Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sunday, January 2, 2011

kebermaknaan hidup


Alif laam miin. Kitab(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat], dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.(al Baqarah:1-5)


      Mungkin anda sekarang bertanya-tanya, kenapa saya menempatkan beberapa ayat dari surat al Baqarah ini di depan, di barisan paling awal pada tulisan ini. Ada apa gerangan? Apakah anda berfikir saya akan mencoba menafsirkannya? Tidak, saya bukanlah seorang ahli tafsir. Dan itu membuat saya harus berhati-hati dalam urusan ini, karena salah sedikit saja dalam menempatkan tafsir atas ayat-ayat Allah ini. Maka saya tak ubahnya seperti domba-domba liberalisme yang sangat senang merusak Islam dengan akal mereka yang sempit dalam menafsirkan ayat-ayat Allah. Lalu hendak apa saya menulis ayat di atas?

       Pernahkah anda memperhatikan seorang pengejar karir yang begitu semangatnya memburu kesuksesan dunianya. Harus rela pulang tengah malam demi menyelesaikan urusannya. Bahkan tak khayal mereka terkadang mengobankan banyak hal demi cita-citanya tersebut. Hidupnya dipenuhi dengan ambisi. uang yang mereka dapatkan itu mereka menghamburkannya tanpa berfikir panjang, hanya untuk menunjang karirnya dan menaikkan image dirinya. Sampai-sampai mereka ogah untuk menikah, baik itu pria maupun wanita. karena menurut mereka, pernikahan hanya akan menghambat kesuksesannya.
    
      Lalu bagaimana mereka me-refreshkan diri Setelah seminggu penuh berkutat dengan pekerjaan? Tentu saja mudah bagi mereka untuk mendapatkan hiburan dengan ukuran kantong yang begitu tebalnya, mereka pergi ke diskotik sampe tengah malam saat weekend tiba. Atau melakukan free sex dengan seseorang yang dia suka. Begitu seterusnya. Sampai suatu saat mereka berfikir untuk melanjutkan generasi, menikah di usia yang cukup terlambat. Kemudian mencekoki anak-anak mereka dengan gaya hidup yang mewah dan ambisi-ambisi yang menurut mereka bagus untuk anak-anak mereka. Memang tidak semua orang karir seperti itu, namun percayalah, hampir semua karir membuka peluang seperti itu.

     Atau mungkin pernah pula anda mendapati seorang yang  hidupnya tidak pernah mendapatkan kemudahan, hanya bekerja jualan jajan keliling mungkin, mengayuh sepeda dengan badan penuh peluh keringat, sampai terkadang harus berhenti sejenak dan istirahat di bawah teduhnya pohon di pinggir jalan. sedang istrinya menjadi ibu rumah tangga,mengurus rumah dan anak-anaknya. Pakaian mereka sangat sederhana. Bahkan mungkin mereka tidak mempunyai tv di rumahnya. Namun mereka tidak pernah menampakkan raut kesedihan. Pembawaannya tenang, seolah tidak pernah mendapatkan kesulitan hidup. Meskipun secara realita mereka berkutat dengan pekerjaan yang super melelahkan nan kecil hasilnya, namun tetap menyempatkan shalat di masjid. Bahkan mungkin lebih khusyuk dari kita. Sedang istrinya berjilbab besar mengurus anak-anak mereka di rumah dengan telaten. Tak pernah merengek ke suaminya minta perhiasan ini dan itu. Bahkan tak pernah menanyakan dapat hasil berapa hari ini. Mereka berprinsip bahwa dunia hanyalah kehidupan semu nan singkat, akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya, oleh karena itu mereka tidak terlalu memikirkan kehidupan dunianya, mereka hanya terfokus bagaimana mendapatkan bekal yang sebanyak-banyaknya di akhirat, yaitu dengan jalan menjadi hamba yang paling bertaqwa.

          Jika anda bertanya kepada kedua pelaku dalam masalah tadi, sang pengejar karir, dan sang sederhana. Tentang keadaan hidup mereka ini. Anda mungkin akan mendapati keduanya menjawab “saya bahagia dengan kehidupan saya ini, dan ini adalah puncak kebahagiaan saya.” Bagaimana bisa?!! Bagaimana dua sisi keadaan kehidupan seperti dua sisi mata uang ini mempunyai kadar esensi yang sama?? Maka Ini adalah bagian dari tujuan saya menulis ayat-ayat surat al Baqarah diatas

        Kebermaknaan hidup, menilai sejauh mana makna hidup seseorang, atau bisa juga dikatakan sejauh mana seseorang memaknai hidupnya. Tak lebih dari sebuah analisis biasa jika kita menggunakan parameter relativitas dalam pendekatannya. Lalu dengan apa kita mengukur tingkat kebermaknaan hidup seseorang? Temanku, tidakkah kita ingat untuk apa kita semua ini diciptakan. kita, manusia, makhluk paling sempurna yang dibentuk sedemikian rupa dengan kelebihan akal dan hati yang sanggup menjangkau sesuatu dalam batasan baik-jelek, indah-buruk, dan yang merugikan atau menguntungkan, tidaklah sia-sia diciptakan melainkan untuk beribadah dan taat kepada Allah azza wa jalla, Itu saja. Lalu bagaimana sebuah landasan berfikir yang cukup sederhana tadi terimplikasi dalam kebermaknaan hidup? Mungkin saya akan menganalogikan dengan dua sosok karyawan, yang satu berseragam rapi dan disiplin, serta mempunyai etos kerja yang tinggi dalam perusahaannya. 

      Dan yang satu lagi, berseragam kurang rapi dan teledor dalam pekerjaannya, namun meski sering mendapat peringatan dia bangga dengan apa yang dilakukannya tersebut, dia mengatakannya sebagai sebuah idealism hidup yang tidak dapat disamakan antara orang yang satu dengan orang yang lain. Lalu bagaimana anda menilai dua orang karyawan tadi. Pasti anda akan menjawab dengan great applause untuk si karyawan rajin tadi, selain karna dia seorang idealis yang bagus, dia juga komitmen dengan pekerjaannya sebagaimana yang dia janjikan saat interview lamaran kerja, dan yang jelas dia sangat dibutuhkan juga bermanfaat bagi perusahaan. Sedangkan untuk tokoh yang kedua ini, saya yakin anda tak jauh berbeda dalam menilainya dengan saya. Meskipun si malas ini bangga dan menikmati karakter yang dia jalani itu, saya yakin tak seorangpun akan menilainya dengan positif, bahkan perusahaan akan mendupakknya dari perusahaan sebagai antisipasi hal-hal yang merugikan perusahaan nah dari sinilah kurasa poin ini muncul, bahwa   

     KEBERMAKNAAN HIDUP TIDAK BISA DINILAI DARI SEBERAPA BESAR PERSONAL MENIKMATI DAN BAHAGIA DENGAN KEHIDUPANNYA ITU, NAMUN SEBERAPA BESAR PERSONAL SANGGUP MENEMPATKAN KEHIDUPANNYA PADA TATARAN MAKNA KEHIDUPAN YANG SEBENARNYA.  

    Mungkin alis anda terangkat dan bertanya-tanya tentang maksud tataran makna kehidupan yang sebenarnya. Maka saya jawab dengan tegas bahwa tataran hidup yang sebenarnya disini adalah konsistensi hidup dalam komitmennya terhadap Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang memegang janji personal tadi untuk hanya beribadah dalam tujuan hidup yang sebenarnya.
     Sebuah pertanyaan prinsip tentang bagaimana bisa seorang mempunyai pandangan hidup yang sangat berbeda sebagaimana idealism yang mereka coba untuk terapkan? Maka untuk masalah ini saya juga akan memberikan anda sebuah cerita yang semoga dapat membuka pandangan anda tentang permasalahan ini.

     Di suatu hutan yang rimba muncullah seekor merpati yang tinggal di sebuah sarang bersama dengan telur-telur yang baru di cabang pohon besar di hutan itu, suatu hari terjadi kebakaran hebat di hutan tersebut, sang merpati merasa hidupnya dan telur-telurnya terancam bahaya oleh adanya kebakaran yang sebentar lagi akan merambat sampai ke pohon yang di dalamnya terdapat sarangnya. Kemudian dia memutuskan untuk memindahkan telur-telurnya ke tempat yang lebih aman. Lalu satu-persatu dibawalah telur itu ke suatu persawahan yang jauh dari hutan. Namun siapa sangka, salah satu telurnya secara tidak sengaja tertukar dengan telur burung puyuh. Hari berganti hari, sang merpati masih tidak menyadari bahwa salah satu telur yang dieramnya itu bukanlah telurnya. Sampai suatu saat, ketika telur-telur itu mulai pecah satu persatu, sang induk merpati heran dengan satu kondisi anaknya yang berbeda dengan yang lainnya. Maka tanpa berfikir panjang, sang induk merpati merawat mereka semua dengan adil, dan berfikir bahwa salah satu anaknya yang berbeda itu hanya karena perbedaan fisik semata. 

     Waktu berjalan dengan konsistennya. Sang anak puyuh itu menjadi satu komunitas dengan saudara-saudara merpatinya yang lain, dan berfikir bahwa dia juga sama dengan saudara-saudaranya itu, sebagai anak merpati. Dan hari yang ditunggu-tunggu pun datang, ketika sang anak-anak burung ini telah cukup besar dan bulu-bulunya sudah tumbuh dengan sempurna. Lalu dibawalah sang anak anak-anak burung tadi oleh induknya ke suatu tempat yang tinggi. Disana satu persatu sang anak dipandu untuk mengepakkan sayap-sayap kecilnya. Rupanya ini pertama kali sang anak belajar terbang. Betapa bergembiranya mereka semua karena akan terbang, begitu juga dengan sang anak puyuh. 

      Dengan perlahan-lahan di kibas-kibaskanlah sayap mereka, dengan awal yang cukup sulit mereka akhirnya dapat terbang menari-nari di awan. Namun betapa terkejutnya sang anak puyuh ketika mendapati dirinya tidak bisa terbang seperti saudara-saudaranya yang lain. Tertinggallah dia oleh keluarganya di kebun sendirian. Dia masih saja berusaha mengibaskan sayapnya dan mencoba untuk terbang, dengan keyakinan yang bulat bahwa dia adalah merpati seperti keluarganya. Denga tekad bulat dia mendaki bukit sampai di pinggir jurang. Kemudian dia melompat dan mencoba terbang, namun naas, sekeras apapun dia mengepakkan sayapnya dia tidak akan bisa terbang, karena dia hanyalah seekor burung puyuh. Akhirnya dia terjatuh dari ketinggian dan mati.

      Dari cerita diatas menggambarkan bahwa pandangan hidup itu muncul dari sebuah keyakinan yang mengalir di fikirannya atas segala pengalaman dan pembelajaran hidup yang seseorang dapati. maka ilmu atau pengetahuanlah yang mendominasi pengaruh itu. Seorang yang lahir dalam lingkungan sosialis, sudah dapat dipastikan bahwa dia akan berideologi sosialis, seorang yang semasa kecilnya hidup dalam lingkungan kekerasan dan kriminalitas, mungkin saja dewasanya tak akan jauh dari yang berbau kekerasan. Dan coba anda fikirkan, bagaimana mungkin orang yang selama hidupnya tidak dekat dengan ajaran islam, al Qur’an. Hidupnya akan islami. Meskipun dia orang islam. 

     Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. (alMu’min:58)

     maka setelah ini mari kita bermuhasabah sejenak, menginstropeksi diri kita masing-masing. Sudah tepatkah makna hidup ini. Sudah sejalankah gaya hidup ini, ideology ini dengan Islam, jika kita masih saja ngeyel untuk memilih pandangan hidup yang lain, ingatlah, sanggupkah kita membuat syurga sendiri nanti ketika Allah menolak diri kita untuk masuk syurganya karena durhaka kita padanya??
Sebagai akhir dari tulisan ini, semoga kita lebih dekat lagi dengan ajaran Islam lewat ayat-ayat Alqur’an dan sunah Rasulullah Saw. Agar kita semakin tahu tentang kebenaran. Dan sanggup menyelamatkan diri kita dan keluarga kita dari godaan syetan yang tak jemu-jemu mencari teman di neraka nanti. Amien.

    Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia , niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran:145)

Wallahu a’lam bisshowab..

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--