Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Monday, December 6, 2010

Sang Laskar Santri (part I)

MAT MA'AHID '05

   sekitar tahun 2004, kala itu aku baru lulus dari MTs Negeri Kudus (setingkat SMP) setelah melakukan beberapa pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk melanjukan jenjang pendidikan ke Ma'ahid, masih di Kudus. sebuah sekolah agama yang kecil (kala itu) dan berada di kawasan yang cukup jauh dari keramaian kota. dulu awalnya aku kurang mengenal apa sejatinya sekolah Ma'ahid ini. namun ada beberapa saudaraku yang pernah belajar disitu, bahkan kakakku juga pernah merasakan ilmu disana waktu MTs, dan mereka jago bahasa arabnya, umumnya para lulusan Ma'ahid lolos masuk ke LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), sebuah sekolah tinggi berbasis bahasa arab yang semuanya berbeasiswa.
     karena itulah sangat sulit untuk tembus ujian masuknya.banyak juga yang bisa sampai ke perguruan tinggi di Arab, seperti Al Azhar, Univ Sudan, madinah, yaman, dan negara-negara arab lainnya. atau kalau tidak melanjutkan ke perguruan tinggi kebanyakan dari lulusan menjadi ustad di kampung-kampung, itu karena kemampuan berbahasa arab, kehebatannya dalam membaca kitab. mereka sangat di hormati, bahkan beberapa diantaranya menjadi seorang penulis terkenal (baru ku ketahui saat aku kuliah di Solo).dengan alasan itulah seorang sepupuku yang juga alumni Ma'ahid, mas Ishlah (sekarang menjadi seorang ustad di salah satu pondok di Pati) berhasil merayuku.
     singkatnya aku mendaftar ke Ma'ahid ini. masih kuingat jelas kala itu, waktu sepeda ontelku masuk ke dalam sekolah Ma'ahid ini, dengan membawa map pendaftaran kucari tempat pendaftaran di setiap sudut sekolah sambil mengamati keadaan sekeliling, jadul namun teduh, itu kesan pertama kali yang kutangkap dari sekolah ini, melihat sekolahku dulu sangat bagus, dan cukup mewah. akhirnya kutemukan kelas tempat pendaftaran itu, masa kuingat jelas. ustad Immuryadi yang mengurusi pendaftaran. dengan pakaiannya yang rapi dan kasual. kuucapkan salam dan kuberikan formulir pendaftaran dan mengisi sejumlah kolom, di samping ust. Im, duduklah seorang ustad yang cukup dikenal di Kudus, ustad Kamal Fauzi, disana saya ditanya-tanya oleh ust. Kamal (kurang-lebih)," lulusan mana??", "MTs Negeri pak",,"oo..rumahnya dimana??", "Prambatan Lor", "kenapa gak ke pondok saja, kan deket dari rumah..bla..bla...(lupa kelanjutannya…). aku hanya tersenyum dengan tubuh besarku (kala itu bobotku hampir 90 kg, bisa kebayang gmn gedenya). 
   registrasi selesai. setelah pamit, aku segera pulang ke rumah, tawaran ustad kamal ku acuhkan gitu aja, karena dari awal aku memang tidak kefikiran untuk masuk ke pondoknya, diformulirnya pun aku contreng pilihan MA (sekolah induk), bukan MA Terpadu (ponpes nya). setibanya di rumah, hal yang mencengankan terjadi, dan dari ini pulalah awal mula terjadinya perubahan suasana hidupku. aku ditawari bapakku untuk masuk MA Ma'ahid yang terpadu, ponpesnya. disana belajar agamanya lebih intensif, dan kebanyakan yang diterima masuk LIPIA itu yang dari ponpes. sebagai anak yang masih lugu dan terkenal sebagai anak penurut aku iyakan saja tawaran itu, di satu sisi aku merasa bosen tinggal di rumah, pengen mencari suasana baru, wal hasil, bapakku bergegas pergi menuju Ma'ahid untuk mengurusi kepindahan pendaftaran dari MA ke MA Terpadu. spontan keluargaku geger mendengar perihal berita itu, karena seumur-umur belum pernah ada salah seorang kakakku (aku merupakan anak terakhir dari 7 bersaudara) yang sekolah di sebuah pondok pesantren. mereka menanggapi dengan sangat positif, ada yang bilang 'yo gak po po, ben dadi ustad (yaa gak apa-apa, biar jadi ustad)', ada juga yang bilang 'he la, ben kuru awakmu' (iya maula, biar badanmu jadi kurus disana), dan ibukku dengan bijak mengatakan padaku perihal harapannya untuk akhirat kelak, semoga aku bisa memberikan mahkota syurga untuknya nanti. aku cuma senyum-senyum aja..
 
      hari itu merupakan ujian tes masuk Ma'ahid. dengan perasaan asing aku masuk ke dalam kawasan sekolah. di sana kulihat para pendaftar yang bersliweran di sekitar kompleks. kurasa mereka juga merasa asing satu sama lain karena belum mengenal satu sama lain, dan pastinya mereka dulunya tidak dari Ma'ahid, karena yang dulu MTs(Madrasah Tsanawiyah) nya dari Ma'ahid tidak perlu mengikuti ujian masuk untuk melanjutkan ke MA.(Madrasah Aliyah, setingkat SMA). sambil menunggu bel masuk ujian kita mencoba berkenalan satu sama lain, dari situ aku kenal beberapa teman, yaitu Doni, Ali, Rifki, Feri, Rijal yang semuanya dari jepara. kemudian ada alfiardi dari pati, dan Roni dari Kudus, sama seperti aku. disana kami ngobrol ngalor-ngidul dan akhirnya menjadi semakin akrab dengan mereka. ujian tiba, kami masuk dan mengisi lembar ujian sebisanya. setelahnya kami menunggu beberapa saat untuk menunggu hasil, apakah diterima atau tidak.

     gayung pun bersambut, aku akhirnya diterima masuk sebagai santri di MA Ma'ahid terpadu, segera kusiapkan hal-hal yang  kubutuhkan disana nanti.beberapa minggu kemudian tibalah saat masuk sekolah baru, 3 hari kedepan mengikuti MOS (masa orientasi siswa), malam sebelumnya aku kebingungan, apakah sudah harus pakai seragam SMA atau masih pakai seragam SMP untuk sementara, apakah nanti sudah di pondok atau di sekolah induk dulu untuk sementara, bingung..bingung..dan bingung..(dulu aku orangnya bingungan, khawatiran, dan penakut). paginya aku berangkat, dengan diantar oleh mobil. karena ponakanku, Ardian juga sekolah di MTs Ma'ahid. di sana aku bertemu dengan teman-teman kenalan sebelumnya, aku juga bertemu dengan teman lamaku di MI Muhammadiyah 2 (setara tingkat SD), Riska namanya (ditengah-tengah perjalanan baru kutahu ternyata bapaknya seorang ustad disana). bel berbunyi, kami disuruh berkumpul di lapangan, briefing sebentar. kemudian masuk ke kelas masing-masing,( ternyata disana kelas cowok dan cewek dipisah).

       di kelas cowok terbagi menjadi 3 kelas, sedangkan yang cewek aku gak tahu, aku masuk ke kelas pertama . di sana kami mendapat tambahan teman baru yang berasal dari maahid, macem-macem karakternya, kebanyakan yang dulu dari maahid lebih enjoy dan sering bercanda di MOS ini, mungkin karena mereka udah lama di maahid, sedangkan kami, yang dari lulusan lain, gak terlalu banyak tingkah dan mengikuti dengan tenang.dalam MOS kami mendapat banyak materi dan permainan, disana aku juga bertemu dengan kakal kelasku di MI MUH 2, yaitu mas Rozak dan mas Fata,merka panitia MOS, anak OSIS, dan baru kutahu juga ternyata mereka banyak yang melanjutkan sekolah disini. (TO BE CONTINUED.....)

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--