Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sunday, December 26, 2010

Laskar Santri (Part II)

   Empat hari diriku dibantai habis-habisan dengan agenda MOS ini, namun perlahan diriku mulai menikmati, semakin banyak teman yang ku kenal, semakin akrab, bahkan canda-tawa sudah mulai bersahutan dari satu siswa ke siswa yang lain, sedikit-demi sedikit perbedaan antara eks MTs Ma’ahid dengan yang baru masuk disini sirna sudah, kita telah terikat dan benar-benar terikat menjadi satu ikatan batin atas nama Islam, keluarga Ma’ahid.


Di hari terakhir aku ijin ibu karena ternyata ada acara nginep segala. Sebelumnya aku sempat mogok alias gak ikut satu hari acara MOS karena lom dapet karung goni untuk dibuat sebagai seragam (adat penggojlokan juga berlaku disini meski tidak serem2 amat). Hari itu, setelah MOS regular selesai, acara tambahan mulai berdatangan. Sorenya ada kepanduan, dari situ aku mengenal ustad Tri, beliau bertubuh kecil namun kuat dan ulet. Kami diperkenalkan beberapa permainan kelompok, sebelum permainan dimulai aku sudah menyiapkan mental karena pasti nantinya aku menjadi bahan tertawaan teman2, karena badanku yang ndut,  tapi ternyata ada satu teman yang lebih gede dari badanku. Ah..akhirnya punya teman senasib..hehe..david namanya, dia pandai melucu..permainan dimulai dari sore sampai menjelang petang, semuanya berbau mental alias keberanian. Setelah selesai kita ngantri mandi.

   Sang malam menunjukkan keindahannya, entah tanggal berapa kala itu. Aku memandangnya sejenak berselimut dinginnya malam, namun tanpa kesunyian, karena tidak hanya aku yang berada di tengah area luar sekolah, namun beserta teman2 peserta MOS lainnya, beralas tikar dan disekat dua, kanan untuk para akhwat (cewek), dan kiri untuk para ikhwan (cowok). Hiruk pikuk suara teman2 menenggelamkan rasa penat tadi siang, kita dipersilahkan menikmati film yang disetel di vcd, bukan film action ato percintaan, namun ini film tentang Palestina, dan tanpa aba-aba, hiruk pikuk itu menjadi senyap. Tawa berubah menjadi haru sejenak, merasakan penderitaan rakyat palestina. Untuk beberapa saat, ada desiran air mata yang keluar, entah siapa..

   Cak pri, itulah salah satu ustad muda bagian tata usaha yang gaul dan bertubuh kekar juga dekat dengan anak-anak, aku mengenalnya saat malam itu. Selera humor yang tinggi mengakrabkan kita (anak2 baru) dengannya, apalagi di acara itu beliau yang paling sering telihat sliwar-sliwer di sekolah. Saat film selesai, kita dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompoknya ditugaskan untuk membuat satu pertunjukan, ada menyanyi nasyid, baca puisi, dan drama. Acara yang seru sekali. 

   Sekitar jam setengah sepuluh acara malam berakhir, kita disuruh segera istirahat karena katanya akan ada acara tengah malam nanti, suasana hatiku kacau kala itu, sebagai seorang penakut aku punya feeling bahwa ini pasti acara pembinaan mental, apalagi denger-denger para panitia acara ada yang sedang pake kostum horror.waduh..sekolahan ini deket kuburan lagi..dan terungkap sudah, tengah malam itu entah jam berapa tepatnya kita disuruh berbaris berurutan, tiap kelompok hanya dua orang, aku agak lega karna yang dapat tugas di kuburan hanya yang akhwat, yang ikhwan diluar, tapi tetep aja bikin merinding, mengingat kawasan ini penuh dengan perkebunan dan sepi senyap. Aku berada di urutan kelompok terakhir. Giliran kelompokku tiba, ada aku dan afif, tugas pertama aku harus menghafal kode sandi untuk nanti disebutkan di pos berikutnya, kalo sampai lupa maka akan dikasih hukuman, kalo gak salah kodenya adalah salah satu ayat alqur’an. Kemudian kami berjalan dengan sebuah peta melewati beberapa perkebunan, gelap sekali dan senyap.


   disetiap pos kita dikasih tugas yang berbeda, terkadang dikerjain juga oleh para panitia, disuruh berbaris, menyanyi nasyid atau mengambil sampah di tempat. Aku masih ingat waktu di pos yang letaknya di lapangan bola kita di tes kedisplinan, saat di uji baris-berbaris temenku si afif ini salah terus, akhirnya disuruh mencium tiang gawang.hehe..pos terakhir kami lalui, kami mengitari perkebunan tebu di belakang pabrik polytron, menjelang subuh kita akhirnya sampai di sekolah. Kulihat teman2 pada tergeletak kecapekan di teras kelas. Denger2 para peserta yang cewek banyak yang pingsan waktu dikasih tugas di kuburan.hehehe..pengalaman yang paling berkesan di hidupku. Keesokan harinya tidak ada acara tambahan, setelah kumpul sebentar, kami segera dipulangkan. Sudah kangen sama orang rumah (anak mama.hehe).
  
Ahad, Cuma harinya yang kuingat, entah tanggal berapa. Hari itu aku akan segera masuk ke pondok. Campur aduk perasaanku. Karena nantinya aku akan jauh dari rumah. Pastinya aku akan kangen dengan orang-orang rumah. Kulihat tas-tas baju dan buku sudah siap. Malamnya ba’da isya aku diantar keluargaku ke asrama. Kukira akan mampir warung makan dulu, tapi ternyata langsung menuju asrama, hanya beda kecamatan dari rumahku, namun rasanya seperti mau pergi keluar negeri saja..deg..degan..mobil kijangku masuk ke area asrama, kami turun, kulihat sekilas asramanya kecil.menjulur dan tidak terlalu luas, disampingnya lapangan, jadi terlihat gelap. Bahkan tidak terlihat seperti sebuah pondok karena tidak memiliki gerbang dan pagar. Kulihat di masjid ada suatu perkumpulan, ternyata perkumpulan santri-santri baru, aku segera disuruh salah satu ustad untuk segera ke masjid mengikuti acaranya,akupun segera berlari menuju masjid, sedang kakak2ku membawa tasku ke kamarku.di dalam masjid ku amati sekilas wajah2 santri2 baru itu, wahh..surprise banget ternyata teman2 kenalanku waktu pendaftaran dan tes dulu mengambil sekolah terpadu semua, itu artinya aku punya teman deket disini.


Ku dengarkan beberapa ustad memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang kegiatan belajar, kontrak belajar dan lain2..setelah acara perkenalan usai, kami bubar bergegas ke kamar masing2..ku susul keluargaku yang sudah ke kamarku terlebih dahulu, sesampainya di kamar aku langsung didekatin beberapa santri angkatan lama, ternyata aku lebih terkenal sebelum datang kesini karena mereka dekat dengan sepupuku, dan sepupuku sudah bilang ke mereka untuk dekat denganku karena aku orangnya lugu dan pendiem, kulihat mereka sangat baik, dan sopan..dari malam pertama itu aku mengenal isto, seorang Maluku dengan bahasa yang awalnya aku sulit sekali memahaminya karena logatnya yang cepat, namun dia akrab dan baik denganku, kemudian ada atif, anak kenduren demak yang sangat humoris, dan aku belum dapat membedakan mana yang seangkatan dan kakak angkatanku. 


   Aku mendapat kamar nomer empat. Kulihat sekilas kamar itu disekat menjadi dua kamar, lemari yang berjejer dengan alas tikar untuk tidur, sederhana banget. Dikamar itu hanya aku yang membawa kasur lipat sendiri, aku agak canggung waktu itu, karena aku sendiri yang sedikit ‘wah’. Di kamar itu aku mengenal teman2 kamarku. Ada amir, anak jepara kelas 3 ipa, akrom, anak kalilopo kudus kelas 2, syafi’i anak solo kelas dua, kemudian iston, anak Maluku kelas dua, faiz anak kenduren demak seangkatan denganku, ada ali anak keluaran santri ngruki orang jepara, seangkatan juga denganku. Setelah keluargaku pulang, aku kemudian berkenalan sebentar dengan mereka dan ijin tidur dulu, kubiarkan mereka yang masih pada ngobrol dan bercanda karena emang aku sudah ngantuk, (dari situ aku mulai terbiasa tidur malam-malam).

 
Hari itu hari senin, hari pertama aku masuk sekolah, jam enam aku sudah ngantri di kamar mandi yang mempunyai kamar 9. Setelah itu memakai seragam rapi dan ambil piring gelas, masuk ke ruang makan, makan bersama. Aku mulai membiasakan diri dengan hal yang baru, sarapan bareng dengan ditemani tape lama yang sedang menyenandungkan nasyid, aku lupa nasyid yang mana, namun dari situ aku mulai kenal dengan yang namanya nasyid karena sebelumnya aku hanya mengenal raihan dan opick. Ustad kamal menyapa kami ketika lewat di ruang makan karena mess nya bersebelahan dengan dapur. Dan hal menarik kembali datang, ketika aku tlah menyiapkan buku2 di tas, aku ditertawain ma kakak2 angkatan, mereka bilang ‘ngapain pake tas, gah usah pake tas, kelasnya dekat.’ Ternyata kelasku sebaris dengan ruang asrama, jadi untuk sekolah kami tidak memakai sepatu dan tas, tinggal bawa buku seadanya. Hal baru yang bener2 menggelengkan kepalaku waktu itu..hehehe.


   jam tujuh kurang aku masuk ke kelas, aku kaget,loh kok muridnya Cuma 15, padahal dulu waktu di MTs Negeri setiap kelas ada 40 an murid dan kelasnya ada 8, tapi ini hanya satu kelas, 15 orang. Di sana kami berkanalan satu sama lain. Ada Mukhlis, Zaki, Himawan, Lutfi anak Kudus asli, kemudian Agus, Ridho, dan Faiz dari Demak, lalu Indra Bayu, Rifki, Doni, Feri, dan Ali dari Jepara. Mutho dan Alfiardi dari Pati, Hasan dari Pemalang, Dan ada satu lagi, Hafidz, dari Wonosobo. Hari pertama sekolah tidak begitu penuh kegiatan belajarnya. Kami banyak-banyak ngobrol dan mengakrabkan diri. aku yang kala itu dikenal sebagai pendiam, lebih banyak di luar kelas, memandangi lingkungan baru, atau kalo tidak pergi ke masjid asrama yang berada di samping kelas.


   Aku benar-benar harus adaptasi dengan lingkungan yang sungguh baru dan sangat berbeda dengan kehidupanku sebelumnya, sebagai anak mami. Kulihat teman-teman sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan pondok, mungkin karena mereka sebelumnya sudah kenal tempat ini sewaktu di MTs, namun aku, benar-benar asing. Di istirahat kedua, para santri shalat dhuhur di masjid pondok, setelah shalat jamaah selesai, ada beberapa senior yang menjadi ketua qismu (organisasi pondok) maju satu persatu memperkenalkan diri dan mensosialisasikan agenda nanti kedepan, ada ketua pondok, qismu aman (bag. Keamanan), qismu lughah (bag. Bahasa), qismu nadhafah (bag. Kebersihan). Dan lain-lain, peraturan pertama yang paling berat waktu itu adalah dari qosmu aman yang menyatakan santri hanya diijinkan pulang ke rumah sebulan sekali, di awal bulan. Dan yang kedua dari qismu lughoh, yaitu untuk santri kelas dua dan tiga wajib berbahasa arab di area pondok, sedangkan untuk santri kelas satu, di ijinkan berbahasa Indonesia, namun tidak diperkenankan berbahasa daerah, bagi yang melanggar akan dikenakan iqab (sanksi). Dan mulai saat itu perasaanku semakin tertekan dengan peraturan. 


   Jam setengah dua kegiatan belajar selesai, kami bergegas menuju dapur karena perut benar-benar minta di isi, dan untuk pertama kalinya aku merasa tidak nafsu makan ketika melihat makanan yang disajikan itu,padahal di rumah aku selalu lahap kalo makan. wal hasil aku makan sedikit. Makan selesai, semua bergegas ke kamar dan tidur siang, di awal-awal aku tidak bisa tidur siang karena tidak terbiasa tidur siang ketika di rumah. Sore hari, saat adzan berkumandang dimana-mana, kami bergegas ke masjid untuk shalat ashar berjamaah, setelah shalat, kami kembali ke kelas karena masih ada pelajaran lagi, yang ini adalah pelajaran pondok. Dari sini aku mengenal pelajaran yang baru ku kenal tapi sudah membuat kepalaku mumet, nahwu dan sharaf. Ilmu dasar dalam struktur bahasa arab. Tiap sore aku harus komat-kamit menghafal itu materi. Apalagi ustadnya super galak..hehehe…

   Biasanya sekolah sore berakhir sampai jam 5 kurang seperempat, setelah pulang para santri pada berhamburan keluar kelas dan berganti baju, lalu bermain sepak bola di lapangan samping asrama, sementara ada beberapa santri yang tidak ikut, ada yang sedang menghfal alqur’an di masjid, atau ada yang sedang mengurusi sesuatu, tapi sepak bola tetap yang menjadi andalan para santri.

0 comments:

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--