Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, March 19, 2011

Laskar Santri (Part III)

  Menjadi seorang santri ternyata mempunyai banyak tantangan dalam manajemen waktu, bukan karena apa-apa, namun ketika sedikit saja kita terlena dengan waktu yang diberikan, meskipun hanya sekedar bermalas-malasan sejenak. itu tidak hanya akan menjadi sebuah sikap yang negatif bagi diri kita, namun juga akan menjadi bumerang santri itu sendiri.


   Seperti saat-saat bermain sepak bola sore ,setelah selesai pelajaran seperti itu, aku harus tahu. Ketika jam sudah menunjukkan waktu 5 sore.mau gak mau aku harus kembali ke asrama untuk mandi dan bersiap-siap menunggu adzan maghrib, begitu juga dengan para santri yang sudah terbiasa berdisiplin waktu seperti itu. Sedangkan yang lainnya gak mau tahu..melanjutkan asyiknya bermain sepak bola. Namun bagaimana tidak, ketika adzan mereka berlarian berbondong-bondong ngantri mandi sampai telat shalat maghrib.akhirnya mendapat bentakan dan pukulan dari mudir pondok.lain cerita dengan para santri yang berdisiplin waktu. Mereka sudah mandi, segar, wangi dan keliatan tampan. sudah stand by di masjid jauh sebelum adzan maghrib tiba,ada yang sedang murajaah hafalan, atau sekedar mengobrol ringan membahas suatu masalah. yang jelas golongan ini lebih dekat dengan para ustad.

  Begitulah, dan alhamdulilllah selama tiga tahun nyantri aku tidak pernah berurusan dengan bentakan ustad karena telat mandi sore. Adzan magrib berkumandang, para santri masuk ke masjid dan menjalankan shalat berjamaah. Setelah usai, ada beberapa qismu yang maju ke depan shaf dan mengumumkan para pelanggar peraturan hari ini. jadi tiap kali selesai sholat pasti ada yang push up, atau lari lapangan. Benar-benar menyenangkan suasana pondok seperti ini, meskipun di awal tanda-tanda tidak krasan sudah muncul karena begitu ketatnya peraturan di pondok juga tekanan-tekanan tugas santri yang begitu berat. 

  Shalat magrhib dan I’lan selesai, kami melanjutkan pelajaran di kelas, namun kali ini tanpa seragam.hanya dengan baju koko dan sarung plus peci hitam bagi yang suka mengenakan peci.oh ya, urusan baju shalat pun diatur oleh qismu kala itu, harus pakai sarung dan baju n kopiah, hebat bukan?. pelajaran malam dengan non seragam begitu  menjadikan suasananya lebih nyaman, enjoy dan fresh(karena sudah pada mandi).
  
  Pelajaran malam tak jauh dari kitab-kitab kuning(kitab arab gundul). Aku lupa jadwalnya apa saja dulu, tapi ada nahwu, aqidah,ulumul qur’an, dll..di awal-awal aku bener-bener ga ngerti cara baca kitab tanpa harakat itu, apalagi menterjemahkannya, ada beberapa juga yang sudah bisa sedikit-sedikit, sedangkan diriku hanya mengandalkan coretan yang kudapat ketika ustad menterjemahannya.maklum, santri kelas satu. Pelajaran malam seperti ini berlaku sampai jam setengah delapan malam, atau kalau ada santri yang mengumandangkan adzan isya, maka kelas lain pada ikut bubar untuk beranjak ke masjid dan shalat berjamaah, setelah itu barulah makan malam. Dengan menu sederhana yang terkadang membuatku melupakan nafsu makan, asal telan aja. 

  Makan bareng-bareng di depan asrama berjejer panjang adalah aktifitas rutin yang sangat mengena akan arti sebuah moment penting dalam sebuah hubungan antar santri, terkadang sambil bercanda dan ngobrol sesuatu, seolah-olah kita berada dalam sebuah tempat yang sangat mengasyikkan, tanpa memperdulikan apa yang kita makan. karena menu yang sangat menggoda tenggorokan untuk muntah. ikan setengah matang dan nasi yang masih setengah nasi tak pelak membuat kita memutuskan lebih baik cuma minum air putih dan merelakannya pada kucing-kucing pondok daripada harus berurusan dengan yang namanya sakit perut. bahkan kalau dibayangkan, lebih baik makan dengan menu krupuk daripada harus merasakan ikan yang masih amis. 

   Selesai makan malam para santri saling melanjutkan aktifitas masing-masing, ada yang pergi ke kelas untuk belajar, ada yang mencuci baju di belakang (hanya bagi para pemberani karena tempat cucian  sangat jauh dari asrama, sangat sepi dan seram, namun biasanya yang mencuci malam-malam adalah santri-santri yang agak pemalas, karena mereka baru mencuci seragam yang harus dipakai besok paginya), ada yang pada ngobrol di kamar,ada juga beberapa yang belajar di masjid bareng-bareng dengan bantal disamping sehingga tidak perlu bolak-balik ke asrama saat mau tidur.


   Benar-benar momen yang sangat indah dan itulah arti sebuah perjuangan pondok yang sangat mengesankan, dimana antara yang satu dengan yang lain saling meninggalkan background hidup mereka, meninggalkan kasta, meninggalkan segalanya, kemudian bercampur menjadi satu, sama semuanya, kemudian saling mentorehkan prestasi dan kenangan dengan tinta persahabatan yang sangat kuat atas landasan keimanan, satu moment yang sangat pekat dan tiada terlupakan.semoga Allah memberikan balasan atas perjuangan mencari kebenaran ini.


2 comments:

Anonymous said...

subhanallah.... jadi inget di pondok ne,
maju trus friend!!!! keep your spirit!!!! and jngan lpa saling doa bae yo...

Darkness Prince said...

ganbatte....!!! \(^^,)/

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--