Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, January 22, 2011

kekuatan di balik sebuah harapan

    sebagai seorang manusia yang mempunyai akal dan perasaan, terkadang muncul rasa ketakutan di benak kita. tantangan dunia yang akan menjelang, hari-hari di depan, pertambahan usia. dan semua masalah-masalah hidup sanggup mengecutkan nyali kita di setiap detiknya. tak akan ada yang menyangkal bahwa kita hidup dengan segala masalah, karena dari situlah sebenarnya kita belajar tentang kehidupan, memahami proses hidup, di setiap langkah yang kita lewati di dunia ini menuju proses kedewasaan, proses dimana kita akhirnya menemukan titik keseimbangan antara akal dan hati kita, sehingga pertimbangan perasaan dan fikiran logis kita terhadap dunia menjaga kita dari perilaku dan tindakan-tindakan yang dipengaruhi oleh satu dari dua undur tadi, akal atau perasaan.




      sebagai contoh dominasi pengaruh akal dari perasaan adalah sikap egoisme dan pemikiran hukum rimba yang biasa terjadi di lingkungan-lingkungan sosial, terutama pada area kerja. merasa bahwa hidup ini tergantung pada perjuangan meraih kesuksesan sendiri. berfikiran bahwa dia kaya karena kerja kerasnya sendiri, dan memandang ketidaksuksesan orang lain merupakan akibat dari kemalasan mereka sendiri, yang berakibat pada ketiadaan jiwa sosial diantara mereka, sikap tolong menolong terhadap sesama, atau bahkan yang lebih simpel lagi, mereka tidak mau di samakan, sehingga muncullah kelas-kelas sosial yang membatasi jalinan kehidupan sosial mereka. jika hal ini terus dibiarkan, maka dunia ini tak lebih dari sebuah kerajaan rimba yang tak mengenal Tuhan. sosialis, komunis, dan ideologi-ideologi individual ekstrim akan rata menjangkiti bumi.


      begitu pula dengan dominasi pngaruh perasaan dari akalnya,mereka akan menjadi orang-orang lemah yang berharap memperoleh pertolongan dan bantuan dari sesamanya. mengungkapkan sesuatu tanpa berani mempertanggung jawabkannya, lahirlah para pecundang kelas kakap yang menjadi pemerhati perasaan tanpa batas dan diluar jalur logis, seperti para para pengusung hak asasi manusia yang mendobrak garis-garis ketuhanan dan fitrah manusia. bukan berarti sifat ini tidak baik, namun sebagaimana hukum sebab akibat, sesuatu yang lahir dari ketidakseimbangan akan melahirkan ketidakadilan bagi pelaku dan orang lain.

     diluar itu semua, pastinya setiap pertimbangan memiliki harapan yang tinggi dalam pencapaian atau hasil akhir dalam setiap episod kehidupan ini. namun harapan yang tulus saja tidak cukup menjadikan alasan kita untuk memaksa Tuhan memberikan karuniaNya dalam bentuk yang paling sempurna.

     ujian hidup bagi seorang yang berkepribadian hebat tak lebih dari sekedar tantangan kehidupan menuju proses pembelajaran hidup dalam rangka memasuki proses kehidupan selanjutnya yang lebih rumit, seperti masa-masa peralihan dari abg kepada kedewasaan, kedewasaan menuju usia senja, masa sekolah berganti kuliah atau bahkan kerja, dari masa lajang beralih ke pernikahan, itu semua merupakan fase-fase peralihan dalam menapaki kerasnya hidup ini. 

     namun seringan apapun ujian yang dihadapi, kita juga manusia yang terkadang merasakan rapuhnya jiwa meskipun masalah yang kita hadapi tak sampai menggoyahkan diri. dan kitapun tidak menafikan bahwa disatu waktu kita benar-benar merasakan kerasnya tantangan hidup ini, sampai-sampai keindahan hidup yang kita rasakan selama bertahun-tahun terhapus oleh pekatnya masalah yang datang sekejap..namun sadarkah kita bahwa Allah menghendaki sesuatu tiada lain kecuali ada hikmah atau pelajaran tersembunyi yang menakjubkan jika kita menyadarinya. 

    dalam hal ini, masalah yang ada merupakan suatu rangkaian fase perbaikan untuk hidup kita, sebagai satu contoh ketika suatu kali kita berhadapan dengan masalah keuangan. hutang menumpuk dan jatuh tempo sudah dekat, sedangkan dilain sisi kita juga mempunyai biaya-biaya rutin lainnya, maka hal ini secara tidak langsung memaksa kita untuk bersikap progresif dalam menambah finansial kita, kita menjadi lebih serius mencari nafkah dan lebih maksimal dalam berfikir ke depan, lalu apalagi yang dapat kita katakan selain bahwa masalah-masalah hidup ini akan menuntun kita pada suatu kesempurnaan hidup jika kita sanggup menghadapinya dengan baik.

     lalu bagaimana kita menapaki tangga-tangga ujian dan permasalahan hidup, sedangkan tidak sedikit kita temui orang-orang yang putus asa dan mengakhiri setiap fase hidup dengan ketidakberdayaan, sobat, jika kita analogikan dalam sebuah filosofi, permasalahan hidup ini ibarat aliran angin kencang yang menghempaskan semua yang ada di atas bumi, dan kita ini adalah sebuah pohon yang tumbuh dengan pohon-pohon lainnya, lalu setiap saat kita terhuyung ke kiri dan ke kanan mencoba bertahan dari dorongan angin, berusaha menguatkan akar kita, dari waktu-ke waktu, dalam masa pertumbuhan ini menuju masa yang dinanti-nanti, masa pembuahan. maka setelah pohon ini kuat dan kokoh, tak ada lagi angin yang meresahkan pohonnya.begitulah, bahwa setiap proses pasti ada ujiannya, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa kuat bertahan menghadapi proses ujian yang ada...???

    Islam adalah agama terhebat yang ada di bumi ini, bagaimana tidak, setiap sendi permasalahan dalam kehidupan semuanya diatur dalam islam, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur, dari kita makan sampai kita ke belakang, dan dari hal-hal yang bersifat ringan maupun yang menyangkut keyakinan, semuanya tertulis rapi sejak 1500 tahun yang lalu sampai sekarang dalam Alqur'an dan sunnah Rasulullah saw. dalam masalah ini, setidaknya terdapat perbedaan yang kuat antara orang yang memahami hakikat ujian hidup dengan orang yang menjalani hidupnya tanpa essensi.orang-orang yang beriman, yang meyakini bahwa hidup ini sementara yang penuh dengan ladang ujian, berfikir bahwa semua kemelut permasalahan hidup ini adalah sebagai barometer, sejauh mana loyalitas mt mereka terhadap agama mereka, di saat mereka kaya, kemudian miskin, di saat mereka senang atau sedih, juga di saat mereka lapang ataupun sibuk. semuanya hanyalah sebagai ukuran keimanan mereka terhadap Allah, dan mereka tak akan sanggup melaluinya melainkan dengan keimanan yang nyata terhadap salah satu pondasi Iman, yaitu beriman kepada hari akhirat, hari pembalasan setiap amal di dunia.

      manusia tidak akan benar-benar hidup tanpa sebuah harapan, sedangkan harapan adalah cikal bakal dari sebuah perjuangan hidup, dimana darinya akan melahirkan kemaksimalan sebuah usaha dan kepasrahan kepada Allah sebagai hasil akhir kedepan. sebuah harapan hanya akan muncul dari sebuah keyakinan, sebagaimana seorang pengusaha yang memasrahkan segala kegiatan usaha kepada karyawan-karyawannya karena dia yakin akan kapabilitas mereka. dan di hidup ini, keyakinan tertinggi adalah keyakinan terhadap Allah, Tuhan semesta alam yang paling berkuasa dalam mengatur kehidupan kita, mencukupi kebutuhan kita, dan membahagiakan kita. 

       keyakinan-keyakinan yang tulus semacam ini akan melahirkan sebuah Rahmat dari Allah sebagai balasan loyalitas kita di akhirat nanti, di syurga yang abadi. sedangkan di dunia, segala kenikmatan ataupun ujian hanyalah cobaan, jangan terpukau oleh segala kenikmatan, dan jangan rapuh oleh segala ujian, karna kita muslim, harapan yang muncul dari sebuah keyakinan yang mantab dan disertai perjuangan keras dalam menghadapi fase-fase kehidupan dengan lurus sesuai kaidahnya akan melahirkan sebuah kemantaban hidup yang tidak akan dirasakan orang-orang kecuali yang beriman, sebuah manisnya perjuangan.yang darinya lahirlah kesempurnaan pribadi yang tidak dapat diukur dari materi dan indera duniawi. pribadi rabbani.

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--