpengaruh pada masa depan anak-anak mereka yang hidup dilingkungan yang kurang kondusif.

     Allah menciptakan segala sesuatu bukan tanpa tujuan dan bukan tanpa pembekalan, Allah menciptakan pohon juga dengan air dan matahati, menciptakan ikan juga dengan air laut, dan Allah menciptakan manusia yang berperasaan n berkasih sayang juga dengan aturan sebagai penyalur ciptaannya itu, yaitu dalam Islam, Allah memberikan rasa lapar dan haus, lalu Allah mengkaruniakan air dan segala sesuatu yang bisa dimakan, juga Allah mengatur bagaimana makan yang baik dan sehat dalam syariat, 

      Allah menciptakan hasrat berkasih sayang dalam bentuk kehidupan seksual, lalu Allah menjadikan mereka berpasang-pasangan dan juga memberikan aturan dalam islam yaitu menikah. bagaimanapun dan apapun serta dimanapun akan ada syariat Allah yang mengatur, seorang mukmin tidak seharusnya mengkoreksi syariat yang ada karena lemahnya akal manusia dalam menjangkau ilmu Allah, oleh karena itu seharusnya seorang mukmin benar-benar mengaplikasikan islam dalam segala kondisi secara tepat tanpa ragu dan tanpa mengedepankan akal yang serba lemah ini. cukuplah janji Allah yang memberi jawaban atas syariat yang ada sebagaimana di Al Qur'an dan As Sunnah. semoga Allah menjadikan kita mukmin yang benar dan penuh cinta.

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--